
Selesai kerja Renata, makan malam bersama teman temannya. wajahnya kelihatan murung dan sedih, Sejak datang Renata hanya diam. Ia hanya mendengarkan teman temannya yang sedang bicara sambil sesekali tertawa dan bercanda.
Renata bahkan sempat melamun, Andini salah satu teman dekat Renata memperhatikan perubahan sikap Renata, tidak biasanya Renata diam dan tidak banyak bicara.
"Renata, nanti aku pulang bareng kamu boleh kan?" Pertanyaan Andini membuat Renata berhenti melamun.
"Iya boleh, tapi aku lihat kamu bawa mobil sendiri?" Renata ingat saat ia bertemu Andini mereka sama sama sedang memarkir mobil.
"Mobil aku sudah lama belum diservice jadi suka mogok dijalan. nanti aku akan minta supir aku untuk mengurus mobilku." Andini alasan. sebenarnya mobilnya tidak pernah mogok, ia hanya ingin bicara dengan Renata.
"Maaf, ini sudah malam. aku harus pulang dulu." Renata berpamitan pada teman temannya.
"Andini, kalau kamu mau bareng aku, kita pulang sekarang." Ucap Renata pada Andini.
"Oke." Andini berdiri sambil mengambil tasnya yang ada dimeja.
Selesai berpamitan dengan teman temannya, Renata kemudian pulang bersama Andini.
Dimobil Renata.
"Renata, sebenarnya kamu kenapa?" Tanya Andini tiba tiba.
"Aku engga apa apa." Renata tidak ingin menceritakan masalahnya.
"Renata, kita sudah lama berteman. jadi aku kenal betul sifat kamu, aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan." Andini merasa yakin.
"Kalau kamu punya masalah atau ada sesuatu yang kamu pikirkan, kamu bisa cerita sama aku. jangan dipendam sendiri, nanti kamu bisa stress." Sambung Andiri.
Selama ini, aku memendam masalah rumah tanggaku sendiri. Andini benar, itu membuat aku stress. apa aku cerita saja sama Andini? dia itukan temanku jadi aku bisa percaya sama dia. Renata ingin menceritakan semua pada Andini.
"Kamu benar Andini, aku sedang ada masalah. ini tentang Arfi, suami aku." Renata mulai bercerita, ia menghentikan mobilnya,
"Arfi kenapa?" Andini penasaran.
"Arfi, dia... dia menikah lagi dengan perempuan lain."
Jawaban Renata membuat Andini terkejut.
"Apa! terus bagaimana? apa kamu minta cerai?" Andini semakin penasaran.
"Aku engga minta cerai, aku lakukan ini demi Kevin."
"Jadi, kamu mau berbagi suami?" Andini tidak mengerti, kenapa Renata bisa setenang itu padahal suaminya sudah menikah lagi.
"Engga juga, aku minta Arfi untuk menceraikan istri keduanya."
"Apa Arfi setuju?"
"Arfi bilang, dia butuh waktu. dia mau aku berubah. setelah aku berubah Arfi akan menceraikan Istri Keduanya."
"Berubah? maksud kamu." Andini tidak mengerti maksud kata kata Renata.
"Arfi minta aku selalu ada untuk dia, Arfi mau aku mengurusnya dan melayaninya kapanpun dia mau. intinya Arfi mau berhenti keja."
"Ya ampun Renata, suami kamu benar benar keterlaluan. dia sudah menikah lagi dengan perempuan lain dan dia masih berani minta sesuatu sama kamu." Andini emosi setelah mendengar cerita Renata.
"Arfi seharusnya merasa bersalah karena dia sudah menghianati kamu, tapi dia malah minta kamu berhenti kerja. seakan akan kamu yang salah." Andini tidak bisa menahan diri, ia marah marah sendiri.
"Andini menurut kamu, aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? aku bingung." Renata menangis.
"Kalau aku ada diposisi kamu, aku akan minta cerai, tapi kalau kamu mau mempertahankan rumah tangga kamu. kamu harus bersikap tegas."
__ADS_1
"Bersikap tegas? caranya?" Renata menghapus air matanya.
"Kamu harus minta Arfi untuk secepatnya menceraikan Istri keduanya. kamu tidak perlu menunggu lagi karena kalau kamu menunggu bisa saja Arfi bohong. bisa saja, setelah kamu berhenti kerja Arfi tetap tidak menceraikan istri keduanya." Andini mengutarakan. pendapatkannya.
"Tapi kalau kamu ikhlas berbagi suami, itu hak kamu." lanjut Andini.
"Engga, aku engga ikhlas berbagi suami. aku harus meminta Arfi segera menceraikan Nayra." Mata Renata masih berair.
"Renata, sebagai teman aku cuma bisa memberi kamu semangat dan nasehat. semua keputusan ada ditanganmu." Andini menepuk nepuk bahu Renata.
Renata merasa beban dihatinya sedikit berkurang setelah ia bicara dengan Andini, Renata kembali menjalankan mobilnya ia lalu mengantar Andini sampai dirumahnya.
......................
.
Nayra memakai bajunya sambil duduk ditempat tidur, dilihatnya Arfi masih tertidur pulas.
"Aku ini memang bodoh, kenapa aku tidak bisa menolak saat Arfi ingin menyentuhku?"
Sejak Arfi menjadi suaminya entah mengapa Nayra merasa sulit untuk menolak keinginan Arfi. kalau pun ia bisa menolak, Nayra akan merasa dirinya melakukan satu kesalahan.
Nayra merapikan rambutnya yang berantakan, ia lalu Keluar dari kamar itu dan membiarkan Arfi tetap tidur.
"Aku harus pulang sekarang." Ucap Nayra sambil berjalan kearah pintu depan rumah Arfi.
Arfi meraba raba tempat tidur disampingnya, ia tersadar kalau Nayra sudah tidak ada disana. Arfi buru buru memakai bajunya karena ingin segera mencari Nayra.
Kenapa aku jadi panik dan gelisah karena Nayra meninggalkanku? semakin hari, aku semakin merasa. aku tidak bisa jauh dari Nayra, lalu bagaimana dengan Renata? apa aku sudah tidak mencintainya? Pertanyaan pertanyaan itu tiba tiba muncul dibenak Arfi.
Arfi kemudian keluar dari kamar itu.
Nayra sudah sampai didepan pintu keluar rumah. ia membuka pintu berlahan lahan, agar tidak membangunkan Arfi dan Kevin.
Jantung Nayra seakan ingin berhenti berdetak, tubuhnya sedikit bergetar dan ia menggigit bibir bawahnya. ada rasa takut didalam hatinya.
Nayra tidak mengira, ketika ia membuka pintu. ia akan bertemu dengan Renata, saat itu Renata berdiri tepat didepan pintu. ia memandang Nayra dengan penuh amarah dan kebencian.
Tatapan Renata seakan mampu menusuk jantung Nayra, Nayra sampai merinding ngeri.
"Nayra, sedang apa kau disini?"
Nayra tidak menjawab, ia diam seribu bahasa, bibirnya seakan bisu.
"Kenapa diam? jawab aku. Jawab!" Karena Nayra diam saja Renata menjadi marah.
Renata setengah berteriak, suaranya sampai terdengar ketelinga Arfi dan Kevin.
"Mama... Kenapa mama marah marah?" Kevin yang baru saja keluar dari kamarnya langsung mendekati Renata.
Saat itu Arfi juga sudah keluar dari kamar. ia mendengar suara keras Renata, ia ingin cepat cepat pergi dan bersembunyi ketika ia melihat Renata bertemu Nayra.
Arfi tidak jadi bersembunyi karena Renata sudah terlanjur melihatnya, dengan terpaksa Arfi menghampiri Renata dan Nayra.
"Mama engga marah. mama cuma Tanya bu Nayra, kenapa dia ada disini? " Renata berusaha menahan air matanya.
"Tadi Kevin jatuh, bu Nayra yang nolong Kevin dan antar Kevin pulang." Kevin menjelaskan pada Renata.
"Begitu ya, o iya...waktu pulang kerja dijalan mama beli coklat buat kamu. sekarang kamu makan coklatnya dikamar, nanti mama nyusul kekamar kamu." Renata memberikan paper bag kecil yang berisi beberapa batang coklat pada Kevin.
"Iya ma." Kevin mengambil coklat yang diberikan Renata, anak itu terlihat sangat senang. sesuai permintaan Renata Kevin membawa coklat itu kekamarnya.
__ADS_1
"Jadi ini yang selalu kalian lakukan dibelakangku?" Renata seperti ingin menangis.
"Renata, jangan salah paham, Nayra kesini cuma untuk mengantar Kevin." Arfi berusaha membela diri.
"Kamu pikir aku percaya? dengan penampilan kamu yang berantakan dan Kevin yang seperti bangun tidur. aku yakin kalian habis bersenang senang saat kevin tidur." Renata tidak bisa menahan air matanya yang berjatuhan.
"Aku sudah tidak perduli, kalau kamu mau bersenang senang sama pelakor ini silahkan. lagi pula kalian sudah menikah. aku cuma tidak mengira kamu melakukan ini, dirumah kita. kamu kerterlaluan Arfi." Renata meninggalkan Arfi dan Renata
Renata pergi kedalam kamarnya. Arfi mengikuti Renata. ia juga pergi kedalam kamar.
Melihat Arfi dan Renata pergi, Nayra bergegas keluar dari rumah Arfi.
Dikamar Arfi.
"Sayang, dengar penjelasan aku dulu." Arfi berusaha membujuk Renata.
"Semuanya sudah jelas, kamu lebih memilih Nayra dari pada aku. aku sudah tidak sanggup lagi, aku mau kita bercerai." Renata mengambil tas besar, kemudian ia memasukan sebagian bajunya kedalam tas itu.
"Renata jangan pergi." Arfi mengikuti Renata yang sudah berjalan keluar dari kamar.
Arfi mengikuti Renata sampai didepan halaman rumahnya, Arfi dan Renata melihat Nayra yang masih berdiri disana.
Kenapa taksi onlinenya belum datang juga? Nayra kesal.
"Renata aku mohon jangan pergi, jangan ceraikan aku." Arfi memohon pada Renata, ia seakan tidak perduli dengan kehadiran Nayra.
"Baiklah, kita tidak akan bercerai."
Arfi tersenyum bahagia mendengar kata kata Renata.
"Tapi dengan satu syarat. kamu talak Nayra, sekarang juga. mumpung Nayra masih ada disini dan aku juga ada disini, kamu talak dia. aku ingin dengar dan melihat sendiri kamu menalak Nayra." Perkataan Renata terdengar sangat serius.
Arfi diam saja, ia sepertinya tidak ingin menuruti keinginan Renata.
"Kenapa? kamu pasti tidak bisa. kalau kamu tidak bisa menceraikan Nayra. aku yang akan meminta cerai dari kamu." Renata memasukan tasnya kedalam mobil.
"Mama... mama mau kemana?" Kevin tiba tiba datang dan membuat Renata sedikit kaget.
Mudah mudahan Kevin bisa mengahalangi Renata pergi .Arfi sangat berharap.
"Sayang mama mau liburan kerumah nenek, kamu mau ikut mama atau dirumah bersama papa?"
Arfi menghela nafas, ia kecewa ternyata Kevin bahkan tidak bisa menghalangi kepergian Nayra.
"Aku mau ikut mama." Kevin sudah lama tidak mengujungi neneknya karena itu ia memilih ikut dengan Renata.
"Ya dudah kamu masuk kedalam mobil." Renata meminta Kevin masuk kedalam mobilnya.
Setelah Kevin masuk, Renata juga masuk kedalam mobilnya.
Mungkin Renata butuh waktu untuk sendiri, sebaiknya aku biarkan saja dia pergi. aku akan pikirkan. bagaimana caranya supaya Renata tidak menceraikanku? Arfi diam saja melihat kepergian Renata.
Arfi, dia membiarkan aku pergi. Renata menyetir sambil menangis, dari kaca spion ia bisa melihat Arfi dan Nayra berdiri bersebelahan.
"Nayra, apa kamu senang?" Tanya Arfi dengan wajah sinis.
"Maksud kamu?"
"Kenapa kamu keluar dari kamar? kamu sengaja supaya Renata melihat kamu?" tuduhan Arfi membuat Nayra sakit hati.
"Seharusnya sebelum kamu keluar kamar, kamu minta ijin dulu dariku. seandainya saja kamu tidak keluar dari kamar, ini semua tidak akan terjadi." Arfi marah marah.
__ADS_1
Brag...
Arfi masuk kedalam rumah sambil membanting pintu.