Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Repotnya punya dua istri


__ADS_3

Nayra membuka matanya, badannya terasa sakit. Nayra membulatkan matanya ketika ia tersadar, ia sedang tidur diatas dada Arfi. Nayra mengangkat kepalanya, diihatnya Arfi masih tertidur pulas.


Nayra memejamkan matanya, ia teringat malam pertamanya bersama Arfi. wajah Nayra memerah saat Nayra ingat bahwa ia telah menyerahkan dirinya pada Arfi.


Nayra menyerahkan dirinya dengan suka rela tanpa paksaan. yang membuat Nayra malu, mereka melakukannya berkali kali. mereka tertidur karena kelelahan


Nayra membuka selimut yang menyelimuti tubuhnya, Nayra menutup mulutnya dengan satu tangan. ia hampir berteriak karena terkejut.


Nayra terkejut karena ternyata ia belum memakai baju, tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun. Nayra menggunakan selimut yang sama dengan Arfi, ia juga melihat tubuh Arfi masih polos.


Nayra cepat cepat menyelimuti tubuh Arfi, Nayra menurunkan kakinya. ia turun dan mengambil bajunya yang berserakan dilantai. Nayra lalu memakai bajunya.


Nayra ingin pergi kekamar mandi tapi baru dua langkah ia sudah terjatuh.


"Aww.. "


Suara Nayra membuat Arfi terbangun.


"Renata, jangan berisik sayang." Arfi sudah bangun tapi ia masih memejamkan matanya.


"Aku Nayra." Hati Nayra terasa sakit rasanya seperti tertusuk ribuan jarum, entah mengapa Nayra tidak rela Arfi menyebutkan nama Renata.


Mendengar suara Nayra Arfi baru sadar, perempuan yang ada dikamarnya adalah Nayra bukan Renata.


"Sayang, maafin aku." Afri turun dari tempat tidur lalu segera memakai bajunya.


"Kenapa kamu duduk dilantai?" Arfi merasa heran.


"Aku jatuh!" Nayra hampir menangis.


"Nay, maafkan aku." Arfi kembali meminta maaf, ia merasa bersalah.


"Sekarang kamu mau kemana? Biar aku bantu." Arfi mengulurkankan tangannya.


Untuk sesaat Nayra memejamkan matanya, Nayra sebenarnya enggan meyambut uluran tangan Arti, tapi karena ia membutuhkan bantuan Arfi dengan terpaksa Nayra memegang tangan Arfi.


Arfi yang masih berdiri menarik tangan Nayra, agar Nayra bisa berdiri. Nayra berdiri setelah Arfi menarik tangannya dengan kuat. Nayra dan Arfi berdiri berhadap hadapan.


Satu tangan Arfi menggengam tangan Nayra, Satu tangannya lagi melingkar dipinggang Nayra. Mereka saling berpandangan, wajah Nayra memerah. Nayra teringat kembali malam panjang yang telah mereka lewati.


Nayra melepaskan pegangan tangan Arfi dari tangan dan pinggannya. ia berjalan tertatih tatih menuju pintu keluar kamar, Nayra memegang daun pintu. baru saja ia ingin membuka pintu tapi ia dikejutkan oleh suara Renata.


Nayra dan Arfi mendengar suara Renata dari balik pintu, saat itu Renata sedang berdiri tepat didepan kamar Nayra dan Arfi.


"Pak, tolong bantu saya mencari suami saya."


Renata sedang bicara dengan dua orang petugas keamanan rumah sakit.


"Ibu yakin, suami ibu hilang? bisa saja suami sedang keluar." Salah satu petugas keamanan itu bertanya pada Renata.


"Saya yakin, saya sudah mencari suami saya ditaman rumah sakit dan dihalaman rumah sakit, tapi tidak ada." Renata cemas, ia takut sesuatu terjadi pada Arfi.


"kita lihat cctv disekitar kamar suami ibu, mungkin saja kita akan mendapatkan petujuk." saran petugas keamanan itu

__ADS_1


"Gawat, aku harus mencegahnya. Kalau Renata melihat cctv. dia bisa tahu aku ada dikamar ini." Arfi membuka pintu kamar.


"Nay, kamu disini saja. jangan kemana mana dan jangan keluar dari kamar ini." Perintah Arfi, ia lalu menutup kamar.


"Lagi lagi aku harus bersembunyi." Nayra merasa sedih.


Arfi keluar dari kamar tanpa memperdulikan perasaan Nayra, Arfi memanggil Renata yang saat sedang berjalan menjauh dari tempat itu.


"Renata." Panggil Arfi


"Arfi" Renata menengok kebelakang.


Renata berlari kecil menghampiri Arfi, Renata langsung memeluk Arfi ketika ia sudah sampai dihadapan Arfi.


"Kamu kemana saja?" Renata tersenyum bahagia melihat Arfi.


"Aku pikir kamu diculik." Sambung Renata.


"Pak, suami saya sudah datang, jadi saya tidak perlu lagi melihat cctv." Renata merasa tidak enak.


Dua petugas keaman itu lalu pergi dengan kesal.


"Renata maaf, aku semalam ketiduran karena itu aku tidak menghubungimu." Arfi memberi alasan.


"Semalam ada beberapa temanku yang datang. aku lihat kamu dan kevin sudah tidur, karena aku tidak mau menggangu kalian jadi aku ngobrol dikamar sebelah. aku cape, aku ketiduran dikamar sebelah" Arfi mengarang cerita.


"Terus kenapa hp kamu enggak aktif?" Renata kesal.


"Aku enggak bawa hp, hp ku ada dikamar mungkin baterainya habis."


"O iya dimana Kevin? apa dia masih tidur?" Arfi sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


"Kevin sudah berangkat sekolah, tadi aku minta Satria untuk membawakan seragam sekolah sekalian mengantar Kevin kesekolah." Renata menjelaskan.


"Aku juga harus bekerja." lanjut Renata. ia mengatakannya dengan ragu ragu, Renata khawatir Arfi akan melarangnya pergi bekerja.


"Kalau kamu mau kerja, kerja saja. aku sudah merasa sehat."


"Kamu serius?" Renata senang ternyata Arfi mengijinkannya bekerja.


"Iya."


"Kalau begitu aku pergi dulu." Renata berpamitan pada suaminya. ia cepat cepat pergi, ia takut Arfi berubah pikiran.


Syukurlah. Arfi menarik nafas lega.


Arfi membalikan tubuhnya, Arfi melihat Nayra keluar dari kamar. Nayra terlihat memendam begitu banyak rasa, saat itu Nayara memang sedang sedih dan kecewa. wajahnya terlihat muram.


"Sayang, jangan pergi dulu."


Nayra mengabaikan perkataan Arfi, Nayra tetap berjalan meskipun dengan langkah yang tertatih. baru beberapa langkah Nayra berjalan Arfi sudah menghalanginya, Arfi berdiri dihadapan Nayra agar Nayra tidak bisa pergi.


"Minggir, jangan halangi jalanku." Nayra marah.

__ADS_1


"Kenapa kamu marah?" Arfi tidak mengerti dengan perubahan sikap Nayra.


"Semalaman aku melayani kamu sampai aku kelelahan, sampai aku susah untuk berjalan. tapi kamu, begitu bangun tidur yang kamu sebutkan adalah nama Renata. padahal kamu pernah bilang, kamu tidak akan menyebutkan nama Renata saat kita sedang berdua." Nayra mengeluarkan semua isi hatinya.


"Kamu cemburu."


"Cemburu? apa pantas aku cemburu? aku ini hanya istri kedua, selamanya akan tetap menjadi nomer dua." Nayra menghapus air matanya.


"Apa kamu bilang istri kedua?"


Nayra dan Arfi terkejut melihat kehadiran Renata. Renata memang sudah pergi, tapi karena tasnya tertinggal Renata kembali lagi.


"Kenapa diam? jawab Nayra. apa benar kamu sudah menikah dengan suamiku?" Renata mengepalkan kedua tangannya ia berusaha menahan amarahnya.


Nayra tidak menjawab, ia diam seribu bahasa. sama seperti Nayra, Arfi juga tidak berkata apa apa.


"Aku benar benar bodoh, seharusnya aku tidak bertanya karena aku sudah mendengar semuanya." Renata tidak dapat menahan air mata yang berjatuhan dipipinya.


"Arfi, aku mencari cari kamu. aku khawatir, aku pikir terjadi sesuatu padamu . ternyata aku salah, ternyata kamu sedang tidur dengan pelakor." Renata berjalan kekamar tempat Arfi dirawat.


"Renata tunggu dulu, dengarkan penjelasan aku." Arfi mengikuti Renata.


Seandainya aku tahu rasanya sesakit ini, aku tidak mau menjadi istri kedua. suara hati Nayra berbicara.


Nayra bergegas pergi meninggalkan rumah sakit itu, rasanya terlalu malas melihat Arfi yang sedang berusaha membujuk Renata.


...****************...


Sampai didalam kamar rawat inap, Renata mengambil tasnya.


"Renata, dengarkan dulu penjelasan aku." Arfi mencoba membujuk Renata, namun Renata tidak perduli. ia berjalan keluar dari rumah sakit itu.


Sepanjang jalan dari mulai kamar sampai tempat parkir Arfi terus bicara tapi Renata tetap diam. Renata tidak mengucapkan satu patah katapun, Arfi menjadi marah.


"Renata, aku ini suami kamu. kalau aku sedang bicara. jawab aku, lihat aku. jangan diam saja." Arfi, ia tidak suka diabaikan.


"Kita bicara nanti, sekarang aku harus bekerja." Renata masuk kedalam mobilnya.


"Bisa bisanya kamu kerja, disaat rumah tangga kita sedang dalam masalah." Arfi marah.


"Untuk apa aku tetap disini? semalam aku rela tidur dirumah sakit ini hanya untuk menemani kamu, tapi apa yang kamu lakukan? kamu pergi meninggalkan aku."


Renata tidak habis pikir. Arfi membentaknya dan marah marah, seakan akan Renata yang bersalah. kesabaran Renata sudah habis, ia menutup pintu mobil lalu melajukan mobilnya dengan cepat. Renata tidak menggubris Arfi yang saat itu masih marah marah.


Karena tidak berhasil membujuk Renata Arfi memilih untuk kekamar, kamar tempat dimana ia dan Nayra tidur semalam. Arfi mencari cari keberadaan Nayra, tapi ia tidak menemukan Nayra.


"Kemana Nayra?"


Meihat Nayra tidak ada dikamar dengan kesal Arfi mencoba menghubungi Nayra, sayangnya ponsel Nayra tidak aktif.


"Sial, aku lupa hp Nayra rusak karena semalam aku banting." Arfi menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.


"Nayra, kenapa kamu pergi? Nayra pergi,Renata marah dan sekarang aku disini sendiri. Apa gunanya aku punya dua istri? kalau disaat aku butuh istri, tidak satupun yang menemani ku."

__ADS_1


Arfi emosi, ia marah marah sendiri. sikap Arfi seperti orang yang sedang frustasi, ia mengacak acak rambutnya.


__ADS_2