Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Hujan deras


__ADS_3

Arfi merasa senang Nayra memeluknya, selama ia mengenal Nayra, Nayra hampir tidak pernah berinisiatif memeluknya, biasanya Arfi yang lebih dulu memeluk Nayra. barulah Nayra membalas pelukan Arfi.


Arfi dan Nayra tidak tahu kalau tidak jauh dari tempat itu Renata berdiri dan melihat mereka berdua. Renata hampir saja menangis, namun sebuah tangan tiba tiba menggenggamnya.


Tangan itu terasa hangat, membuat rasa sedih Renata berkurang.


"Satria." Renata menoleh kesamping, ternyata Satria yang menggenggam tangan Nayra.


Sejak sampai dirumah sakit itu, Satria memang lebih memilih menunggu Renata dimobil. ia tidak ingin berdebat lagi dengan Arfi.


karena sudah lama menunggu Renata dimobil, Satria mulai bosan. Satria kemudian keluar dari mobilnya lalu mencari keberadaan Renata.


Satria melihat Renata sedang memandangi Nayra dan Arfi yang berpelukan, Renata tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. dari wajahnya terlihat ia seperti ingin menangis, dengan lembut Satria menggengam tangan Renata.


"Kita pulang." ucap Satria, Satria tidak suka melihat Renata bersedih, karena itu ia mengajak Renata pulang.


Tanpa bicara Renata mengikuti Satria, Satria menuntun Renata sampai kedepan mobilnya, Satria membukakan pintu mobil untuk Renata, saat itu mendadak hujan turun.


"Renata hujan, cepat masuk."


Renata dan Satria lalu masuk kedalam mobil, mobil itu kemudian berjalan pergi meninggalkan rumah sakit itu.


Hujan semakin deras, Satria tidak bisa melihat jalanan dengan jelas. Satria menghentikan mobilnya didepan sebuah taman besar yang sudah sangat sepi.


"Kenapa berhenti?" Renata melingkarkan tangannya didepan dada, Renata memeluk tubuhnya sendiri, ia merasa kedinginan.


"Hujannya deras, diluar juga gelap. aku tidak bisa melihat dengan jelas. kita istrirahat dulu sebentar." Satria menatap Renata yang memeluk dirinya sendiri.


"Kamu kedinginan? ini pakai saja bajuku." Satria melepaskan kemejanya. ia membiarkan dirinya hanya memakai kaos dalaman yang berbahan tipis.


"Terus kamu gimana? kamu pasti kedinginan juga."


"Aku laki laki, aku masih bisa menahan dingin. udah kamu pakai saja bajuku." Satria memberikan kemejanya pada Renata.


"Aku engga mau." Renata meletakan kemeja Satria dipangkuan Satria.


"Renata, kamu jangan keras kepala. cepat pakai bajuku" Satria kesal.


"Kamu yang keras kepala, aku bilang engga mau. kenapa kamu maksa?" Renata tidak ingin Satria memberikan kemejanya. Renata juga tidak ingin Satria kedinginan.


"Kamu yakin? kalau begitu aku akan gunakan cara lain untuk menghangatkanmu." Seketika Satria memeluk Renata dengan erat.


Deg...


Jantung Renata seperti ingin melompat, Renata merasa jantungnya kembali berdebar saat ia didekat Satria.


"Renata, apa kamu masih mencintai Arfi?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Satria.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Kalau kamu masih mencintai Arfi, kita bercerai saja. aku tidak ingin menghalangi kebahagianmu."


Mendengar ucapan Satria, Renata kembali bersedih. ia juga marah, dengan rasa kesal Renata membuka pintu mobil kemudian ia turun dari mobil Satria.


"Renata kamu mau kemana?" Satria ikut turun dari mobil dan berjalan mengejar Renata yang sudah berjalan cepat menjauhi mobilnya.


"Renata, sekarang masih hujan. kenapa kamu keluar dari mobil?" Satria mencengkeram lengan Renata saat ia sudah berdiri disamping Renata.


"Kamu tidak usah perduli sama aku. mau aku kehujahan, kepanasan itu bukan urusan kamu." Renata menangis.


Satria tidak tahu kalau Renata menangis karena air mata Renata sudah bercampur dengan air hujan, baju Renata basah kunyup membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas.


Satria mendengus kesal, Satria kemudian menarik tangan Renata. Satria memaksa Renata masuk kedalam mobil. ia tidak ingin ada orang lain yang melihat Renata dengan baju yang basah dan terlihat lekuk tubuhnya.


"Satria apa apaan si kamu." Renata marah saat ia sudah masuk kembali kedalam mobil Satria.


"Kamu lihat, diluar hujan baju kamu juga basah semua. kamu sengaja mau menggoda orang?"


"Menggoda siapa? disini sepi cuma ada kita berdua." Renata tampak kesal mendengar tuduhan Satria.


"Renata, aku ini suami kamu. sekarang katakan, kenapa tiba tiba kamu marah?" Satria menarik nafas berlahan lahan, ia berusaha meredakan amarahnya.


"Aku bukan marah, aku cuma sedih karena kamu mau menceraikan aku. Dulu Arfi menceraikan aku, sekarang kamu. aku tahu. kamu pasti mau mengejar ngejar Nayra, istrinya Arfi. karena itu kamu mau kita cerai." Renata terisak.


"Siapa bilang aku mau mengejar ngejar Nayra?" Satria tidak tahu, kenapa Renata bisa berpikir seperti itu.


"Bukannya kamu cintanya sama Nayra?" Renata masih ingat dihari pertamanya menikah dengan Satria, Satria mengatakan kalau Satria mencintai Nayra.


"Itu kan dulu sebelum aku menikah. Sekarang yang ada dihatiku cuma istriku."

__ADS_1


Hati Renata berbunga bunga, ucapan Satria terdengar indah ditelinga.


"Terus, kenapa kamu ingin kita bercerai?"


"Aku tidak mau bercerai, aku cuma mengira kamu masih mencintai Arfi dan kamu ingin kembali lagi dengannya, karena itu aku ingin kita berpisah."


"Aku sudah bilang, aku tidak akan kembali lagi dengan Arfi"


"Tapi kamu sedih kan melihat Nayra dan Arfi berpelukan?"


Renata belum menjawab pertanyaan Satria, rasa dingin membuat Renata mendadak bersin.


"Makanya kalau dibilangin suami itu nurut." Satria tersenyum mengejek.


"Kita pulang sekarang, aku udah kedinginan. aku mau cepat cepat ganti baju." Renata menggigil, ia tidak menggubris ucapan Satria.


"Hujannya masih deras. kamu tunggu disini. dibagasi mobil aku punya beberapa baju ganti, aku ambil dulu."


Satria lalu mengambil payung lipat yang ada didepannya, kemanapun Satria pergi. Satria memang selalu membawa baju ganti untuk berjaga jaga kalau bajunya kotor atau basah.


Setelah mengambil dua buah kemeja dan dua celana panjang, Satria segera masuk kedalam mobilnya.


"Ini, kamu pakai saja bajuku." Satria memberikan satu kemeja dan satu celana panjang pada Renata.


"Aku ganti dimana?" Renata tampak bingung.


"Ya disini, memangnya dimana lagi." Satria menatap Renata yang terlihat bimbang.


"Kenapa? malu? buat apa malu? aku sudah lihat semua. kita juga sudah... " Satria ingin melanjutkan ucapannya, tapi dihentikan oleh Renata.


"Stop.. jangan diteruskan." wajah Renata memerah karena malu.


Renata lalu membuka kancing bajunya satu persatu dan melepaskan baju serta bra yang ia pakai. Renata baru ingin memakai kemeja yang tadi Satria berikan, tapi Satria tiba tiba memegangi tangan Renata.


"Tunggu. jangan dipakai dulu." Satria memandang tubuh bagian atas Renata.


Dipandang intens seperti itu, membuat Renata menjadi salah tingkah.


"Renata, apa boleh aku... " Satria menggantung ucapannya.


Renata tahu, apa yang diinginkan Satria. namun ia hanya diam tak menjawab. diam itu berarti setuju, begitu pikir Satria. Tanpa menunggu jawaban Renata, Satria mencium bibir Renata.


Karena hujan deras Nayra bergegas masuk kedalam kamar rumah sakit, tempat dimana ia diperiksa. Nayra bedecak kesal karena Arfi juga ikut masuk kedalam kamar itu.


Nayra tidak mengetahui kalau Arfi sudah menutup pintu dan menguncinya karena ketika Arfi menutup dan mengunci pintu Nayra sedang berdiri membelakanginya.


"Kenapa kamu masih disini? sana pulang." usir Nayra dengan muka cemberut.


"kamu tidak lihat? diluar hujan deras. nanti aku pulang kalau hujannya sudah reda." Arfi kesal karena Nayra mengusirnya.


"Kalau hujannya tidak reda reda bagaimana?"


"Aku akan menginap disini." Arfi langsung tidur diatas tempat tidur.


"Kamu bisa menunggu diluar. kenapa harus disini?"


"Aku yang membawa kamu kerumah sakit ini. aku juga yang membayar biaya rumah sakit ini. jadi aku berhak ada disini." Arfi mulai menyombongkan diri.


"Ya sudah kamu tunggu disini, biar aku yang tunggu diluar." Nayra berjalan kearah pintu.


"Aduh... " Arfi yang semula berbaring mendadak duduk.


Nayra berhenti berjalan, Nayra menengok kesamping karena ia mendengar suara Arfi mengeluh kesakitan.


"Arfi, kamu kenapa?" Nayra buru buru mendekati Arfi yang sedang berbaring ditempat tidur pasien.


"Tanganku sakit Nay."


"Kenapa bisa sakit?" Nayra cemas, ia memegangi tangan Arfi.


"Waktu aku menggendongmu, tangan ku sakit. mungkin keseleo."


"Kalau begitu aku panggil dokter."


"Tidak usah." Arfi tidak ingin Nayra memanggil dokter.


"Kenapa?" Nayra merasa sikap Arfi aneh


"Kalau kamu panggil dokter, nanti aku diperiksa terus kalau aku diperiksa. aku harus bayar, aku tidak mau mengeluarkan uang lagi."

__ADS_1


Sebenarnya tangan Arfi tidak sakit, ia hanya mencari cari alasan agar Nayra tetap berada dikamar itu.


"Sejak kapan kamu jadi pelit? lagi pula tangan kamu harus diperiksa supaya sembuh dan tidak sakit lagi."


"Kamu saja yang mengobati tanganku." Pinta Arfi dengan wajah penuh harap.


"Aku bukan dokter." Nayra menolak.


"Kamu pijat tanganku, nanti juga sembuh."


"Kamu pikir aku tukang pijat? belum tentu, sakit kamu sembuh cuma karena dipijat. Arfi, kamu diperiksa dokter saja. nanti aku yang bayar."


Arfi mulai marah karena Nayra memaksanya diperiksa dokter, tentu saja Arfi menolak diperiksa karena Arfi hanya berpura pura sakit.


"Aku bilang tidak mau." Arfi menarik tangan Nayra hingga Nayra jatuh diatas pangkuannya.


Nayra ingin bangun dari pangkuan Arfi, tapi Arfi malah memeluknya.


"Nay, jangan pergi. aku kangen." Arfi mempererat pelukannya.


Nayra berusaha melepaskan pelukan Arfi namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Arfi yang lebih kuat.


Dan tiba tiba terdengar suara petir menggelegar, Nayra refleks memeluk Arfi. Arfi sangat senang. ia mengira Nayra membalas pelukannya.


"Nay, kita tidur saja sekarang. aku lelah." Arfi membaringkan tubuhnya, tubuh Nayra yang Arfi pelukpun jadi ikut terbaring diatas dadanya.


Nayra memejamkan matanya, ia merasa sangat nyaman berada didalam pelukan Arfi.


"Nay, bisakah kita selalu seperti ini?" Arfi membelai rambut Nayra.


Nayra hanya diam, lagi lagi ia membuat Arfi jadi kesal. Arfi menunduk kebawah dilihatnya Nayra sudah tertidur pulas.


"Cepat sekali tidurnya." Arfi tersenyum tipis.


Melihat Nayra sudah tidur, Arfipun ikut memejamkan matanya. dan beberapa menit kemudian Arfi sudah menyusul Nayra kealam mimpi.


Keesokan harinya.


Nayra sebenarnya masih mengantuk dan ingin tidur lagi. namun saat Nayra menyadari kalau ia sedang berada dikamar rumah sakit, ia buru buru bangun dari tidurnya.


Nayra menoleh kesamping, Nayra memandang Arfi yang masih tertidur pulas. Nayra mendekatkan wajahnya pada wajah Arfi.


"Kalau sedang tidur dia seperti kelinci yang penurut, tapi kalau sudah bangun dia seperti macan." Nayra menyipitkan matanya.


Nayra menatap wajah Arfi, diam diam ia mengagumi ketampanan wajah Arfi.


Tok... tok...


Terdengar suara pintu diketuk.


Nayra menjauhkan wajahnya dari wajah Arfi, Nayra membenarkan posisi duduknya lalu ia turun dari tempat tidur. Nayra merapikan rambutnya yang berantakan karena baru saja bangun tidur, Setelah itu barulah Nayra membuka pintu kamar, ternyata yang datang adalah dokter dan dua orang suster.


"Bu Nayra, bagaimana keadaan ibu." Dokter itu tersenyum ramah.


"Saya baik baik saja dokter, suami saya yang sakit tangannya. mungkin keseleo."


Mendengar suara orang yang sedang ngobrol, Arfi terbangun dari tidurnya. ia merasa terganggu.


"Dokter, kebetulan suami saya sudah bangun, tolong periksa tangannya." Nayra melihat kearah Arfi yang ketika itu sudah duduk ditempat tidur.


Arfi menatap tajam kearah Nayra, ia terlihat marah.


"Tidak perlu dok, saya tidak apa apa. tidak usah diperiksa." Arfi menolak.


Karena Arfi tidak mau diperiksa dokter itupun, memeriksa Nayra, Keadaan Nayra sudah baik baik saja dan dokter menginjinkannya untuk pulang.


"Arfi, kamu itu malu maluin aku aja." Nayra kesal.


"Maksudnya?"


"Aku sudah bilang sama dokter, kalau kamu sakit. kamu malah bilang, kamu baik baik saja. Nanti dokter pikir aku tukang bohong, aku jadi malu."


"Kenapa malu? Kenyataannya kamu memang tukang bohong."


"Apa?" Nayra sewot.


"Kamu engga ingat? kamu sudah membohongiku dengan pura pura mati." Arfi kembali mengungkit kesalahan Nayra.


Tidak ingin bertengkar, Nayra memilih untuk tidak membalas ucapan Arfi, saat itu wajah Nayra terlihat sangat kesal.

__ADS_1


__ADS_2