Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Rumah sakit


__ADS_3

Setelah melahirkan kevin, Renata memang melakukan kb. ia meminum obat untuk mencegah kehamilan. Renata khawatir, kalau ia hamil dan punya anak lagi. karirnya akan terganggu, mendengar keinginan mertuanya Renata hanya bisa diam. Renata menyesal karena tanpa sepengetahuan Arfi, ia sudah meminum pil kb.


Arfi dan Renata mengira ada kabar penting yang akan disampaikan kedua orang tua Arfi, ternyata mereka hanya ingin bertanya kapan Kevin punya adik.


"Jadi, mami dan papi jauh jauh datang hanya untuk mengatakan ini?" Arfi merasa heran.


"Arfi, Kevin sudah sekolah, sudah waktunya dia punya adik. kalian mau tunggu berapa lama lagi?" ucap ibu Ayrin.


"Iya, mami kamu benar. Papi dan mami juga kepingin punya cucu lagi." Sambung Pak Bisma ayah Arfi.


"Arfi, kamu ini satu satunya anak mami. mami dan papi sebenarnya ingin mempunyai anak banyak, tapi karena kecelakaan. mami tidak bisa punya anak lagi." Ibu Ayrin mulai menceritakan masa lalunya.


Ibu Ayrin sangat sering menceritakan masa lalunya, tentang bagaimana ia kecelakaan hingga ia tidak bisa punya anak lagi. Cerita itu diulang ulang, Arfi yang mendengarnya kadang merasa bosan. Mendengar cerita ibunya bagaikan melihat film yang diputar berulang ulang.


"Mami.. Mami sudah sering cerita itu, aku sampai hafal diluar kepala." Arfi mengejek ibunya.


"Kalau kamu hafal, kenapa kamu tidak mengabulkan permintaan mami?" Ibu Ayrin menyipitkan matanya.


"Renata maaf, mami tidak bemaksud menekan kamu. tapi mami ingin sekali punya cucu lagi. Kevin juga pasti senang, kalau punya adik. tidak punya saudara itu, tidak enak. Seperti Arfi dulu sebelum menikah, dia sering kesepian." Ibu Ayrin mencoba membujuk Renata.


"Semakin banyak anak, semakin banyak rejeki dan semakin banyak generasi penerus keluarga ini." Pak Bisma menimpali kata kata ibu Ayrin.


"Mami dan papi jangan khawatir, aku akan berusaha untuk punya anak lagi." Renata tersenyum meskipun dalam hati ia merasa cemas.


"Syukurlah, kamu itu memang menantu idaman. Karena urusan mami sudah selesai mami dan papi pulang dulu." Ibu Ayrin berpamitan.


"Mami dan papi hanya ingin bicara ini? tidak ada yang lain lagi? Arfi sangat kesal.


"Iya, memangnya kenapa?" Ibu Ayrin tidak merasa bersalah.


"Mami, lain kali kalau mami dan papi mau kerumahku, telphone aku dulu. biar aku tahu kalau mami dan papi mau datang." Ucap Arfi


"Arfi, kita ini orang tua kamu. mau kerumah anak, masa harus buat janji. Kamu ada ada saja. Papi ayo kita pulang, lama lama disini darah tinggi mamah bisa kumat."


Ibu Ayrin dan pak Bisma kemudian pergi meninggalkan rumah Arfi.


"Kalau aku tahu mereka datang cuma mau bicara seperti itu, aku tidak sudi buru buru pulang dari Villa. Udah sewa mahal mahal, engga dipakai, buang buang duit." Arfi marah marah sendiri.


Renata tidak mau ambil pusing dengan ocehan ocehan Arfi, ia lebih memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa punya anak lagi.


Aku ini memang bodoh. Suamiku sudah menghianati aku dan menikahi perempuan lain, tapi aku masih berusaha mempertahankan rumah tangga kami, bahkan aku ingin punya anak lagi. Nayra sudah pergi, apa aku juga harus pergi? rasanya tidak adil jika aku meninggalkan Arfi, padahal dia sudah berusaha menuruti keinginanku. Seandainya aku pergi? Kevin pasti sedih. Kevin akan bingung, dia akan tinggal bersamaku atau tinggal bersama Arfi. Saat aku dan Kevin meninggalkan rumah ini, Kevin selalu mengatakan dia ingin pulang. Bagi Kevin hanya rumah ini yang dianggap sebagai rumahnya.


Renata duduk sambil melamun.


"Renata, kamu kenapa melamun?" Arfi menegur Renata.


"Engga, aku cuma sedikit cape. aku kekamar duluan." Renata berjalan kekamarnya, ia membuka pintu kamar kemudian menutupnya kembali.


"Renata sudah kekamar, lebih baik aku pergi kerumah Nayra." Arfi diam diam ingin pergi meninggalkan rumah, ia ingin mencari Nayra.


"Papa, papa mau kemana?" Tanya Kevin, Kevin baru saja keluar dari kamar, ia melihat Arfi berada didepan pintu.


"Papa ada urusan, papa mau pergi sebentar."


"Papa jangan pergi, sebentar lagi malam. Papa temanin aku main ya." Kevin mulai bersikap manja.


"Iya.. iya papa, temani kamu." Arfi akhirnya menemani Kevin bermain dikamarnya, karena lelah ia sampai ketiduran dikamar Kevin.


Renata terbangun dari tidurnya, ia melihat jam didinding kamarnya menunjukan pukul tujuh malam, Renata keluar dari kamarnya untuk mencari Arfi. Renata menemukan Arfi sedang tidur dikamar Kevin dan ka melihat dilantai banyak mainan kevin yang berserakan.


"Arfi, dia pasti ketiduran setelah menemani Kevin bermain. bagaimana kami bisa punya anak lagi? Setiap aku mau melakukan kewajibanku sebagai istri, Arfi selalu tidur dan saat Arfi yang meminta haknya aku yang ketiduran karena cape. Sepertinya aku harus benar benar berhenti kerja supaya aku bisa punya anak lagi." Renata menyelimuti Arfi dan Kevin, ia mematikan lampu kemudian ia keluar dari kamar Kevin.

__ADS_1


...***********...


Nayra sudah kembali kerumahnya sejak siang hari, ia mengira Arfi masih berada divilla karena itu ia pulang kembali kerumahnya. Nayra bertemu Raddit ketika ia ingin membeli susu ibu hamil, ia tidak sengaja bertemu Raddit dimini market dekat rumahnya.


"Nayra." Raddit senang bisa bertemu Nayra, tetapi ia tidak mengerti. Kenapa Nayra kembali lagi kerumahnya.


"Kamu pulang kerumah kamu lagi?" Tanya Raddit sambil mengambil beberapa kotak minuman yang ia beli.


"Iya Raddit."


"Nanti kalau ketemu Arfi bagaimana?" Raddit kembali bertanya.


"Kamu tenang saja aku engga akan bertemu Arfi karena Arfi sedang berada divilla, ia pergi bersama Kevin dan Renata." Sebenarnya Nayra sangat sedih tapi ia berusaha untuk tegar.


"Kamu tahu dari mana?"


"Waktu aku tinggal divilla kamu. aku pergi kerestaurant disana aku ketemu Arfi, Renata dan Kevin." Nayra bercerita.


"Terus... terus." Raddit penasaran.


"Terus aku pergi dari restaurant itu, tapi ternyata mereka menginap divilla yang berada disebelah villa kamu. Ya sudah, aku cepat cepat pergi dari Villa itu." Nayra bercerita panjang lebar.


"Tapi, Arfi kan bisa pulang kapan saja."


"Besok aku sudah pergi dari sini. Jadi kalau Arfi pulang, kita tidak akan bertemu." Nayra memberi penjelasan.


"Kamu mau kemana lagi? Kerumah yang udah kamu sewa itu?"


"Engga Raddit, aku engga jadi sewa rumah. Aku mau pulang kampung saja. Aku mau pulang kerumah peninggalan ayahku." Nayra sudah yakin dengan keputusannya.


"Aku antar ya." Raddit langsung menawarkan bantuan.


"Engga usah Raddit, besok aku mau kerumah sakit dulu habis itu baru aku pergi."


Aku keceplosan, Raddit tidak boleh tahu kalau aku mau periksa kehamilan. Batin Nayra.


"Aku engga sakit, aku cuma mau nengokokin temanku yang lagi sakit." Nayra alasan.


"Raddit aku pulang dulu ya, aku ngantuk mau cepat cepat tidur." Nayra buru buru pergi ia tidak ingin Raddit curiga, ia juga tidak ingin Raddit melihat susu ibu hamil yang ada dikeranjangnya.


Keesokan harinya,


Renata pergi kerumah sakit setelah Arfi berangkat kekantor, ia sengaja pergi sendiri untuk memeriksakan dirinya. Renata ingin tahu, apakah ia bisa mengikuti progam hamil.


Dirumah sakit


"Dokter bagaimana? apa saya masih bisa hamil?" Tanya Renata usai dokter memeriksanya.


"Maaf ibu Renata, ibu tidak bisa punya anak lagi."


Renata sangat terkejut mendengar jawaban dokter itu, tubuhnya terasa lemas. Ia merasa sedih.


"Kenapa saya tidak bisa punya anak lagi?" Mata Renata berkaca kaca.


"Ibu sudah terlalu lama melakukan kb dan juga meminum obat yang mencegah kehamilan sehingga membuat peranakan ibu menjadi kering." Dokter menjelaskan secara terperinci.


Tidak lama kemudian Renata keluar dari rumah sakit, ia berjalan dengan langkah gontai. Renata sangat menyesal karena ia sudah menimum obat yang membuatnya tidak bisa mempunyai anak. Renata duduk ditaman sambil menangis.


Ketika itu Nayra baru saja sampai dirumah sakit dan ia melihat Renata yang duduk ditaman rumah sakit.


"Itu kan Renata, kenapa dia ada disini? Jadi Renata sudah pulang dari Villa. Kenapa dia menangis?" Nayra diam diam mendekati Renata ia bersembunyi dibalik pohon agar Renata tidak melihatnya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa punya anak lagi sedangkan Arfi dan keluarganya berharap aku memberikan adik untuk Kevin." Renata terisak.


"Aku ingin memperbaiki rumah tanggaku, tapi kalau aku tidak bisa punya anak lagi. Arfi dan keluarganya pasti kecewa, ini semua salahku seharusnya aku tidak meminum obat pencegah kehamilan, kalau aku tidak meminum obat itu. semua ini tidak akan terjadi." Renata menagis


Jadi Renata minum obat supaya dia tidak hamil dan sekarang dia benar benar tidak bisa hamil, padahal Arfi ingin punya anak lagi. melihat Renata menangis kenapa aku jadi kasihan? Nayra merasa iba.


"Aku harus masuk, jangan sampai Renata melihat aku disini." Nayra bergegas masuk kedalam rumah sakit.


"Dokter, bagaimana keadaan bayi saya?" Tanya Nayra ketika ia sudah berada diruangan dokter, ia sangat tidak sabar.


"Sebentar ibu, saya periksa dulu." Dokter itu kemudian memeriksa Nayra.


"Ibu dan bayi ibu, baik baik saja." Ucap dokter itu seusai memeriksa Nayra.


"Tapi kenapa saya sering lemas dan pusing?" Nayra bertanya.


"Itu wajar dialami perempuan yang sedang hamil muda. Nanti saya akan berikan resep obat penguat kandungan dan juga vitamin untuk ibu hamil." Dokter itu menulis resep disebuah kertas.


Beberapa saat kemudian.


Nayra berjalan sambil memegang perutnya, entah mengapa bayangan Renata yang sedang menangis terus melintas pikirikannya.


Renata ingin hamil agar dia bisa memperbaiki rumah tangganya, tapi dia malah tidak bisa hamil. Sedangkan aku, aku yang ingin bercerai dengan arfi dan tidak pernah berharap hamil justru hamil. Kenapa posisi kita bisa terbalik? Yang seharusnya hamil itu Renata bukan aku. Nayra berjalan sambil melamun.


Brug....


Nayra tidak sengaja menabrak seseorang. orang itu sedang membawa barang barang belanjaan karena Nayra menabraknya, barang barang belanjaan orang itu jatuh. Nayra mencoba mengambil barang barang belanjaan yang jatuh.


"Jangan diambil, gue engga mau barang yang udah kotor."


Suara orang itu membuat Nayra yang sedang berjongkok menegadahkan kepala, Nayra melihat dua orang pria berbadan tinggi besar dan bewajah seram sedang menatapnya.


"Maaf, saya tidak sengaja. saya akan ganti semuanya." Nayra berdiri, ia ketakutan.


"Tidak usah ganti cantik, yang penting kamu ikut saja sama kita. Kita bersenang senang."


Kedua orang itu lalu memegangi tangan Nayra.


"Lepas " Ucap Nayra dengan suara lemah.


"Nayra." Mobil Renata melewati jalan tempat dimana Nayra sedang diganggu oleh preman preman.


Renata menghentikan mobilnya, ia segera keluar dari mobilnya.


"Lepaskan dia!" Renata setengah berteriak.


"Waah... Ada satu lagi wanita cantik." Ujar salah satu pria itu.


"Tolong... Tolong..." Renata berteriak agar ada orang yang datang menolongnya.


Kedua pria itupun langsung kabur karena mereka takut dikeroyok warga.


"Nayra, kamu tidak apa apa?" Renata khawatir.


"Aku tidak apa apa." Nayra memegangi kepalanya yang pusing, pandangannya mulai kabur dan Nayrapun jatuh pingsan.


"Nayra, Nayra bangun." Renata panik, ia menepuk nepuk pipi Nayra.


"Ada apa bu?" Tanya salah seorang sudah datang menghampiri Renata.


Beberapa orang memang datang karena mendengar suara teriakan Renata.

__ADS_1


"Ini, ada yang pingsan, tolong bantu saya membawanya kemobil." Renata meminta tolong pada beberapa warga yang datang.


Mereka lalu menolong Renata, mereka mengangkat tubuh Nayra lalu memasukannya kedalam mobil Renata.


__ADS_2