Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Arfi sakit


__ADS_3

"Nay, tunggu. kita bicara dulu." Arfi berdiri disamping taksi yang sudah dinaiki Nayra.


Kebetulan taksi itu belum jalan dan Nayra belum menutup jendela taksi itu.


"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan toh sebentar lagi kita akan bercerai." ucap Nayra tanpa menoleh, pandangan matanya lurus kedepan.


"Sayang, please aku ingin bicara sebentar."


Arfi tidak perduli kalau saat itu sedang hujan, ia juga tidak perduli kalau tubuhnya telah basah tersiram air hujan.


Arfi bodoh. kenapa kamu tidak masuk? kenapa kamu hujanan hujanan? bagaimana kalau kamu sakit? Nayra melirik Arfi, ada rasa iba didalam hatinya.


Apa yang aku pikirkan? bukankah Arfi punya istri kesayangan, kalau dia sakit Renata pasti akan merawatnya. buat apa aku mengkhawatirkan dia? Untuk sesaat Nayra memejamkan matanya.


"Jalan pak." Nayra meminta supir taksi itu untuk menjalankan taksinya.


Aku ingin sekali mengejar Nayra, tapi bagaimana kalau Renata mencariku? Arfi membiarkan tubuhnya kehujanan.


"Pak Arfi, apa yang bapak lakukan disini?"


Dua orang petugas keamanan yang bekerja dirumah Arfi menghampiri Arfi, mereka bingung. kenapa Arfi hujan hujan hujanan dimalam hari, mereka datang dengan menggunakan payung.


"Dari mana saja kalian?" Arfi terlihat marah.


Seandainya petugas keamanan itu tidak pergi, mungkin Arfi bisa meminta bantuan mereka untuk mencegah kepergian Nayra.


"Maaf pak, saya dari toilet."


"Saya juga minta maaf pak, saya dari warung beli rokok."


Dua orang petugas keamanan itu menjelaskan secara bergantian.


"Lain kali ingat, kalau mau pergi gantian. jangan biarkan pos keamanan ini kosong."


Arfi lalu pergi dari tempat itu, ia masuk kedalam rumah dengan wajah kesal.


"Sayang kenapa kamu hujan hujanan?" Renata yang baru saja dari toilet langsung bertanya.


Arfi tidak menjawab, ia menggigil kedinginan.


"Ayo kita kekamar, aku siapin kamu handuk sama baju ganti." Renata terlihat khawatir.


Sampai dikamar Renata memberikan handuk dan baju ganti Untuk Arfi.


"Ini handuk sama bajunya, aku kekamar Kevin sebentar. aku mau lihat, apa kevin masih tidur?"


Saat itu hujan lebat dan petir menyambar nyambar. Renata tahu, Kevin takut mendengar suara petir karena itu ia ingin memeriksa keadaan Kevin dikamarnya. Renata membuka pintu kamar Kevin, ia melihat Kevin masih tertidur pulas.


"Syukurlah." Renata menarik nafas lega.


Renata kemudian menyelimuti Kevin, setelah itu Ia kembali kekamarnya.


"Arfi." Renata memanggil Arfi tapi tidak ada jawaban.


"Dia sudah tidur." Renata kecewa.


Renata sebenarnya ingin melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, Renata merasa bersalah karena ia selalu menolak Arfi. Renata lalu berbaring disebelah Arfi, ia lalu memegang tangan Arfi.


"Ya ampun badan Arfi panas sekali." Renata cemas, ia segera turun dari tempat tidur.


Renata mengambil kompres plester dikotak obat lalu dengan telaten ia menempelkan kompres plester itu dikening Arfi. Renata juga tidak lupa menyelimuti Arfi dengan selimut tebal.


"Kalau nanti panasnya tidak turun, aku akan telphone dokter." Renata kembali membaringkan tubuhnya disebelah Arfi.


Renata dan Arfipun sama sama terlelap, mereka berdua tidur dengan nyenyak.


Renata terbangun ketika alarm diponselnya berbunyi, Renata mengambil ponselnya dan mematikan alarm yang berbunyi.


"Sudah jam lima pagi. aku harus siap siap kerja." Renata turun dari tempat tidurnya.


"Arfi, apa panasnya sudah turun?" Renata memegang kening Arfi.


"Panasnya sudah turun."


Renata segera pergi kedapur, ia ingin membuatkan bubur untuk Arfi. Renata memang sengaja bangun lebih pagi, agar sebelum berangkat kerja ia bisa memasak untuk Arfi.


"Mama... mama lagi ngapain?" Kevin yang baru saja keluar dari kamarnya menghampiri Renata didapur.


"Mama masak bubur buat papa." ucap Renata.


"Sayang, kamu mau makan apa? nanti mama masakin." Tanya Renata sambil memegang bahu Kevin.


"Aku juga mau bubur." Kevin merasa senang


Kevin tidak pernah merasakan masakan Renata karena Renata memang tidak pernah memasak untuknya.


Renata mulai bekerja ketika Kevin masih berumur dua bulan dan sejak itu Renata tidak pernah memasak lagi. Kevin tidak mengerti kenapa tiba tiba Renata mau memasak untuknya.


"Ya sudah, nanti kamu makan bareng sama papa. kebetulan mama buat buburnya lumayan banyak." Renata mengelus elus kepala Kevin.

__ADS_1


"Iya mama, ma aku kekamar dulu ya. aku masih ngantuk, nanti kalau buburnya matang bangunin aku." Kevin lalu kembali lagi kekamarnya.


Arfi mengusap usap matanya, ia terbangun karena merasa kepanasan.


"Kenapa acnya mati." Arfi menyalakan lampu.


Arfi mengambil remote ac, ia baru ingin menyalakan ac ketika pintu kamarnya dibuka.


"Arfi, kamu sudah bangun?" Renata masuk kedalam kamar.


"Aku sudah membuatkan bubur untuk kamu, ayo kita makan." Renata membuka jendela lalu ia mematikan lampu.


"Bubur?" Arfi senang sekaligus bingung. Arfi senang karena Renata mau memasak untuknya, tapi ia tidak tahu kenapa Renata masak bubur bukan nasi.


"Kamu sakit karena itu aku masak bubur." Renata menjelaskan.


"Semalam itu badan kamu panas." sambung Renata.


Jadi aku sakit. ini semua gara gara aku mengejar Nayra, tapi Nayra sama sekali tidak perduli.


Arfi memegang dahinya yang ditempel dengan plester kompres.


"Kamu mau makan disini atau dimeja makan?" Pertanyaan Renata membuat Arfi tersadar dari lamunannya.


kenapa Renata jadi perhatian begini? apa dia benar benar ingin berubah? Batin Arfi.


"Aku makan dimeja makan saja." Arfi berusaha berjalan keruang makan, meskipun kepalanya masih sedikit pusing.


"Mama, papa. ayo kita makan." Kevin menyambut Arfi dan Renata, anak itu kelihataan sangat bahagia.


"Sayang tadi mama udah makan, sekarang kamu makan sama papa, mama mau mandi nanti mama yang antar kamu kesekolah." Renata mengambilkan bubur untuk Kevin.


"Beneran ma?" Kevin sangat senang.


"Iya sayang." Renata gantian mengambil bubur untuk Arfi, Setelah itu ia segera pergi kekamar mandi.


"Pa, mama kenapa?" Kevin memakan bubur yang diberikan Renata, ia menatap penuh tanda tanya kearah Arfi.


"Mama engga apa apa. kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Karena hari ini mama aneh. mama bangun pagi pagi, masak bubur untuk kita. mama juga mau mengantar aku sekolah." Kevin makan sambil bicara.


"Mungkin mama kamu mau belajar jadi ibu yang baik."


"begitu ya, kevin udah selesai makannya. Kevin tunggu mama dimobil aja" Kevin mencium punggung tangan Arfi.


Arfi melongo ia tidak percaya Kevin menghabiskan makanannya dengan cepat.


Setelah mengatakan itu, Kevin berlari kecil, ia meninggalkan Arfi sendiri.


"Dimana kevin?" Renata baru saja keluar dari kamar, ia sudah mandi dan memakai baju kerja.


Renata langsung duduk disebelah Arfi.


"Kevin menunggu kamu dimobil." Arfi mencicipi bubur yang dibuat Renata dan benar apa yang dikatakan Kevin, bubur buatan Renata rasanya enak.


"Sebelum aku berangkat kerja, aku mau mengatakan sesuatu. aku mau berhenti kerja." Renata sudah yakin dengan keputusannya.


"Kamu engga bercanda?" Arfi tidak mengira Renata akan behenti bekerja.


"Aku sedang mengerjakan satu proyek, nanti kalau proyeknya sudah selesai. aku akan berhenti, proyek ini sudah setengah jalan. kalau aku berhenti sekarang..." Renata bicara panjang lebar, tapi belum selesai bicara Arfi sudah memotong kata katanya.


"Aku tahu, aku akan menunggu kamu berhenti kerja." ucap Arfi, ia masih menikmati bubur yang Renata buat.


"Aku juga akan menunggu, menunggu kamu menceraikan Nayra." Renata mengungkapakan harapan terbesarnya pada Arfi.


aku ingin sekali Renata berubah, tapi setelah Renata berusaha untuk menjadi istri yang lebih baik. Kenapa aku merasa tidak bahagia? aku sedih dan takut kehilangan Nayra. kalau Renata sudah menjadi istri yang baik. aku tidak punya alasan untuk memiliki dua istri. Arfi melamun.


"Sayang, kamu kok malah bengong?" Renata melambai lambaikan satu tangannya didepan wajah Arfi.


"Engga.. aku engga bengong, aku cuma sedikit pusing." Arfi pura pura memegang kepalanya yang sebenarnya tidak pusing.


"Ya sudah, habis ini kamu istirahat. aku berangkat dulu." Setelah berpamitan Renata pergi meninggalkan Arfi sendirian.


...----------------...


Nayra sengaja datang lebih pagi agar ia tidak bertemu Arfi atau Renata, benar saja sekolah masih sepi dan baru ada beberapa orang murid yang datang.


Nayra segera masuk kedalam ruangannya kemudian ia menutup pintu. Nayra ingin menyendiri diruangan itu, sampai waktunya untuk mengajar tiba.


"Aku masih punya waktu dua puluh menit." Nayra duduk sambil memainkan ponselnya.


Kevin sudah sampai disekolah. Kevin turun dari mobil dan melihat lihat sekelilingnya, ia seperti sedang mencari sesuatu.


"Kevin, kamu cari siapa?" Renata, keluar dari dari mobilnya.


"Ibu Nayra."


Wajah Renata berubah seketika, waktu ia mendengar nama Nayra. ia yang semula teesenyum mendadak cemberut.

__ADS_1


Aku baru ingat, Nayra itu gurunya Kevin. apa aku cari saja dia kedalam sekolah. aku labrak dia, biar dia malu dan biar semua orang tahu kalau dia itu pelakor. Batin Renata.


"Mungkin bu Nayra belum datang atau sudah masuk kedalam sekolah?" Jawab Renata.


"Kalau begitu aku masuk dulu ya." Kevin mencium punggung tangan Renata, lalu ia berlari meninggalkan Renata.


Renata ingin mengikuti Kevin, tapi mengingat ia harus pergi dikantor. Renatapun memilih masuk kemobil dan tidak jadi mengikuti Kevin.


Kevin berlari kearah ruangan Nayra karena terlalu terburu buru, Kevin terpeleset dan kemudian ia terjatuh.


"Aduh... " Kevin menangis kesakitan lututnya berdarah.


Nayra yang masih berada diruangannya mendengar suara Kevin. Nayra segera keluar dari ruangannya, ia melihat Kevin menangis sambil memegang lututnya yang berdarah.


"Kevin, kamu kenapa?" Nayra menghampiri Kevin.


"Aku jatuh bu." Kevin masih menangis.


"Ya ampun, lutut kamu berdarah. sini biar ibu obati." Nayra sedikit panik.


"Engga mau bu, aku engga mau." Kevin menolak.


"Sayang, nanti kalau engga diobati luka kamu bisa infeksi." Nayra membujuk Kevin.


"Aku mau pulang bu." Kevin merengek.


Aku bawa pulang saja kevin, nanti dijalan aku akan membujuknya lagi.


"Ya sudah, kalau begitu ibu antar kamu pulang tapi kamu jangan nangis lagi." ucap Nayra.


Kevin mengangguk, Nayra lalu menggendong Kevin dan membawanya keluar dari sekolah. Nayra memesan taksi online dan setelah taksi itu datang Nayra dan kevinpun pergi meninggalkan sekolah itu.


Dalam perjalanan Nayra sempat mampir disebuah mini market, ia membeli obat untuk luka Kevin.


"Sayang, ibu bersihkan dulu ya luka kamu. habis itu ibu obati." Nayra kembali membujuk Kevin.


"Aku engga mau bu." Kevin tetap menolak.


"Kalau begitu, biar dokter saja yang mengobati kamu." Nayra putus asa karena ia tidak berhasil mengobati Kevin.


"Dokter? aku engga mau kedokter bu."


"Kamu engga mau, tapi nanti sampai dirumah mama dan papa kamu pasti akan memanggil dokter, lalu memaksa kamu untuk diobati. sekarang kamu pilih mau diobati ibu atau dokter?" Nayra menakut nakuti Kevin.


"Sama ibu aja." Kevin pasrah, akhirnya ia menuruti Nayra.


Nayra mengambil tissu ditasnya, pelan pelan ia membersihkan luka Kevin.


"Aw.... sakit bu." Kevin meringis.


"Sabar ya sayang, sakitnya cuma sebentar." Selesai mengelap luka Kevin Nayra mengoleskan obat luka dilutut Kevin yang tadi berdarah.


Tidak lama kemudian taksi online yang dinaiki Nayra dan Kevinpun sampai juga dirumah Kevin.


Aku benar benar bodoh, Kevin itu tinggal satu rumah dengan Arfi. Kenapa aku malah mengantar Kevin? Nayra mulai gugup.


"Sayang, ibu sudah antar kamu, ibu juga sudah obati luka kamu. sekarang kamu masuk ya, ibu mau kesekolah lagi." ucap Nayra sambil membukakan pintu taksi.


"Kakiku masih sakit, aku susah jalan. ibu mau kan gendong aku sampai kedalam?" lagi lagi Kevin merengek.


"Tapi.. " Nayra menghela nafas.


"Ayolah bu, tolong aku." Kevin memohon.


Dengan berat hati Nayra menggendong Kevin. Nayra bukan keberatan membantu Kevin, ia hanya tidak ingin bertemu Arfi.


Nayra membayar uang Taksi kemudian ia membawa Kevin masuk kehalaman rumah Kevin, jantung Nayra tiba tiba berdebar ketika ia ingin membuka pintu rumah Kevin.


Aku sedang berusaha menghindari Arfi, tapi takdir justru membawaku kerumah Arfi. mudah mudahan saja Arfi dan Renata tidak ada dirumah oiya ini masih pagi, mereka pasti sedang bekerja. Nayra tersenyum.


"Ibu langsung kekamar aku saja. kamar aku ada disana" Kevin menunjuk jalan menuju kamarnya.


"Yang ini kamarku." Dirumah itu ada banyak kamar, Kevin menunjukan kamarnya agar Nayra tahu dimana kamarnya.


Ceklek...


Nayra membuka pintu kamar Kevin, ia lalu membaringkan Kevin ditempat tidur.


"Kevin, kamu istirahat ya, ibu pergi dulu." ucapan Nayra membuat kevin Sedih.


"Ibu jangan pergi dulu, temani aku. aku sendirian dirumah." Kevin tidak ingat kalau Arfi sakit dan hari itu Arfi tidak bekerja.


Aku tidak tega meninggalkan Kevin sendiri. tapi aku juga tidak mungkin menunggu Arfi pulang, nanti kalau Renata melihat aku dia akan mengira aku yang menggoda Arfi. Nayra bingung.


"Ya sudah ibu temani, tapi ibu engga bisa lama lama." Nayra mutuskan menemani Kevin.


"Horre.. makasih bu Nayra." Kevin memeluk Nayra.


Dikamar Arfi.

__ADS_1


"Aku seperti mendengar suara Kevin. Apa kevin sudah pulang?" Arfi keluar dari kamarnya.


Kamar Arfi berada disebelah Kamar Kevin sehingga ia bisa mendengar suara Kevin, Arfi memegang daun pintu ia ingin membuka pintu kamar Kevin.


__ADS_2