
Arfi membuka pintu kamar, ia sangat kesal. Arfi tidak mengira Renata akan datang dan mengganggunya.
"Buat apa kamu kemari?" Tanya Arfi tanpa menoleh kearah Renata, ia sibuk memainkan ponselnya.
"Waktu aku tahu kamu dirumah sakit. aku langsung datang kesini, tapi Kenapa sikapmu seperti ini?" Renata sedih karena Arfi mengabaikannya.
"Aku kecelakaan kemarin dan kamu baru datang sekarang." Arfi meletakan ponsel dipangkuannya lalu ia menatap Renata.
"Aku tidak tahu, kalau kamu kecelakaan kemarin."
"Kamu tidak tahu karena kamu tidak perduli, seandainya kemarin kamu menelphone aku.kamu pasti tahu aku ada disini, tapi karena kamu tidak menghubungiku sama sekali. jadi kamu tidak tahu apa apa." Arfi kelihatan marah.
"Arfi, aku engga telphone itu karena kamu bilang kamu mau keluar kota. aku engga mau mengganggu pekerjaan kamu. tadi pulang kantor aku mau menelphone kamu, aku lihat lokasi ponsel kamu ada disini. aku buru buru datang kesini, aku khawatir sama kamu." Renata menjelaskan panjang lebar.
Renata melihat lihat sekelilingnya, ia baru sadar kalau kamar rumah sakit itu telah dihias.
"Arfi, kamar ini dihias? Seperti habis ada pesta?"
Deg..
Pertanyaan Renata membuat jantung Arfi berdetak lebih cepat, ia sedikit takut dan gelisah.
"Arfi kenapa kamu diam?" Renata curiga.
Arfi tidak tahu harus menjawab apa, ia memejamkan matanya sambil berfikir dan tiba tiba ponselnya berbunyi tanda sebuah pesan masuk, Arfi mengambil ponselnya. ia membaca pesan yang ternyata dari Nayra.
katakan saja, kamu merayakan ulang tahunmu.
Arfi tersenyum tipis setelah membaca pesan Nayra, bahkan sangat tipis hingga Renata tidak menyadari kalau Arfi sedang tersenyum. Itu
"Aku baru saja merayakan ulang tahunku." Jawab Arfi.
Aku lupa hari ini ulang tahun Arfi, dia pasti marah kalau tahu aku melupakan hari ulang tahunnya. Batin Renata.
"Tapi kamu lagi sakit, kenapa kamu mengadakan pesta?" Renata terus bertanya.
Arfi kembali dibuat bingung dengan pertanyaan Renata, Arfi melihat layar ponselnya ternyata Nayra kembali menulis pesan untuknya.
Bilang saja kamu bosan dirumah sakit.
Lagi lagi Arfi tersenyum, setelah membaca pesan Nayra, Arfi melihat Renata sedang memperhatikannya. ia pun berhenti tersenyum agar Renata tidak curiga.
Renata ingin bertanya. pesan dari siapa hingga membuat Arfi tersenyum bahagia, tapi belum sempat ia bertanya. Arfi sudah mendahuluinya bicara.
"Aku bosan dirumah sakit karena itu Satria menghias ruangan ini. Satria tahu, hari ini ulang tahunku. tadi aku menggundang beberapa orang teman dekatku untuk merayakannya ulang tahun disini, Kita makan makan sebentar lalu mereka pulang supaya aku bisa istirahat." Arfi mengarang cerita yang dibuat oleh Nayra, Nayra masih mengirim pesan pada Arfi agar Arfi tidak bingung dan bisa menjawab pertanyaan pertanyaan Renata.
"Renata, apa kamu lupa hari ini ulang tahunku?" Arfi menyipitkan kedua matanya.
"Ingat.. " Renata mendadak menjadi gugub.
"Aku juga sudah siapkan hadiah untukmu, tapi karena kamu sedang sakit jadi hadiahnya tidak aku bawa." Meski sempat gugub Renata berusaha bersikap biasa.
"Ya sudah Arfi, kamu sudah baik baik saja. aku pulang dulu." Renata pamit pulang.
"Apa? kamu mau pulang? Renata kamu tidak lihat aku sakit, sebagai istri seharusnya kamu merawat dan menjaga aku disini."
Arfi sebenarnya senang Renata ingin pulang dengan begitu Nayra bisa keluar dari persembunyiannya. ia marah karena ternyata Renata, benar benar tidak perduli padanya.
__ADS_1
"Arfi tadi karena buru buru, pekerjaanku belum selesai. aku mau manyelesaikan pekerjaanku dirumah, besok pagi pagi aku juga
mau pergi keluar kota."
"Renata, keterlaluan kamu. yang kamu pikirkan cuma kerja, kerja dan kerja." Arfi sangat kecewa.
"Arfi, aku minta maaf. aku menerima pekerjaan ini juga karena kamu."
"Aku?" Arfi menunjuk hidungnya sendiri dengan jari tangannya
"Kamu bilang, kamu mau bekerja selama beberapa hari. aku merasa kesepian kalau tidak ada kamu dirumah."
"Renata, dirumah ada Kevin. apa kamu tidak merasa dia kesepian? aku tidak ada dan kamu juga pergi, seandainya aku tidak sakit. aku akan menemani Kevin." Arfi memarahi Renata.
Sebaiknya aku pergi dari sini, sebelum Arfi bertambah marah lalu dia melarang aku pergi. Renata berjalan kearah pintu.
"Sayang, maaf ya aku harus pulang. jaga diri kamu baik baik, cepat sembuh ya sayang." Renata segera pergi meninggalkan kamar Arfi.
"Menyebalkan!" Arfi melemparkan bantal kedinding.
"Arfi." Nayra keluar dari kamar mandi.
"Kenapa kamu marah? kamu tidak rela Renata pergi? kalau tidak rela seharusnya kamu halangi dia." Tanya Nayra pada laki laki yang sudah resmi menjadi suaminya.
"Nay, bukan begitu. aku kesal karena Renata lebih mementingkan pekerjaan dari pada Kevin."
Aku senang bisa berduaan dengan Nayra disini, tapi kenapa aku merasa sedih diabaikan Renata. Arfi merasa bimbang.
"Arfi aku pergi dulu?" Nayra juga ingin pergi meninggalkan Arfi.
"Renata saja bisa pergi dari sini, kenapa aku tidak bisa? aku mau pulang." Nayra merasa ini tidak adil untuknya.
"Sayang, kamu kan sudah janji mau merawat aku. Siapa lagi yang merawat aku selain kamu?" Arfi sedih mendengar Nayra ingin pulang.
Kasihan juga, kalau aku tinggal Arfi sendiri.
"Ya sudah aku tidak jadi pulang." Nayra mengurungkan Niatnya.
Arfi sangat senang mendengarnya.
"Papa... " Kevin tiba tiba muncul dari balik pintu, ia berlari memeluk Kevin, anak itu tidak menyadari kehadiran Nayra.
"Kevin, kamu ada disini?" Arfi berusaha menahan sakitnya karena ia tidak ingin membuat Kevin kecewa.
"Kamu kesini sama siapa?" Tanya Nayra sambil mengelus elus kepala Kevin.
"Bu Nayra " Kevin menoleh ia senang melihat Nayra.
"Aku kesini sama mama." ucap Kevin.
"Apa? papa pikir kamu pikir sama om Satria."
Arfi terkejut.
"Tadi aku diantar om Satria tapi didepan aku ketemu mama. terus om Satria pulang dan mama yang nemanin aku kesini?"
"Sekarang mama kamu dimana?" Nayra sedikit panik."
__ADS_1
"Mama lagi beli minuman."
Sebaiknya aku pergi, sebelum Renata datang.Nayra berjalan kearah pintu.
Langkah kaki Nayra terhenti ia dikejutkan oleh kedatangan Renata, mereka berdiri berhadap hadapan. Renata berdiri disamping pintu sedangkan Naya berdiri tepat didepan Renata.
"Nayra? Ngapain kamu disini?" Tanya Renata penuh dengan rasa curiga.
"Aku habis periksa kedokter." Jawab Nayra.
"Bukan itu maksudku, maksudku kenapa kamu ada dikamar suamiku?"
"Aku...aku mengikuti Kevin." Nayra asal menjawab.
"Mengikuti Kevin?"
"Iya, tadi aku lihat Kevin kekamar ini. aku kira Kevin sakit, ternyata aku salah." Nayra dengan cepat mencari cari alasan.
"Karena Kevin tidak sakit dan disini juga ada mama, papanya. aku permisi."
Nayra buru buru keluar dari kamar itu, ia tidak ingin Renata semakin banyak bertanya.
"Tunggu Nayra!" Renata keluar dari kamar Arfi.
Renata keluar untuk mencegah kepergian Nayra. sayangnya sampai didepan kamar Arfi. Nayra sudah tidak ada.
"Renata, Kenapa kamu mengejar Nayra?" Tanya Arfi saat Renata sudah kembali berada didalam kamarnya.
"Aku mau tanya, Kenapa dia pakai kebaya?"
"Ya ampun sayang, untuk apa sih kamu perduli dengan baju yang Nayra pakai? dia mau pakai kebaya, mau pakai baju tidur. suka suka dia, baju baju dia." Arfi mencoba menghilangkan kecurigaan Renata.
"Tapi... "
"Sayang udah ya! kita engga usah memperdulikan Nayra, sekarang aku mau tanya. kenapa kamu engga jadi pulang?" Arfi sengaja mengalihkan pembicaraan agar Renata melupakan tentang baju yang dipakai Nayra.
"Aku mau merawat dan menemani suamiku. Kamu senang kan?"
"Iya, iya." Arfi tersenyum kecut.
Aku senang Renata mau merawatku, tapi bagaimana dengan Nayra? malam ini adalah malam pertama aku dan Nayra, meskipun aku sakit seharusnya aku menghabiskan waktu dengan Nayra. Arfi memikirkan Nayra.
"Pa, papa kenapa melamun?" Kevin membuyarkan lamunan Arfi.
"Engga, papa engga melamun kok."
"Pa, biarpun papa sakit, aku senang sekali. aku senang karena kita bertiga bisa berkumpul. biasanya mama dan papa sibuk kerja. jarang punya waktu buat aku."
kata kata Kevin membuat Arfi dan Renata merasa bersalah.
"Nak, sini peluk papa." Arfi merentangkan kedua tangannya.
Kevin menghambur kepelukan Arfi. melihat Kevin dan Arfi berpelukan Renata ikut memeluk mereka, tanpa mereka ketahui sepasang mata melihat keharmonisan keluarga mereka.
Mata itu adalah mata Nayra, Nayra membalikan tubuhnya lalu ia pergi meninggalkan tempat itu.
Arfi, Saat ada Renata, dia melupakan aku. Arfi hanya mengingkan kehadiranku disaat dia butuh. aku ini cuma cadangan tepatnya istri simpanan. Nayra berjalan sambil melamun.
__ADS_1