Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Ke Pantai


__ADS_3

Hari-hari yang kini dijalani Jasmine dan Maya mulai berwarna. Karena tak cuma cerita tentang keduanya saja namun juga ada dua pria yang kini hadir di hati kedua gadis itu. Maya dan Rio semakin dekat walau saat di sekolah keduanya menyembunyikan hubungannya. Sementara Jasmine walau sampai saat ini belum ada kejelasan atas hubungannya dengan Adam namun keduanya juga sering mencuri waktu untuk saling bertemu.


"Jess kamu sepertinya sedikit berubah sayang.... sekarang kamu lebih sering pulang bareng Maya dari pada dijemput mama..." ucap mama Tika suatu hari.


Sebagai seorang ibu dan pernah berada di posisi seusia Jasmine ia bisa merasakan jika putrinya kini seperti memiliki dunianya sendiri. Apakah putrinya kini sudah mengenal pria? atau bahkan sudah mulai merasakan jatuh cinta? sebagai seorang ibu apalagi statusnya sebagai orang tua tunggal mama Tika tidak mau kecolongan. Ia ingin tahu perkembangan putrinya itu.


"Emmm... ga pa-pa kok ma.... lagi pula bukankah itu akan lebih praktis? jadi mama ga perlu bolak-balik jemput aku ke sekolah ..." sahut Jasmine.


"Iya juga sih... tapi mama kan jadi jarang bisa ngobrol sama kamu seperti dulu..."


"Jangan khawatir mamaku sayang.... kalau ada apa-apa pasti Jasmine cerita ke mama"


"Janji?"


"Janji" ucap Jasmine sambil memeluk mamanya.


Mama Tika pun menjadi lega. Sebenarnya ia sedikit khawatir jika putrinya sudah mulai mengenal pria. Bukan apa-apa... ia tahu putrinya masih sangat polos. Jika terjadi sesuatu ia takut jika putrinya tidak fokus pada sekolahnya. Bukan hal-hal yang mencoreng namanya karena ia percaya jika putrinya bisa menjaga dirinya. Namun bisa jadi kan jika putrinya patah hati karena putus cinta misalnya.


Sementara Jasmine mulai merasa khawatir jika mamanya mulai curiga jika ia kini sering bertemu dengan Adam tanpa sepengetahuan mamanya.


"Maafin Jasmine ma... udah berbohong sama mama" batinnya.


Saat berada di sekolah Jasmine pun menceritakan kegelisahannya pada Maya saat mereka hanya berdua di dalam kelas yang kosong karena masih jam istirahat.


"Aku fikir kau tak perlu terlalu merasa bersalah Jess... lagi pula kau belum jadian kan sama kak Adam?"


Jasmine hanya mengangguk pelan. Ia juga tak mengerti mengapa sampai sekarang Adam hanya mengajaknya bertemu dan jalan bareng tanpa pernah menyatakan perasaannya yang sebenarnya pada Jasmine. Apa mungkin jika pria itu hanya menganggapnya hanya sebagai seorang adik. Secara pada kenyataannya usia mereka yang cukup jauh bisa jadi membuat pria itu hanya menganggapnya sebagai anak kecil saja.


"Apa kau sedih Jess?" tanya Maya saat dilihatnya wajah Jasmine yang berubah sendu.


"Hemm... aku juga ga bisa memaksakan perasaanku padanya kan?"


"Apa kau tak mau memberitahukan padanya tentang perasaamu yang sebenarnya?"


"Aku takut May... bisa saja kak Adam ga akan mau lagi menemuiku setelah tahu perasaanku padanya" terang Jasmine bertambah sendu.


"Kau tahu saat ini aku merasa jadi tidak enak padamu Jess..."


Jasmine terlihat kaget mendengar pengakuan Maya barusan. Dipandangnya wajah sahabatnya itu.


"Kenapa kau harus merasa begitu May?" tanyanya.


"Ya karena saat ini aku sudah resmi jadian dengan kak Rio... sedangkan kamu..." Maya tak melanjutkan kalimatnya.


"Jangan berfikir seperti itu May... apa karena kita bersahabat jadi nasib kita harus selalu sama? tidak bukan? karena itulah indahnya kehidupan semua mempunyai takdir sendiri... dan tak ada yang sama"


"Tapi Jess...."

__ADS_1


"May ... setidaknya aku bahagia saat didekatnya... aku tak berharap banyak apalagi kita kan masih muda akan banyak hal yang akan terjadi nanti..." ucap Jasmine sambil tersenyum.


Maya langsung memeluk Jasmine. Gadis lugu namun sering kali berfikiran lebih dewasa dari usianya yang sebenarnya.


"Aku menyayangimu Jasmine"


"Aku juga May" sahut Jasmine membalas pelukan sahabatnya.


Malam hari saat Jasmine bersiap untuk tidur kembali ponselnya bergetar. Memang sejak Adam sering menghubunginya di rumah Jasmine membuat ponselnya dalam mode getar. Sehingga tak akan terdengar dari luar kamarnya dan membuat mamanya curiga.


"Halo..."


"Halo Jess..." terdengar suara Adam.


"Iya kak?"


"Besok pagi bisa kita bertemu?"


Jasmine terdiam. Sebenarnya ia juga ingin bertemu dengan Adam. Namun karena hari minggu pasti mamanya ada di rumah. Dan Jasmine sedang tak ingin berbohong pada mamanya.


"Aku mohon Jess... besok kita harus bertemu ada yang harus aku katakan" lanjut Adam.


"Baiklah" ucap Jasmine akhirnya.


Setelah ponsel dimatikan Jasmine menghela nafasnya pelan. Ia berfikir apa yang harus ia katakan pada mamanya besok sebagai alasan agar ia dapat keluar rumah. Namun karena tak bisa mendapatkan ide akhirnya gadis itu tertidur dengan perasaan yang tidak tenang.


"Ma... kenapa mama sudah rapi begini? memang mau kemana?" tanyanya penasaran.


Mama Tika menoleh ke arah putrinya.


"Iya sayang .... maaf tadi malam tante Fira menelfon bahwa ada klien yang ingin bertemu dengan kami hari ini... jadi kami harus ke kota C pagi ini" terangnya.


"Tapi ma..." ucap Jasmine yang masih trauma dengan kecelakaan mamanya waktu lalu.


"Tidak usah khawatir Jess... mama sama tante Fira ga sendiri kok... ada om Dani yang akan menemani kami" kata mama Tika yang tahu kekhawatiran dari putrinya itu.


"Tapi mama janji ya akan selalu menghubungi Jasmine" ucap gadis itu dengan berat hati.


"Iya sayang... kamu jangan terlalu khawatir jika urusan mama disana selesai kami akan langsung pulang"


Jasmine pun hanya bisa mengangguk pelan. Berat rasanya melihat mamanya kembali melakukan perjalanan ke luar kota setelah kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawa mamanya itu. Saat tante Fira dan om Dani datang untuk menjemput mamanya Jasmine memeluk mamanya erat dan bahkan gadis itu sempat menitikkan air mata.


"Sudah... mama kan pergi cuma sebentar sayang... jangan begitu ah... kamu kan sudah besar sayang"


"Iya ma..." sahut Jasmine segera menghapus air matanya.


Tante Fira dan om Dani pun tampak hanya tersenyum kecil dengan kelakuan Jasmine yang terlihat sangat manja kepada mamanya. Setelah acara pamitan yang sedikit memgharu biru akhirnya mama Tika pun pergi bersama tante Fira dan suaminya. Jasmine pun masih sempat melambaikan tangannya saat mobil yang mereka tumpangi menjauh. Dengan langkah lunglai gadis itu pun segera masuk ke dalam rumah. Di kuncinya pintu rumah dari dalam karena setiap hari minggu bik Darti juga libur.

__ADS_1


Baru saja Jasmine masuk ke dalam kamarnya sudah terdengar suara getar ponselnya. Ia memang lupa mengganti nada dering ponselnya semalam. Dengan segera Jasmine mengangkat panggilan dari ponselnya itu. Ternyata Adam yang menghubunginya.


"Halo..."


"Jess aku ada di depan rumahmu" ucap Adam yang langsung membuat gadis berkaca mata itu terkejut.


"Hah?"


"Iya ... aku ada di depan" sahut Adam.


"Boleh aku masuk?" tanyanya lagi.


"Sebentar..." ucap Jasmine lalu mematikan ponselnya.


Dengan sedikit berlari gadis itu menuruni tangga dari kamarnya menuju pintu depan. Namun saat sampai di depan pintu gadis itu berhenti. Ia bingung apa yang akan ia lakukan. Apakah akan mempersilahkan pria itu masuk atau menyuruhnya menunggu di luar. Sebab saat ini ia hanya sendirian di dalam rumah. Setelah berfikir sebentar akhirnya ia pun membuka pintu rumahnya.


"Hai Jess" sapa Adam begitu Jasmine menampakkan wajahnya.


"Iya kak" jawab gadis itu sambil tersenyum.


"Kita jadi pergi sekarang?"


"Kakak tunggu di sini sebentar aku ganti baju dulu"


"Mama kamu ada? aku ingin minta ijin padanya"


"Mama lagi pergi kak"


"O..."


"Aku masuk dulu ya kak"


Adam pun mengangguk lalu ia pun duduk di kursi yang ada di teras. Sedang Jasmine langsung masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian. Tak butuh waktu lama gadis itu sudah kembali keluar dari dalam rumah dengan berganti pakaian.


"Ayo kak" ucap Jasmine setelah mengunci pintu rumah.


Adam mengangguk dan berjalan beriringan dengan Jasmine menuju ke mobil yang ia parkir di sisi jalan. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil Adam pun lalu mengemudikannya meninggalkan tempat itu. Sudah cukup lama Adam mengendarai monilnya namun sepertinya mereka belum sampai juga di tempat tujuan. Jasmine yang menyadari itu merasa sedikit cemas. Ini pertama kalinya Adam membawanya pergi jauh. Biasanya lelaki itu hanya mengajaknya ke mall atau pun kafe yang tak begitu jauh dari rumahnya. Namun kali ini berbeda sepertinya pria itu ingin mengajaknya ke suatu tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dan melewati jalan yang berliku akhirnya mereka pun tiba di sebuah pantai yang agak sepi walau ini hari minggu karena tempatnya yang agak terpencil. Namun pemandangan di sana sungguh sangat indah. Pantainya yang terbentang luas dengan pasir putih membuat Jasmine seketika sangat bahagia dan melupakan betapa jauhnya ia dari rumah.


"Pantai?" ucapnya tak dapat menyembunyikan rasa senangnya.


"Iya... kau suka?" tanya Adam sambil memarkirkan mobilnya di tepi jalan agak jauh dari pantai.


"Sangat suka..." jawab Jasmine yang langsung membuka seat beltnya begitu mobil berhenti.


Kemudian gadis itu segera membuka pintu dan keluar menuju ke arah pantai. Adam pun langsung mengekorinya setelah mengunci pintu mobil. Jasmine yang saat itu mengenakan celana pendek selutut dengan atasan sabrina membuat gadis itu terlihat semakin imut. Dengan senangnya Jasmine berlarian kecil di bibir pantai setelah melepaskan flat shoesnya dan menentengnya dengan satu tangan.

__ADS_1


Adam yang melihat kegembiraan Jasmine ikut tersenyum. Namun hatinya kini semakin gundah. Sengaja ia bawa Jasmine ke tempat itu karena ia ingin memberikan perpisahan yang indah pada gadis pujaannya itu. Perpisahan yang sama sekali tidak ia inginkan namun terpaksa ia lakukan.


__ADS_2