Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Pengantin Baru


__ADS_3

Setelah melaksanakan sholat maghrib bersama Rian mengajak Maya untuk makan malam di restoran hotel yang berada di roof top hotel mereka menginap. Suasana yang romantis membuat Maya sangat tersanjung dan terharu dengan perlakuan suaminya. Bahkan Rian sudah membooking seluruh restoran hingga hanya ada mereka berdua di sana. Selesai makan malam keduanya tak langsung kembali ke dalam kamar karena ingin menikmati suasana malam dari atas hotel. Gemerlap bintang tampak jelas menghiasi langit malam menambah suasana romantis.


"Terima kasih sayang... hari ini sungguh kau membuatku merasa menjadi ratu..." ucap Maya sambil menyandarkan kepalanya didada bidang Rian.


"Bukan hanya hari ini saja aku memperlakukanmu seperti ratu sayang... tapi selamanya..." sahut Rian lembut lalu mengecup puncak kepala istrinya itu.


Maya tersenyum bahagia. Ada perasaan hangat dan nyaman saat bersama Rian yang tak pernah ia rasakan pada pria lain termasuk Rio yang merupakan cinta pertamanya. Jika orang bilang cinta pertama akan terkenang selamanya dan menjadi mantan terindah maka tidak bagi Maya... Baginya Rian kini adalah cinta satu-satunya dalam hidupnya. Tak ada celah sedikit pun dalam hatinya untuk orang lain apa lagi hanya untuk seorang mantan.


"Apa kau merasa kedinginan?" tanya Rian saat Maya menyusupkan tubuhnya pada Rian.


"Hemm..." sahut Maya sambil mengeratkan pelukannya.


"Kalau begitu kita kembali ke kamar..." ajak Rian.


Maya pun mengangguk setuju. Mereka pun berjalan berdampingan menuju ke kamar mereka. Sesampainya di dalam kamar Maya kembali dikejutkan dengan suasana kamar yang sudah dihias sedemikian rupa hingga tampak sangat indah dan romantis.


"Ini..." ucap Maya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut.


"Ya... aku sengaja menyiapkannya untuk malam pertama kita sayang..." bisik Rian lembut di telinga Maya.


Tubuh Maya sedikit bergetar saat mendengar ucapan malam pertama dari Rian. Sungguh kini ia mulai gugup saat menyadari jika kini saatnya ia dan Rian melakukan kegiatan suami istri untuk pertama kalinya. Melihat wajah istrinya yang gugup Rian pun tersenyum gemas.


"Jangan khawatir sayang kita tidak akan langsung melakukannya... kita sholat saja dulu" ujar Rian.


Mendengar perkataan suaminya entah mengapa seketika Maya langsung merasa lega. Dengan patuh ia pun segera bersiap untuk melaksanakan ibadah bersama suaminya itu. Selesai beribadah dan membereskan peralatan sholatnya Maya kembali merasa gugup. Apa lagi saat Rian mulai mendekatinya dan memeluk tubuhnya dari belakang ketika Maya baru saja meletakkan peralatan sholat di dalam lemari.


Perlahan Rian mulai mengecup leher istrinya itu membuat Maya seakan terkena sengatan listrik. Ia sadar jika kini ia tidak dapat lagi menghindar dari kewajibannya sebagai seorang istri meski ia masih sedikit takut. Rian yang menyadari ketakutan istrinya pun memperlakukan Maya dengan sangat lembut hingga akhirnya Maya pun dapat menikmati setiap sentuhan yang Rian buat. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi saat malam pertama bagi kedua pengantin.

__ADS_1


Sementara di tempat lain sepasang suami istri seakan tidak mau kalah dengan pasangan pengantin baru. Mereka pun tengah bergelut dengan panas di kamar mereka. Meski harus ekstra hati-hati karena sang istri tengah mengandung namun tak mengurangi gairah keduanya. Setelah mencapai puncak keduanya pun tergeletak kekelahan saling berpelukan. Adam mengecup puncak kepala istrinya lembut dan mengucapkan terima kasihnya atas pelayanan Jasmine. Jasmine hanya bisa mengangguk dan tersenyum mendengar perkataan suaminya itu karena masih kelelahan.


"Tidurlah yang nyenyak Honey... sebab besok pagi-pagi sekali kita harus pergi ke suatu tempat" kata Adam sebelum Jasmine benar-benar menutup kedua matanya.


"Memangnya kita mau pergi kemana Dear?" tanya Jasmine dengan mata yang mulai tertutup.


"Itu kejutan Honey..."


"Dear..." rengek Jasmine sambil menggoyangkan tubuh Adam.


"Sabar Honey... besok kau juga tahu jika kita sudah sampai disana..." ucap Adam lalu mengecup kening Jasmine dalam yang membuat bumil itu langsung terlelap.


Keesokan harinya saat Jasmine terbangun ia melihat Adam sudah rapi dengan baju kokonya.


"Kau sudah bangun Dear?" ucapnya sambil mendekat ke arah Jasmine.


"Kenapa kau tidak membangunkanku?"


Jasmine mendengus kecil.


"Sudah... ayo bangun dan mandilah! aku sudah siapkan airnya... sebentar lagi waktu subuh habis... aku tunggu kita sholat bersama..." bujuk Adam.


Jasmine pun tersenyum dan mematuhi suaminya itu. Selesai mandi ia pun segera menyusul Adam dan mereka pun sholat berjamaah di kamar mereka. Selesai sholat mereka pun bersiap untuk pergi tempat yang Adam katakana semalam. Dan ternyata bukan hanya mereka yang pergi tapi mama Tika dan mama Shinta pun ikut serta. Mereka pergi dengan dua mobil. Adam dan Jasmine dalam satu mobil sementara mama Tika dan mama Shinta dengan sopir menggunakan mobil yang lain.


Jasmine yang masih kekelahan akibat semalam pun kembali tertidur di dalam mobil. Adam hanya tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur pulas di bangku sampingnya. Setelah perjalanan yang cukup jauh akhirnya mereka pun sampai ditempat tujuan mereka. Dengan perlahan Adam pun membangunkan Jasmine lembut. Setelah beberapa kali akhirnya Jasmine pun terbangun. Alangkah terkejutnya dia saat mengetahui dimana kini dirinya berada. Bahkan ia sampai mengucek matanya karena masih tak percaya jika ia kini berada di depan rumah pak Jajang dan bu Sumi.


"Dear... benarkah?" tanya Jasmine sambil menatap Adam tak percaya.

__ADS_1


"Iya Honey..."


"Tapi bagai mana bisa? kita lewat jalan mana?" tanya Jasmine bertubi-tubi pasalnya terakhir ia dan Adam hendak keluar dari desa itu jalan yang mereka tempuh sangat sulit.


Mustahil jika mereka bisa kembali ke desa itu dengan menggunakan mobil dan dia sama sekali tidak menyadarinya. Meski ia tertidur namun harusnya ia merasakan guncangan. Apa lagi ia sangat ingat bahwa jalan yang dulu mereka lewati hanya bisa dilalui motor itu pun sangat sulit.


"Jangan bingung begitu Honey... apa kau lupa jika suamimu ini sudah berjanji akan memperbaiki akses jalan kemari?" kata Adam yang melihat kebingungan istrinya itu.


"Jadi kau?"


"Iya... sudah ayo kita temui pak Jajang dan bu Sumi!" ajak Adam yang langsung dituruti oleh Jasmine.


Ketika ia turun dari mobil bukan hanya pak Jajang dan bu Sumi saja yang menyambut kedatangannya dan juga suaminya tapi seluruh warga yang ingin mengucapkan terima kasih karena Adam sudah memperbaiki akses jalan ke kampung mereka. Setelah berbincang dengan warga kampung akhirnya mereka dapat berbicara dengan pak Jajang dan istrinya secara pribadi. Dalam kesempatan itu Adam dan keluarganya kembali berterima kasih pada pasanga suami istri itu yang sudah sempat menolong dirinya dan Jasmine.


Keduanya pun sangat senang saat mengetahui jika Jasmine tengah mengandung. Bahkan Adam mengundang keduanya untuk datang ke rumahnya saat Jasmine melahirkan nanti. Sepasang sumai istri itu pun langsung menyetujuinya apa lagi kini akses jalan sudah mudah sehingga mereka tidak perlu khawatir jika akan keluar kampung.


Dilain tempat sepasang pengantin baru tampak baru saja selesai dari pergulatan panas mereka setelah sholat subuh. Sepertinya keduanya belum merasa puas dengan aktifitas baru mereka. Meski kelelahan namun Maya tidak pernah menolak permintaan suaminya. Sehingga kini ia merasakan tubuhnya seolah remuk. Rian yang menyadari keadaan istrinya pun sedikit merasa menyesal karena terus membobol gawang istrinya itu.


"Maafkan aku sayang... sudah membuatmu kelelahan..." ucap Rian sambil membenarkan rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya.


"Tidak apa-apa sayang... aku kan juga menginginkannya..." sahut Maya malu-malu.


Rian yang gemas dengan sikap istrinya yang malu-malu pun langsung mengecup bibir Maya yang masih sedikit basah akibat ulahnya tadi. Dan bisa di duga akhirnya mereka kembali melakukannya meski sebelumnya Rian sempat meminta maaf. Karena sejak semalam Rian seolah merasa candu dengan tubuh istrinya itu.


Keduanya bahkan melewatkan waktu sarapan dan baru membersihkan diri saat hampir masuk waktu dhuhur. Hingga akhirnya mereka mengerjakan kewajiban mereka terlebih dahulu sebelum mereka sarapan sekaligus makan siang. Setelah makan siang keduanya sengaja bersantai untuk memulihkan tenaga mereka karena sore nanti keduanya akan kembali ke rumah Rian. Ya saat akan menikahi Maya, Rian sudah menyiapkan sebuah rumah mungil yang ia beli dari hasil jerih payahnya untuk mereka memulai kehidupan rumah tangga mereka.


Kedua orangtua Maya dan Rian pun sama sekali tidak keberatan dengan keputusan Maya dan Rian yang ingin tinggal di rumah mereka sendiri setelah mereka menikah. Sebab para orantua berfikir jika keduanya akan lebih baik jika bisa hidup mandiri meski keduanya merupakan anak tunggal. Dan tentu saja Moci akan ikut tinggal bersama mereka.

__ADS_1


Dan kini keduanya tengah berada di depan rumah impian keduanya. Ya meski Rian yang membelinya namun ia tetap mengajak Maya saat ia memilih rumah yang ingin dibelinya. Karena menurut Rian rumah itu akan menjadi tempat tinggal mereka berdua sehingga harus sesuai dengan selera keduanya. Lagi pula nantinya Maya yang akan lebih banyak menghabiskan waktu disana saat dirinya bejerja sehingga rumah itu harus membuat istrinya itu selalu merasa nyaman di dalamnya.


Meski tidak sebesar rumah kedua orangtuanya namun Maya merasa bahagia karena ini rumah impiannya bersama Rian. Dan yang terpenting adalah ia akan tinggal di sana bersama pria yang dicintainya dan sudah menjadi suaminya. Ia juga berharap agar bisa secepatnya hamil agar rumah mereka akan meriah dengan suara anak-anak mereka. Membayangkannya saja sudah membuat Maya tersenyum bahagia.


__ADS_2