Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Bertahan


__ADS_3

Malam harinya Ghani sengaja mengajak Jasmine untuk makan malam berdua. Ia ingin agar gadisnya merasa nyaman bersamanya dan mulai bisa mencintainya. Sikap Jasmine yang terlihat tenang dan selalu menurut membuat Ghani merasa jika gadis itu sudah mulai bisa menerimanya.


"Kau makanlah yang banyak sayang... sebab mulai besok kamu akan membutuhkan banyak tenaga untuk melakukan terapi" kata Ghani dengan penuh perhatian.


Jasmine hanya mengangguk pelan tanpa mau menjawab ucapan Ghani. Sebenarnya dalam hati Jasmine masih ketakutan harus tinggal bersama pria seperti Ghani. Untung saja di rumah itu masih ada bik Narsih yang bertugas melayani Jasmine sehingga gadis itu sedikit tenang karena ada orang lain yang tinggal bersama mereka.


Setelah makan malam Jasmine langsung pamit untuk beristirahat. Sebenarnya ia hanya ingin menghindari Ghani agar tidak terus berada didekat pria itu. Ghani yang mengira jika Jasmine hanya ingin agar besok bisa ikut terapi dengan badan segar langsung menyetujuinya. Dengan perlahan Jasmine pergi ke kamarnya dengan dibantu oleh bik Narsih. Walau Ghani mulai percaya jika Jasmine mulai menerimanya tapi dia tidak pernah membiarkan gadis itu sendirian kecuali di dalam kamarnya.


"Aku harus menghafal letak ruangan di rumah ini agar bisa tahu jalan untuk melarikan diri jika waktunya tiba..." batin Jasmine sambil mengedarkan pandangannya.


"Bik... rumah ini besar sekali ya... " ucap Jasmine berusaha kembali mengorek keterangan dari bik Narsih.


"Iya non... soalnya ini rumah peninggalan kakek buyut den Ghani... jadi rumah ini dibangun mungkin saat masa penjajahan..." terang bik Narsih.


"O... kalau begitu pasti banyak sekali ruangannya ya bik... secara orang jaman dulu pasti memiliki banyak anak..."


"Iya non... tapi saat ini cuma den Ghani pewaris rumah ini karena cuma dia cucu terakhir dari kakeknya karena ayah den Ghani sampai saat ini belum memiliki anak dari istri barunya..." lanjut bik Narsih.


"Pantas saja kalau dia jadi rebutan kedua orang tuanya..." batin Jasmine.


Saat mereka hampir sampai di kamar yang kini ditempati oleh Jasmine ia melihat sekilas ada sebuah kamar yang terlihat gelap berbeda dengan kamar lainnya. Karena penasaran Jasmine pun menanyakannya pada pik Narsih.


"Itu kamar siapa bik?" tanyanya sambil menunjuk pada kamar yang ia maksud.


"Oh itu kamar den Ghani... bukan kamar tidur tapi lebih mirip ruang belajar..." terang bik Narsih.


Jasmine hanya mengangguk tak ingin membuat bik Narsih curiga jika dia tengah mengorek keterangan darinya.


"Saya bantu naik ke tempat tidur non?"


"Ga usah bik... saya mau sholat dulu..." sahut Jasmine.


Disana memang sudah di siapkan mukena dan juga baju yang seukuran Jasmine. Memikirkan jika Ghani juga tahu ukuran pakaiannya membuat Jasmine semakin ngeri. Entah sudah seberapa jauh pemuda itu mengamati dirinya hingga tahu ukuran pakaian yang dipakainya.


"Terima kasih bik..." ucap Jasmine saat bik Narsih hendak keluar dari kamar.


"Sama-sama non..." sahut wanita paruh baya itu.


Setelah kepergian bik Narsih Jasmine segera mengambil air wudhu lalu sholat. Kemudian ia pun segera membaringkan dirinya di tempat tidur dan segera memejamkan matanya. Ia tak ingin sampai Ghani masuk lagi ke kamarnya dan mendapatinya belum tertidur. Ia takut jika pemuda itu berbuat macam-macam. Baru saja Jasmine memejamkan matanya ia mendengar pintu kamarnya dibuka perlahan. Lalu terdengar langkah kaki seseorang mendekat.

__ADS_1


Dalam hati Jasmine sudah dapat menduga jika itu adalah Ghani. Tapi Jasmine tetap tak bergeming. Ia tetap menutup matanya dan berpura-pura tertidur. Kemudian ia merasakan seseorang mengelus kepalanya perlahan dan menyibakkan anak rambut yang menutupi keningnya. Jasmine bahkan dapat merasakan hembusan hangat dari nafas orang itu.


"Kau cantik sekali jika tertidur seperti ini Jasmine... rasanya aku sudah tidak sabar untuk segera menikahimu...." terdengar suara Ghani berbisik lembut.


Jasmine merasakan jika nafas Ghani semakin mendekat. Dengan spontan Jasmine berpura-pura berbalik mengganti posisi tidurnya. Ghani yang semula berniat mencium gadis pujaannya itu pun urung melakukannya. Ia bahkan tersenyum karena mengira jika Jasmine sudah sangat pulas dengan tidurnya.


"Tidurlah yang nyenyak sayang..." ucap Ghani setelah itu ia pun keluar dari dalam kamar.


Mendengar suara pintu tertutup Jasmine membuka matanya dan menghembuskan nafasnya lega. Hampir saja pemuda itu menciumnya... tidak... Jasmine tidak akan pernah membiarkan Ghani menciumnya walau hanya di kening sekali pun.


"Kak Adam... aku merindukanmu..." batin Jasmine mengingat pria yang sudah mengisi seluruh hatinya itu.


Di kamarnya Adam tengah menerima laporan dari orang suruhannya melalui vidio call. Dari pantauan cctv dan keterangan yang didapat mereka baru mengetahui jika Jasmine dibawa menggunakan mobil dengan plat nomor palsu. Namun begitu mereka berhasil melacak dengan meretas cctv yang diduga dilewati oleh mobil penculik itu. Dan terakhir mereka mendapatkan jejak jika mobil itu menuju kearah kota C. Walau termasuk kota kecil, daerah itu cukup ramai... namun ada juga villa-villa yang terletak didaerah yang cukup terpencil jauh dari keramaian.


"Ya sudah... tetap lanjutkan pencarian terutama daerah yang terdapat villa terpencil. Aku rasa jika ingin menyembunyikan Jasmine pasti penculik itu akan mencari daerah yang sepi" kata Adam pada orang suruhannya.


"Baik bos... kami akan segera melakukannya... apa kami perlu menambah orang lagi?"


"Ya ... lakukan saja agar Jasmine cepat ditemukan"


"Baik bos"


Panggilan vidio pun berakhir. Adam menghembuskan nafasnya berat memikirkan nasib Jasmine sekarang ini. Walau belum jelas alasan orang itu membawa Jasmine namun menurut firasatnya Jasmine berada ditangan orang yang berbahaya. Keadaan Jasmine yang belum dapat berjalan membuat Adam semakin khawatir. Sebab gadis itu pasti akan sangat kesulitan jika ingin melarikan diri dari penculiknya.


Sementara mama Tika yang sejak hilangnya Jasmine menjadi frustasi hingga akhirnya tante Fira memutuskan untuk menemani sahabatnya itu dengan menginap di rumah mama Tika. Untung saja suaminya mendukung tindakannya itu. Dengan membawa putranya bersama ia menginap di sana selama beberapa hari karena suaminya juga sedang mengurus bisnisnya di luar kota.


"Maaf Fir... karena aku kamu dan suami kamu jadi repot" kata mama Tika.


"Tidak apa-apa Tik... lagi masalahmu"


"Iya... apalagi Dafa... dia sungguh obat yang sangat manjur Fir..." sahut mama Tika.


"Syukurlah..." kata tante Fira.


Pagi hari Jasmine sudah bangun dari tidurnya. Perlahan ia membersihkan dirinya dan segera sholat subuh. Baru saja ia mengucapkan salam terdengar suara pintu kamarnya dibuka dari luar. Jasmine pun menoleh kearah pintu dan terlihat bik Narsih menyembulkan kepalanya.


"Nona sudah bangun?" tanya bik Narsih.


"Iya bik... " sahut Jasmine.

__ADS_1


"Ada apa ya kok pagi sekali bibi kemari?" sambung Jasmine.


"Bibi di suruh den Ghani untuk memeriksa apakah non Jasmine sudah bangun atau belum" sahut bik Narsih.


"Hhh... sebegitu possesivenya pria itu" batin Jasmine.


"Oh iya non... den Ghani juga bilang nanti jam delapan terapisnya akan datang..." sambung bik Narsih.


"Iya bik..."


"Sekarang saya tinggal dulu ... mau menyiapkan sarapan"


"Bik... boleh aku ikut? di sini aku bosan" bujuk Jasmine.


Ia tak mau ditinggal sendirian lagi karena ia takut jika Ghani tiba-tiba menghampirinya. Bik Narsih pun mengangguk setuju. Dia bahkan senang karena ada teman mengobrol walau Jasmine tak bisa ikut membantunya di dapur. Mereka pun keluar dari kamar Jasmine dengan bik Narsih mendorong kursi roda Jasmine. Sebenarnya Jasmine sudah menolaknya namun bik Narsih bersikeras melakukannya sehingga akhirnya Jasmine pun mengalah.


Sesampainya di dapur bik Narsih segera menyiapkan sarapan pagi sedang Jasmine hanya melihat karena tak ingin mengganggu kegiatan wanita paruh baya itu. Saat itulah datang Ghani.


"Kenapa kau ada disini Jasmine?" tanya Ghani.


"Aku hanya ingin mengobrol dengan bik Narsih... itu saja" sahut Jasmine.


"Bagaimana kalau kita saja yang ngobrol di teras belakang sambil menunggu sarapan?" bujuk Ghani yang ingin berduaan dengan Jasmine.


Sebenarnya Jasmine ingin menolak namun ia juga tak ingin menimbulkan kecurigaan bahwa sebenarnya ia tidak benar-benar menurut pada Ghani. Dengan terpaksa akhirnya Jasmine menyetujui permintaan pemuda itu. Ghani pun langsung mendorong kursi roda Jasmine ke teras belakang. Untuk sesaat Jasmine merasa kagum dengan pemandangan yang tersaji didepannya. Suasana pegunungan yang sejuk serta pemandangan alam yang indah membuat gadis itu berdecak kagum.


"Kau suka?" tanya Ghani tiba-tiba yang membuat Jasmine tersadar jika dia masih dalam genggaman pemuda itu.


"Hem...umm.." sahut Jasmine sambil mengangguk.


"Kalau begitu setelah menikah nanti kita tetap tinggal disini saja ya..." ucap Ghani sambil duduk di kursi yang berada di samping Jasmine.


Jasmine hanya terdiam. Dalam hatinya gadis itu sedang menangis berharap agar ucapan Ghani tidak akan jadi kenyataan.


"Kau kenapa? sedari tadi kok diam saja?"


"Ga pa-pa... aku hanya kangen sama mama" ucap Jasmine dengan mata berkaca-kaca.


Ghani mendesah pelan... ia tahu jika gadis pujaannya itu memang sangat dekat dengan mamanya. Walau begitu ia juga tak mengerti mengapa Jasmine malah memilih untuk kuliah di luar kota.

__ADS_1


"Sabar sayang.... jika kau rajin terapi secepatnya kita akan menemui mama kamu" ujar Ghani sambil mengelus rambut Jasmine lembut.


Jasmine pun mengangguk pelan. Tak lama bik Narsih datang mengatakan jika sarapan sudah siap. Kemudian Ghani langsung mendorong kursi roda Jasmine menuju meja makan lalu mereka pun sarapan pagi bersama. Tepat pukul delapan pagi terapis yang di panggil oleh Ghani pun datang. Jasmine pun menurut untuk memulai terapinya.


__ADS_2