
Sudah satu minggu Jasmine berada di rumah Ghani. Setiap hari ia melakukan terapi akupuntur dan juga berjalan dengan Leo. Jasmine yang tahu tidak akan bisa selamanya membohongi Leo tentang perkembangan kesehatannya pun mulai mau menunjukkan peningkatannya. Tapi Jasmine hanya menunjukkan jika ia mulai bisa berdiri lebih lama selanjutnya ia tak memperlihatkan hasil latihannya sendiri saat malam hari.
Ya setiap malam Jasmine selalu tekun berlatih berjalan saat tak seorang pun yang melihatnya. Dan hasilnya ia sudah mulai bisa berjalan sendiri walau masih tertatih. Malam ini Jasmine berencana untuk mencari cara agar bisa menghubungi ponsel mamanya. Sebab nomor ponsel Adam ia masih belum hafal. Saat dirasa semua orang sudah tertidur Jasmine mulai berjalan dengan tertatih keluar dari dalam kamar.
Setelah memastikan jika semua orang tertidur dengan perlahan ia berjalan menuju ruang tamu dimana ia pernah melihat ada telfon rumah disana. Dengan mengendap-endap Jasmine berjalan tertatih menuju ruang tamu yang berada di bagian depan. Ia harus melewati beberapa ruangan sebelum bisa sampai di sana.
Saat melewati kamar Ghani yang berada tepat disamping ruang tamu Jasmine terkesiap saat melihat ternyata lampu kamar tersebut masih menyala pertanda sang pemilik kamar belum tertidur. Dengan gontai Jasmine mengurungkan niatnya sebab dengan kondisinya sekarang ia tak mau mengambil resiko ketahuan karena ia belum dapat bergerak dengan gesit.
Saat ia baru saja masuk ke dalam kamar terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Dengan panik Jasmine berusaha secepat mungkin menggerakkan kakinya untuk sampai ke tempat tidur. Baru saja ia mendudukkan tubuhnya dipinggir tempat tidur pintu kamarnya terbuka. Dengan posisi duduk dan kaki yang masih menggantung di tepi tempat tidur Jasmine tak dapat berbuat banyak untuk menghindar saat ternyata Ghani masuk ke dalam kamar.
"Kau belum tidur sayang?" tanya Ghani lembut sambil mendekat kearah Jasmine.
Jasmine menggelengkan kepalanya sambil menyayukan matanya agar tampak seperti orang baru bangun tidur.
"Aku terbangun karena ingin buang air kecil..." sahutnya beralasan.
"Oh... aku fikir kau belum tidur sedari tadi... apa perlu kubantu?" tawar Ghani.
"Ga usah kak... aku bisa sendiri" tolak Jasmine.
Lalu gadis itu mendekatkan kursi rodanya dan berusaha berpindah dari tempat tidur. Ghani yang masih memperhatikan gerak gerik Jasmine tersenyum senang saat melihat Jasmine dengan mudah berpindah dari tempat tidurnya ke kursi roda.
"Kau sudah banyak kemajuan ternyata" seru Ghani gembira.
"Iya... alhamdulillah" sahut Jasmine tersenyum dengan terpaksa.
"Kalau begitu kau harus lebih keras lagi berlatih agar dapat segera berjalan" kata Ghani.
"Iya ... emmm bisakah kakak keluar? aku sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi" usir Jasmine halus.
"Baiklah... aku keluar sekarang... tapi setelah selesai kau juga harus segera kembali tidur agar besok kau dapat berlatih dengan badan yang lebih segar" kata Ghani lalu melangkah keluar dari kamar dan menutup pintunya.
Jasmine menghela nafas lega... ia pun masuk ke dalam kamar mandi agar Ghani yang ia yakin masih berada didepan kamar dapat mendengar dan tidak curiga jika ia sedang berbohong.
Didalam kamar mandi Jasmine masih memikirkan cara agar ia dapat menggunakan telfon rumah Ghani tanpa ketahuan. Dan setelah beberapa saat gadis itu pun tersenyum karena sebuah ide telah terlintas di otaknya. Dengan senang Jasmine keluar dari kamar mandi dan kembali ke tempat tidurnya. Setelah berbaring diatas tempat tidur Jasmine pun mulai memejamkan matanya. Malam ini ia harus tidur agar besok dapat menjalankan rencananya.
........
__ADS_1
Di dalam kamarnya Ghani sedang memandangi foto-foto Jasmine yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi selama satu tahun terakhir. Ghani bertemu dengan Jasmine saat gadis itu tengah mencari buku di sebuah toko buku langganan Ghani. Saat pertama kali melihatnya ia telah jatuh cinta. Namun karena Jasmine bukan gadis yang suka berkumpul dengan teman sebayanya dan langsung pulang begitu selesai kuliah membuat Ghani kesulitan untuk mendekatinya.
Apalagi sifat Ghani yang juga bermasalah. Ia lebih mirip stalker pada Jasmine dari pada seorang pria yang sedang mendekati wanitanya. Sikapnya itu dikarenakan rasa rendah dirinya akibat perceraian orang tuanya dulu. Ternyata tindakannya menguntit Jasmine selalu berjalan mulus sebab hingga ia membawa Jasmine ke rumahnya gadis itu sama sekali tak mengenalinya atau pun merasa pernah di ikuti seseorang.
"Kau memang gadis yang sangat lugu Jasmine" gumam Ghani sambil mengelus foto Jasmine dengan ukuran besar yang berada di dalam kamarnya.
Puas memandangi foto Jasmine, Ghani pun mulai merebahkan dirinya untuk tidur. Hatinya sangat senang mengingat tadi melihat perubahan pada kaki Jasmine.
"Sebentar lagi kau pasti bisa berjalan sayang... dan jika saat itu tiba maka kita akan segera menikah" gumam Ghani sambil tersenyum dan memejamkan matanya.
Sementara Jasmine tengah mengalami mimpi buruk. Di dalam mimpinya ia merasa jika dirinya tengah di kurung didalam sebuah ruangan yang gelap. Saat ia berteriak meminta tolong ia dapat mendengar suara Adam yang mencarinya. Saat pria itu berhasil menemukannya tiba-tiba dari arah belakangnya muncul Ghani. Tanpa peringatan pemuda itu langsung menusuk punggung Adam dengan sebuah pisau yang sudah dibawanya.
Pemuda itu tampak tersenyum bengis saat melihat tubuh Adam merosot ke bawah dengan pisau yang masih tertancap di punggungnya. Jasmine yang langsung histeris menjerit dan berusaha berlari kearah Adam. Namun tangan Ghani langsung menarik dan menyeretnya menjauhi tubuh Adam yang sudah tergeletak bersimbah darah. Jasmine terus menjerit dan meraung menyaksikan pria yang sangat dicintainya tergeletak tak bergerak dan sudah kehilangan nyawa.
"Tidaaakk..." teriak Jasmine hingga terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran membasahi tubuhnya.
Bahkan air matanya pun tak henti mengalir dari kedua belah matanya. Keringat dingin yang mengalir semakin bertambah saat ia mendengar langkah tergesa menuju kamarnya.
"Ada apa sayang?" tanya Ghani setelah masuk ke kamar Jasmine bersama bik Narsih.
"Kau kenapa? apa kau mimpi buruk?" tanya Ghani lagi sambil mendekat kearah Jasmine.
Jasmine langsung memundurkan tubuhnya ke belakang dan menutupinya dengan selimut. Matanya masih mengeluarkan air mata. Ghani yang melihat jika Jasmine sepertinya syok tak berani mendekat. Ia takut jika gadisnya itu jadi semakin histeris. Karenanya Ghani hanya berdiri di depan tempat tidur Jasmine sambil berusaha menenangkannya.
"Tenang Jasmine... bik tolong ambilkan air minum untuk Jasmine!" suruh Ghani pada bik Narsih yang berada di sampingnya.
"Baik den..." segera perempuan paruh baya itu keluar untuk memgambilkan minuman untuk Jasmine.
Jasmine masih meringkuk di pojok tempat tidurnya sambil terus menangis tanpa suara. Hal ini membuat Ghani menjadi cemas. Saat bik Narsih kembali sambil membawa minuman untuk Jasmine ia menyuruh wanita paruh baya itu untuk menemani Jasmine agar lebih tenang. Bik Narsih pun langsung mematuhi perintah tuannya. Dalam hati wanita paruh baya itu merasa kasihan pada gadis itu karena ia sudah tahu jika Jasmine sudah diculik oleh Ghani dari keluarganya.
Bik Narsih mengetahuinya saat ia sedang berbelanja di pasar beberapa hari yang lalu, tak sengaja ia melihat berita di televisi yang menyiarkan tentang penculikan Jasmine beserta foto dan ciri-ciri gadis itu. Saat itu juga ia ingin menolong gadis itu dengan melaporkannya pada pihak berwajib. Tapi ia juga takut menanggung resikonya jika sampai Ghani tahu. Ia hanya orang miskin mana mungkin berani melawan orang kaya dan gila seperti Ghani.
"Tenang non... den Ghani sudah pergi..." bisiknya lirih di telinga Jasmine saat wanita itu sudah berada disamping Jasmine.
Perlahan gadis itu menjadi tenang. Dengan segera bik Narsih mengambil air minum yang tadi ia letakkan diatas nakas dan memberikannya pada Jasmine. Dengan perlahan Jasmine meminum air yang diberikan oleh bik Narsih. Setelah itu ia pun mulai terlihat lebih tenang.
"Nona kenapa? apa nona mimpi buruk?" tanya bik Narsih pelan.
__ADS_1
Jasmine mengangguk lemah. Tak terasa air matanya kembali meleleh teringat dengan mimpi buruknya tadi.
"Sudah nona... jangan difikirkan lagi... itu hanya mimpi yang jadi bunga tidur... tidak akan jadi kenyataan" sambung bik Narsih mencoba memberi harapan pada Jasmine.
"Tapi mimpi itu terasa sangat nyata bik... bahkan aku masih bisa mencium aromanya" sahut Jasmine teringat dengan aroma amis darah dari tubuh Adam.
"Lebih baik nona berdo'a agar tidak terjadi hal buruk seperti dalam mimpi nona tadi" saran bik Narsih.
Jasmine hanya mengangguk dan mulai berdo'a seperti saran bik Narsih.
"Ya Allah tolong lindungilah kak Adam ... jangan sampai hal buruk terjadi padanya..." do'a Jasmine dalam hati.
"Nona sudah merasa tenang?" tanya bik Narsih lagi.
"Iya bik... terima kasih" sahut Jasmine.
"Kalau begitu lebih baik nona segera tidur lagi... sebelum tuan Ghani kembali. Biar saya yang menjaga nona disini" sambung bik Narsih.
"Baiklah bik... sekali lagi terima kasih"
"Sama-sama non" ucap bik Narsih.
"Seandainya saja saya bisa membantumu non..." batin bik Narsih sambil memandangi wajah pucat Jasmine yang sudah mulai tertidur.
Tak lama tampak Ghani masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana bik? sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya Ghani penasaran.
"Nona Jasmine sepertinya mimpi buruk den... dan pasti dia merindukan keluarganya" terang bik Narsih mencoba meminta belas kasihan dari Ghani.
Ghani hanya menghela nafasnya pelan. Ia memang merasa kasihan pada Jasmine namun ia juga tidak ingin rencananya untuk menikahi gadis itu gagal. Apalagi menurutnya tinggal beberapa langkah lagi hingga akhirnya gadis pujaannya itu dapat berjalan sebab Jasmine sudah menunjukkan kemajuan. Melihat Ghani yang hanya diam bik Narsih tak mau mengambil resiko dengan membuat pemuda itu marah.
"Ya sudah den... biar bibik tidur disini dulu untuk menemani non Jasmine" kata bik Narsih.
"Baiklah" sahut Ghani lalu melangkah keluar dari dalam kamar.
Setelah kepergian Ghani, bik Narsih pun tidur di samping Jasmine. Dipandangnya wajah lugu gadis itu dengan rasa kasihan.
__ADS_1