Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Talak tiga


__ADS_3

Renata merdekati Arfi, ia duduk bersimpuh dihadapkan Arfi.


"Arfi jangan pergi, aku tidak bisa hidup tanpa kamu." Renata menangis sambil memegang tangan Arfi.


"Renata, aku bukan mau pergi. aku mau berobat."


"Kalau begitu aku ikut, aku juga mau pergi sama kamu." Renata berdiri.


"Kalau kamu pergi, siapa yang akan menemani Kevin? dan bagaimana dengan pekerjaan kamu?" Arfi menolak keinginan Renata.


"Aku tidak perduli, pokoknya aku mau ikut."


"Renata, jangan keras kepala. aku sudah bilang, tunggu aku dirumah." Arfi mulai kesal, mendengar Renata yang merengek seperti anak kecil.


"Aku tidak mau." Renata bersikeras ingin ikut Arfi.


"Kamu mau atau tidak, aku tetap tidak akan mengajakmu pergi." ucap Arfi sinis.


"Arfi aku ini istri kamu, kemanapun kamu pergi aku harus ikut."


"Kalau aku bilang tidak, ya tidak!" Arfi jadi emosi.


"Biarpun kamu melarangku, aku akan tetap ikut."


"Renata, jangan membuat aku marah." Arfi seperti ingin mengeluarkan kata kata yang akan membuatnya menyesal.


"Tidak apa apa kamu marah, yang penting aku ikut." Renata kekeh dengan kemauannya.


"Kamu..." Arfi menghela nafas.


"Sudah kalian jangan ribut. malu, ini tempat umum. Arfi, biarkan saja Renata ikut. dia itu kan istri kamu. Soal Kevin, kamu tenang saja. selama kalian pergi, mami dan papi akan menjaganya." Melihat Renata dan Arfi bertengkar Ibu Ayrin mulai bicara.


"Justru karena Renata istriku. dia harus nurut sama aku." Arfi bertambah kesal.


"Mami, papi aku mau bicara dulu dengan Renata. Renata, tolong dorong aku." Arfi merasa gerah dan ingin bicara berdua dengan Renata.


Renata kemudian mendorong kursi roda Arfi ketaman yang berada tidak jauh dari tempat itu.


"Renata, aku minta sekarang kamu pulang. aku harus pergi." Arfi memohon dengan wajah yang terlihat lelah.


Sejak ia mengira Nayra meninggal dan sejak Ia lumpuh, Arfi memang tidak bisa tidur dengan nyenyak. Arfi bukan hanya menyesali kepergian Nayra, tapi ia juga menangisi dirinya yang berubah menjadi manusia yang tidak berguna.


"Arfi percuma kamu memaksaku pergi, aku tidak akan pergi." Renata tetap tidak mau pergi.


"Kenapa kamu maksa?" Arfi marah.


"Karena aku ini istrimu." Renata memang sudah kebal dengan sikap Arfi yang sering memarahinya, ia sama sekali tidak sakit hati. Renata justru kasihan melihat keadaan Arfi yang lumpuh.


"Istri... istri, itu saja yang selalu kamu katakan. baiklah kita buat jadi sederhana, mulai sekarang kamu bukan istriku lagi." Kata kata Arfi membuat Renata kaget.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tubuh Renata sedikit gemetar, ia tidak pernah mengira suami yang sangat ia cintai bisa mengucapkan kata pisah.


"Kurang jelas, oke.. aku perjelas. Renata, sekarang juga aku talak kamu. Talak! Talak! Talak!" Ucap Arfi tanpa perasaan.


"Jahat kamu Arfi, kamu tega talak aku. padahal selama ini aku berusaha mempertahankan rumah tangga kita. aku bahkan tetap bersedia menjadi istri kamu, meskipun kamu sudah menikah lagi dengan perempuan lain." Renata menangis.


"Apa kamu sadar kamu menalak aku bukan hanya sekali, tapi empat kali. empat kali Arfi, kamu tahu itu artinya apa? Arfinya kita tidak akan pernah bisa kembali." Renata menangis tersedu.


Tubuh Renata tiba tiba terasa sangat lemas, kepalanya juga terasa pusing dan berputar putar.


Brug....


Renatapun jatuh pingsan.


"Renata, Renata bangun." Arfi panik melihat Renata pingsan.


Arfi mengambil ponsel yang ada disaku bajunya, ia lalu menelphone Satria dan memintanya untuk datang ketempat itu.


Tidak lama kemudian Satriapun datang, Satria datang bersama ibu Ayrin dan pak Bisma.


Kenapa Satria mengajak mami dan papi.


Arfi terlihat kesal.


"Satria tolong kamu antar Renata kerumah sakit, kalau sudah kamu kembali lagi kesini." Perintah Arfi saat Satria sudah berdiri didekatnya.


"Tunggu, jangan bawa Renata dulu. Arfi, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya ibu Ayrin sambil menatap marah kearah Arfi.


"Mami ini bukan saatnya untuk menjelaskan, sekarang aku mau pergi dan Renata harus dibawa kerumah sakit."


Arfi tidak ingin menjawab pertanyaan Ibu Ayrin karena ia tahu maminya itu pasti akan sangat marah jika tahu ia sudah menceraikan Renata.


"Tapi mami tidak mau Satria menggendong Renata." Ibu Ayrin merasa keberatan.


"Mami aku juga tidak mau Satria menggendong Renata, tapi aku tidak punya pilihan. Mami lihat aku lumpuh dan aku juga tidak mungkin minta bantuan papi. Apa mami mau aku teriak minta tolong lalu orang lain yang menggendong Renata."


"Cukup. kenapa kalian jadi bertengkar sendiri? Satria, tolong bawa Renata kemobil saya. biar saya dan istri saya yang mengantar Renata kerumah sakit." Pak Bisma yang sejak tadi diam akhirnya meminta tolong pada Satria.


"Arfi, kalau kamu mau pergi. pergi saja, papi dan mami yang akan mengurus Renata." Pak Bisma menepuk nepuk pundak Arfi.


"Papi, Renata sedang sakit. kenapa papi menyuruh Arfi pergi. seharusnya papi meminta Arfi menunda keberangkatannya." protes Ibu Ayrin.


"Mami tidak lihat anak kita? Arfi sekarang itu lumpuh. dia pasti stres, depresi papi ingin Arfi cepat sembuh. semakin cepat Arfi berobat, semakin cepat juga Arfi sembuh. Jadi tolong, mami jangan menunda nunda kepergian Arfi."


Mendengar ucapan Pak Bisma, bu Ayrin jadi berubah pikiran.


"Arfi, apa tidak bisa? kamu berobat disini saja. mami akan carikan dokter terbaik, tapi mami minta kamu jangan pergi keluar negeri." Ibu Ayrin memohon.


"Mami kalau aku ada disini, Renata akan terus mencariku. dia akan memaksa untuk merawatku, aku kan sudah bilang aku tidak mau menyusahkan Renata."

__ADS_1


"Tapi Nak, kamu yakin? diluar negeri kamu bisa tinggal berdua saja dengan Satria. kamu tidak bisa jalan Arfi. kamu membutuhkan beberapa orang untuk merawat kamu." Ibu Ayrin mencoba merubah keputusan Arfi.


"Jangan khawatir mami, disana nanti aku akan tinggal dirumah sakit supaya setiap saat dokter bisa memeriksaku dan aku bisa cepat sembuh." Arfi tidak merubah keputusannya, ia tetap ingin pergi keluar negeri.


"Ya sudah, kalau memang itu mau kamu. hati hati dijalan. mami doakan kamu bisa berjalan lagi." Ibu Ayrin memeluk Arfi.


"Papi juga akan selalu mendoakan kesembuhan kamu." Pak Bisma juga memeluk Arfi.


"Sudah, sudah kita jangan berpelukan terus. papi, kita kan harus mengantar Renata kerumah sakit." Ibu Ayrin melepaskan pelukannya.


Ibu Aryin dan pak Bisma lalu masuk kedalam mobilnya, mereka pergi meninggalkan tempat itu.


"Satria, kita masih punya waktu berapa lama?" Tanya Arfi sambil menatap kepergian kedua orang tuannya.


"Tiga puluh menit pak."


"Tolong antar aku kemakam Nayra sebentar."


Arfi memang sengaja datang lebih awal dari jadwal keberangkatan pesawatnya karena sebelum pergi ia ingin mengunjungi makam Nayra.


Sesampainya dipemakaman Arfi meminta Satria untuk menunggunya dimobil.


"Satria tunggu saya dimobil." Pinta Arfi ketika Satria sudah berhenti mendorong kursi rodanya.


Satria berhenti mendorong kursi roda Arfi, saat mereka sudah berada dimakam yang Arfi anggap sebagai makam Nayra. sesuai dengan permintaan Arfi, Satriapun menunggu Arfi didalam mobil.


"Nayra, apa kamu tahu? banyak yang sudah terjadi disaat kamu pergi. aku kecelakaan, aku lumpuh dan tadi aku baru saja menceraikan Renata. Nay, dulu aku sempat bingung. aku tidak bisa memilih antara kamu atau Renata, tapi sekarang aku kehilangan kalian berdua. mungkin ini balasan untuk aku, aku memang pantas menerima ini." tanpa terasa air mata Arfi menetes begitu saja.


"Nayra, maafkan aku Nay. maaf karena aku sudah membuatmu pergi. aku bahkan belum sempat membahagiakan kamu, tapi kamu sudah pergi meninggalkan aku." Arfi menangis tanpa suara.


"Nay, aku pergi dulu. suatu hari aku akan datang lagi kesini. aku berharap saat aku kembali, kakiku sudah sembuh. " Setelah bicara cukup panjang Arfi lalu menaburi bunga dimakam itu.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Nayra sedang duduk tempat tidur rumah sakit, ia baru saja diperiksa oleh dokter dan dokter mengatakan besok ia sudah boleh pulang.


Orang orang yang aku kenal mengira aku sudah mati, kalau aku pulang, mereka akan tahu kalau aku masih hidup dan kalau mereka tahu Arfi juga akan tahu.


Saat Nayra melamun seorang suster datang mendekati Nayra.


"Bu Nayra ini ada titipan buat ibu." Suster itu memberikan sebuah amplop pada Nayra, kemudian ia keluar dari kamar itu.


Nayra membuka amplop itu dan mengambil isi surat yang ada didalamnya, Nayra lalu membaca surat yang ternyata dari Satria.


Nayra, maaf aku tidak bisa datang lagi kerumah sakit. pagi ini aku dan pak Arfi akan pergi keluar negeri, ada urusan pekerjaan. kita tidak tahu kapan kita akan pulang.


Nayra membuang nafas pelan.


"Jadi begini akhir hubunganku dengan Arfi? Arfi menganggap aku sudah mati dan sekarang Arfi pergi keluar negeri. mungkin aku dan Arfi tidak akan pernah bertemu lagi." Nayra merasa sangat sedih.

__ADS_1


__ADS_2