Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Armand


__ADS_3

Tak terasa hari ini adalah hari dimana Jasmine akan kembali berjuang untuk melahirkan anak keduanya. Sejak semalam ia sudah mulai merasakan kontraksi, namun ia sengaja tidak mengatakannya pada Adam. Sebab kontraksi yang ia rasakan masing hilang timbul. Dan pagi ini saat baru saja ia memandikan putra pertamanya Aby, ia kembali merasakan kontraksi yang lebih sering. Dan hampir saja ia merasa tidak kuat saat memakaikan pakaian putranya itu karena rasa sakit yang dirasakannya cukup hebat. Namun sebisa mungkin ia menahannya agar putranya selesai berpakaian.


"Mama takit?" tanya Aby saat melihat wajah Jasmine yang memucat menahan sakit.


"Hemmm..." hanya suara deheman yang sanggup ia keluarkan dari mulutnya karena rasa sakit itu kembali menyerangnya.


Balita yang baru saja rapi mengenakan pakaiannya itu pun segera berlari tertatih mencari papa dan kedua omanya. Sedang Jasmine sudah tergeletak diatas tempat tidur putranya sambil menahan sakit. Tak lama terlihat Adam berlari kearah Jasmine dan segera memeriksa keadaan istrinya itu.


"Apa sudah saatnya kau melahirkan Honey?"


"He um..." sahut Jasmine sambil menganggukkan kepalanya.


Sedangkan kedua tangannya memegangi perutnya sudah membuncit.


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang" ucap Adam sambil membimbing istrinya itu untuk keluar dari dalam kamar.


Mama Tika dan mama Sinta yang menggendong Aby sudah menunggu keduanya di ruang tamu.


"Kita ke rumah sakit sekarang?" tanya mama Tika saat melihat putrinya dipapah oleh Adam.


Adam dan Jasmine langsung menganggukkan kepala mereka bersamaan. Mama Tika pun langsung membantu Adam memapah Jasmine ke dalam mobil. Sedang mama Sinta mengekori mereka dari belakang sambil menggendong Aby. Balita itu tampak tenang ketika melihat mamanya dipapah oleh Adam dan mama Tika. Balita itu seolah tahu jika saat ini mamanya tengah berjuang untuk melahirkan adiknya. Ya sejak hamil lagi Jasmine dan Adam sudah mengenalkan balita itu tentang calon adiknya yang membuat balita itu tahu jika sebentar lagi ia akan menjadi kakak.


"Mama tunggu di rumah saja dengan Aby..." kata Adam saat melihat mamanya mengekori dibelakang bersama Aby.

__ADS_1


"Iya Dam... kamu hati-hati menyetir mobilnya..." sahut mama Sinta.


Kemudian Adam pun melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit. Jasmine yang duduk dibelakang bersama mama Tika tampak sedang menahan rasa sakit akibat konraksi yang semakin sering ia rasakan. Mama Tika yang berada disampingnya pun terus menyemangati putrinya itu. Meski ini kehamilan kedua bagi Jasmine tapi tetap saja hal ini masih membuat setiap orang menjadi gugup dan cemas.


"Semoga saja kelahiran kali ini kembali normal..." do'a mama Tika sambil terus menggenggam tangan putrinya itu.


Lima belas menit kemudian...


Adam menghentikan mobilnya di depan rumah sakit tempat Jasmine memeriksakan kandungannya. Dengan segera pria itu keluar dari dalam mobil dan langsung membuka pintu penumpang untuk membawa Jasmine ke dalam rumah sakit.


"Tolong... istri saya mau melahirkan!" teriak Adam sambil memapah Jasmine.


Sementara mama Tika langsung membawa tas berisi keperluan Jasmine dan bayinya selama berada di rumah sakit. Para petugas medis langsung mengambil alih Jasmine dari Adam untuk dibawa ke ruang bersalin. Adam dan mama Tika pun langsung mengikuti mereka saat Jasmine dibawa dengan brankar.


Adam pun langsung masuk ke dalam untuk kembali menemani istrinya untuk melahirkan anak kedua mereka. Dan setelah tiga puluh menit berjuang akhirnya suara yang ditunggu-tunggu pun terdengar. Suara tangisan bayi yang sangat kencang memenuhi ruang persalinan.


"Selamat tuan... nyonya... bayi anda lahir dengan selamat dan sempurna... dan jenis kelaminnya laki-laki..." ucap sang dokter sambil tersenyum.


Adam dan Jasmine saling melempar senyum saat mengetahui putra kedua mereka lahir dengan selamat.


"Terima kasih Honey..." bisik Adam ditelinga Jasmine.


Jasmine hanya bisa mengangguk karena dirinya masih merasa lelah. Sore hari mama Sinta datang menjenguk dengan membawa Aby bersamanya. Balita itu tampak antusias saat diberitahu jika ia akan menjenguk mama dan adik bayinya.

__ADS_1


"Ini dede Aby?" tanyanya saat melihat bayi mungil di dalam box bayi.


"Iya sayang..." sahut Adam yang menggendong putra pertamanya agar balita itu bisa melihat adik bayinya dengan jelas.


"Kalian sudah memberinya nama?" tanya mama Sinta yang duduk di samping brankar Jasmine.


"Sudah ma... namanya Armand..." sahut Adam.


"Bagus sekali namanya..." kata mama Sinta.


"Iya..." timpal mama Tika yang sedari pagi belum pulang menemani Jasmine di rumah sakit.


"Dede Aman..." panggil Aby pada adik bayinya membuat semua orang bahagia.


Sementara bayi mungil itu tampak tersenyum dalam tidurnya seakan mendengar panggilan dari Aby kakaknya.


Satu minggu kemudian...


Rumah Adam tampak ramai karena hari ini akan diadakan acara aqiqah untuk Armand. Seluruh keluarga dan sahabat diundang. Tak lupa Adam juga mengundang anak-anak panti asuhan untuk ikut dalam acara tersebut. Aby juga tampak bahagia, dia memamerkan adiknya pada setiap orang. Bayi Armand yang diletakkan pada box bayi tampak tenang dan tidak terganggu dengan suasana ramai disekitarnya. Selesai acara aqiqah hanya tinggal Maya dengan suami dan juga putrinya disana. Mereka masih betah bercengkrama dengan keluarga Jasmine. Bahkan putri Maya mengatakan jika ingin memiliki adik juga saat melihat bayi Armand.


Semua tampak bahagia dengan kehidupan yang mereka jalani selama ini. Bahkan untuk Mirna, meski dulu ia berkubang dosa namun pelajaran pahit yang ia dapatkan sungguh membuatnya berubah menjadi sosok yang lebih baik. Manusia memang tidak bisa merubah masa lalunya namun jika ia mau berubah maka bukan tidak mungkin masa depannya akan berubah lebih baik. Kini Mirna mencoba untuk menerima Rudi dan menghilangkan traumanya pada pria itu. Ia juga tidak menceritakan masa lalunya dengan Rudi pada bu Dita dan juga papanya pak Bima.


Bagi Mirna biarlah masa lalunya dan Rudi menjadi rahasia untuk keduanya dan juga bu Nike. Karena jika mereka jujur maka bukannya membuat kebaikan namun bisa jadi malah akan membuat masalah baru. Dan Mirna sudah belajar ikhlas untuk merelakan masa lalunya dan juga ibu kandungnya. Baginya masa depannya dengan Rudi juga keluarganya itulah yang terpenting.

__ADS_1


Tak terasa sudah dua tahun sejak terakhir Mirna meninggalkan kota asalnya bersama bu Dita dan bu Nike. Dua orang yang menjadi ibunya. Kini ia kembali ke kota yang menyimpan segala kenangan masa lalunya. Bukan tanpa alasan, papanya pak Bima terserang strok dan sebagai putri satu-satunya ia ingin merawat ayahnya itu. Rudi yang kini sudah menjadi tunangannya sangat mendukung keputusannya itu. Demikian juga dengan bu Dita dan bu Nike. Meski keduanya tidak ikut bersama Mirna karena sudah memiliki kehidupan sendiri. Namun mereka berjanji akan sering menengok pria yang pernah hadir didalam kehidupan mereka itu


__ADS_2