Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Nayra kabur


__ADS_3

Nayra duduk disamping jendela bis, ia melihat lihat pemandangan dari dalam bis. Karena fokus melihat lihat pemandangan Nayra tidak sengaja menjatuhkan tas kecil yang ia bawa.


Nayra pergi dengan membawa dua tas. Satu tas kecil berisi alat make up serta dompet dan satu tas besar berisi pakaian, Nayra meletakan tas besarnya disamping ia duduk dan tas kecil dipangkuannya.


Karena berangkat terburu buru Nayra tidak menutup tas kecilnya sehingga saat tasnya jatuh, isi tas itu keluar dan jatuh berantakan dibawah kakinya.


Ceroboh. Arfi tampak kesal melihat Nayra menjatuhkan tasnya.


Nayra mengambil tasnya, lalu ia mengambil barang barangnya yang berjatuhan. Ia mengambilnya satu persatu, dari mulai dompet, lipstik, bedak dan lain lain. terakhir Nayra mengambil kaca, tapi ia tidak langsung memasukannya.


Kaca itu tidak terlalu besar, ukuran hampir sama dengan ponsel. Kaca itu biasa Nayra gunakan untuk berdandan, Nayra ingin melihat apakah kaca yang ia bawa pecah atau tidak. Nayra tidak menyadari saat ia memegang dan memeriksa kaca itu, kaca itu mengarah kekursi penumpang paling belakang.


Dari kaca itu Nayra bisa melihat wajah Arfi, Saat itu Arfi duduk dibangku penumpang paling belakang. Arfi sedang membalas pesan dari seseorang, ia sibuk dengan ponselnya hingga ia tidak tahu Nayra sudah melihatnya.


Arfi, dia mengikuti aku. Nayra menutup mulutnya dengan satu tangan.


Nayra buru buru memasukan kacanya kemudian ia menutup tasnya.


Aku harus tenang. Nayra menarik nafas dalam dalam.


percuma juga aku kabur, kalau Arfi tahu kemana aku pergi. Aku harus cari cara untuk kabur lagi. Nayra mulai berpikir.


Sudah lima menit Nayra berpikir, tapi ia masih belum tahu. bagaimana caranya ia bisa pergi tanpa sepengetahuan Arfi, saking kesalnya Nayra berdiri. Nayra tidak perduli Arfi tahu atau tidak yang pasti Nayra ingin segera turun dari bis itu.


Nayra menengok kebelakang dan ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat Arfi tertidur.


"Arfi ketiduran, ini kesempatan. Aku harus kabur." Nayra menghampiri supir yang berada tidak jauh darinya.


"Pak tolong berhenti, saya mau turun disini." Pinta Nayra pada supir bis itu.


"Ini bis jurusan bandung, bandung masih jauh. ibu beneran mau turun disini?" Supir bis itu merasa heran.

__ADS_1


"Iya pak, saya sakit perut saya mau ketoilet dulu." Nayra alasan.


Supir bis itu kemudian menghentikan bisya dan Nayra langsung memberikan uang pada supir bis itu.


"Ibu engga mau ditunggu? Kalau ibu mau, saya bisa tunggu sampai ibu selesai dari toilet." Supir bis itu ingin menunggu Nayra.


"Tidak usah pak, saya takut lama. Nanti kasihan penumpang yang lain." Nayra segera turun dari bis itu.


Setelah Nayra turun, bis itupun kembali berjalan.


"Syukurlah, aku berhasil kabur?" Nayra merasa lega.


"Tapi bagaimana dengan Arfi, kasihan juga dia pergi kebandung sendirian. buat apa aku mikirin Arfi? Dia bukan anak kecil lagi. dia bisa pulang sendiri." Nayra berusaha untuk.tidak memikirkan Arfi.


"Ya ampun, tempat ini sepi." Nayra melihat lihat sekelilingnya, ia merasa salah karena sudah turun ditempat yang sepi.


"Bagaimana ini? aku kan engga punya hp jadi engga bisa pesan taksi online." Nayra gelisah.


Beberapa saat setelah Nayra turun Arfi terbangun dari tidurnya, ia langsung berdiri, Arfi melihat kedepan ketempat Nayra duduk. Arfi kaget melihat kursi yang semula ditempati Nayra kosong.


"Pergi Kemana Nayra?" Arfi celingak celinguk mencari Nayra, ia mengira Nayra pindah tempat duduk.


Arfi kembali duduk karena ia tidak bisa menemukan Nayra, Arfi sedih karena Nayra kabur dan menghilang lagi.


"Pak berhenti." Arfi menghentikan bis yang ia naiki.


Arfi memberikan uang pada supir bis itu, lalu ia turun dari bis.


"Nayra, apa kamu tidak mencintaiku lagi? Apa kamu benar benar ingin berpisah dariku?" Arfi berdiri mematung.


Arfi ingin cepat cepat pulang kerumah, ia sudah merasa lelah. Arfi menghentikan taksi yang kebetulan lewat, Taksi itu pun melaju dan membawa Arfi pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Dalam perjalanan hujan turun deras, Arfi menatap keluar jendela dan betapa terkejutnya Arfi saat melihat Nayra berdiri dipinggir jalan. Jalan yang dilewati Arfi adalah jalan ketika Nayra turun dari bis.


Arfi lalu turun dari taksi dengan membawa payung yang ia pinjam dari supir taksi.


Nayra menangis tapi Arfi tidak tahu karena air mata Nayra sudah bercampur dengan air hujan yang membasahi wajah Nayra.


Seharusnya aku tidak berhenti disini, tempat ini sepi dan dari tadi belum ada taksi yang lewat. Bagaimana kalau ada orang jahat yang mengganggu aku? Nayra membiarkan dirinya kehujanan.


Nayra tidak menyadari kehadiran Arfi, ia baru sadar ketika tiba tiba air hujan berhenti menetes, ia menengok kesamping dan ternyata Arfi sedang memayunginya.


"Arfi." Nayra memeluk Arfi.


"Jangan peluk peluk." Arfi mendorong Nayra hingga pelukan Nayra terlepas.


"Cepat masuk kedalam taksi." Sikap Arfi sangat dingin membuat Nayra sedih.


Mau tidak mau Nayra mengikuti Arfi, ia masuk kedalam taksi. Nayra tidak mungkin terus berada dijalanan.


Didalam taksi .


"Aku antar kamu pulang, setelah itu terserah,. kamu mau kemana?" Ucap Arfi ketus.


"Aku..." Nayra tidak tahu harus berkata apa.


"Kamu mau kita bercerai? aku akan kabulkan. kamu tidak ingin bertemu aku lagi? aku juga akan kabulkan. kamu tidak perlu repot repot kabur, karena mulai hari ini. aku tidak akan mencarimu lagi." Kata kata Arfi membuat Nayra sedih.


Bukankah ini yang aku inginkan? tapi kenapa hatiku sakit? Batin Nayra.


"Pakai ini." Arfi memberikan jasnya pada Nayra.


"Tidak usah." Nayra menolak.

__ADS_1


"Jadi, kamu mau badan kamu kelihatan?" Arfi memandang Nayra dengan marah.


__ADS_2