
Sudah satu minggu sejak dokter Dina mengatakan pada Ghani tentang diagnosa terakhirnya. Harapan Ghani untuk bisa segera keluar dari rumah sakit jiwa pun kembali luntur sebab sampai saat ini tidak ada lagi kabar lanjutan dari dokter Dina. Bahkan Ghani sudah mulai menduga-duga jika permohonan dokter Dina agar dia dapat langsung bebas mungkin akan ditolak oleh pihak pengadilan. Meski begitu Ghani tidak mau larut dengan rasa gelisah yang kini mulai merasukinya. Ia berusaha untuk bisa sabar dan berharap yang terbaik terjadi padanya.
Hingga siang itu perawat kembali memanggilnya dan mengantarkannya ke ruangan dokter Dina. Dengan hati yang berdebar Ghani mengikuti langkah perawat menuju ke ruangan dokter Dina. Setelah di persilahkan masuk Ghani pun segera memasuki ruangan dokter Dina dan duduk di depan dokter yang selama ini telah merawatnya itu. Melihat wajah Ghani yang tampak tegang membuat dokter Dina tersenyum kecil. Ia bisa memahami apa yang dirasakan oleh Ghani saat ini.
"Apa kabar Ghani? apa hari ini kau merasa semakin baik?" tanya dokter Dina.
"Iya dok... saya merasa semakin baik setiap harinya..." sahut Ghani sambil tersenyum.
"Baiklah... seperti yang sudah saya katakan sebelumnya... jika saya harus berkonsultasi dulu dengan pihak berwajib mengenai kebebasanmu... dan akhirnya baru tadi pagi saya mendapatkan kabar jika pihak pengadilan memutuskan jika masa hukumanmu dianggap telah terlaksana selama kau berada di sini, itu berati kau bisa segera bebas setelah saya mendiagnosis jika kau telah sembuh" terang dokter Dina.
"Maksud dokter?"
"Ya... kamu bisa segera bebas Ghani... setelah saya benar-benar yakin jika kamu sudah sembuh dan juga sesudah kau menjalani beberapa tes lagi..." kata dokter Dina.
"Hanya butuh waktu sekitar satu minggu lagi untuk bisa mendapatkan hasilnya... jadi saya harap kau bisa sedikit bersabar ya..." sambung dokter Dina.
"Iya dok... tidak apa-apa..." sahut Ghani sambil tersenyum.
Baginya tidak masalah jika harus menunggu satu minggu lagi yang terpenting adalah akhirnya ia bisa bebas dan bisa menghirup udara segar. Di tempat lain tampak Jasmine tengah menunggu Adam pulang dari kantor. Hari ini ia ingin meminta sesuatu pada suaminya itu. Meski ia tidak yakin apakah suaminya itu akan memenuhi permintaannya yang satu ini. Saat melihat Adam yang baru saja keluar dari dalam mobil Jasmine langsung berlari menghampiri suaminya. Adam yang melihatnya jadi sedikit khawatir sebab ia takut jika terjadi apa-apa pada Jasmine dan juga kandungannya
"Jangan lari-lari begitu Honey... ingat kandunganmu!" seru Adam.
"Maaf Dear..." sahut Jasmine yang langsung menghentikan larinya dan berganti berjalan ke arah Adam.
"Sebenarnya ada apa denganmu Honey... hingga kau buru-buru seperti itu hem?"
"Eumm... aku hanya ingin menyambutmu pulang Dear..." jawab Jasmine berusaha menyembunyikan maksudnya.
"Jangan berbohong padaku Honey... aku tahu arti dari tatapan matamu itu pasti kau menginginkan sesuatu bukan?" tebak Adam tepat.
"Baiklah aku mengaku... tapi kita bicara di dalam saja ya..." ajak Jasmine.
Adam pun mengangguk dan keduanya pun lalu masuk ke dalam rumah. Setelah Adam membersihkan diri dan berganti pakaian ia pun menghampiri Jasmine yang sudah menunggunya di balkon kamar mereka.
"Ada apa sayang? sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu yang sangat serius..." kata Adam sambil memeluk Jasmine dari belakang.
Jasmine langsung membalikkan tubuhnya dan menatap mata Adam dalam. Tampak sekali jika ia sedang berusaha merangkai kata agar Adam mau mengerti tentang keinginannya.
"Aku ingin bertemu dengannya Dear..." ucap Jasmine hati-hati.
__ADS_1
"Dia?" tanya Adam tak mengerti dengan maksud Jasmine.
"Kak Ghani..." kata Jasmine lirih namun masih terdengar oleh Adam.
"Kenapa tiba-tiba kau ingin bertemu dengannya? bukannya kau masih takut?" tanya Adam.
"Aku fikir lebih baik aku selesaikan masalahku dengannya... agar tidak ada lagi kesalahfahaman diantara kami... aku tidak ingin terus hidup dalam ketakukan Dear... aku ingin menghadapinya" terang Jasmine.
"Apa kau yakin akan menemuinya?"
"Iya Dear..." sahut Jasmine mantap.
"Baiklah besok kita ke rumah sakit tempat dia dirawat..." putus Adam yang membuat Jasmine sedikit terkejut.
Sebab dalam bayangannya Adam akan keukeh melarangnya untuk menemui Ghani karena apa yang sudah dilakukan pria itu padanya di masa lalu.
"Kau tidak keberatan Dear?" tanya Jasmine sambil memandang wajah suaminya mencari apakah ada rasa kesal disana.
Namun Jasmine tak menemukannya sama sekali. Wajah Adam terlihat biasa dan tidak terlihat kesal sedikit pun.
"Tentu saja tidak Honey... asal semua demi kebaikanmu..." sahut Adam.
"Terima kasih Dear..." ucapnya senang.
"Sama-sama Honey..." kata Adam sambil mengecup puncak rambut Jasmine lembut.
Keesokan harinya seperti yang sudah ia janjikan pada Jasmine, Adam sengaja tidak masuk ke kantor untuk mengantar Jasmine menemui Ghani di rumah sakit. Namun ia dan Jasmine sepakat untuk tidak memberitahukan hal ini pada kedua mama mereka agar tidak khawatir. Dengan alasan jika Jasmine sedang ngidam ingin jalan-jalan berdua dengan Adam akhirnya mereka bisa pergi tanpa dicurigai oleh mama Tika dan mama Sinta. Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya Adam dan Jasmine tiba di rumah sakit tempat Ghani dirawat. Adam sebelumnya sudah memberitahukan pada pihak rumah sakit akan kunjungannya karena status hukum Ghani.
Dan ternyata tanpa halangan apa pun ia bisa mendapatkan izin untuk menemui Ghani bersama Jasmine. Saat pertama tiba di depan rumah sakit Jasmine tampak sedikit gugup. Dengan sabar Adam menunggu sampai istrinya itu siap barulah mereka berdua keluar dari dalam mobil. Setelah melapor pada petugas jaga keduanya pun diantarkan oleh perawat untuk menunggu Ghani di ruangan khusus untuk menjenguk pasien.
Sementara Ghani yang tengah membaca buku di dalam kamarnya terkejut saat seorang perawat datang dan mengatakan padanya jika ada yang mengunjunginya. Tanpa berfikir panjang Ghani pun langsung mengikuti perawat itu untuk menemui orang yang mengunjunginya. Dalam hatinya ia tidak dapat menduga siapa yang hendak mengunjunginya itu.
Saat Ghani sampai di ruangan khusus untuk kunjungan matanya membelalak tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Benar... ia melihat Jasmine di sana menunggunya meski tetap bersama Adam suaminya yang selalu berada di samping wanita itu.
"Selamat siang Jasmine... Adam..." sapa Ghani begitu ia sudah berada didepan keduanya.
"Selamat siang..." sahut Adam.
Sedang Jasmine hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Meski senyuman Jasmine terlihat kaku karena wanita itu tengah merasakan gugup namun tetap membuat Ghani sedikit merasa lega karena Jasmine sudah mau menemuinya. Tangan Jasmine sedari tadi tak mau lepas dari genggaman Adam. Hanya dengan cara itu ia sanggup bertatap muka lagi dengan Ghani. Meski ia sudah mencoba namun tetap saja rasa takut pada Ghani akibat trauma penculikannya dulu belum juga hilang. Tapi mau tidak mau Jasmine harus menghadapinya agar tidak ada lagi hal yang mengganjal dihatinya.
__ADS_1
"Maafkan aku Jasmine..." kata Ghani sesaat setelah ia duduk didepan keduanya.
"Aku tahu kau pasti masih takut padaku... tapi yakinlah aku sudah sadar dan mengikhlaskanmu" terang Ghani.
"Aku sudah memaafkanmu kak... itu sebabnya aku datang kemari untuk memberitahukannya padamu" kata Jasmine.
Ghani tersenyum lega mendengar lagi suara Jasmine yang lama dirindukannya.
"Apa kau bahagia?" tanya Ghani meski ia sudah tahu jawabannya saat melihat Jasmine yang sedari tadi tak mau melepaskan genggamannya pada Adam.
"Aku sangat bahagia kak... karena itu aku juga ingin kakak juga bahagia..." ucap Jasmine tulus.
"Akan aku usahakan..." kata Ghani sambil tersenyum.
"Aku sudah bicara dengan pihak berwajib agar hukumanmu bisa segera diselesaikan..." kata Adam.
"Terima kasih..." sahut Ghani pada Adam.
Ketiganya pun berbincang meski lebih banyak Ghani dan Adam yang berbicara sedang Jasmine lebih sering sebagai pendengar. Tapi setidaknya sekarang sudah tidak ada lagi masalah yang meliputi ketiganya. Adam juga menjelaskan tentang perkembangan kasus kedua orangtua Ghani yang kini sudah masuki meja sidang. Meski Adam tidak jadi menuntut namun karena perbuatan mereka sudah merupakan perbuatan kriminal maka pihak kepolisian tetap melanjutkan kasusnya. Apalagi dengan terbongkarnya bisnis haram milik pak Seno membuat pria itu akan mendapatkan tuntutan berlapis sehingga bisa dipastikan jika pria itu akan mendekam lama di dalam penjara.
Sedangkan untuk bu Rasti yang hanya terbukti ikut dalam perencanaan kecelakaan yang menimpa Jasmine dan Adam akan menjalani hukuman yang sesuai dengan kejahatannya. Ghani hanya bisa berharap di dalam hatinya agar kedua orangtuanya bisa sadar seperti apa yang kini ia rasakan dan dapat melanjutkan hidup mereka dengan baik setelah mereka selesai menjalani hukuman mereka.
Setelah cukup lama berbincang perawat yang sedari tadi mengawasi ketiganya pun memberitahukan jika waktu kunjungan sudah habis. Dengan perasaan baru ketiganya pun berpisah.
"Kami pulang dulu Ghani... semoga kita tetap bisa berhubungan baik kedepannya..." kata Adam sambil menjabat tangan Ghani.
"Iya... dan terima kasih kalian sudah mau menemuiku juga memaafkan kesalahanku... juga kedua orangtuaku..." sahut Ghani.
"Sama-sama..." kata Adam.
"Kau juga jaga kesehatanmu Jasmine... juga kandunganmu..." kata Ghani yang sudah tahu tentang kehamilan Jasmine.
"Iya kak... kakak juga harus menjaga kesehatan kakak agar bisa cepat keluar dari sini..." ucap Jasmine tulus.
"Iya..." sahut Ghani sambil tersenyum berusaha meyakinkan Jasmine jika kini ia sudah baik-baik saja.
"Kalau begitu kami pergi dulu..." pamit Adam.
Ghani pun mengangguk sebagai balasannya. Dilihatnya kepergian Adam dan Jasmine hingga tubuh keduanya menghilang dibalik pintu.
__ADS_1
"Semoga kau selalu bahagia Jasmine... aku akan selalu mengingatmu..." batin Ghani sambil melangkah kembali ke kamarnya.