
Nayra mendorong dada Arfi ketika Arfi sudah membaringkannya ditempat tidur.
"Kenapa kamu mengikutiku?" Nayra terlihat kesal, Nayra yang semula berbaring langsung duduk.
"Kamu sendiri, kenapa kabur?"
"Aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu dengan Renata, lagi pula untuk apa kamu mengikutiku? bukannya tadi kamu sedang berpelukan dengan Renata."
"Kamu cemburu?"
"Siapa yang cemburu?" Nayra memutar bola matanya malas.
"Kalau kamu tidak cemburu, kenapa kamu kabur?" Nada suara Arfi terdengar seperti sedang meledek Nayra.
"Aku cuma tidak mau mengganggu kamu dan Renata." Ucap Nayra berterus terang.
"Aku juga tidak mau mengganggu kamu dan Raddit." Arfi membalikan ucapan Nayra
"Maksud kamu?"
"Aku lihat kamu pelukan sama Raddit karena itu aku membawa anak anak liburan keluar negeri, biar kamu tau rasa." Arfi selalu saja membalas kata kata Nayra.
"Aku tidak ada hubungan apa apa dengan Raddit. Raddit mengira aku sudah mati karena itu waktu kita bertemu lagi, dia memelukku dia senang aku masih hidup. Raddit juga mengenalkan aku dengan Lisa calon istrinya." Nayra mulai bercerita.
"Aku juga sudah tidak punya hubungan apa apa dengan Renata, aku kan sudah bilang Renata tidak mau menceraikan Satria."
"Jadi kita sama sama salah paham?" Nayra menatap Arfi yang ketika itu duduk disampingnya.
"Nay, kamu harus janji. kamu janji jangan kabur lagi dan kalau ada sesuatu yang kamu pikirkan, kamu harus bilang sama aku. jangan kamu pendam sendiri, supaya kita tidak salah paham lagi."
"Iya aku janji, tapi kamu juga janji. apapun yang kamu pikirkan kamu juga harus bilang sama aku."
"Iya.. sayang, aku janji." Arfi merangkul Nayra.
Nayra menengok kesamping, lagi lagi jantung nya berdetak kencang karena ketika itu wajah Arfi sangat dekat dengannya. Nayra membulatkan matanya saat tiba tiba Arfi mencium bibirnya. Malam itu sepertinya akan menjadi malam yang panjang untuk mereka.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Nayra terbangun dari tidurnya saat Arfi membuka jendela kamarnya, sinar matahari pagi yang masuk kedalam kamar membuat Nayra terbangun karena silau.
"Arfi, kamu udah bangun?"
"Jam sepuluh nanti aku ada meeting jadi aku harus pergi." Arfi terlihat buru buru.
"Aku ikut. aku mau pulang kerumah boleh kan?" ucapan Nayra membuat Arfi melirik kearahnya.
"Rumahku rumahmu juga. kamu bisa pulang kapan saja, tapi kamu harus ingat." Arfi mengancingkan kemejanya yang tadi masih terbuka.
"Kalau kamu sudah masuk kedalam rumahku, kamu tidak akan bisa pergi lagi." Arfi tidak ingin Nayra seperti Renata yang pergi meninggalkannya.
"Kenapa diam?" Arfi kesal melihat Nayra yang sepertinya merasa ragu.
"Aku bebas pulang dan pergi kerumah itu kapan saja aku mau.rumah itu sudah kamu berikan padaku, jadi terserah aku mau pulang kapan dan mau pergi kapan." Nayra seakan tidak ingin diatur.
"Kamu..." Arfi malas membalas ucapan Nayra, ia memilih pergi meninggalkan Nayra begitu saja.
"Arfi, tunggu aku." Nayra mengikuti Arfi keluar dari kamar.
Arfi diam saja ia tampak kesal.
"Arfi, tunggu dulu. aku mandi sebentar." Nayra mengikuti Arfi sampai depan teras.
"Ya sudah, sana mandi." Ucap Arfi dengan wajah datar.
Nayra berlari kecil kekamar mandi. biasanya Nayra betah berlama lama dikamar mandi, tapi hari itu Nayra mandi dengan tergesa gesa.
Selesai mandi Nayra berganti baju. setelah itu Nayraa membawa kembali tas besar yang kemarin ia bawa. Nayra keluar rumah untuk mencari Arfi, Nayra mengira Arfi masih menunggunya.
Sampai diteras rumahnya, Nayra tidak menemukan Arfi. Nayra lalu mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi Arfi, tapi sebelum ia menelphone Arfi. Arfi sudah terlebih dahulu mengirim pesan untuk Nayra.
Nay, aku pulang dulu. aku tidak bisa menunggumu, kalau kamu mau pulang, pulang saja sendiri. Begitulah isi pesan dari Arfi.
Nayra jadi kesal rasanya ia ingin,membanting ponsel yang ia pegang.
__ADS_1
"Aku tidak akan pulang, aku akan tetap tinggal disini." Nayra kesal karena Arfi meninggalkannya sendiri.
Nayra baru saja ingin masuk kedalam rumahnya, tapi tiba tiba ponselnya berbunyi. Nayra melihat layar ponselnya, ternyata ibu Ayrin yang menephonenya. Nayra lalu menjawab telphone ibu Ayrin.
"Hallo Dewi, kamu dimana?" Suara ibu Ayrin terdengar seperti orang yang sedang cemas dan gelisah.
"Saya, ada dirumah. ada apa ya bu?"
"Dewi kamu cepat kesini, Bulan sakit."
"Apa? Bulan sakit? sakit apa bu?"
"Ibu juga tidak tahu, sejak berada diluar negeri mereka susah sekali minum susu. mungkin karena itu Bulan sekarang sakit."
Selama ini aku memberikan asi pada Bulan dan Bintang. apa sekarang Bulan dan Bintang tidak mau minum susu formula? Batin Nayra.
"Iya bu.. saya akan kerumah ibu sekarang, tapi bukannya ibu sedang liburan diluar negeri?"
"Saya sudah pulang, setengah jam yang lalu. saya tunggu kamu dirumah."
Setelah selesai bicara dengan ibu Ayrin Nayra buru buru pergi meninggalkan rumahnya.
Beberapa jam kemudian Nayra akhirnya sampai dirumah ibu Ayrin.ketika masuk kedalam rumah itu, Nayra disambut bahagia oleh Ibu Ayrin.
"Dewi, kenapa kamu lama sekali?" Ibu Ayrin langsung menghampiri Nayra, ia masih mengira Nayra itu adalah Dewi.
"Maaf bu, saya tadi sedang ada dirumah bapak saya dikampung." Wajah Nayra terlihat cemas, Nayra mencemaskan anak anaknya.
"Kenapa ibu tidak membawa Bulan kedokter? " Nayra bingung. Bulan sakit, Bukannya dibawa kerumah sakit. bu Ayrin malah menelphonenya.
"Ibu nunggu kamu. selama kamu merawat Bintang dan Bulan, mereka hampir tidak pernah sakit. kalau Bulan harus dibawa kerumah sakit. ibu mau pergi sama kamu."
"Boleh saya lihat keadaan Bulan dan Bintang?"
"Boleh kamu masuk saja."
Nayra masuk kedalam kamar Bulan dan Bintang, ia melihat Bintang dan Bulan sedang tidur. Nayra mendekati Bintang dan Bulan, dipegangnya kening Bulan dan Bintang satu persatu.
Nayra lalu menggendong Bulan sambil duduk ditempat tidur, Nayra membuka kancing bajunya kemudian ia mulai menyusui Bulan. Bulan yang semula tidur bisa merasakan ada sesuatu yang dimasukan kedalam mulutnya. iapun menyusu dengan lahap.
Satu jam kemudian Nayra baru selesai menyusui Bulan dan juga Bintang, Nayra kemudian keluar dari kamar itu. Nayra menghampiri Ibu Ayrin yang sedang duduk santai diruang keluarga.
"Dewi bagaimana keadaan Bulan dan Bintang? apa perlu kita bawa kerumah sakit. " Tanya ibu Ayrin saat melihat Nayra sudah berada diruang keluarga.
"Bu sebenarnya...." Nayra seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ia tahan.
"Sebenarnya apa Dewi?"
"Selama ini saya selalu memberikan asi untuk Bintang dan Bulan." Nayra tidak ingin sembunyi sembunyi lagi agar ia bisa dengan bebas menyusui anaknya tanpa takut ketahuan.
"Apa?" Ibu Ayrin tak berkedip menatap Nayra, ia seakan tidak percaya.
Ditatap seperti itu Membuat nayra menundukan wajahnya, ia mengira ibu Ayrin marah padanya.
"Pantas saja, selama liburan diluar negeri Bintang dan Bulan susah sekali minum susu formula. bahkan kadang mereka muntah. Dewi, terima kasih kamu sudah memberikan asi untuk cucu cucu saya."
"Ibu tidak marah?" Nayra mengangkat wajahnya.
"Kenapa saya harus marah? asi itu bagus untuk bayi." Bu Ayrin kelihatan sangat senang karena kedua cucunya diberikan asi.
"Ibu mau telphone Arfi dulu, mau beri tahu kalau ibu sudah pulang." Bu Ayrin ingin menelphone Arfi.
"Jangan, bu Ayrin." Nayra mencegah bu Ayrin yang ingin menelphone Arfi.
"Kenapa dewi?"
"Bu, tolong jangan bilang pak Arfi kalau saya ada disini. pak Arfi sudah memecat saya bu, dia pasti marah kalau melihat saya ada disini."
"Apa alasannya Arfi memecat kamu?" Bu Ayrin tidak mengerti kenapa Arfi memecat Nayra karena setahu bu Ayrin, Pekerjaan Nayra bagus.
"Saya juga tidak tahu bu."
"Kamu tenang saja, saya tidak akan bilang kamu ada disini, biar saja Arfi mengira ibu dan anak anaknya masih berada diluar negeri. Sementara ini kamu bebas tinggal disini."
__ADS_1
"Terima kasih bu Ayrin." Nayra merasa senang.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Renata tidak tahu, Satria mau mengajaknya kemana. pagi pagi Satria meminta Renata untuk cuti, Satria juga meminta Kevin untuk tidak bersekolah.
"Satria, kita mau kemana?" Renata merasa penasaran.
"Kita akan kerumah ayahhku, ayahku sakit. jadi kita bertiga akan menjenguknya." jawaban Satria membuat Renata menjadi sedikit gugub.
"Kamu yakin?"
"Iya, kamu engga mau kenalan sama orang tuaku?" Satria bisa melihat keraguan diwajah Renata.
"Bukan begiu, aku cuma khawatir orang tua kamu tidak akan menerimaku. aku ini janda, aku juga sudah punya anak."
"Kenapa kamu berpikir begitu? Kamu itu bukan janda lagi, tapi kamu istriku. lagi pula memangnya kenapa kalau dulu kamu janda? soal Kevin, dia bukan hanya anakmu kevin juga anakku." Satria mengacak acak rambut Renata.
Dilihatnya Kevin tertidur dikursi mobil belakang.
Renata sangat senang karena Satria menganngap Kevin sebagai anaknya sendiri.
Mobil Satria berhenti didepan sebuah rumah mewah, rumah itu sangat besar bahkan tidak kalah besar dengan rumah Arfi.
"Ini rumah siapa?" Tanya Renata bingung.
"Ini rumah orang tuaku."
Renata tidak mengira kalau orang tua Satria punya rumah yang sebagus dan sebesar itu, Renata mengira rumah Satria sederhana dan tidak terlalu besar.
Satria lalu mengajak Renata dan kevin masuk kedalam rumahnya. sampai didalam mereka melihat seorang lelaki berusia lima puluhan duduk sambil memandangi ikan ikan yang ada didalam aquarium.
"Papa Haris aku pulang." ucap Satria.
Laki laki itu ternyata adalah Pak Haris, ayah Satria. ia menengok saat mendengarkan namanya dipanggil
"Satria kamu pulang nak." Pak Haris berjalan mendekati Satria lalu ia memeluk Satria.
"Papa pikir kamu tidak akan pernah pulang." Pak Haris merasa sangat bahagia. ia melepaskan pelukannya.
"Satria, papa tidak akan memaksamu menikah lagi." Ujar pa Haris yang terdengar seperti sebuah janji.
"Papa memang tidak perlu memaksaku menikah karena aku sudah punya istri. Renata, kevin kemari." Pinta Satria.
Kevin dan Renata lalu berjalan menghampiri Satria dan ayahnya.
"Pa, kenalin ini Renata istriku dan ini Kevin anakku." Satria memperkenalkan Renata dan Kevin pada ayahnya.
Dengan sedikit gugub Renata mengulurkan tangannya, ia ingin menjabat tangan Pak Haris
pak Haris menyambut tangan Renata, merekapun berjabat tangan. setelah itu gantian Kevin yang berjabat tangan dengan ayah Satria.
"Aku ketoilet sebentar." Satria berjalan cepat menuju toilet karena ia sudah tidak tahan ingin buang air kecil.
"Ayo kita duduk, jangan berdiri saja." Pak haris mempersilakan Renata dan Kevin untuk duduk.
"Kevin, berapa umurmu?" Tanya pak haris sambil menatap Kevin.
"lima tahun." Jawab Kevin.
Pak Haris sedikit terkejut, Satria pergi dari rumah belum lima tahun, tapi ia sudah punya anak berumur lima tahun.
"Ma.. aku mau toilet."
Kevin tiba toba ingin pergi ketoilet. Renata mau mengantar Kevin, tapi pak Haris melarangnya.
Pak Haris meminta salah seorang yang bekerja dirumahnya untuk mengantar Kevin pergi ketoilet. kini diruang tamu itu hanya tinggal pak Haris dan Renata. pak haris pun mulai bercerita pada Renata.
"Satria itu anak saya satu satunya, beberapa tahun yang lalu Satria pergi dari rumah karena saya memaksanya untuk menikah. saya selalu menunggu Satria pulang. Saya pikir Satria tidak akan pernah mau pulang karena sudah lama saya menunggunya, tapi ia tidak pulang pulang. jujur saya kaget tiba tiba tadi Satria pulang dan mengatakan kalau dia sudah menikah serta punya anak." Pak Haris bicara panjang lebar.
"Renata, kamu ini istrinya. bisakah kamu membujuk Satria? tolong bujuk Satria agar dia mau bekerja diperusahaan saya karena hanya Satria, satu satu orang yang pantas untuk meneruskan perusahaan saya."
Aku tidak menyangka, ternyata orang tua Satria punya rumah sebesar ini. bukan cuma itu ayah Satria juga punya perusahaan. Renata merasa, hari itu Satria memberinya banyak kejutan.
__ADS_1