Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Penculikan


__ADS_3

Ketika dua gadis yang sedang berulang tahun itu tiba di villa suasana yang sepi membuat keduanya menjadi ketakutan.


"Gimana ini May? semua orang ga ada..." kata Jasmine sambil mengedarkan pandangannya.


"Aku juga takut Jess... mama sama papa kemana sih?" sahut Maya yang mulai gemetar.


"Kita tunggu di depan aja kali May... " ajak Jasmine. Maya pun menurut ... lalu keduanya beranjak dari ruang makan menuju keluar.


Namun tiba-tiba saja lampu rumah mati yang membuat keduanya langsung menjerit dan saling berpelukan.


"Aaaaa....." teriak keduanya bersamaan.


"Happy birthday to you... happy birthday to you...." terdengar suara beberapa orang menyanyikan lagu ulang tahun.


Keduanya pun langsung membuka mata dan melihat jika kini lampu seluruh ruangan telah menyala dan tampak kedua mama mereka tengah membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin yang menyala diatasnya. Dan di belakang mereka tampak papa Maya beserta tante Fira dan suaminya. Mereka menyanyikan lagu itu dengan semangat.


"Ayo kalian tiup lilinnya..." kata mama Tika.


Keduanya pun kompak meniup lilin hingga padam setelah itu mereka pun memotong kue secara bergantian dan memberikan potongan itu kepada orangtua mereka masing-masing serta tante Fira dan suaminya.


"Nah sekarang lebih baik kalian berdua mandi ..." kata mama Tika setelah mereka selesai mencicipi kue tart.


Mereka berdua pun menurut. Sementara keduanya mandi para orang dewasa berbincang di ruang keluarga.


"Jadi inget saat dulu pertama kali kita ketemu ya mbak..." kata mama Nura.


"Iya... saat itu kita ketemu di taman dan kedua anak itu langsung akrab..." ujar mama Tika.


"Ga nyangka ... persahabatan keduanya bisa langgeng sampai sekarang padahal saat pertama kali kita ketemu usia keduanya baru dua tahun" sambung mama Nura.


"Tapi karena keduanya kita juga jadi bersahabat iya kan Fira?" kata mama Tika.


Tante Fira pun mengangguk.


"Sayang sampai saat ini aku belum dikaruniai keturunan...jika tidak pasti akan menyenangkan seandainya mereka juga bersahabat seperti kita bertiga..." ucap tante Fira sendu.


"Hei... jangan terlalu difikirkan kedua bocah itu juga sudah seperti anak-anakmu juga kan?" kata mama Tika sambil mengelus punggung sahabatnya itu.


"Lagi pula seharusnya kau merasa beruntung sebab Dani dan keluarga besarnya tak pernah mempermasalahkannya bukan?" sambungnya. Tante Fira mengangguk membenarkan.


"Sudah... kita jangan bersedih... lagi pula kita kemari untuk bersenang-senang bukan?" kata mama Nura mengalihkan percakapan yang menyedihkan.

__ADS_1


Malam hari mereka sengaja mengadakan api unggun di belakang villa. Mereka pun kenikmati suasana yang menyenangkan bak berkemah di hutan seperti keinginan kedua gadis yang sedang berulang tahun itu. Selesai acara mereka pun beristirahat. Pagi hari Jasmine dan Maya berencana pergi ke danau. Mereka pun berpamitan pada para orangtua mereka dan pergi kesana dengan berjalan kaki karena jaraknya yang tidak terlalu jauh. Keduanya mengenakan pakaian seragam begitu pula dengan gaya rambut keduanya yang membuat mereka seperti anak kembar sungguhan.


"Hei...hei... kenapa kalian suka sekali berdandan kompak seperti ini?" kata om Dani menggoda keduanya.


"Kami kan memang kembar om ..." jawab Maya sedang Jasmine hanya tersenyum.


Setelah sampai di tempat yang dituju keduanya langsung berfoto dan bermain air bersama. Saat keduanya asik bermain mereka tak menyadari jika ada bahaya yang sedang mengintai. Tak jauh dari keduanya ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati. Tampak sekali jika mereka memiliki niat buruk. Dan saat melihat keduanya berjalan hendak kembali pulang mereka pun langsung mencegat langkah kedua gadis itu.


"Mau pergi kemana manis?" kata salah satu diantara empat orang itu. Kedua gadis itu hanya diam tak mau menjawab.


"Eh ternyata cantik-cantik bisu..." ujar yang lain dan disertai gelak tawa yang lain.


"Jangan ganggu kami!" teriak Jasmine.


Sedang Maya sudah bersiap dengan kuda-kudanya.


"Ternyata galak juga kalian ..." sambung yang lain.


Mereka pun langsung mengitari kedua gadis itu. Tapi tampaknya dari pengalaman menghadapi preman di mall waktu itu membuat kedua sahabat itu tak lagi merasa takut.


Dengan cepat keduanya memukul orang-orang yang berusaha untuk mengerjai mereka dan begitu mempunyai kesempatan keduanya langsung kabur melarikan diri sebab mereka sadar tenaga keduanya tak mungkin bisa mengalahkan tenaga keempat orang pria itu. Sambil berlari seolah memiliki ikatan batin keduanya selalu bisa menemukan arah yang sama tanpa harus saling memberi tahu. Namun kecepatan lari keduanya kalah karena orang yang mengejar mereka ternyata menggunakan sepeda motor. Dalam sekejap mereka sudah berhasil mengejar keduanya.


"Jess... bagaimana ini?" kata Maya yang mulai ketakutan saat melihat orang-orang itu mendekat dengan motornya.


"Jangan bergerak!! biarkan kedua anak itu pergi atau kalian akan tahu akibatnya!"


Saat para pria yang mengejar Jasmine dan Maya menoleh tampak di sana sudah ada anggota kepolisian yang sudah mengepung dan mengarahkan senjata. Mereka pun langsung mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.


"Cepat kalian kemari dek!" perintah salah seorang petugas polisi yang ada.


Jasmine dan Maya pun langsung berlari ke arah mereka.


"Tidak apa-apa... kalian sudah aman..." ucap seorang polwan yang menyambut keduanya.


Para kriminal itu pun langsung dibekuk dan dibawa oleh pihak kepolisian demikian juga denganMaya dan Jasmine untuk dimintai keterangan.


"Sebenarnya mereka itu siapa?" tanya Jasmine pada polwan yang bersamanya.


"Sebenarnya mereka kelompok penculik yang sedang kami buru... mereka sering melakukan penculikan di daerah ini sehingga membuat warga disini cemas" terang polwan tersebut.


"Mungkin karena mereka sudah sering melakukan aksinya membuat warga lebih waspada dan tidak membiarkan anak-anak mereka sendirian sehingga saat melihat kalian mereka langsung mengejar" sambungnya.

__ADS_1


Kedua gadis itu saling pandang dan bergidik ngeri membayangkan jika sampai keduanya berhasil ditangkap oleh kelompok penculik itu.


"Tapi bagaimana polisi tahu mereka mengejar kami?" tanya Maya yang penasaran.


"Sebenarnya kami sudah mengawasi mereka sejak tadi... tapi saat mereka mengejar kalian kami juga harus menunggu bantuan agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan" terang polwan tersebut.


Sesampainya di kantor polisi kedua gadis itu dibawa ke ruangan yang lain sehingga mereka tak bertemu dengan para penculik. Keduanya pun dimintai keterangan oleh pihak kepolisian setelah itu orangtua keduanya pun dihubungi untuk menjemput mereka di kantor polisi. Mama Tika dan yang lainnya syok saat mendapat kabar putri mereka ada di kantor polisi. Tanpa membuang waktu mereka pun langsung menyusul kesana. Saat sampai di sana mereka langsung memeluk kedua anak itu setelah mendengar penjelasan dari pihak kepolisian. Mama Tika dan mama Nura tak henti-hentinya mengucap syukur karena putri mereka masih selamat.


"Lain kali kalian jangan pergi keluar sendirian apalagi di tempat yang baru di datangi...." nasehat petugas kepolisian yang mendampingi mereka.


"Kami juga minta maaf pak... sebab sudah teledor membiarkan kedua putri kami pergi tanpa didampingi orang dewasa..." kata om Rahman papa Maya pada petugas tersebut.


Setelah semua urusan di kepolisian selesai mereka pun pulang ke villa. Selama perjalanan kedua gadis itu tak pernah lepas dari pelukan kedua mama mereka. Sesampainya di villa kedua gadis itu disuruh langsung membersihkan diri. Kemudian setelah makan malam mereka semua langsung beristirahat sebab besok pagi mereka akan langsung pulang. Pagi harinya mereka pun berangkat pagi-pagi sekali karena ingin sampai dirumah sebelum tengah hari. Kedua gadis yang kemarin hampir saja jadi korban penculikan pun sudah mulai ceria tidak lagi terlihat trauma. Sedang masalah dengan pihak kepolisian sebelum mereka kembali ke villa om Rahman sudah berjanji akan memenuhi panggilan dari pihak kepolisian jika dibutuhkan.


Sesampainya di rumah mama Tika dan Jasmine langsung beristirahat. Namun kali ini mama Tika menemani Jasmine dikamarnya. Saat ini ia masih khawatir jika putrinya masih trauma meski dari luar gadis itu tampak baik-baik saja.


"Kamu sudah merasa tenang sayang?" tanyanya saat keduanya berada di kamar Jasmine.


"Iya ma... kemarin memang aku sangat takut tapi sekarang aku baik-baik saja" jawab Jasmine berusaha meyakinkan mamanya.


"Jika kamu ada masalah langsung beritahu pada mama ya..." ucap mama Tika sambil membetulkan anak rambut Jasmine yang menutupi muka gadis itu.


"Iya ma... Jasmine janji..." ujar gadis itu sambil tersenyum.


Sementara Maya juga mendapat perlakuan yang berbeda dari biasanya oleh kedua orangtuanya.


"Mulai besok papa akan memberikan pengawal untuk kamu dan Jasmine" kata papa Rahman.


"Tapi pa.. apa itu tidak berlebihan?"


"Tidak sayang ini demi keselamatan kamu dan juga Jasmine" kata mama Nura.


"Kalian tidak usah khawatir ... mereka bekerja diam-diam jadi tidak akan mengganggu kegiatan kalian" sambung papa Rahman.


Akhirnya Maya pun mengangguk pasrah lagi pula ia tahu alasan kedua orangtuanya itu melakukan semuanya.


Setelah masuk sekolah semua berjalan seperti biasa hanya Maya yang tahu jika kini ia dan Jasmine sudah memiliki pengawal yang bekerja dari jauh agar tak memunculkan kecurigaan. Maya juga merasa lebih tenang sebab jujur sejak kejadian dirinya dan Jasmine yang hampir jadi korban penculikan membuatnya selalu merasa was-was.


"May apa kau masih takut karena kejadian kemarin?" tanya Jasmine saat keduanya sedang duduk berdua di kantin.


"Iya Jess... tapi kita kan masih harus melanjutkan hidup..." jawab Maya sok bijak.

__ADS_1


Jasmine pun terkekeh dengan tingkah sahabatnya itu yang terlihat santai.


__ADS_2