Dia Itu Aku

Dia Itu Aku
Hama


__ADS_3

Hari ini Maya dan Rian akhirnya pergi ke negara tempat kedua orangtua Maya tinggal. Setelah memberitahu alasan kepindahan mereka pada kedua orangtua Rian akhirnya kedua orangtua Rian pun setuju anak dan menantunya pindah ke negara lain agar Maya merasa nyaman jika hamil nanti. Jasmine dan Adam ikut bersama orangtua Rian mengantar keduanya ke bandara.


Setelah adegan perpisahan yang mengharukan antara mertua dan menantu serta antar dua sahabat akhirnya Maya dan Rian pun masuk ke dalam pesawat yang akan mereka tumpangi. Sepulang dari bandara Jasmine terlihat murung. Adam yang mengerti tentang perasaan Jasmine sekarang hanya bisa menghela nafas pelan dan membiarkan istrinya itu agar bisa sedikit tenang. Sesampainya di rumah tampak Aby tengah menunggu keduanya di dalam gendongan mama Tika. Bayi gembul itu terlihat menggerak-gerakkan tangan dan kakinya saat melihat kedatangan kedua orangtuanya.


Jasmine yang semula murung pun langsung berubah ceria saat melihat tingkah putranya. Dengan langkah cepat Jasmine menghampiri Aby yang berada dalam gendongan mama Tika.


"Anak mama sudah bangun?" tanyanya sambil menoel pipi gembul baby Aby.


"Iya mama..." sahut mama Tika menirukan suara anak kecil.


"Sini gendong sama mama..." ucap Jasmine mengambil alih putranya dari mama Tika.


Diciuminya pipi putranya yang gembul itu dengan gemas. Sedang Aby hanya terkekeh dengan perlakuan Jasmine.


"Apa Aby tadi rewel ma?" tanya Jasmine pada mama Tika setelah puas menciumi putranya.


"Alhamdulillah ga kok Jess... dia hanya ingin diajak keluar rumah saja..." terang mama Tika.


"Mama Sinta dimana ma?" kini Adam yang bertanya karena tak melihat mamanya berada bersama mama Tika dan Aby.


"Mama kamu masih mandi soalnya tadi kami bergantian menjaga Aby..."


"Jadi Aby sudah bangun dari tadi ma?" tanya Jasmine kaget.


Pasalnya tak biasanya putranya itu bangun pagi. Biasanya bayi itu bangun agak siang karena setiap jam tiga pagi Aby sudah bangun lalu tidur lagi setelah adzan subuh. Karena itulah ia meninggalkan putranya di rumah saat mengantar Maya dan Rian di bandara.


Mama Tika hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda membenarkan perkataan Jasmine. Karena sibuk dengan Aby, Jasmine jadi melupakan kesedihannya karena kepergian Maya. Melihat itu Adam jadi merasa lega. Setidaknya Jasmine tidak berlarut-larut sedih karena kepergian Maya.


Tak terasa sudah tiga bulan sejak Maya pindah ke negara tempat kedua orangtuanya tinggal. Jasmine juga sudah tidak bersedih lagi atas kepergian Maya. Dan seperti kata Maya meski mereka tinggal satu kota dengan kedua orangtuanya Maya dan Rian memilih tinggal di apartemen mereka sendiri. Dan kini Maya juga mempunyai kabar gembira untuk Jasmine. Melalui sambungan vidio call Maya memberitahu Jasmine jika kini dirinya tengah mengandung. Kabar bahagia itu tentu saja membuat Jasmine sangat bahagia karena akhirnya Maya juga akan menjadi seorang ibu.


Pagi ini seperti biasa Jasmine menyiapkan pakaian untuk suaminya berangkat ke kantor. Sementara Adam tengah bermain dengan putra mereka karpet bulu dekat sofa.


"Apa hari ini kau bisa pulang cepat Dear?" tanya Jasmine sambil meletakkan pakaian suaminya diatas tepat tidur.


"Belum tahu Honey... tapi akan aku usahakan" sahut Adam sambil mengangkat tubuh Aby ke dalam gendongannya.


"Memangnya ada apa?" tanya Adam saat menyerahkan Aby pada Jasmine karena ia akan membersihkan dirinya.


"Bukan apa-apa... hanya saja aku ingin mengajak Aby jalan-jalan..." terang Jasmine.


Memang Jasmine lebih suka jika mengajak putranya jalan-jalan bersama suaminya.

__ADS_1


"Baiklah... nanti aku akan pulang cepat" putus Adam mengecup kening Jasmine sekilas lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Adam membersihkan diri, Jasmine juga menyiapkan putranya agar saat Adam selesai baby Aby juga sudah bersih dan wangi. Selesai menyiapkan putranya Jasmine membawa bayi itu keluar kamar untuk menitipkannya pada Artnya sebentar agar ia juga bisa mandi. Tapi saat melewati kamar mama Sinta tampak wanita paruh baya itu juga baru keluar dari dalam kamarnya. Melihat Aby yang sudah rapi oma satu itu langsung meminta Jasmine untuk memberikan Aby untuk dijaganya. Karena ia tahu kebiasaan menantunya itu yang selalu menyipakan putranya terkebih dahulu baru kemudian dirinya sendiri.


Karena Aby sudah dibawa oleh omanya maka Jasmine pun segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Saat sampai di dalam kamar tampak Adam tengah mengenakan kemejanya. Tanpa disuruh Jasmine langsung mendekati suaminya dan membantunya.


"Dimana Aby Honey?" tanya Adam saat Jasmine membantunya.


"Sama mama Sinta Dear..." sahut Jasmine sambil merapikan jas Adam.


Tiba-tiba Adam mengecup bibir istrinya itu dengan lembut. Jasmine terbeliak karena tak menduga dengan perlakuan suaminya itu. Untuk sesaat keduanya saling m***s*p dan m*****t hingga pasokan oksigen mereka hampir habis. Keduanya pun menghentikan kegiatan mereka dengan nafas yang masih memburu. Adam mengusap bibir istrinya yabg basah akibat ulahnya dengan lembut.


"Jika saja pagi ini tidak ada rapat penting sudah pasti aku akan memakanmu lebih dulu Honey..." bisik Adam.


"Dear..." pekik Jasmine lirih sambil memukul dada bidang suaminya itu pelan.


Adam terkekeh dengan tingkah istrinya itu. Semakin hari wanita yang telah dinikahinya dan sudah melahirkan seorang putra untuknya itu semakin terlihat menggemaskan dimatanya.


"Sudah sana... aku akan mandi dulu..." ucap Jasmine sambil mendorong tubuh Adam pelan untuk keluar dari dalam kamar.


Adam pun menurut namun saat hampir sampai di depan pintu pria itu kembali memberi kecupan pada bibir Jasmine yang selalu membuatnya candu.


Tapi bukannya takut pria itu malah terkekeh geli dengan tingkah Jasmine yang sudah ketakutan dan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Dengan sedikit kesal Jasmine langsung menutup pintu kamar agar Adam tidak lagi menggodanya. Setelah itu ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah sarapan Adam berangkat ke kantor dengan diantar Jasmine dan Aby sampai di depan mobil. Selang berapa lama para oma pun ikut pergi untuk melakukan aktifitas mereka sebagai wanita karir meski usia keduanya sudah tidak lagi muda.


Hanya Jasmine yang tertinggal di rumah mengurus baby Aby. Namun Jasmine tak menyesali keputusannya untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya karena Aby masih sangat membutuhkan perhatiannya. Apa lagi Adam juga tidak pernah melarangnya untuk melakukan aktifitas apa pun apa lagi saat Jasmine lebih memilih untuk fokus menjadi ibu. Saat semua orang sudah pergi Jasmine membawa masuk putranya ke ruang bermain. Di sana bayi yang sudah hampir lima bulan itu tampak senang memainkan mainannya. Sementara Jasmine mengawasi putranya sambil sesekali menggoreskan penanya diatas kertas.


Ya meski ia tidak bekerja di butik seperti mamanya tapi Jasmine masih sering membuat sketsa desain yang kini lebih sering untuk anak-anak sebagai koleksi pribadinya. Mungkin suatu saat nanti saat Aby mulai mandiri ia bisa merealisasikan desainnya dan bisa memulai butiknya sendiri. Untuk saat ini ia hanya melakukannya untuk hoby dan koleksi pribadi dan terkadang ia buat untuk dikenakan oleh putranya.


Adam berjalan menuju ke sebuah restoran tempat kliennya yang sudah menunggu untuk mengadakan pertemuan. Asistennya sejak tadi mengekorinya dibelakang.


"Apa mereka sudah datang?" tanya Adam pada Hadi asistennya.


"Sepertinya sudah tuan..." sahut Hadi yang tadi sudah diberitahu jika sang klien sudah menunggu mereka di sana.


Keduanya pun mempercepat langkah mereka. Sesampainya di meja tempat klien mereka menunggu tampak dua orang wanita yang sudah duduk disana. Saat melihat kedatangan Adam keduanya pun berdiri dan menyambut dengan mengulurkan tangannya.


"Selamat siang pak Adam..."


"Selamat siang bu Mirna..." sahut Adam formal.


"Silahkan duduk pak..."

__ADS_1


"Terima kasih..."


Kemudian mereka pun membahas kerja sama bisnis yang sedang ditawarkan oleh Mirna. Adam tampak serius memperhatikan setiap berkas yang diberikan Mirna dan kini sedang ada ditangannya. Tanpa ia ketahui jika sejak tadi Mirna selalu memperhatikan setiap gerak gerik Adam dengan pandangan kagum. Sepertinya wanita yang usianya sepantaran dengan Adam itu tengah tertarik padanya. Bahkan asisten Mirna yang bernama Alya juga dapat melihatnya. Begitu juga dengan Hadi.


Hingga akhirnya pembahasan mereka pun selesai tapi Adam masih belum memberikan tanggapannya tentang persetujuan kerjasama mereka karena ia masih harus mempelajarinya lagi sebelum memutuskan untuk bekerjasama dengan perusahaan milik Mirna. Bukan tanpa alasan sebab Adam masih merasa ragu dengan wanita yang ada dihadapannya itu. Entah kenapa hatinya merasa ada sesuatu pada diri wanita itu yang membuat ia enggan untuk menerima kerjasama dengannya. Tapi ia juga tidak bisa langsung menolak kerjasama yang mereka ajukan padanya tanpa ada alasan yang jelas.


"Kalau begitu saya permisi dulu bu Mirna... tentang keputusan akhirnya biar asisten saya yang akan menghubungi anda..." pamit Adam yang ingin segera pulang.


"Apa kita tidak bisa berbincang dulu sebentar? biar asisten kita dulu yang pulang..." bujuk Mirna yang ingin berlama-lama dengan Adam.


"Maaf tapi saya harus pulang karena saya ada janji dengan istri dan anak saya..." tolak Adam mentah-mentah.


Mirna terlihat terkejut dengan penolakan Adam apalagi saat pria itu mengatakan jika alasannya menolak karena ingin bertemu dengan sang istri.


"Jadi anda sudah menikah?" tanyanya dengan nada syok.


"Tentu saja... apa anda tidak pernah melihat berita?" tanya balik Adam seolah ia menganggap Mirna orang yang tidak pernah melihat berita.


"Ah tentu saja saya sudah tahu..." sahut Mirna gugup.


"Kalau begitu saya permisi..." ucap Adam sambil berlalu diikuti oleh Hadi.


"Mirna... apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Alya asisten sekaligus sahabat Mirna.


"Tentu saja aku menginginkan dia" sahut Mirna enteng.


"Tapi kau tahu statusnya kan? dia sudah beristri dan mempunyai anak Mirna!" seru Alya yang tidak habis fikir dengan jalan fikiran sahabatnya itu.


"Aku tahu... oleh karena itu akan membuat aku semakin tertantang..." ujarnya sambil tersenyum sinis.


"Kau tahu aku tidak akan pernah mau membantumu jika kau menginginkan pak Adam!"


"Kenapa?"


"Kau tahu alasannya! dan jika kau tetap ngotot maka lebih baik aku mengundurkan diri dari pekerjaan dan juga temanmu!" ancam Alya kemudian meninggalkan Mirna sendiri.


"Alya!" seru Mirna kaget dengan reaksi sahabatnya itu.


Tapi Alya tidak menghiraukan seruan Mirna dan terus berjalan keluar restoran.


"S***t!" umpat Mirna yang merasa kesal karena sahabatnya itu sama sekali tidak mau mendukungnya.

__ADS_1


__ADS_2