Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Salah Menggoda


__ADS_3

Jasmine sudah mendandani putranya sehingga bayi gembul itu tampak demakin menggemaskan. Setelah itu ia pun bersiap karena sebentar lagi Adam akan menjemput mereka. Dengan cepat Jasmine menyelesaikan riasannya karena wanita itu tidak pernah memakai riasan yang tebal hanya riasan tipis saja. Setelah selesai ia mengambil tas selampangnya dan menggendong Aby keluar dari dalam kamar. Saat keduanya menuruni tangga tampak mobil Adam memasuki halaman rumah. Aby langsung mengoceh dan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya karena tahu jika papanya sudah datang. Bayi gembul itu sudah hafal dengan deru suara mobil Adam.


"Assalamualaikum..." salam Adam begitu memasuki rumah.


"Waalaikum salam..." sahut Jasmine dengan menirukan suara bocah sambil mengangkat tangan Aby agar bocah itu bisa meraih tangan Adam.


Adam pun menyambut tangan putranya dan membuat gerakan agar bayi itu bisa mencium punggung tangannya. Ini memang salah satu pelajaran yang ditanamkan Adam dan Jasmine pada Aby agar putra mereka kelak akan menghormati orangtuanya dan orang yang lebih tua lainnya dengan mencium punggung tangan mereka jika bertemu.


"Kau ingin membersihkan diri dan berganti pakaian dulu Dear?" tanya Jasmine.


"Hemm... baiklah..." sahut Adam.


Ia pun segera ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah menitipkan Aby sebentar pada Artnya Jasmine pun langsung menyusul ke kamar untuk menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu. Selesai berganti pakaian Adam dan Jasmine pun segera mengambil putra mereka dan segera pergi untuk menghabiskan waktu bersama dengan jalan-jalan. Aby tampak sangat senang saat mereka di dalam mobil. Bayi itu sangat antusias saat melihat berbagai hal yang ia lihat melalui kaca jendela. Adam sengaja menyetir mobilnya sendiri agar mereka dapat leluasa menghabiskan waktu bersama.


Tujuan mereka adalah mall karena ditempat itu banyak permainan anak dan mereka juga tidak khawatir Aby akan kepanasan. Meski baru lima bulan Aby sangat aktif. Bocah itu bahkan terlihat tidak sabar untuk bermain saat kedua orangtuanya membawanya ke area bermain anak. Jasmine dan Adam memilih area bermain yang aman untuk anak seusia Aby. Meski di rumahnya Aby juga memiliki mainan yang banyak tapi di tempat ini bocah itu tampak lebih ceria karena ada anak sebayanya.


"Dear aku ke toilet sebentar ya..." ucap Jasmine tiba-tiba.


"Iya Honey... nanti aku tunggu di restoran sana saja ya..." sahut Adam sambil menunjuk sebuah restoran cepat saji yang ada di seberang tempat mereka berada.


"Baiklah..." ujar Jasmine lalu segera pergi ke toilet.


Setelah kepergian Jasmine Adam pun membawa putranya dengan stroller menuju restoran yang ia tunjuk tadi pada Jasmine. Disana Adam segera memesan minuman untuknya dan juga Jasmine. Sedangkan untuk Aby, Jasmine sudah membawa bekal dari rumah. Saat ia tengah menunggu pesanannya seseorang tiba-tiba menghampiri dan duduk didepannya. Adam tampak kaget dan merasa tidak nyaman dengan kehadiran orang itu yang dengan seenaknya duduk didepannya.


"Selamat siang pak Adam... kebetulan sekali kita bertemu disini..." sapa Mirna sambil tersenyum ramah.


"Kenapa anda berani duduk di situ tanpa meminta izin terlebih dahulu?" tanya Adam dengan datar.


Wajah pria itu sudah menunjukkan jika ia sama sekali tidak menyukai kehadiran Mirna.

__ADS_1


"Ma... maaf saya kira tempat ini kosong jadi anda tidak akan keberatan jika saya duduk disini..." ucap Mirna terbata tak menyangka jika Adam terang-terangan mengusirnya.


"Saya memang keberatan karena itu tempat duduk istri saya!" sentak Adam yang membuat Mira mengkerut.


"Maaf... sekali lagi saya minta maaf..." terdengar suara Mira yang kini berubah bergetar karena takut.


"Terus kenapa anda tidak segera pergi?" usir Adam yang sudah muak dengan tingkah Mirna yang mencoba mendekatinya.


"I... iya... baiklah saya pergi... sekali lagi maafkan saya telah mengganggu waktu anda..." ujar Mirna.


Adam hanya diam tak menanggapi ucapan Mirna. Sedangakan wanita itu segera melangkahkan kakinya meninggalkan Adam.


"Sombong banget sih! lihat saja... aku tidak akan menyerah!" batin Mirna dengan wajah memerah.


Sementara Adam langsung menghubungi asistennya begitu Mirna pergi dari hadapannya.


"Halo Hadi..."


"Aku mau sekarang juga kau beritahu pada perusahaan MC Corp bahwa kita menolak kerja sama dengan mereka..." titah Adam.


"Baik pak..." sahut Hadi patuh, meski ia belum tahu alasan pasti atasannya itu menolak kerja sama.


Namun Hadi bisa menduga jika alasan Adam menolak kerja sama karena tingkah Mirna yang mencoba mendekati atasannya itu. Selama mendampingi Adam ia memang sudah sering kali melihat atasannya itu menolak kerja sama dengan alasan yang sama. Jika orang lain masih memikirkan untuk tetap menjalin kerja sama karena menganggap itu hanya urusan pribadi tapi tidak dengan Adam. Ia tidak akan pernah membiarkan seseorang yang ingin main hati dengannya melakukan kerja sama bisnis dengan perusahaannya.


Dia buka pria yang membiarkan bibit pelakor ada disekitar dirinya. Karena ia tahu meski ia dapat menahan diri untuk tidak tergoda tapi siapa yang tahu selicik apa para penggoda itu berusaha untuk memilikinya. Ia hanya tidak ingin keluarga kecilnya hancur. Ia rela kehilangan klien dan keutungan materi dari pada mempertaruhkan keharmonisan rumah tangganya.


Tak lama Jasmine datang menghampiri Adam dan Aby yang duduk tenang dalam strollernya. Keduanya pun langsung menikmati minuman yang sudah dipesan oleh Adam. Waktu menunjukkan pukul empat sore saat keduanya memutuskan untuk pulang. Setelah membeli beberapa kebutuhan Aby sebentar mereka pun langsung pulang.


Di tempat lain tampak Mirna tengah mengamuk di kantornya. Ia tadi dihubungi oleh Alya jika perusahaan Adam menolak kerja sama dengan perusahaan miliknya. Alya yang hafal dengan sifat sahabatnya itu langsung pergi ke kantor Mirna begitu sahabatnya itu memutuskan sambungan ponselnya setelah ia memberitahu jika perusahaan Adam menolak kerja sama mereka.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan Mirna?" seru Alya begitu masuk ke ruangan kantor Mirna dan mendapati tempat itu sudah seperti kapal pecah dimana semua dokumen berserakan begitu juga dengan barang-barang yang ada disana bahkan ada beberapa yang sudah hancur dan pecah.


"Adam s**l*n! dia pikir dia itu siapa hah? tadi dia mempermalukanku dengan mengusirku dari restoran... dan sekarang dia malah menolak bekerja sama dengan perusahaan kita..." cerocos Mirna mengeluarkan uneg-unegnya.


"Mempermalukanmu di restoran? apa maksud kamu Mir?" tanya Alya penasaran.


Dengan emosi Mirna pun menceritakan pertemuannya dengan Adam direstoran dan tentang dia yang sengaja ingin mendekati pria itu meski saat itu pria itu sedang bersama putranya. Pikir Mirna itu kesempatan bagus karena istri Adam tidak terlihat bersama mereka.


"Kau memang cari mati Mir!" seru Alya saat selesai mendengarkan cerita Mirna.


Sebelum bekerja sama dengan perusahaan Adam, Alya memang sudah menyelidiki karakter pemilik perusahaan itu. Dan dari hasil penyelidikannya Adam tipe pria yang tegas apa lagi jika menyangkut keluarganya. Dan kini Mirna berani-beraninya berusaha menggoda pria itu dihadapan putranya.


"Bukankah aku sudah katakan jika kau berani mengganggu rumah tangga orang lain maka aku akan meninggalkanmu... baik itu sebagai karyawan ataupun sahabat..." kata Alya mengingatkan akan ucapannya tempo hari.


"Dan kau sangat tahu alasannya!" tekan Alya.


Mirna memandang Alya tanpa berkedip. Ya ia lupa jika Alya memiliki trauma pada kehidupan pernikahan kedua orangtuanya. Ayahnya direbut oleh seorang wanita yang tak lain adalah sepupu ibunya sendiri. Alya dan ibunya ditinggalkan begitu saja tanpa harta. Hingga sejak remaja gadis itu harus berjuang keras bersama ibunya untuk menyambung hidup dan membiayai pendidikannya. Beruntung ibu Alya wanita yang kuat dan memiliki kecerdasan yang sama dengan putrinya. Dengan kecerdasannya wanita itu berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak untuk menghidupi dirinya dan juga Alya.


Meski harus bekerja keras selama bertahun-tahun akhirnya ia bisa mengantarkan putriny Alya menjadi seorang sarjana tanpa bantuan sedikit pun dari mantan suaminya. Bahkan kini ibu Alya sudah memiliki toko sendiri sebagai tempat usahanya untuk mengisi hari-harinya. Karena itulah Alya tidak pernah bisa memaafkan seseorang yang menginginkan suami wanita lain walau pun dia adalah sahabatnya.


"Tapi Al... aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya... medki aku tahu dia pria beristri... apa aku salah?" ucap Mirna berusaha membeka dirinya.


"Jatuh cinta memang tidak memandang pada siapa kita harus jatuh cinta... tapi kita juga memiliki otak yang bisa memilih antara yang benar dan salah pada setiap tindakan kita... kau wanita yang cerdas Mirna... jangan berpura-pura bodoh hanya untuk memenuhi ambisimu yang ingin memiliki Adam!" sahut Alya.


"Mulai saat ini aku putuskan persahabatan kita dan aku juga akan berhenti bekerja... besok aku akan kirimkan surat pengunduran diriku padamu" sambung Alya kemudian langsung meninggalkan Mirna sediri di dalam ruangannya.


Merasa tersudut karena perkataan Alya dan sikap gadis itu yang langsung menutuskan persahabatan mereka dan berhenti dari pekerjaannya di perusahaan Mirna membuatnya sangat marah.


"Kau lihat saja Alya... aku bisa hidup tanpa kamu... perusahaanku pun sanggup bertahan tanpa karyawan sepertimu... camkan itu!" seru Mirna pada Alya sebelum gadis itu benar-benar pergi dari ruangannya.

__ADS_1


"Aku tahu kamu pasti masih bisa bertahan Mirna karena kekuasaan orangtuamu... tapi jika kau berhadapan dengan Adam aku tidak tahu... apa kau bisa bertahan atau hancur berkeping-keping" batin Alya saat melangkahkan kakinya menjauh.


__ADS_2