Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Catatat harian Arfi


__ADS_3

Kevin sangat senang bertemu Arfi, sedangkan Arfi merasa sedikit terkejut. Ia mengira Renata akan menyembunyikan Kevin darinya.


"Papa, mama aku kedalam dulu. Aku mau ketemu teman temanku." kevin ingin berlari masuk kedalam sekolah.


"Iya sayang, tapi kamu jangan lari lari nanti jatuh." Renata memberi peringatan pada Kevin.


"Iya.. Mama..." Kevin berjalan pelan pelan, ia masuk kedalam sekolah.


"Kamu pasti datang mencari Nayra, baru kemarin ketemu sekarang kamu sudah sibuk mencarinya." Sindir Renata.


"Sayang, kamu jangan bicara begitu. Aku datang kesini mau bertemu Kevin bukan Nayra." Arfi bohong.


Renata malas mendengar jawaban Arfi, karena ia merasa Arfi berbohong padanya.


"Renata, kamu sekarang tinggal dimana? apa kamu tinggal dengan mama dan papa kamu?" Tanya Arfi ingin tahu.


"Kamu tidak perlu tahu, kamu urus saja Nayra. istri kedua kamu." Renata ingin masuk kedalam sekolah Kevin, ia tidak menggubris Arfi yang masih ingin bicara.


"Nay, tunggu!" Tanpa sadar Arfi memanggil nama Nayra.


Renata menenggok kebelakang.


Arfi, sedalam itukah cinta kamu pada Nayra? sampai sampai kamu menyebutkan nama Nayra. Yang ada dipikirannya hanya Nayra Nayra dan Nayra.


Mata Renata berkaca kaca, Renata membalikan badannya ia tidak ingin Arfi tahu kalau dia sangat sedih dan ingin menangis. Renata lalu meningggalkan Arfi.


"Kenapa aku memanggil nama Nayra." Arfi menghela nafas.


"Pak Arfi, bapak ada disini? Pasti bapak mau menghadiri rapat orang tua wali murid dan guru." Pak Hardi kepala sekolah Kevin baru saja datang, la lansung menyapa Arfi.


"Tidak pak, saya cuma mengantar istri saya. Istri saya sudah masuk kedalam." Jawab Arfi.


Kebetulan aku ketemu pak Hardi, aku mau tanya tanya. Arfi merasa ia sedang beruntung.


"Pak Hardi, saya mau minta nomer telphone ibu Nayra." Arfi meminta tanpa basa basi.


"Maaf, untuk apa pak Arfi minta nomer telphone ibu Nayra?"


"Tas ibu Nayra ketinggalan dirumah saya, kemarin ibu Nayra mengantar Kevin pulang, waktu itu saya dan istri saya sedang bekerja. saya baru tahu tadi pagi kalau tas bu Nayra ketinggalan." Arfi mengarang cerita.


"Begitu ya. Ya sudah, ini saya kirimkan nomer ibu Nayra. Apa Kevin tidak tahu nomer bu Nayra?" Pertanyaan pak Hardi membuat Arfi tidak tahu harus menjawab apa.


"Hp Kevin hilang, saya baru saja membelikannya hp baru, jadi Kevin tidak menyimpan nomer ibu Nayra." lagi lagi Arfi mengarang cerita.


"Sudah saya kirim pak, kalau begitu saya kedalam dulu. Permisi pak Arfi." Pak Hardi berpamitan lalu ia masuk kedalam sekolah.


Arfi mengambil ponselnya disaku baju, ia membaca pesan dari pak Hardi.


"Nayra mengganti nomer telphone, pantas saja aku tidak bisa menelphonenya."


Arfi berjalan menghampiri mobilnya, Arfi lalu masuk kedalam mobilnya kemudian ia mencoba menelphone Nayra, Arfi senang karena telphonenya tersambung.


Nayra menjawab telphone tanpa melihat siapa yang menelphonenya, ia sama sekali tidak mengira Arfi akan menelphonenya. setahu Nayra Arfi tidak tahu nomer ponselnya yang baru.


"Hallo.." ucap Nayra dengan suara yang lembut.


"Nayra, sayang kamu dimana? Aku sudah cari cari kerumah kamu, tapi kamu tidak ada." Arfi bertambah senang saat Nayra menjawab telphonenya.


"Nay, kenapa kamu diam? Jawab aku sekarang kamu dimana?" Arfi memohon.


"Kamu tidak perlu tahu. sebentar lagi kita akan bercerai. jadi kemanapun aku pergi, itu bukan urusan kamu." Ada rasa tidak tega dihati Nayra, ketika mengucapkan kata kata ketus pada Arfi.


Nayra memutuskan panggilan telphonenya secara sepihak.


"Nayra, Nayra..." Arfi sangat kesal Nayra mematikan telphonenya, Arfi mencoba menghubungi Nayra kembali tetapi ponselnya tidak aktif.


"Sial, dia mematikan hpnya" karena marah Arfi berkata kasar.


Dari mana Arfi tahu nomer telphoneku? Nayra bertanya tanya.


"Nayra, kamu sudah bangun?" Raddit baru saja keluar dari kamarnya, ia menghampiri Nayra yang sedang duduk diruang makan.

__ADS_1


"Iya..." Nayra menghidupkan kembali ponselnya.


Sekarang, Arfi pasti sudah tidak menelphoneku lagi. Batin Nayra.


Aku sudah pesan makanan, Kalau kamu lapar kamu bisa makan." Nayra tidak menoleh kearah raddit ia sibuk memainkan ponsel.


"Kamu ngapain sih? Pagi pagi udah main hp."


Raddit kesal karena ia merasa diabaikan.


"Aku lagi cari cari lowongan kerja sama cari cari rumah yang disewakan." Nayra tetap memainkan ponselnya, ia tidak memperhatikan kalau Raddit sedang kesal.


"Kamu mau pergi dari sini?" Raddit bertanya dengan wajah tegang.


"Iya, aku engga mungkin tinggal terus terusan disini. Nanti, kalau tiba tiba orang tua kamu datang kesini bagaimana? atau bagaimana kalau ada orang yang mau sewa villa ini." Nayra meletakan ponselnya diatas meja yang ada dihadapannya.


"Kamu benar juga." Raddit setuju dengan Nayra.


"Yaudah sekarang kita makan dulu." Nayra mengajak Raddit makan.


"Sorry nay, aku buru buru mau kekampus. aku juga engga bisa setiap hari datang kesini, tempat ini jauh lagi pula aku sibuk."


"Sok sibuk." Nayra manyun.


"Aku beneran sibuk, banyak tugas kampus. Aku pergi Nay." Raddit berjalan kearah pintu.


"Raddit." Panggil Nayra.


"Apa?" Raddit membalikan tubuhnya.


"Terima kasih, karena kamu sudah bantuin aku." Nayra menghampiri Raddit, ia lalu memegang kedua tangan Raddit.


Jantungku berdebar debar lagi. Raddit menepis tangan Nayra lalu ia memegang dadanya.


"Kamu kenapa?"


"Engga apa apa" Raddit buru buru pergi meniggalkan Nayra.


Setelah Raddit pergi Nayra kembali duduk dan memainkan ponselnya, Nayra terkejut karena Arfi kembali menelphonenya. Nayra hampir saja menjatuhkan ponselnya, Nayra tidak menjawab telphone dari Arfi.


"Hallo, kenapa lagi?" Nayra akhirnya menjawab telphone Arfi.


"Sayang, please jangan dimatiin telphonenya. Nay aku mau ketemu kamu. Kita harus bicara." Suara Arfi terdengar rendah.


"Bicara apa lagi? Arfi, sebaiknya kamu urus saja Renata. kamu tidak perlu mencari aku karena sudah pergi jauh dan aku tidak akan pernah kembali lagi. selamat tinggal semoga kamu bahagia bersama Kevin dan Renata."


Ada rasa sakit dihati saat Nayra, ketika mengucapkan kata selamat tinggal. ia kemudian mematikan ponselnya.


"Nay, Nayra sayang. Nayra mematikan hpnya, dia benar benar sudah tidak perduli lagi padaku. Apa Nayra sudah tidak mencintaiku lagi? Aku sudah memohon mohon tapi dia tetap mematikan hpnya." Arfi merasa sedih dan kecewa.


Arfi masih berada disekolah Kevin, ia sengaja menunggu Kevin dan Renata. wajah Arfi telihat senang melihat Kevin dan Renata akhirnya keluar dari sekolah.


"Kalian sudah selesai?" Arfi keluar dari mobilnya, ia langsung menghampiri Kevin dan Renata.


"Kamu masih disini?" Renata seperti tidak percaya kalau Arfi akan menunggunya selama beberapa jam.


"Iya. Renata, kamu dan Kevin pulang bareng aku ya. Biar nanti Satria yang mengambil mobil kamu."


"Asik...pulang bareng mama sama papa." Kevin bersorak bahagia.


Kalau aku menolak, kasihan Kevin. Ya sudah, aku turuti saja kemauan Arfi yang penting Kevin senang. Renata memutuskan untuk mengalah.


Renata sebenarnya malas menuruti keinginan Arfi, tapi demi Kevin ia terpaksa menuruti keinginan Arfi.


"Kita kekantor aku dulu, aku ada meeting sebentar." Ucap Arfi ketika mereka sudah masuk kedalam mobil.


Renata mengabaikan kata kata Arfi, ia diam saja pandangan matanya lurus kedepan seakan akan tidak ada orang lain disampingnya. sedangakan Kevin, ia duduk dibangku belakang anak itu sedang mendengarkan musik melalui ponselnya. ia menggunakan headset.


"Kamu engga kerja?" Tanya Arfi basa basi, Arfi merasa suasana didalam mobinya kaku. Ia berinisiatif untuk membuka pembicaraan.


"Aku cuti karena menemani Kevin." Jawab Renata singkat.

__ADS_1


"Renata, Nayra sudah pergi. Ia meninggalkan aku." Arfi sebenarnya sangat sedih dan terpukul, tapi ia mencoba bersikap biasa didepan Renata.


"Sekarang sudah tidak ada lagi yang mengganggu rumah tangga kita. Kamu mau kan pulang lagi kerumah kita?" sambung Arfi.


"Jadi karena Nayra pergi, kamu mau aku kembali?" Renata merasa dirinya hanyalah pelarian.


"Renata, bukankah ini yang kamu inginkan? aku dan Nayra berpisah."


Lagi lagi Renata tidak menghiraukan kata kata Arfi, ia lebih memilih memejamkan matanya dan berpura pura tidur.


Sesampainya ditempat Arfi bekerja, Arfi membawa Renata dan Kevin keruanganya.


"Kevin, kamu sama mama. tunggu disini. papa ada urusan sebentar." Ucap Arfi pada Kevin.


"Renata, aku pergi dulu." Arfi meninggalkan Renata dan Kevin diruangannya.


Beberapa saat kemudian


"Mama... Aku bosan." Kevin mulai merengek.


"Mama nyalakan tivi ya, supaya kamu engga bosan."


"Engga mau, aku mau gambar aja ma..tapi tasku ada dimobil papa. buku gambar aku ada disana." Kevin memasang wajah sedihnya.


"Kamu gambar pakai kertas saja? Mau kan?"


"Mau ma..." Kevin sangat bersemangat, ia memang suka sekali menggambar.


Renata berdiri dari duduknya, ia kemudian berjalan kearah meja Arfi, Renata membuka laci meja Arfi. Ia melihat beberapa lembar kertas yang ada disana Arfi.


Renata mengambil selembar ketas. ia ingin menutup laci meja saat itu matanya tertuju pada sebuah buku yang berada disebelah kertas.


"Buku apa ini?" Renata ingin mengambil buku itu.


"Mama mana kertas sama pinsilnya?" Kevin sudah tidak sabar ingin menggambar.


"Iya sayang, sebentar." Renata mengambil pinsil yang ada diatas meja Arfi, kemudian Renata memberikan kertas dan pinsil yang sudah ia ambil pada Kevin.


Renata sengaja tidak menutup laci meja Arfi karena ia penasanan pada buku yang tadi sempat ia lihat.


Setelah memberikan Kevin kertas dan pinsil, Renata kembali mendekati meja kerja Arfi. Ia mengambil buku yang ada dilaci itu, Renata membuka dan membaca buku itu.


20 juli


Hari pertama aku kuliah, aku bertemu dengan seorang gadis bernama Nayra. Dia cantik, pintar dan juga ramah.


20 Agustus


Sudah satu bulan aku kuliah dan sudah satu bulan juga aku mengenal Nayra, aku sadar aku sudah jatuh cinta pada Nayra. Aku memberanikan diri menyatakan cintaku pada Nayra, tapi sayangnya Nayra menolak cintaku.


Hati Renata terasa sakit setelah membaca buku yang ternyata adalah buku catatan Arfi, meskipun sedih Renata berusaha menguatkan dirinya. Renata membaca kembali buku catatan yang menuliskan suara hati Arfi.


4 Desember


Aku sangat bahagia, setelah aku berusaha selama beberapa bulan. Aku bisa meluluhkan hati Nayra, aku bisa menyakinkan Nayra dan akhirnya dia menerima cintaku.


11 Januari


Aku membeli cincin untuk melamar Nayra, Nayra menerima lamaranku. Ia berjanji, kita akan menikah setelah lulus kuliah. Aku kecewa tapi demi Nayra aku rela menunggu selama empat tahun.


5 Maret


Akhirnya hari ini datang juga, hari dimana aku dan Nayra sudah selesai kuliah. Aku akan segera menikah dengannya.


20 maret


Hari ini adalah hari ulang tahunku, aku tidak mengira Nayra akan memutuskan hubungan Kami, hatiku sangat hancur. aku tidak tahu, apa aku bisa mencintai orang lain selain Nayra?


Dada Renata terasa sesak, hatinya sangat sakit. Ia merasa seperti ada duri tajam yang menancam dihatinya, hingga membuatnya kesakitan.


"Jadi, Nayra itu mantan pacar Arfi." Renata menghapus Air matanya, ia lalu menutup buku itu.

__ADS_1


Renata meletakan buku itu kembali kedalam laci, ia sudah tidak sanggup membacanya lagi.


"Renata, apa yang sedang kamu lakukan?" Arfi membuka pintu dan ia melihat Renata sedang berdiri didepan meja kerjanya.


__ADS_2