
Nayra duduk dibangku taman yang tidak jauh dari rumahnya. sebenarnya tubuhnya masih lemas, tapi ia merasa malas untuk pulang kerumah.
Sekarang aku benar benar tidak punya siapa siapa lagi, Sebentar lagi aku bercerai dengan Arfi dan Raddit , dia marah lagi. Wajar kalau Raddit marah, mungkin dia malu punya teman pelakor. Padahal aku sudah menganggap Raddit seperti adikku sendiri. Nayra melamun.
Nayra tersadar dari lamunannya saat ada seseorang yang tiba tiba duduk disebelahnya.
"Satria." Nayra menoleh kesamping, ketika itu Satria sudah duduk disebelahnya.
"Kamu kenapa ada disini?" Nayra merasa aneh karena Satria belum pulang.
Aku tidak mungkin bilang, kalau pak Arfi yang memintaku untuk mengikuti Nayra.
"Tadi saya sudah mau pulang, tapi karena haus saya mampir dulu kewarung buat beli minuman. Pulang dari warung, saya lihat ibu nangis sendirian. Saya kan jadi kasihan."
"Siapa yang nangis?" Nayra tidak mau mengakui kalau ia habis menangis.
"Jadi ibu engga nangis? Terus, kenapa mata ibu merah?" goda Satria.
"Kelilipan." Nayra kesal.
"Ya sudah, aku pulang." Nayra ingin berdiri.
"Tunggu dulu bu." Satria mencoba mencegah kepergiaan Nayra.
"Ibu yakin mau pulang?" Tanya Satria.
"Iya, memangnya kenapa?" Nayra tidak mengerti, kenapa Satria bertanya sepeeti itu.
"Sebelum ibu Nayra pulang, saya mau tanya sesuatu. Boleh kan bu?"
"Ini dari tadi kamu juga udah nanya nanya terus." Nayra tidak ingin meladeni Satria.
"Apa orang orang disini, maksud saya tetangga tetangga ibu sudah tahu kalau ibu sudah menikah."
"Belum."
"Tetangga ibu engga ada yang tahu kalau ibu sudah menikah dan sekarang mereka melihat ibu hamil, pasti mereka akan bertanya tanya. Apa ibu mau menjelaskan semua?" Satria jadi banyak bicara.
Benar juga, rasanya aku malas menjelaskan kalau aku sudah menikah karena sebentar lagi aku akan bercerai. Bagaimana kalau kejadian dikampung terjadi lagi, orang orang tidak percaya kalau aku sudah menikah. Nayra menjadi bimbang.
"Bu Nayra, kalau boleh saya kasih saran. sebaiknya ibu tidak usah pulang dulu. Kecuali kalau ibu mau menjelaskan tentang status ibu, tapi menurut saya itu merepotkan." Satria memberi saran.
"Maksud kamu lebih baik aku menginap dihotel?"
"Memangnya ibu Nayra punya duit? Ibu kan sekarang engga kerja." Satria mengejek Nayra.
"Kamu jangan menghina saya, biarpun saya udah engga kerja tapi saya masih punya tabungan. memang sih engga banyak."
"Bu, ibu tinggal saja dirumah yang pak Arfi beli untuk ibu."
__ADS_1
"Engga, saya engga mau." Nayra menolak mentah mentah.
"Bu Nayra, rumah itu kosong. Sayang kalau tidak ditempati. lagi pula pak Arti tidak pernah datang kerumah itu, jadi ibu bebas disana." Satria mencoba membujuk Nayra.
"Apa benar Arfi tidak pernah datang kerumah itu?"
"Iya Bu Nayra, sejak ibu pergi pak Arfi menitipkan kunci rumah itu pada saya dan pak Arfi juga tidak pernah datang kerumah itu. disana ibu bisa tinggal dengan tenang karena tidak ada tetangga yang bertanya atau bergosip tentang ibu." Satria terus mempengaruhi Nayra agar ia berubah pikiran.
"Memangnya disana tempatnya sepi dan belum ramai?" Nayra jadi takut, ia tidak terbiasa tinggal sendirian didaerah yang sepi.
"Disana ramai, tapi ibu tahu sendiri rumah itu besar dan jarak dari rumah itu ketetangga tidak terlalu dekat." Satria tidak menyerah untuk membujuk Nayra.
"Kamu benar. memang lebih baik saya tinggal dirumah itu, tapi kamu harus janji. Jangan bilang Arfi kalau saya tinggal disana."
"Tenang saja bu, saya bisa jaga rahasia." Satria senang Nayra mau mendengarkan saran darinya.
"Ya sudah kita pergi dari sini sekarang, aku mau ambil tas dulu." Nayra berjalan ia ingin meninggalkan taman itu, tapi kakinya tersandung batu.
"Hati hati bu Nayra." Satria memegangi Nayra.
Satu tangan Satria memegang tangan Nayra dan satu tangannya lagi memegang lengan Nayra.
Nayra, kalau dilihat dari dekat. Ternyata dia lebih cantik. Kenapa aku baru sadar?
Batin Satria ketia ia dan Nayra saling berpandangan.
"Terima kasih Satria."
"Sama sama bu." Satria mengikuti Nayra dari belakang.
Nayra mengambil tasnya yang masih berada diteras rumahnya, setelah itu Ia dan Satria pergi dari tempat itu.
Didalam mobil Satria.
"Satria, gimana kalau tiba tiba Arfi datang kerumah itu? aku cari rumah kontrakan saja." Nayra menjadi ragu.
"Bu Nayra jangan khawatrir, pak Arfi tidak akan datang kerumah itu. Kalau dia datang saya akan beri tahu ibu." Satria meyakinkan Nayra.
"Ya sudah." Nayra akhirnya mau mengikuti saran Satria.
Syukurlah Nayra mau tinggal dirumah yang pak Arfi beli, kalau pak Arfi tahu dia pasti senang. Batin Satria.
Nayra membuka pintu mobil Satria, ketika ia dan Satria sudah sampai.
Rumah ini besar sekali sama seperti rumah yang ditempati Arfi dan Renata.
Nayra sangat takjub melihat rumah itu meskipun Nayra sudah pernah datang kerumah itu, tapi tetap saja ia tidak bisa untuk tidak mengagumi rumah itu. Rumah itu sangat jauh bila dibandingkan dengan rumah Nayra.
"Ayo kita masuk bu." Arfi membuka kunci pintu pagar.
__ADS_1
Nayra langsung menjatuhkan dirinya diatas sofa saat ia dan Satria sudah masuk kedalam rumah.
"Ibu Nayra pasti cape. sebentar ya bu, saya ambilkan minum."
Satria lalu pergi kedapur, ia mengambilkan segelas air putih untuk Nayra.
"Ini bu Nayra." Satria memberikan segelas air yang ia ambil pada Nayra.
"Terima kasih." Mata Nayra tiba tiba. Berair.
"Loh...ibu kok malah sedih? Maksud saya kan baik." Satria tidak tahu kenapa Nayra tiba tiba sedih.
"Saya engga sedih, saya cuma terharu dari tadi kamu baik banget. Kamu mirip seperti teman saya Raddit." Nayra mengambil gelas yang diberikan Satria.
"Saya pikir ibu akan bilang saya mirip sama Pak Arfi."
"Ya enggalah, kamu engga mirip sama Arfi. kamu itu baik."
"Maksud ibu, pak Arfi bukan orang baik?"
"Aku juga tidak tahu? Arfi itu orang baik atau bukan karena dia sering membuat aku sakit hati."
"Terus, Kenapa ibu mau menikah dengan pak Arfi?"
Nayra tidak menjawab pertanyaan Satri ia hanya bisa diam.
"Maaf bu Nayra, seharusnya saya tidak menanyakan pertanyaan pribadi seperti ini" Satria merasa tidak enak.
Nayra masih terdiam, ia tidak mengatakan apa apa.
"o...iya bu, saya punya sesuatu untuk ibu." Satria berjalan meninggalkan Nayra.
Satria membuka laci yang ada diruang tengah, ia mengambil sebuah map. Kemudian Satria memberikannya pada Nayra.
"Ini bu, buat ibu." Satria duduk disamping Nayra.
"Apa ini?"
"Baca aja sendiri."
Nayra membuka map itu dan ia sedikit terkejut setelah membaca isi surat dalam map itu.
"Ini sefitikat rumah? Kenapa atas namaku?" Tanya Nayra bingung.
"Karena memang rumah ini milik ibu"
"Jadi ini sefitikat rumah ini? dan rumah ini benar benar untuk saya?"
"Benar bu, ini rumah ibu. Tidak ada yang berhak mengusir ibu Nayra. bahkan pak Arfi sekalipun. Kalau saya jadi ibu, saya akan tinggal disini dan kalau ibu tidak mau Pak Arfi datang kerumah ini, ibu usir saja pak Arfi." Ucap Satria panjang lebar.
__ADS_1
Apa yang Satria katakan itu benar, dari pada aku tidak tahu harus kemana. sebaiknya aku tinggal disini. Nayra terpengaruh oleh kata kata Satria.
"Ya sudah, saya pulang dulu. Kalau ada apa apa ibu boleh minta bantuan saya." Entah keberanian dari mana Satria menepuk nepuk bahu Nayra, setelah itu barulah ia pergi.