Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Kecurigaan Arfi


__ADS_3

Arfi mengantar Renata keapartemen miliknya, Renata tidak bicara sepatah katapun. ia bahkan terlihat sedang melamun.


"Renata kamu kenapa? kamu kelihatan tidak senang. kamu tidak mau menikah dengan Satria? kamu mau aku carikan laki laki lain? " Arfi bisa merasakan kalau ada sesuatu yang sedang Renata pikirkan.


"Tidak perlu. siapapun orangnya, aku tetap akan menikah dengan orang lain bukan denganmu." ucap Renata dengan suara rendah, batinnya seakan lelah.


"Renata sabar ya, kamu jangan menjadikan ini sebagai beban."


"Kalau cuma menikah lalu bercerai, mungkin aku bisa melakukannya, tapi kamu tahu kan? aku harus melakukan kewajiban aku sebagai seorang istri baru aku bisa bercerai dan menikah denganmu. kalau aku tidak melakukan kewajibanku percuma saja aku bercerai dengan Satria Karena kita tetap tidak bisa rujuk. ini semua terlalu rumit." Renata menyandarkan kepalanya dikursi mobil.


"Maafkan aku Renata, aku yang salah. seharusnya aku tidak menjatuhkan talak tiga padamu. jadi kita dengan mudah bisa rujuk." Arfi tidak berhenti menyesali diri, ia juga mengucapkan kata maaf berulang ulang kali.


"Kalau memang kamu tidak mau menikah ya sudah, tidak apa apa kita batalkan saja. mungkin kita memang tidak akan pernah bisa bersama lagi." Arfi sudah menyerah, ia tidak ingin memaksa Renata.


"Arfi, aku tidak akan menarik kata kataku. aku akan tetap menikah. aku cuma merasa ini berat. aku tidak membayangkan tubuhku disentuh Satria. Arfi apa kamu rela aku disentuh oleh laki laki lain?"


"Aku rela, aku rela melakukan apa saja asal kita bisa bersama lagi."


"Tapi aku tidak rela, aku tidak rela disentuh laki laki lain selain kamu." Renata menangis.


Arfi menghentikan mobilnya karena kebetulan mereka sudah sampai didepan gedung apatement Renata.


"Renata, jangan menangis lagi. seperti yang sudah aku bilang, ini cuma sehari. setelah kamu menikah dan melakukan kewajiban kamu. besoknya kamu bisa bercerai dan beberapa bulan kemudian kita bisa rujuk lagi. " Arfi memeluk Renata, tapi Renata masih tetap saja menangis.


"kamu sebenarnya berutung bisa disentuh Satria. meskipun dia itu cuma asisten aku, tapi dia itu ganteng. badannya tinggi, kulitnya juga putih. dia juga seumuran dengan kita. Satria bukan laki laki tua yang bisa bikin kamu takut. pokoknya kamu beruntung bisa jadi istri Satria." Arfi berusaha menghibur Renata, namun kata katanya justru membuat Renata kesal.


"Kamu ini.. bisa bisanya bercanda, kamu engga liat aku lagi sedih? omongan kamu barusan membuat aku merasa sedang dijual." Renata marah marah, ia melepaskan pelukan Arfi.


"Dijual? maksudnya?" Arfi tidak mengerti maksud ucapan Renata.


"Kamu meminta aku untuk melayani laki laki lain, sama saja seperti kamu menjual aku." Renata cemberut, rasa sedihnya hilang berganti dengan rasa marah.


Arfi senang melihat perubahan sikap Renata. meskipun Renata marah, tapi setidaknya dia sudah tidak sedih lagi.


"Renata sudah ya, kamu tidak usah banyak pikirkan. aku ingatkan lagi, pernikahan kamu dan Satria itu cuma satu malam jadi anggap saja semua itu adalah mimpi. mimpi yang indah. saat kamu bersama Satria bayangkan kalau kamu sedang bersamaku." lagi lagi Arfi membuat Renata kesal dengan ucapannya yang terdengar seperti sebuah ejekan.


"Aw... sakit." Arfi meringis kesakitan karena tiba tiba Renata mencubit lengannya.


"Biarin aja sakit, aku tidak perduli." Renata tersenyum, ia merasa puas.


Renata kembali ingin mencubit Arfi, tapi Arfi lebih dulu memegangi tangannya.


"Akhirnya kamu tersenyum." Arfi lalu. melepaskan pegangan tangannya pada Renata.


"Sudah malam, masuk dan tidurlah. besok sore kamu akan menikah." Arfi mengacak acak rambut Renata.


"Besok?" Renata terkejut mendengar ucapan Arfi.


"Iya, aku sudah siapkan semuanya. lebih cepat baik." Jawab Arfi.

__ADS_1


Renata menarik nafas panjang, ia terlihat pasrah. Arfi kemudian keluar dari mobil itu, ia membukakan pintu mobil untuk Renata.


"Renata, terima kasih. kamu sudah mau menuruti keinginanku." Ujar Arfi saat Renata sudah turun dari mobilnya.


"Aku belum menikah, jadi jangan berterima kasih dulu."


Untuk beberapa detik mereka saling diam.


"Ya sudah, aku pulang dulu." Arfi menutup pintu mobil yang tadi ia buka untuk Renata


"Tunggu." Renata menghentikan Arfi ketika Arfi ingin berjalan memutar.


Arfi membalikan tubuhnya dan mendadak Renata memeluk Arfi.


"Arfi, aku tidak tahu kenapa? perasaanku tidak enak. aku merasa setelah aku menikah, akan terjadi sesuatu yang buruk pada hubungan kita. aku juga merasa aku tidak akan pernah bisa memelukmu lagi." Renata kembali sedih.


"Kamu jangan bicara macam macam Renata. aku udah ngantuk. aku mau pulang." Arfi menganggap ucapan Renata hanyalah sebuah kata kata yang tidak mungkin terjadi.


"Biarkan aku memelukmu sebentar saja." Renata mempererat pelukan.


Arfi akhirnya membiarkan Renata memeluknya, hampir lima menit mereka berpelukan karena melihat Arfi sudah lelah Renata melepaskan pelukannya.


"Kamu boleh pulang sekarang." Renata meminta Arfi pulang.


"Iya.. kamu masuk duluan, baru aku pulang."


"Aku tidak mau. kamu pulang dulu, baru aku masuk." Renata ingin melihat Arfi pulang.


Kenapa Renata seperti tidak ingin berpisah denganku? Batin Arfi.


Renata tetap berdiri disamping mobil Arfi, ia menunggu sampai mobil Arfi berjalan pergi dan menghilang dari padangan matanya.


Sementara itu dirumah Arfi.


Nayra menunggu Arfi diruang tamu, ia menunggu sambil memainkan ponselnya. Nayra teringat kata kata Arfi sebelum pergi, Arfi mengatakan Nayra tidak perlu menunggunya karena ia sudah membawa kunci sendiri.


Karena Nayra tidak bisa tidur ia memilih untuk memunggu Arfi pulang. jarum jam menunjukan pukul sebelas malam, tapi Arfi belum juga pulang. Nayra mulai mengantuk dan ia pun tertidur disofa.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Arfi memakirkan mobilnya dihalaman rumahnya. dilihatnya lampu ruang tamu masih menyala.


"Dewi, si wanita jelek itu apa belum tidur?" Arfi membuka pintu ruang tamu.


Arfi berdecak kesal ketika ia melihat Nayra tidur disofa.


"Selain mukanya jelek ternyata Dewi itu bodoh. Sudah aku bilang, tidak usah menungguku. dia malah tidur disofa. apa gunanya kasur kalau dia tidur disofa?" Arfi ingin membanting pas bunga yang ada dimeja agar Dewi kaget.


"Tunggu.. tunggu, mumpung Dewi tidur ini kesempatan aku untuk melihat wajah aslinya. wajah yang selalu dia tutupi dengan kaca mata."

__ADS_1


Arfi mendekati Nayra, ia duduk dihadapan Nayra tidur. Arfi lalu membuka kaca mata yang dipakai Nayra.


"Tidak, ini tidak mungkin. Dewi benar benar mirip Nayra. apa sebenarnya Dewi itu adalah Nayra? tidak..aku pasti cuma berhalusinasi Nayra sudah mati."


Arfi meletakkan kaca mata Nayra diatas meja tangannya gemetar dan entah dorongan dari mana Arfi mendekatkan wajahnya pada wajah Nayra, Arfi ingin melihat wajah Nayra lebih dekat lagi.


Tangan nakal Arfi lalu menyentuh bibir Nayra. seperti ada arus listrik yang mengalir didalam darah Arfi saat ia menyentuh Nayra.


Nayra bagai magnet yang membuat Arfi ingin menempel padanya. Arfi memberanikan diri untuk mencium bibir Nayra, namun baru saja ia ingin melakukannya tiba tiba ia mendengar suara Kevin memanggilnya.


"Papa... " Kevin turun dari tangga sambil mengusap usap matanya.


"Ada apa nak?" Arfi mendekati Kevin yang sedang berdiri didepan tangga.


"Aku haus pa.. mau minum."


Mendengar suara Kevin Nayra jadi terbangun.


"Pak Arfi, bapak sudah pulang?" Melihat Arfi Nayra buru buru mengambil kaca matanya dimeja.


Kenapa kaca mataku ada dimeja. Nayra ingat sebelum ia ketiduran, ia masih memakai kaca mata.


"Kalau aku belum pulang, aku tidak mungkin ada disini." ucap Arfi sinis, kemudian ia pergi meninggalkan Nayra dan Kevin kedapur.


Tidak lama kemudian Arfi datang dengan membawa segelas air putih, ia memberikan gelas itu pada Kevin dan Kevin langsung meminumnya.


"Papa aku tidur lagi ya." kevin meletakan gelas yang tadi ia pegang diatas meja lalu ia kembali kekamarnya.


"Pak, saya juga mau tidur. permisi. " Nayra berpamitan pada Arfi.


"Tunggu Dewi." Arfi memegang tangan Nayra.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" Nayra menepis tangan Arfi.


"Kenapa kamu tidur diruang tamu? kamu nunggu aku?" Pertanyaan Arfi membuat Nayra gugub.


"Tidak, Tadi saya lagi main hp, terus ketiduran." Nayra bohong.


"Lain kali kalau ngantuk tidur dikamar, jangan tidur disembarang tempat. membuat jelek pemandangan." lagi lagi Arfi bersikap sinis.


"Maaf, pak."


Seharusnya Nayra kesal mengahadapi Arfi yang selalu bersikap sombong, tapi Nayra justru bersyukur karena itu berarti Arfi tidak mengenali dirinya.


Nayra ingin pergi kekamarnya, tapi kakinya tanpa sengaja menginjak rok yang ia pakai. rok yang Nayra pakai panjang sampai menyentuh lantai, Nayra aga kesulitan berjalan karena memakai rok itu.


Akibatnya Nayra terjatuh, yang membuat Nayra merasa sial ia jatuh dan tanpa sadar mendorong dada Arfi.


Bukan hanya Nayra yang jatuh tapi Arfi juga ikut terjatuh, Nayra jatuh diatas tubuh Arfi. dan wajah Nayra juga jatuh diatas wajah Arfi. tanpa sengaja bibir mereka menempel.

__ADS_1


Wajah Nayra memerah, ia sangat malu. Nayra buru buru ingin bangun, tapi Arfi mencegahnya. Arfi menarik tengkuk Nayra, Arfi lalu mulai mencium bibir Nayra


__ADS_2