
Nayra berjalan mendahului Arfi, ia membiarkan Arfi mengikutinya dari belakang.
"Nay, jangan cepat cepat jalannnya." Arfi tidak mengerti kenapa Nayra meninggalkannya.
"Memangnya kenapa?" jawab Nayra tanpa menengok kebelakang.
"Kita pulang sama sama, kenapa harus buru buru?" Arfi mengira kalau Nayra akan pulang kerumah yang ia tempati bersama anak anaknya.
"Aku tidak akan pulang bersamamu. aku akan pulang kerumahku sendiri." Nayra ingin kembali kerumah yang sudah lama ia tinggalkan, rumah dimana ia bertetangga dengan Raddit.
"Apa? lalu bagaimana dengan Bintang dan Bulan?"
"Dirumah mami kamu, mereka akan baik baik saja." Nayra seakan tidak perduli dengan anak anaknya.
Arfi menjadi marah, bagaimana bisa Nayra meminta ibunya untuk mengasuh anak anak mereka. usia ibunya Arfi sudah tidak muda lagi, tenagapun terbatas. ia mudah lelah ditambah lagi ayah Arfi yang sakit sakitan.
"Nayra, kamu itu ibunya. jadi kamu yang harus merawatnya." Arfi mencoba meredakan amarahnya, ia menarik nafas dalam dalam.
"Bukannya aku sudah dipecat? dan kamu tidak mengijinkan aku bertemu dengan anak anakku sendiri."
Nayra membuat Arfi bingung, baru kemarin Nayra memohon agar Arfi mengijinkannya bertemu anak anak mereka, tapi hari itu Nayra mendadak berubah.
"Nay, please. jangan tinggalin aku. kamu itu bukan baby sister anak anakku, tapi kamu adalah istriku. ibu dari anak anakku."
Nayra diam tidak bersuara namun hatinya bersorak kegirangan, Nayra senang karena ia bisa mengerjai Arfi, tanpa Nayra sadari dibibirnya tersunging senyuman. meskipun tipis tapi Arfi bisa melihatnnya karena ketika itu kebetulan Arfi sedang menatap wajah Nayra.
Dengan kesal, Arfi pergi begitu saja meninggalkan Nayra.
"Arfi, tunggu!" Nayra berlari kecil mengikuti Arfi hingga Arfi sampai ditempat dimana ia memarkirkan mobilnya.
"Arfi, kamu mau kemana?" Nayra kelelahan mengejar Arfi, keringat dingin mengalir dari dahinya.
"Aku mau pulang." ujar Arfi tanpa menoleh, Arfi tidak tahu kalau Nayra sedang kelelahan.
Arfi bahkan lupa kalau Nayra baru saja keluar dari rumah sakit.
Kepala Nayra tiba tiba terasa pusing dan
Brug...
Nayrapun pingsan.
Arfi panik melihat Nayra pingsan, ia buru buru mengggendong Nayra. Arfi lalu membawa Nayra masuk kedalam rumah sakit.
Beberapa saat kemudian dokter datang untuk memeriksa Nayra, saat itu Nayrasudah berbaring ditempat tidur.
"Dokter sebenarnya istri saya sakit apa? kenapa dia bisa pingsan." Arfi merasa cemas.
"Istri bapak tidak apa apa, dia hanya kelelahan, kelihatannya dia habis berlari.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari dokter Arfi merasa bersalah pada Nayra. padahal kemarin dokter juga mengatakan Nayra kelelahan, tapi setelah keadaan Nayra membaik dan dokter memperbolehkan Nayra pulang. Arfi malah membuat Nayra kelelahan karena berlari mengejarnya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Arfi masuk kembali kedalam kamar tempat dimana Nayra dirawat. Arfi melihat Nayra sudah sadar, ia ingin turun dari tempat tidurnya.
"Nay, kamu pingsan lagi, makanya makan yang banyak biar engga kekurangan gizi." Arfi sebenarnya senang Nayra sudah sadar kembali, tapi ia masih kesal pada Nayra.
"Ya sudah, aku pergi. jaga diri kamu, sampai jumpa lagi."
Arfi ingin pergi meninggalkan Nayra, tapi saat ia sudah berada didepan pintu. ia menghentikan langkahnya karena ia mendengar Nayra mengatakan sesuatu.
"Arfi, jangan pergi. kamu bilang kita akan pulang bersama." Nayra tidak ingin Arfi pergi.
"Kamu juga bilang, kamu mau pulang kerumah kamu sendiri. jadi kita pulang masing masing."
"Lalu bagaimana dengan anak anak?"
"Anak anak, biarkan saja dirawat ibuku." Arfi pergi begitu saja meninggalkan Nayra.
Arfi memang sengaja bersikap acuh dan tidak perduli pada Nayra, Arfi ingin Nayra memohon padanya.
Arfi membayar biaya rumah sakit lalu ia bicara dengan dokter. Dokter memberitahu Arfi kalau Nayra bisa beristirahat dirumah, Arfi kemudian menunggu Nayra didalam mobilnya.
Sudah setengah jam lebih Arfi menunggu Nayra, tapi Nayra tidak juga menampakan batang hidungnya. Arfi jadi kesal sendiri, ia kemudian kembali masuk dalam rumah sakit lalu pergi kekamar, tempat dimana Nayra diperiksa dokter.
Arfi melihat Kamar itu kosong dan Nayra sudah tidak ada disana.
Sementara itu dirumah Nayra.
Nayra baru saja sampai diumahnya, ia pulang dengan menaiki taksi. karena lelah dan haus Nayra duduk sebentar diteras, Nayra mengambil botol minuman yang tadi sempat ia beli jalan.
Nayra membuka botol itu lalu meminum air yang ada didalamnya. rasa haus dan lelahnya mulai sedikit menghilang. Nayra berdiri, ia baru ingin masuk kedalam saat ia mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Nayra." Panggil seseorang yang suaranya sudah Nayra kenal.
Nayra menoleh dan ia melihat Raddit berdiri didepan pagar rumah Nayra.
"Raddit."
Mata Nayra berkaca kaca, sudah beberapa bulan ia tidak bertemu dengan Raddit. Nayra mengira kalau ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Raddit, tapi hari itu. ternyata ia bisa bertemu dengan Raddit.
Raddit berjalan menghampiri Nayra dan tanpa malu malu Raddit memeluk Nayra.
"Nay, aku pikir kamu sudah mati. aku marah, aku sedih waktu dengar kamu mati. rasanya pingin aku hajar Arfi karena sebagai suami, dia engga becus jaga istri. sayangnya aku engga pernah ketemu Arfi jadi aku engga bisa mukul dia." Raddit melepaskan pelupakannya lalu menghapus air matanya dengan tangannya.
"Maaf Raddit, aku tidak memberi tahu kamu. kalau aku sebenarnya masih hidup. waktu itu aku sempat dirawat dirumah sakit dan sekarang aku sibuk mengurus anak anakku, aku jadi lupa sama kamu." Cerita Nayra.
"0.. Iya.. aku lupa waktu itu kamu hamil, kamu pasti udah lahirahan. gimana bayi kamu sehat? laki laki atau perempuan?" Raddit terlihat penasaran.
__ADS_1
"Anakku kembar, laki laki dan perempuan." Nayra tersenyum bahagia, Nayra memang selalu bahagia ketika ia sedang bercerita atau mengingat anak anaknya.
"Kamu sendiri, bagaimana kuliah kamu?" Nayra balik bertanya.
"Setahun lagi kuliahku selesai." ujar Raddit penuh rasa senang.
"Wah...engga terasa ya, kamu sudah mau lulus. Raddit Maaf ya, aku kedalam dulu. aku cape mau istrirahat."
"Iya Nay, engga papa. kita kan bisa ngobrol lagi, nanti."
"Iya." Nayra tersenyum lalu berjalan mendekati pintu masuk rumahnya.
"Nay, tunggu."
Nayra menoleh karena Raddit memanggilnya.
"Nay, aku masih kangen boleh aku peluk kamu lagi." Raddit memeluk Nayra meskipun Nayra belum menyetujui permintaannya.
Raddit dan Nayra tidak tahu kalau sejak tadi Arfi sudah datang dan sedang memperhatikan mereka berdua.
Arfi sengaja tidak memarkirnya mobilnya didepan rumah Nayra. Arfi ingin memberi kejutan untuk Nayra, tapi siapa sangka justru Nayra yang membuatnya terkejut. sebelum ia turun dari mobilnya Arfi melihat Raddit memeluk Nayra.
Arfi tidak bisa mendengar apa yang Nayra dan Raddit bicarakan, ia hanya bisa melihat Nayra dan Raddit bicara dan berpelukan sebanyak dua kali.
"Jadi ini alasan kamu ingin kembali kerumahmu, rupanya semuanya karena Raddit." Arfi sangat marah dengan wajah murka Arfi langsung menjalankankan mobilnya.
Arfi pergi dengan hati yang marah dan juga sedih.
Raddit masih memeluk Nayra, ia melepaskan pelukannya saat tiba tiba ada seseorang yang setengah berteriak menyebutkan namanya.
"Raddit." Seorang perempuan muda seusia Raddit berjalan mendekati Raddit.
Wajahnya perempuan itu merah padam terbakar api cemburu.
"Lisa kamu kesini?" Raddit merangkul Lisa dihadapan Nayra.
"Tadi aku kerumah kamu, tapi mama kamu bilang kamu lagi kewarung. ya udah aku susul, ternyata kamu disini." ucap Lisa dengan muka cemberut.
"Nayra, kenalin ini Lisa pacarku." Raddit memperkenalkan Lisa pada Nayra.
"Bukan pacar tapi calon istri, tahun depan selesai kuliah kita akan menikah terus lanjutin s2 keluar negeri." Lisa melanjutkan ucapan Raddit. Lisa sengaja pamer karena ia ingin menunjukan pada Nayra kalau Raddit adalah miliknya.
Nayra hanya tersenyum kecut melihat sikap Lisa yang menurutnya kekanak kanakan.
"Lisa kenalin ini Nayra. tetangga aku, dia ini udah kaya kakakku sendiri." Raddit sedikit malu dengan sikap Lisa karena itu sebelum Lisa bicara lebih panjang Raddit dengan cepat mendahuluinya.
"Nay, kita pulang dulu ya. kita engga mau ganggu istrirahat kamu." Raddit pamit pulang.
"Ayo pulang." Raddit menggandeng tangan Lisa.
__ADS_1
Raddit, dulu dia sering sekali membantuku. sekarang dia sudah merencanakan masa depannya sendiri. Satria, meskipun hanya sebentar. tapi kita pernah berteman dekat, Satria juga pernah membantuku. sekarang dia juga sudah menemukan kebahagiaannya dengan Renata. hanya aku, aku yang tidak tahu. bagaimana hubunganku dengan Arfi selanjutnya? aku kira setelah Renata menikah dengan Satria, aku akan menjadi istri Arfi yang sebenarnya. tapi Arfi, dia sepertinya tidak ingin bersamaku lagi. Arfi bahkan membiarkan aku pulang kerumahku sendiri.
Nayra merasa sedih, ia menghapus air mata yang tanpa terasa jatuh dari kedua belah matanya.