Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Pergi keluar Negeri


__ADS_3

"Tidak aku tidak akan mengambil anak anakku." Jawab Nayra penuh keyakinan.


"Terakhir bertemu pak Arfi, bukannya kalian sedang rebutan anak?" Satria tidak tahu kenapa Nayra berubah pikiran.


"Karena rebutan anak, aku jadi kecelakaan seperti ini. aku benar benar menyesal, sekarang aku mau fokus pada kesehatanku dulu. setelah aku sehat aku akan mencari pekerjaan lagi, nanti kalau aku sudah dapat pekerjaan baru aku memikirkan tentang anak anakku."


"Iya kamu benar Nay, lagi pula anak anak kamu baik baik saja bersama pak Arfi." Satria sependapat dengan Nayra.


Nayra sekarang masih sakit, aku tidak mungkin mengatakan kalau Arfi sekarang lumpuh dan aku baru saja mengantar Arfi kerumah orang tuanya. nanti saja kalau Nayra sudah keluar dari rumah sakit baru aku beritahu Nayra, keadaan Arfi.


Satria bicara dalam hati.


"Nay, aku pulang dulu. kamu engga apa apa kan sendiri?" Satria berdiri dari duduknya.


"Iya.. engga apa apa Satria. aku juga mau istirahat, tapi diluar hujan deras. kamu yakin mau pulang sekarang?" Nayra melihat keluar jendela.


Saat Satria ingin pergi kerumah sakit. hujan memang sudah turun, tapi tidak terlalu deras.


"Aku engga mau ganggu istirahat kamu Nay, yaudah aku pulang dulu." Satria tetap ingin pulang walaupun sedang hujan deras.


Satria kemudian keluar dari ruangan itu, ia meninggalkan Nayra sendirian.


"Jadi Arfi menganggap aku sudah mati dan dia tidak akan pernah mengejar ngejar aku lagi. seharusnya aku senang karena keinginanku terwujud, tapi kenapa air mataku tidak berhenti menetes." Nayra menghapus air matanya.


Hujan turun deras ketika itu Arfi dan kedua orang tuanya sedang berada diruang makan, mereka ingin makan malam bersama.


"Arfi, kenapa tiba tiba kamu kemari? kamu juga membawa Bulan dan Bintang. apa Renata tidak mau menerima anak anakmu? apa Renata juga tidak ingin merawat kamu yang sakit?" Tanya ibu Ayrin penuh dengan rasa ingin tahu.

__ADS_1


"Mami, mami tidak suka aku datang kerumah ini? aku ngepotin mami?" Sejak tahu bahwa dirinya lumpuh, Arfi jadi lebih sensitif.


"Kamu jangan salah paham, mami senang kamu mau tinggal bersama mami dan papi. mami cuma tanya, apa mami salah?" Ibu Ayrin meletakkan sendok yang ia pegang diatas piring.


"Arfi, kamu itu punya istri dan anak dan selama ini kamu tinggal bersama mereka. wajar jika mamimu bertanya, kenapa kau tiba tiba ingin pindah kerumah ini?" Sambung Pak Bisma, ia merasa kesal.


"Aku datang kerumah papi dan mami untuk menitipkan anak anakku karena besok aku mau pergi keluar negeri. aku mau berobat supaya kakiku bisa cepat sembuh." Ucap Arfi sedih.


"Kamu jangan khawatir mami pasti akan menjaga anak anak kamu. mami akan cari baby sister untuk membantu mami menjaga anak anak kamu, tapi kamu pergi sama siapa besok? apa sama Renata?" Ibu Ayrin terlihat cemas.


"Aku pergi sama Satria." Jawaban Arfi membuat Ibu Ayrin dan pak Bisma sedikit bingung.


"Mami, papi. aku tidak mau menyusahkan Renata. belakangan ini aku sudah membuat Renata menderita. aku mau dia tetap dirumah bersama Kevin, nanti kalau aku sudah sembuh aku baru akan pulang." Arfi seakan tahu apa yang dipikirkan kedua orang tuanya.


"Nak, apa kamu yakin Satria bisa mengurus kamu." Bu Ayrin merasa tidak tenang melepaskan Arfi pergi berdua dengan Satria.


"Iya mami kamu benar, disaat saat seperti ini kamu mmembutuhkan Renata istri kamu." Pak Bisma sependapat dengan ibu Ayrin.


"Ya sudah kalau itu mau kamu, tapi besok mami dan papi akan mengantar kamu sampai bandara. boleh kan?" Wajah Bu Ayrin tampak muram.


"Boleh mami.." Arfi tersenyum senang, ia bahagia karena meskipun dia bukan anak kecil lagi, tapi orang tuanya masih memperhatikan dirinya.


Setelah pembicaraan yang cukup panjang Ibu Ayrin lalu mengantarkan Arfi kedalam kamarnya, disana sudah ada Bintang dan Bulan yang sedang tertidur pulas.


Walaupun dirumah itu memiliki banyak kamar, tapi Arfi memilih untuk tidur satu kamar dengan anak anaknya.


"Kamu sekarang istrirahat ya, kalau kamu butuh apa apa. panggil saja mami, mami ada dikamar sebelah."

__ADS_1


Ibu Ayrin sengaja menempatkan Arfi dikamar yang bersebelahan dengan kamarnya agar Arfi lebih mudah memanggilnya saat dia sedang membutuhkan bantuan.


...************...


pagi itu Renata bangun kesiangan, ia yang terbiasa bangun jam lima, pagi itu baru bangun jam enam.


Renata buru buru mandi kemudian ia menyiapkan sarapan untuk Kevin, Renata memang harus sampai dikantornya pagi pagi karena ia ada meeting penting.


Renata menelphone Satria, ia ingin meminta Satria untuk mengantarkan Kevin kesekolah. Renata lupa kalau Arfi sudah pergi dari rumah dan karena Satria adalah asistent Arfi maka secara tidak langsung Satria sudah tidak bekerja lagi pada Renata.


"Hallo Satria kamu dimana? tolong antar Kevin kesekolahnya." Pinta Renata saat Satria menjawab telphonenya.


"Maaf bu, saya tidak bisa. sekarang saya bersama pak Arfi dan keluarganya sedang berada dibandara." Satria menolak peemintaan Renata.


Aku lupa Satria itu asistentnya Arfi. kalau Arfi pergi dari rumah ini, itu artinya aku tidak bisa meminta bantuan Satria lagi. Batin Renata.


"Satria, kenapa kamu ada dibandara?" Tanya Renata ingin tahun.


"Saya mau keluar negeri bersama pak Arfi, pak Arfi mau mengobati kakinya."


"Keluar negeri? berapa lama?"


"Saya tidak tahu, yang pasti sampai pak Arfi sembuh. maaf bu, saya tutup dulu telphonenya. pak Arfi memanggil saya." Satria lalu memutuskan panggilan telphone Renata.


Sampai sembuh? bagaimana kalau sembuhnya lama. tidak, aku tidak bisa membiarkan Arfi meninggalkan aku pergi. aku harus bicara dengannnya. Renata berencana ingin pergi kebandara untuk menemui Arfi.


Renata segera mengantar Kevin kesekolah, setelah itu barulah ia pergi kebandara. sampai dibandara Renara mencari cari keberadaan Arfi.

__ADS_1


Renata melihat Arfi sedang duduk bersama bu Ayrin dan pak Bisma. Renata menghampiri Arfi, membuat Arfi dan keluarganya kaget.


"Renata." Arfi merasa senang melihat kedatangan Renata.


__ADS_2