Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Perubahan


__ADS_3

Saat aku tengah sibuk dengan urusan kantor menjelang di gelarnya RUPSLB Lely suster yang mengasuh Alex menelfon ku siang itu.


" Hallo.. Alex suhu badannya tinggi dan mengigau memanggil Bu Soffie terus pak" Ujar nya dengan suara panik.


" Sudah kamu beri obat penurun panas?." Tanyaku tak kalah paniknya.


" Sudah pak, sudah saya kompres juga sepertinya dia rindu dengan Bu Soffie." imbuhnya.


Aku terperangah mendengar ucapan mbak Lely yang menyebutkan bahwa Alex sepertinya rindu kehadiran mamanya.


Sudah hampir 2 bulan Soffie tidak kunjung menjenguk biasanya tak pernah absen setiap 2 minggu sekali.


" Ok kamu pastikan suhunya turun sebentar lagi bapak pulang." ujar ku.


Aku segera menghubungi Soffie untuk memberi tahukan keadaan Alex putra kami, sampai 3 kali panggilan ku tidak diangkatnya chat pun tidak kunjung di balas.


Aku segera mengemasi berkas2 penting dan bergegas pulang aku begitu panik mendengar anak semata wayang ku sedang tidak baik baik saja.


"Ris nanti jika ada yang mencari saya bilang saya pulang lebih awal karena anak saya sedang sakit." Ujar ku pada sekretaris ku.


" Baik pak, semoga segera sembuh putranya" sahut Risa.


" Terima kasih."


Saat dalam perjalanan pulang Soffie menelfon.


" Hallo..ada apa mas.?"


" Alex demam dan ngigau nyebut nyebut kamu" ujar ku.


" Ya Allah ,mas sekarang dimana?." Tanya nya dengan nada cemas.


" Mas dalam perjalanan ke rumah, tolong kamu kerumah sekarang."


"Iya mas saya usahakan, tolong suruh pak Amin jemput saya, karena mobil saya sedang di bengkel."


Aku mengiyakan permintaanya dan segera ku hubungi paka Amin untuk menjemput mantan istri ku di kediamannya.


" Hallo pak Amin , tolong jemput Soffie di rumahnya dan antar kerumah kita." Perintah ku pada pak Amin.


" Baik pak."


Aku mempercepat laju kendaraan supaya cepat sampai kerumah namun apes terjebak macet yang panjang.


" Soff dimana?." tanya ku saat menghubungi mantan istri ku kembali.


" Sudah dirumah, mas dimana?."


" Mas terjebak macet jadi gimana Alex?."

__ADS_1


"Ini lagi sama saya mas, hati hati nyetirnya."


Aku mengela nafas lega saat Soffie memberi tahu bahwa keadaan Alex sudah membaik ,


setibanya di rumah aku segera bergegas masuk


" Gimana alex sus?." Ujar ku pada mbak lely


"Sedang bermain bersama Bu Soffie diatas pak."


Aku menaiki tangga menuju lantai dua dimana Alex dan mantan istriku sedang bermain aku terperangah saat Alex begitu cerianya bermain dengan seseorang yang mengenakan hijab awal nya aku menduga bahwa itu teman Soffie yang turut mengunjungi Alex.


Langkah ku terhenti karena tidak kudapati Soffie disana, aku bertanya tanya dimana gerangan mantan istri ku itu, bukan kah tadi suster mengatakan jika Alex tengah bermain bersamanya? tanya ku dalam hati.


Aku tidak menyangka bahwa wanita berhijab itu adalah mantan istri ku


Alex yang menyadari kehadiran ku yang berdiri di tangga spontan memanggil ku.


" Paapaa." Serunya sambil menunjuk kearah ku. wanita berhijab itu refleks mengikuti arah yang di tunjuk Alex.


Aku begitu terperanjat begitu wanita berhijab itu menoleh kearah ku, Soffie tampak kalem dan teduh di balik balutan hijab kecantikannya semakin terpancar.


" Mas." Sapanya


" Soff,, pa kabhar kamu." Ujar ku sedikit canggung.


" Baik." Sahutnya singkat dia pun terlihat canggung tampak perubahan besar pada mantan istriku penampilannya berubah total seluruh auratnya tertutup kini setelah kami terakhir bertemu tiga bulan yang lalu.


" Alex sama papa dulu ya sayang, mama mau sholat maghrib dulu." Ujarnya.


" Mas saya izin ke kamar tamu ya untuk sholat." Ujarnya seraya berlalu meninggalkan kami aku yang masih tercengang dengan perubahan nya tidak mampu mengucap sepatah kata pun selain mengangguk saat dia meminta izin.


"Mama tidur sini sama alex ya." Rengek putra kami.


Soffie tampak bingung menanggapi permintaan nya.


" Tidak ada yang menunggu kamu di rumah kan ?."Sela ku.


" Tidak untuk saat ini namun segera." Ujar nya. sambil menyunggingkan senyum, Akhhh senyum itu mengingat kan ku pada kemesraan yang pernah kami alami dulu.


" Tidak untuk saat ini namun segera?." Ujarku dalam hati berarti dia memang sudah ada calon pendamping?."


Tiba tiba ada rasa cemburu yang menyeruak mendengar ucapannya.


Sementara di dalam kamar Aku berusaha memejam kan mata namun tidak bisa meski waktu telah beranjak pagi.


Kehadiran Soffie di rumah ini membuat fikiran ku kalut


Aku putuskan keluar kamar dan naik kelantai dua dimana soffie berada.

__ADS_1


Tok tok tok!


Aku mengetuk pintu kamar tamu dimana Soffie berada rupanya dia pun tidak bisa memejam kan mata.


" Siapa?." Sahut Soffie.


" Ini mas ...Soffie tolong buka mas ingin bicara."


Soffie membuka pintu dengan tatapan heran


"Kamu mau ngapain mas?." Tanyanya tampak ketakutan dia melangkah mundur sementara matanya menatap ku lekat.


Graaap!


Aku memeluknya erat soffie mendorong tubuh ku namun tenaga nya kalah kuat.


" Soffie maafkan mas, mas dulu tergesa gesa menceraikan kamu."


Dia kembali mendorong tubuh ku , aku justru semakin erat mendekap tubuh langsingnya.


" Soffie mari kita buka lembaran baru kita mulai dari awal lagi."


karena aku tidak mengindahkan ucapannya Soffie menjejak kan kaki nya keatas telapak kaki ku sekuat tenaga hingga aku melepaskan pelukan.


Plak.. plak! Soffie menamparku berkali kali dia benar benar murka dengan tingkah ku.


" Jangan kurang ajar kamu mas keluar!!!. " Pekiknya sambil menunjuk kearah pintu dia mendorong ku keluar pintu dan segera menguncinya.


Aku menuruni tangga dengan langkah gontai ternyata aku masih mencintainya , rasa itu kembali hadir benar apa yang dikatakan Anindya jangan tegesa gesa nanti akan berujung penyesalan.


Aku menghempas kan pintu kamarku argggghhh!! Pekik ku frustasi aku sama sekali tidak mengerti mengapa rasa ini kembali hadir, padahal dulu aku begitu jijik setelah melihat apa yang di lakukannya .


Aku menuju kamar mandi aku mengguyur kepalaku aku sengaja menggunakan air dingin semoga guyuran air dingin pada dini hari ini mampu mengembalikan kewarasan ku.


Pagi harinya saat hendak sarapan aku aku tidak dapat menemukan keberadaan soffie lagi di rumah ini.


Mbok minah yang tahu aku celingukan mencari cari kebaradaan Soffie memberi tahuku bahwa pagi pagi buta Soffie sudah pamit pulang.


" Bu Soffie tadi sudah pulang pak pagi pagi sekali ,dan meminta saya menyampaikan nya pada pak Arya." Ujarnya.


Hati ku di dera perasaan bersalah atas sikap ku dini hari tadi tapi jujur saja tiba tiba saja rasa takut dia dimiliki orang lain menguasai hati ku.


Aku mencoba menghubungi nomor nya namun tidak diangkat Alex yang tampaknya baru bangun kembali menangis mencari keberadaan mamanya.


" Maaa.. maa . " Serunya suster Lely tampak berusaha menenangkan dan memberi pengertian pada Alex hatiku menjadi trenyuh melihat pemandangan memilukan yang terjadi pagi hari ini.


Kuhampiri Alex yang masih sesenggukan


" Sini jagoan papa." Ujarku sambil menggendongnya.

__ADS_1


" Alex masih kangen mama ya sayang?."


Aku mengelus kepalanya dia masih saja sesenggukan dia mengangguk kan kepalanya membuat hatiku teriris pilu.


__ADS_2