
Renata dan Satria duduk dibalkon kamar hotel sambil menikmati matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
"Bu Renata." Panggil Satria membuat Renata menoleh kesamping.
"Jangan panggil aku bu Renata, panggil saja namaku Renata. kita ini kan suami istri."
Tidak tahu kenapa Satria merasa senang mendengar Renata mengakuinya sebagai suami.
"Walaupun kita tidak tahu apa yang terjadi besok, tapi tetap saja hari ini kamu adalah suamiku." Renata sedang bicara dengan Satria tapi pandangan matanya jauh menerawang kedepan, entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Renata, kenapa kamu mau menikah denganku?"
"Kamu tahu, aku lakukan semua untuk Arfi. supaya aku bisa kembali padanya."
"Kamu sudah banyak berkorban untuk Arfi. kamu tetap menjadi istrinya walaupun dia sudah menghianatimu dan setelah dia menceraimu, kamu masih ingin kembali padanya. kamu bahkan rela menyerahkan dirimu padaku hanya demi Arfi. aku tidak mengerti ini cinta atau kebodohan?" Malam itu Satria jadi banyak bicara.
"Kamu tidak akan mengerti karena kamu belum pernah jatuh cinta."
"Siapa bilang? aku pernah jatuh cinta."
"Benarkah? tapi aku tidak pernah melihatmu bersama perempuan. Siapa perempuan yang kamu cintai?" Renata merasa penasaran.
Selama Satria bekerja dengan Arfi, Renata memang tidak pernah melihat Satria menjalin hubungan dengan seorang wanita.
"Nayra, orang yang kucintai adalah Nayra."
Jawaban jujur Satria membuat dada Renata terasa sesak.
"Maksud kamu Nayra istri kedua Arfi?" Renata seakan akan tidak percaya.
"Iya.."
"Tapi dia itu kan istrinya Arfi."
"Aku tahu, tapi aku tidak bisa mengatur perasaanku. cinta itu datang begitu saja."
Air mata tiba tiba mengalir dari kedua belah mata Renata.
"Kenapa kamu menangis?" Satria melihat Renata menghapus air mata dipipinya.
"Aku cuma bingung. Kenapa suamiku selalu mencintai Nayra? dulu Arfi dan sekarang kamu, tapi sudahlah Nayra sudah meninggal lagi pula kita juga akan bercerai."
Untuk beberapa menit mereka berdua saling diam
"Aku mau mandi dulu. kalau kamu cape. kamu tidur saja duluan." Karena merasa canggung Satria mencari alasan untuk meninggalkan Renata.
"Aku tidak percaya kalau aku sudah menjadi istri Satria. apa aku bisa melakukan kewajibanku malam ini?" Renata menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki.
Matahari akhirnya tenggelam, sorepun berganti dengan malam. merasa sudah lama duduk dibalkon Renata lalu masuk kedalam kamar.
Sebenarnya Renata masih betah duduk berlama lama disana. ia ingin menghindari Satria, tapi karena mendadak hujan Renata akhirnya memilih masuk kedalam kamar.
Clek..
Renata menoleh saat pintu kamar mandi dibuka, Renata melihat Satria keluar dari kamar mandi. rambut Satria basah sepertinya ia habis keramas, Saat itu Satria hanya memakai handuk.
__ADS_1
Handuk itu menutupi tubuh Satria dari pinggang sampai lutut, sedangkan bagian tubuh atas Satria yang telanjang bisa terlihat jelas oleh Renata.
Renata segera memalingkan wajahnya ketika, ia sadar kalau ia memandang dada Satria dengan pandangan tak biasa, dalam hati Renata mengakui kalau Satria punya bentuk tubuh yang atletis.
Renata membuang nafas berkali kali, ia berusaha menghilangkan rasa gugubnya.
Deg.. deg.. deg..
Jantung Renata berdebar debar ketika tahu tahu Satria sudah duduk disampingnya. Renata menatap kedepan, ia tidak ingin menoleh kesamping.
Melihat Satria bertelanjang dada membuat pikiran Renata kemana mana, ia membayangkan bagaimana kalau ia menyentuh dada itu. Renata merinding sendiri, bagaimana bisa ia punya pikiran mesum seperti itu.
Satria memegang tangan Renata lalu ia meletakan tangan Renata didadanya. mata Renata membulat jantungnya seakan mau copot ketika Satria menaik turunkan tangan Renata. Satria membuat gerakan, hingga terkesan Renata sedang mengelus elus dadanya.
Renata memejamkan matanya, melihat itu Satria tersenyum tipis.
"Renata, malam ini. hanya malam ini, ijinkan aku menjadi suamimu yang sebenarnya." Satria merapatkan duduknya pada Renata.
Dan tiba tiba terdengar suara petir yang menggelegar, Renata kaget dan langsung memeluk Satria. baru sebentar Renata memeluk Satria ia kembali dibuat kaget karena lampu yang mati.
Suasana malam itu sungguh mendukung. hujan ditambah lagi mati lampu membuat Renata dan Satria ingin melepaskan hasrat mereka berdua.
Satria mendorong Renata sampai tubuh Renata terbaring dikasur, malam itu mungkin akan menjadi malam yang panjang untuk Renata dan Satria.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Arfi baru saja pulang dari pernikahan Renata, wajahnya terlihat amat lelah. Arfi duduk sofa sambil memijit kepala.
Arfi, kenapa dia? kenapa dia kelihatan sedih?
Nayra mengambil segelas teh hangat yang baru saja ia buat, ia lalu menghampiri Arfi yang masih duduk diruang tamu.
"Pak Arfi, ini minuman buat bapak." Nayra meletakan gelas yang ia bawa diatas meja.
"Terima kasih dewi, seharusnya kamu tidak perlu repot repot. tugas kamu itu menjaga anak anakku bukan melayaniku."
Tidak seperti biasanya Arfi berkata dengan suara yang pelan bahkan ia tidak marah dan tidak merasa terganggu dengan kehadiran Nayra.
"Pak, ada apa? Apa bapak ada masalah?" Nayra tidak tahan untuk bertanya, ia duduk disebelah Arfi.
"Mantan istriku. hari ini dia sudah menikah dengan Satria." Cerita Arfi membuat Nayra terkejut.
"Apa?" Nayra tidak mengira kalau ternyata Renata sudah menjalin hubungan dengan Satria.
"Aku yang meminta Renata menikah dengan Satria."
"Kalau bapak yang meminta mereka menikah, kenapa bapak harus sedih?"
"Aku terpaksa, aku bisa membayangkan apa yang akan mereka lakukan malam ini, rasanya hatiku sakit. wanita yang selama ini menjadi istriku, sekarang disentuh oleh laki laki lain."
Arfi memang pernah mengatakan pada Renata. kalau ia rela Renata disentuh laki laki lain asalkan Renata bisa kembali lagi padanya, tapi kenyataannya Arfi tidak rela dan hatinya terasa sakit.
Mendengar cerita Arfi, Nayra merasa ada ribuan jarum yang menusuk hatinya. Nayra sedih karena ia mengira ternyata Arfi sangat mencintai Renata.
"Pak baju bapak basah. bapak kehujahanan?" Nayra baru sadar kalau baju Arfi basah.
__ADS_1
"Aku sengaja hujan hujanan." Arfi meninggalkan Nayra yang masih duduk dikursi ruang tamu, ia ingin mandi lalu tidur.
Arfi berharap semua itu hanya mimpi dan besok semua akan kembali seperti yang ia inginkan.
Matahari bersinar sangat terang, hari itu sudah pukul sembilan pagi tapi Renata dan Satria belum bangun dari tidurnya.
Renata terbangun saat suara ponselnya berdering, ternyata telphone dari Arfi entah mengapa Renata malas untuk menjawab telphone dari Arfi.
Renata mengubah pengaturan ponselnya, hp Renata sengaja di silince agar ia tidak terganggu dengan telphone dari Arfi.
Renata meletakan kembali ponsel yang tadi ia ambil diatas meja, ia menoleh kesamping. dilihatnya Satria masih tertidur pulas.
Renata membaringkan tubuhnya di samping Satria, ia tiduran menyamping. saat itu satria juga sedang tidur menghadap kearah Renata. Renata bisa melihat dengan jelas wajah Satria dari dekat.
"Aku tidak menyangka semalam aku bisa dengan mudah menyerahkan diriku pada Satria, aku pikir aku akan takut dan jiji karena selama ini, tidak ada laki laki yang menyentuh aku selain Arfi." Renata bicara sambil menatap wajah Satria.
"Semalam rasanya aku sangat bahagia. dulu waktu aku menikah dengan Arfi aku juga sangat bahagia, tapi itu sudah lama berlalu aku bahkan sampai lupa bagaimana rasanya. sejak Arfi menikahi Nayra semuanya berubah." Renata pikir Satria masih tidur, karena itu Renata berani menyentuh hidung Satria dengan satu jarinya.
Renata ingin menarik tangannya yang menyentuh hidung Satria, tapi Satria tiba tiba membuka matanya dan menahan tangan Renata. Satria memegangi tangan Renata.
"Sudah bangun?" Suara Satria yang terdengar lembut ditelinga membuat Wajah Renata memerah.
"Su.. dah.. " Renata mendadak jadi gugub.
"Ini hari minggu, lagi pula masih pagi. kita tidur lagi." Satria menarik tangan Renata hingga Renata tertidur diatas dadanya.
Satria bisa merasakan jantung Renata yang berdetak kencang.
"Renata, boleh aku melakukannya lagi?"
Renata kesal. mereka semalam sudah melakukan bahkan hampir pagi mereka baru berhenti, tapi masih pagi Satria kembali meminta haknya sebagai suami.
Apa Satria lupa kalau hari ini kita harus bercerai?
Renata ingin menolak Satria, tapi tangan Satria mulai meraba tubuhnya. Renata memejamkan matanya, ia menikmati sentuhan sentuhan yang diberikan Satria dan pada akhirnya Renata tidak bisa menolak Satria.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Arfi sangat marah karena Renata tidak menjawab telphonenya. ia ingin sekali membanting barang barang yang ada didekatnya, tapi Arfi tidak jadi melakukannya karena pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Dewi.. " Arfi membuka pintu, ia melihat Nayra yang berdiri didepan pintu dengan nafas terengah engah.
Kamar Arfi memang berada dilantai dua, Nayra buru buru berlari kesana karena ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Arfi.
"Ada apa Dewi?" Arfi merasa ada yang aneh dengan sikap Nayra.
"Kevin pak... Kevin kecelakaan." Jawab Nayra dengan nafas yang tidak beraturan.
"Apa?"
"Tadi waktu saya sedang menyuapi Bintang dan Bulan. Kevin bilang mau main sepeda dihalaman rumah dan baru saja Kevin jatuh, lulutnya berdarah." Nayra panik.
"Kenapa kamu malah laporan? seharusnya kamu obati Kevin atau kamu bawa dia kerumah sakit." hardik Arfi membuat Nayra kaget.
"Pak, saya kan harus menjaga Bintang dan Bulan."
__ADS_1
"Ya sudah... ayo kita turun sekarang." Dengan wajah penuh rasa marah, Arfi keluar dari kamar kemudian ia turun menyusuri anak tangga.