Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Kangen


__ADS_3

Arfi menunggu kedatangan Kevin. ia khawatir karena sudah setengah jam menunggu, Kevin belum juga pulang. Arfi lalu menelphone Satria, ia ingin memastikan apakah Satria sudah menjemput Kevin.


"Hallo..Satria kamu dimana?" Tanya Arfi saat Satria sudah menjawab telphonenya.


"Saya ada dirumah Nayra." Jawaban Satria membuat Arfi terkejut.


Satria kemudian menceritakan pada Arfi, kalau ia bertemu Nayra dijalan,l lalu ia berinisiatif untuk mengantar Nayra. Sampai dirumah Nayra, Nayra menawarkan makanan untuk Kevin.


Kevin sangat menyukai masakan Nayra, dengan senang hati ia menerima tawaran Nayra, Nayra juga menawari Satria untuk makan. awalnya Satria menolak karena ia malu, tapi Kevin memaksanya untuk ikut makan. Satria akhirnya setuju untuk makan bersama Nayra dan Kevin.


"Jadi sekarang kamu sedang santai santai bersama istri dan anakku? apa kamu tahu? aku khawatir menunggu Kevin."


Mendengar cerita Satria, dada Arfi tiba tiba terasa panas.


Arfi meminta Satria untuk memfoto Nayra dan kevin, Satria menuruti keinginan Arfi sayangnya hal itu tidak membuat Arfi senang. Arfi justru marah karena Satria ikut berfoto bersama Nayra dan Kevin. Mereka bertiga tersenyum bahagia.


"Apa apaan ini? " Arfi melempar ponselnya keatas sofa, ia sangat kesal.


Arfi mengambil ponselnya, untunglah ia melemparkan ponselnya diatas sofa jadi ponselnya tidak rusak bahkan tidak tergores sama sekali.


"Ada apa Arfi?" Renata baru saja keluar dari kamar. ia melihat Arfi, yang sepertinya sedang marah.


"Kamu kelihatan marah." sambung Renata.


"Iya, aku memang sedang marah, aku marah sama Satria. aku minta dia jemput kevin, tapi dia lupa." Arfi berbohong agar ia bisa pergi kerumah Nayra.


"Aku pergi dulu, aku mau jemput Kevin." Arfi buru buru ingin pergi tapi Renata menghalanginya.


"Tunggu! aku ikut." Renata menatap curiga.


kamu mau jemput Kevin atau mau mencari Nayra? pelakor tidak tahu diri itu. Batin Renata.


Bagaimana ini? kalau Renata ikut, aku tidak bisa menemui Nayra. Arfi kebingungan.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang." Arfi sangat kesal, ia terpaksa mengikuti keinginan Renata.


Arfi dan Renata pergi kesekolah Kevin. Arfi sengaja mengajak Renata kesekolah Kevin, ia berpura pura tidak tahu kalau Kevin sedang berada dirumah Nayra.


"Sekolahnya sepi, kelihatannya semua murid murid dan guru guru sudah pulang." Renata khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada Kevin.


"kita terlambat." Arfi belagak cemas.


"Arfi, apa yang harus kita lakukan? apa kita harus lapor polisi?" Renata panik.


"Jangan dulu, aku akan menelphone Satria, biar aku dan Satria yang mencari Kevin kalau tidak ketemu baru kita lapor polisi." Arfi mengambil ponsel yang ada dihadapannya.


Arfi terpaksa menelphone Satria Karena ia ingin membuat Renata percaya, kalau ia dan Satria akan mencari Kevin. saat Arfi menelphone Satria, kebetulan Satria sedang ditoilet.


"Bu Nayra, itu hp om Satria bunyi terus." ucap Kevin sambil melirik kearah ponsel yang Satria tinggalkan diatas meja makan.


"Biar Ibu jawab telphonenya, kamu lanjutin makannya." Nayra mengambil ponsel Satria.


Dilayar ponsel Satria tertulis nama Arfi.


Arfi, jadi dia yang telphone. Nayra merasa senang.


Kenapa aku merasa senang? dia itu menelphone Satria bukan aku. Batin Nayra.

__ADS_1


"Hallo" Nayra menjawab telphone dari Arfi.


Nayra, kenapa dia yang jawab telphone Satria? Arfi kesal.


"Satria, Kevin hilang. kamu cepat kesini, bantu saya mencari Kevin." Suara Arfi terdengar ketus.


"Kevin tidak hilang, Kevin ada dirumahku." Nayra menutup telphonenya.


"Hallo... haloo.. " Arfi marah karena Nayra menutup telphonenya.


"Ada apa?" Tanya Renata yang ketika itu masih duduk disamping Arfi.


"Ini Satria, berani beraninya dia menutup telphone aku." Arfi marah.


"Kenapa dia menutup telphone kamu?" Renata merasa aneh.


"Aku juga tidak tahu, mungkin dia malas dengar aku marah marah."


"Arfi, Satria itu mau bantu kita cari Kevin. kenapa kamu marah?" Renata pusing, ia tidak mengerti jalan pikiran Arfi.


"Kevin sedang bersama Satria. ternyata sebelum kita datang, Satria sudah datang untuk menjemputnya."


"Apa? kenapa dia tidak menelphonemu? Seharus dia kasih kabar, jadi kita tidak perlu repot repot begini" Renata emosi.


"Aku juga mau bilang begitu, tapi dia sudah menutup telphonenya."


"Karena Kevin sudah ketemu, sebaiknya kita pulang."


"Ya sudah." Renata menurut.


"Renata, ban mobil aku kempes."


"Terus." Renata seakan akan tidak perduli, ia sibuk memainkan ponselnya.


"Aku mau urus mobil aku. kamu pulang naik taksi saja."


"Aku tunggu disini, kita pulang sama sama." Renata menolak untuk pulang lebih dulu.


Ini sebenarnya kesempatan bagus. kalau Renata pulang, aku bisa pergi kerumah Nayra. sayangnya Renata tidak mau. bagaimana caranya supaya Renata mau pulang? Arfi tampak sedang berpikir.


Kamu pikir aku tidak tahu, begitu aku pergi kamu pasti akan menemui Nayra. aku tidak akan membiarkan kamu mendekati pelakor itu. Renata seperti bisa menebak isi hati Arfi.


"Kalau kita bedua ada disini. kasihan Kevin. saat dia pulang dia sendirian. tidak ada aku, tidak ada kamu." Arfi meminta Renata untuk pulang.


"Kevin sudah terbiasa kita tinggal kerja. lagi pula dirumah juga ada asistent rumah tangga." Usaha Arfi sia sia, Renata tetap tidak mau pulang.


...----------------...


Nayra meletakan kembali ponsel Satria diatas meja makan, tidak lama kemudian Satria keluar dari kamar mandi.


"Satria tadi ada telphone. maaf karena hp kamu bunyi terus, jadi aku jawab telphonenya." Nayra merasa tidak enak.


"Tidak apa apa, telphone dari siapa?" Tanya Satria ingin tahu.


"Dari Arfi." Sebenarnya Nayra malas menyebutkan nama Arfi.


"Maksudnya dari SUAMI ibu?" Satria menegaskan kata suami.

__ADS_1


Nayra sedang bicara dengan Satria ketika tiba tiba terdengar suara benda jatuh. Nayra, Kevin dan juga Satria menoleh kearah sumber suara.


Ternyata ada Raddit dirumah Renata, Raddit masuk kerumah Nayra karena pintu rumah Nayra terbuka dan Tanpa sengaja Raddit menyenggol vas bunga milik Nayra. Raddit kaget mendengar ucapan Satria.


Nayra terkejut melihat Raddit, Raddit berdiri tidak jauh dari tempat Nayra bicara dengan Satria. Raddit bisa mendengar apa yang dibicarakan Nayra dan Raddit.


"Nayra, apa benar yang dia bilang? benar Arfi itu suami kamu?" Raddit mengepalkan satu tangannya entah mengapa, ia menjadi sangat marah.


"Nayra, saya pulang dulu, Terima kasih. masakan kamu enak." Setelah berterima kasih, Satria pulang bersama Kevin, sebelum pulang Kevin sempat berpamitan dan memeluk Nayra sebentar.


"Kalau begitu, aku juga pergi." Raddit berjalan keluar dari rumah Nayra, ia meninggalkan Nayra dengan hati yang kecewa.


"Raddit tunggu!" Nayra mengikuti Raddit.


"Raddit, aku bisa jelaskan semua." Nayra memegang tangan Raddit.


"Aku sudah pernah bilang sama kamu. kalau kamu berhubungan dengan Arfi, aku tidak mau berteman lagi sama kamu." Raddit menepis tangan Nayra.


"Raddit...dengarkan aku dulu."


"Maaf Nayra, aku enggak bisa. aku enggak bisa berteman dengan pelakor.


Kata kata Radit membuat Nayra sakit hati, tapi Nayra merasa apa yang dikatakan Raddit itu benar. Nayra membiarkan Raddit pergi.


Hampir dua tahun Nayra dan Raddit bertetangga. meskipun usia Raddit dan Nayra berbeda sembilan tahun, tapi Nayra merasa terbiasa dan nyaman dengan kehadiran Raddit. Nayra sudah menganggap Raddit sebagai adiknya sendiri.


Sekarang Raddit marah dan hubungan kita tidak mungkin bisa kembali seperti dulu. Nayra menjadi sedih.


Sudah tiga hari Nayra tidak bertemu dengan Arfi, Nayra sudah membeli ponsel baru tapi ia sengaja mengganti nomer ponselnya agar Arfi tidak bisa menghubunginya.


Arfi tidak pernah mencari Nayra dirumah, Arfi juga tidak mencari Nayra disekolah. Nayra tidak tahu bahwa selama tiga hari Renata cuti dan Kemanapun Arfi pergi Renata selalu mengikutinya.


"Arfi, aku ini istrinya. kenapa dia tidak pernah mencariku?" Nayra mengambil gelas didapur.


"Raddit Juga, sampai kapan dia mau marah?"


Prang...


Nayra tidak sengaja menjatuhkan gelas yang pegang.


Nayra ingin mengambil pecahan gelas itu, tapi tangannya malah tergores.


"Aww.. " Darah menetes dari jari tangan Nayra.


Nayra baru ingat bahwa obat obatan dirumahnya sudah habis dan ia belum sempat membelinya. Nayra mengambil tissu lalu ia menutupi jari tangannya yang berdarah


Nayra bergegas pergi untuk membeli obat agar ia bisa mengobati luka dijari tangannya, Nayra berjalan melewati rumah Raddit dan disana ia melihat Raddit sedang bersama teman perempuannya.


Raddit bercanda dan tertawa dengan perempuan itu. tidak tahu kenapa Nayra merasa iri, hatinya sakit bahkan luka dijarinya tidak sebanding dengan luka yang ada dihatinya.


Nayra menghapus air matanya, ia segera pergi dari tempat itu. Nayra berjalan tergesa gesa, Nayra tidak ingin Raddit melihatnya. tanpa sengaja Nayra menabrak seseorang.


Nayra merasa tubuhnya lemas, ia hampir terjatuh. tetapi orang yang ditabrak Nayra memegangi tubuh Nayra sehingga Nayra tidak jatuh, orang itu ternyata adalah Arfi.


"Arfi." Nayra ingin melepaskan tubuhnya yang dipegangi Arfi, tetapi Arfi malah memeluknya.


"Nayra, aku kangen." Arfi mempererat pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2