
"Kamu belum tidur nind, sini duduk."Ujarku seraya menepuk sofa di sebelah ku.
" Belum mas, dingin sekali malah tidak bisa tidur." Sahutnya sambil mengigil kedinginan.
Anindya menghempaskan tubuh nya disana sejurus kemudian hanya ada kesunyian diantara kami masing masing Asyik dengan fikiran nya .
"Sedang membayang kan apa sich mas sampai segitu kaget nya melihat saya tadi ." Celetuk Anindya memecah kesunyian.
" Hehehehe tidak ada hanya larut dengan suasana alam."Elak ku.
Tidak mungkin aku berterus terang sedang teringat kenangan bersama mantan istri ku ujar ku dalam hati.
" Jadi gimana nind masih Hendrawan?." Tanyaku.
" Hanya berkomunikasi dengan Nazwa sama saya tidak pernah lagi." Sahutnya.
" Gimana dengan Mbak Soffie mas."
" Kami masih berkomunikasi seperti biasa sebentar lagi akan menikah dia nind."
" Oh ya?." Sahutnya aku menganggukan kepala ada nyeri yang aku sembunyikan dari Anindya saat menyebutkan Soffie sebentar lagi akan menikah.
" Ya udah yuk masuk , gak lucu kan habis berlibur malah sakit karena kedinginan." Celetuk ku. Anindya mengangguk dan berjalan mendahului ku masuk kedalam kamar nya.
Pagi harinya aku terbangun saat mendengar suara ketukan dari arah pintu.
Tok tok tok!.
Susah payah aku membuka mata karena memang hungga larut aku tidak kunjung bisa memejam kan mata efek dari suhu yang ekstrim.
"Ya, siapa ?." sahut ku malas malasan dari balik selimut tebal.
" Alex papa ayo bangun." sahut putra kecil ku dari luar kamar.
Aku menyambar ponsel ku dan melihat jam ternyata sudah pukul delapan pagi.
" Sini masuk Jagoan tidak di kunci." Sahut ku kembali.
Tidak lama mahluk kecil ynag menggemas kan itu muncul dari balik pintu ia tersenyum dan mengembangkan tangannya seraya menghambur kearahku.
Aku memintanya naik keatas rajang dan menyelimutinya.
Dia berusaha keluar dari dalam selimut namun upayanya sia sia karena aku menahan selimut itu dengan menjepit diantara paha ku.
Dia terus berusaha melepas kan diri dari dalam selimut, tangan mungilnya berusaha menarik selimut agar bisa keluar.
" Coba kalau bisa." Goda ku.
Karena tidak kunjung bisa membebaskan diri tiba tiba dia menggigit tangan ku.
" Awwwww ..curang !". Pekik ku sambil melirik bekas gigitannya di tangan ku.
" Hahahha hahhahaa hhaha yeeeeeay akhirnya aku bebas!." Sorak nya kegirangan sambil melompat lompat diatas kasur.
__ADS_1
Sejurus kemudian dia berhenti melompat lompat dan mendekati ku.
" Good morning papa ayo bangun." Ujar nya di ciuminya pipi ku.
" Good morning sayang, pagi sekali bangun hmm?."
" Iya tadi alex berjalan jalan sama Nazwa dan tante membeli susu." Celoteh nya.
" Oh ya? Ada tidak buat papa?."
" Ada dong makanya ayo bangun, Alex mau naik kuda." Rengeknya seraya menarik tangan ku.
" Ok ok tunggu disini papa mandi dulu ya." Ujar ku seraya bergegas masuk kekamar mandi.
Dia tampak begitu bahagia menikmati liburannya senyum dan tawa tidak lepas dari bibir mungilnya.
Mahluk mahluk mungil itu tampak akrab satu dengan yang lainnya, dia menjinjing keranjang rotan kecil dan berjalan bergandengan menyusuri perkebunan strawberry dengan riang nya.
Aku dan Anindya mengawasinya dari kejauhan karena mereka menolak untuk di dampingi.
" Duuh jadi ingin kembali menjadi seperti mereka." Celetuk Anindya sambil memandangi mereka.
Mendengar celetukannya aku tersenyum kearah nya.
" Kenapa menyesal ya jadi orang dewasa? Hmm?!."
Ia menghela nafas sesaat , matanya tampak berkaca kaca.
" Tidak menyesal, hanya saja tidak menyangka menjadi dewasa tidak seindah bayangan waktu saya ingin segera menjadi dewasa." Ujar nya lirih.
Aku mengusap bahunya dan menepuknya perlahan.
" Inilah hidup kadang realita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, tapi mau gimana lagi life must go on." Seloroh ku .
Saat kami tengah berbincang tanpa menyadari dua mahluk kecil tampak berlari lari mendekati kami dengan keranjang yang berisi buah strawberry segar wajah mereka tampak begitu sumringah.
" Mamaaa lihat ." Seru Nazwa sambil menyodorkan keranjang nya pada Anindya mereka segera memeriksa Strawberry di dalam keranjang nya.
Melihat hal itu Alex juga tidak mau kalah di berikannya keranjang nya padaku meski strawberry yang ia petik, lebih banyak yang belum begitu masak bahkan berwarna hijau.
" Wah terima kasih jagoan." Ujar ku menyambut keranjang nya .
Akhh! ternyata bahagia itu sederhana hanya kita yang kadang membuatnya rumit ujar ku dalam hati.
Setelah membayar strawberry yang di petik kami beranjak pergi dari sana.
"Papa ayo Naik kuda." celetuk Alex menagih janji.
" Ayok, ajak ku dan segera mengarahkan mobil menuju pengalengan.
Satu harian full kami menghabiskan waktu untuk berjalan jalan dan memenuhi keinginan anak anak.
Menjelang waktu makan malam kami pulang ke villa dan Mbok minah di bantu dua suster sudah menyiapkan makan malam untuk kami.
__ADS_1
Keesokan paginya saat tengah memasukan barang barang kedalam bagasi sahabat Anton menelfon.
" Wes yang liburan diam diam saja ya." celetuknya dengan nada bercanda.
" Hahhaha hahhaha sorry bro, gw gak tahu kalau loe suka dengan Alam." Sahut ku.
" Alasan bilang saja tidak mau di ganggu."
" Kami beramai ramai loch jangan ngeres ya." Sergah ku.
Segera aku mengirimkan foto selfi bersama anak anak .
" Puas loe, hahahah haha." Ujar ku sambil terkekeh.
" Hahah hahah kirain, Sorry sorry."
" Kirain apa? ngeres aja loe." Ujar ku sewot.
" Who"s know hahahah hahhaha" Anton kembali terbahak bahak.
Tentu saja aku tahu apa yang ada dalam fikirannya.
Kampret!. Dengus ku sambil menggelengkan kepala.
Kami meninggalkan villa dengan berat hati rasanya ingin berlama lama disana tapi apalah daya segudang kesibukan telah menunggu kami lusa.
Liburan ini meninggalkan kenangan manis tapi di sisi lain membuat ku tersadar bahwa perasaan ku pada Anindya lebih tepat di sebut sebuah Obsesi.
Karena seiring berjalannya waktu perlahan tapi pasti rasa itu berkurang dengan sendirinya.
Jika memang aku benar mencintainya tentunya rasa itu semakin tumbuh subur .
Untuk mengisi rasa jenuh selama perjalanan iseng iseng aku membuka percakapan ringan dengan Mbok Minah Art ku yang sudah mengabdi bertahun tahun lamanya.
"Mbok, gimana menurut Mbok kalau saya melamar dia" Celetuk ku sambil melirik Mbok Minah dari spion dalam diatas kepalaku.
Aku sudah menganggap Perempuan paruh senja itu seperti Almarhum Mama.
" Terlihat baik sich, tapi ndak tahu hati orang ndak bisa di tebak." Sahutnya .
" Tapi Mbok sih lebih memilih Ndok Soffie kalau harus memilih." Imbuhnya lagi.
" Kenapa memang nya Mbok?." Tanyaku penasaran.
" Entah lah, tapi Mbok ini seorang ibu yang sudah merasakan banyak asam garam ada yang membuat Mbok kurang Sreg sama siapa itu namanya?."
" Anindya Mbok." Sahut ku.
" Ya itu lah Aninda, aminda itu lah pokok nya."
Aku tersenyum mendengar Mbok minah berkali kali salah menyebut nama Anindya.
Aku mengangguk setuju dengan pendapat Minah , karena aku juga kecele telah salah menilai Anindya pada Awalnya.
__ADS_1
Dia yang terlihat sempurna ternyata menjadi simpanan pria beristri.