Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Kemarahan Nayra


__ADS_3

Nayra memang sempat kembali lagi karena ponselnya tertinggal tapi Melihat Arfi kelihatan bahagia bersama Kevin dan Renata, Nayra mengurungkan niatnya. Nayra hanya berdiri didepan pintu kemudian ia pergi dari tempat itu.


Nayra masih berjalan sambil melamun tanpa sengaja kakinya tersandung, Nayra hampir terjatuh untunglah ada seseorang yang memeganginya.


"Raddit" Nayra tidak mengira kalau ia bertemu Raddit dan Nayra juga tidak tahu jika berada sedekat itu dengannya jantung Raddit berdebar debar.


"Aku ini kenapa? jantungku sering berdebar debar waktu aku ada dekat Nayra." Raddit memegang dadanya.


"Raddit, kamu sakit?" ini sudah yang kedua kalinya Nayra melihat Raddit memegang dadanya dihadapan Nayra, Nayra mengira Raddit sakit. Nayra semakin yakin Raddit sakit karena bertemu Raddit dirumah sakit.


"Engga, aku engga sakit. kamu sendiri kenapa ada disini? kamu sakit?"


Nayra diam saja, Nayra tidak mungkin mengatakan kalau ia sudah menikah dengan Arfi dan Arfi sedang bersama Renata istri pertamanya.


"Raddit, apa boleh aku pinjam hp kamu?" Nayra tidak menjawab pertanyaan Raddit, ia malah berbicara tentang hal lain.


"Boleh, memangnya hp kamu kemana?" Raddit memberikan ponselnya pada Nayra.


Tanpa banyak berpikir Nayra menulis pesan untuk Arfi, Nayra tidak ingin menelphone Arfi karena ia khawatir Renata yang akan mengangkat telphonenya.


Arfi, hp aku ketinggalan dikamar mandi. Nayra


Setelah menulis pesan untuk Arfi Nayra segera mengirimnya.


Arfi yang yang saat itu sedang berbaring diranjang dan ia mendengar suara pesan masuk dari ponselnya, Arfi mengambil ponselnya yang terletak diatas meja.


Arfi melihat Renata sudah tertidur disofa sedangkan Kevin tidur disebelah Arfi. Anak itu merengek ingin tidur ditempat tidur Arfi, karena tempat tidur itu hanya bisa ditempati dua orang Renata mengalah dan tidur disofa.


Arfi menarik nafas dalam dalam setelah ia membaca pesan dari Nayra.


Nayra aku hampir saja melupakan dia. Arfi merasa menyesal.


Arfi lalu segera membalas pesan dari Nayra.


Kamu pakai hp siapa?? Tanya Arfi ingin tahu.


Nayra kecewa bercampur sedih saat ia membaca pesan Arfi.

__ADS_1


Aku pikir Arfi akan minta maaf karena secara tidak langsung, Renata sudah membuat aku terusir dari kamarnya. ternyata aku salah.


Nayra tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya, air mata mengalir begitu saja dikedua belah pipinya.


"Nay, kamu nangis?" Raddit melihat Nayra mengeluarkan air mata.


"Engga, mataku kelilipan." Nayra segera menghapus pesannya untuk Arfi, ia juga tidak lupa menghapus pesan balasan dari Arfi.


"Makasih ya Raddit." Nayra mengembalikan ponsel Raddit.


Nayra ingin pergi meninggalkan Raddit tetapi Raddit memegang tangan Nayra, ia mencoba menghalangi Nayra.


"Nay, ini. lap dulu air mata kamu." Raddit memberikan sapu tangan untuk Nayra.


Umur Raddit bahkan belum dua puluh tahun, tapi dia sering membuat aku terhibur entah dengan tingkahnya yang konyol atau dengan perhatian perhatian kecil seperti ini. aku engga boleh baper, bagaimanapun aku sudah jadi istrinya Arfi.


Nayra merasa ada perasaan nyaman ketika ia sedang bersama Raddit.


"Nay, kamu engga usah bilang makasih lagi. karena aku bukan orang lain." Raddit sepertinya tahu, kalau Nayra ingin mengucapkan terima kasih.


"Raddit." Entah dorongan dari mana, Nayra tiba tiba memeluk Raddit.


Suara yang sangat Nayra kenal yaitu suara Arfi.


"Arfi, kenapa kamu keluar?" Nayra menghampiri Arfi yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


"Kalau aku tidak datang, aku tidak akan tahu kalau istriku sedang berselingkuh." Arfi mengucapkannya dengan suara pelan agar Raddit tidak mendengarnya.


"Elu lagi, elu lagi. dimana mana ada elu." Raddit berjalan medekati Nayra dan Arfi, kata katanya sangat jelas ditunjukan untuk Arfi. Raddit bicara dengan bahasa yang tidak formal, ia seakan akan bicara dengan teman sebayanya.


"Memangnya kenapa? masalah buat lu?" Arfi marah, mendadak ia bertingkah seperti bocah.


"Engga masalah kalau lu engga gangu Nayra, tapi kalau lu ganggu Nayra. awas aja lu!" Ancam Raddit.


"Raddit aku pulang, kalau kamu masih ada urusan disini. aku pulang duluan." Nayra tidak ingin ada keributan dirumah sakit, ia memutuskan untuk pulang secepatnya.


Aku ini suaminya, seharusnya Nayra pamit denganku bukan dengan Raddit. Arfi sangat marah, tatapan matanya seperti seokor singa yang ingin menerkam mangsanya.

__ADS_1


Nayra tahu Arfi sedang marah, tapi ia tidak perduli. Nayra lebih memperdulikan hatinya yang saat itu sedang sakit.


"Aku engga ada urusan apa apa, gimana kalau kita pulang bareng?" Ucap Raddit


"Kamu tunggu aku diparkiran, aku mau ketoilet dulu." Nayra langsung setuju.


"Oke." Raddit tersenyum sambil menatap Nayra.


Nayra dan Raddit bicara berdua mereka mengabaikan Arfi, hal itu membuat Arfi semakin marah. rasanya ia ingin mengamuk.


Raddit pergi meninggalkan Nayra dan Arfi berdua, Raddit tidak tahu kalau sebenarnya Nayra masih ingin bicara dengan Arfi.


"Mana hpku?" Nayra mengulurkan satu tangannya dihadapan Arfi.


Arfi tidak mengatakan apa apa, ia hanya mengambil sesuatu dari saku bajunya dan ternyata yang ia ambil adalah ponsel milik Nayra.


"Kamu mau ini?" Arfi menyerahkan ponsel yang is Pegang Nayra, tetapi ketika tangan Nayra sudah dekat dan ingin mengambilnya Arfi justru membanting ponsel Nayra.


"Apa yang kamu lakukan?" Nayra mengambil ponsel yang diambil Arfi, ada kesedihan dari raut wajahnya.


"Jangan sedih, hp kamu itu udah butut jadi pantas untung dibuang. aku akan beli hp yang baru buat kamu." Kata kata Arfi terdengar sombong, ia sama sekali tidak merasa salah karena sudah membanting ponsel Nayra.


"Aku tidak butuh hp baru." Nayra merasa terhina mendengar ucapan Arfi.


Nayra berjalan melewati Arfi, tanpa berpamitan ia ingin meninggalkan rumah sakit. Nayra yang semula sehat merasa sakit.


"Mau kemana?" Arfi menghalangi jalan Nayra.


"Pulang."


"Pulang bersama laki laki lain?" Arfi mencengkeram lengan Nayra hingga Nayra kesakitan.


"Jadi cuma kamu yang boleh berdua duaan dengan Renata?" Nayra menepis tangan Arfi.


"Nay, Sejak awal kamu tahu. Renata itu istriku."


"Kamu juga tahu, Raddit itu tetanggaku dan kita cuma teman." Nayra tidak mau kalah.

__ADS_1


"Sudahlah, aku tidak mau bicara denganmu, lebih kamu urus saja istri kamu Renata" Nayra marah.


__ADS_2