Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Pertengkaran Nayra dan Arfi


__ADS_3

"Satria kita ikuti mobil Arfi." Renata meminta Satria untuk mengikuti mobil Arfi.


"Kenapa kita harus mengikutinya?" Tanya Satria cemburu, ia mengira Renata masih perduli pada Arfi.


"Nayra sudah menyelamatkan nyawaku, aku ingin tahu. bagaimana keadaannya?" Renata mencemaskan keadaan Nayra.


Mendengar ucapan Renata, Satria merasa tidak enak. ia sudah salah duga. memang sudah seharusnya mereka kerumah sakit untuk mengetahui keadaan Nayra.


Satria akhirnya menuruti kemauan Renata, Satria dan Renata segera masuk kedalam mobil lalu ia mengikuti kemana mobil Arfi pergi.


Mobil Arfi berhenti disebuah rumah sakit,tidak lama kemudian Arfi keluar dari mobilnya. Arfi berjalan memutar, Arfi membuka pintu mobil disebelahnya. kemudian ia menggedong Nayra yang semula berada didalam mobilnya.


Arfi membawa masuk Nayra kedalam rumah sakit, wajahnya terlihat sangat cemas.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


"Dokter Bagaimana keadaan istri saya." Tanya Arfi saat ia melihat dokter sudah selesai memeriksa Nayra.


"Istri bapak baik baik saja, benturan dikepalanya juga tidak terlalu parah."


"tapi, kenapa istri saya pingsan?"


"Mungkin istri bapak sedikit shock karena terkejut, istri bapak juga kelelahan karena itu ia pingsan."


"Apa istri saya sudah sadar? boleh saya masuk kedalam dok?"


"Tadi istri bapak sempat sadar, tapi sekarang sedang tidur. suster sudah memberikannya obat. supaya istri bapak istirahat. kalau bapak mau masuk, masuk saja."


Usai berbicara dengan Arfi, Dokter itu kamudian pergi meninggalkan Arfi sendiri.


Arfi membuka pintu kamar dimana Nayra dirawat. ia melihat Nayra tidur. Arfi berjalan selangkah demi selangkah, jantungnya berdetak kencang. satu tangannya membentuk kepalan, tidak bisa Arfi pungkiri kalau dirinya amat marah karena Nayra sudah membohonginya.


"Nay, kenapa kamu lakukan ini? kenapa kamu membohongi aku? sebesar itu kah keinginananmu untuk berpisah denganku? sampai kamu pura pura mati" Arfi duduk dikursi yang berada didepan tempat tidur Nayra, ia duduk sambil menangis.


Dari lubuk hati Arfi yang paling dalam, sebenarnya ada rasa bahagia karena ternyata Nayra masih hidup, tapi disisi lain Arfi kecewa dengan Nayra.


"Pantas saja, setiap kali melihat Dewi aku selalu merasakan kehadiran Nayra. jadi Dewi itu adalah Nayra. aku benar benar bodoh, aku tidak mengenali istriku sendiri." Arfi memegangi satu tangan Nayra.


"Nay, aku tidak tahu. apa yang akan aku lakukan saat kamu bangun nanti? aku harus marah atau tidak padamu? yang jelas aku bersyukur karena kamu masih hidup."


Arfi tidak menutup pintu kamar Nayra, ia tidak menyadari kalau sejak tadi Renata berdiri didepan pintu.


Ternyata, sampai kapanpun Nayra akan selalu ada dihati Arfi. keputusanku sudah benar. memang seharusnya aku tidak bercerai dengan Satria. kalau aku bercerai dengan Satria lalu menikah lagi dengan Arfi, aku akan berada diantara Arfi dan Nayra. Aku sudah pernah merasakan itu, rasanya sangat sakit. percuma saja Nayra kabur karena sejauh apapun Nayra pergi Arfi tetap tidak bisa melupakan Nayra. Batin Renata sedih.


Renata berjalan, ia melangkah pergi dari pintu kamar. ia lalu duduk dibangku yang berada tidak jauh dari kamar Nayra. Renata berusaha menenangkan dirinya.


Tidak lama kemudian Renata melihat Arfi keluar dari kamar Nayra, Arfi berjalan dengan cepat sehingga ia tidak melihat kehadiran Renata.


"Mumpung Arfi tidak ada, aku akan melihat Nayra."


Renata lalu masuk kedalam kamar Nayra, dilihatnya Nayra duduk diatas tempat tidur sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Nayra ternyata sudah bangun.


"Nayra." Panggil Renata seraya berjalan mendekati Nayra.


"Renata kamu tidak apa apa?" Bukannya mencemaskan dirinya sendiri, Nayra justru terlihat mengkhawatirkan Renata.

__ADS_1


"Aku baik baik saja, aku senang kamu masih hidup."


Kata kata Renata membuat Nayra terdiam,Nayra baru ingat kalau ia sedang pura pura mati.


"Nayra, sekarang kamu tidak perlu menghindari Arfi karena aku sudah bercerai dengan Arfi dan aku sudah menikah lagi." Ujar Renata dengan mata yang berkaca kaca.


"Tapi, kamu akan bercerai lalu kembali lagi bersama Arfi, iya kan?" Nayra mencoba memastikan kalau ucapannya benar.


"Tidak, aku tidak akan pernah kembali lagi bersama Arfi. kamu tidak perlu memikirkan hubunganku dengan Arfi karena sekarang jalan kami sudah berbeda." Walau berat hati dan sedih Renata berusaha menerima kenyataan.


"Nayra, terima kasih karena kamu sudah menolong ku."


"Tidak usah berterima kasih. Aku memang ingin menolongmu, tapi selain menolongmu. aku melakukan itu demi Arfi.


"Demi Arfi?" Renata tidak tahu, apa hubungannya kecelakaan itu dengan Arfi.


"Arfi sengaja ingin menabrakmu, ia sangat marah. kalau terjadi sesuatu padamu, keluargamu pasti tidak akan terima. keluargamu akan menuntut Arfi dan Arfi bisa saja dipenjara, aku tidak mau Arfi dipenjara. jadi biarlah aku yang celaka karena kalau aku celaka, aku tidak akan menuntut Arfi."


Penjelasan Nayra membuat Renata tercengang, hatinya merasa tersentuh. Renata baru menyadari cinta Nayra pada Arfi lebih besar dari pada cintanya pada Arfi.


"Renata, aku tahu. aku dan Arfi sudah melakukan kesalahan besar padamu. kita menjalin hubungan disaat Arfi masih menjadi suamimu, tapi Arfi sudah mendapatkan balasannya. Arfi pernah lumpuh dan dia juga sudah kehilangan kamu." Nayra bicara panjang lebar.


Renata hanya diam mendengar Nayra bicara, Renata tidak tahu harus berkata apa. untuk beberapa saat suasana menjadi hening.


"Nayra maaf, aku harus pulang. Kevin sedang menungguku dirumah. terima kasih kamu sudah menyelamatkan nyawaku. aku permisi." untuk kedua kalinya Renata mengucapkan terima kasih.


Renata kemudian berjalan keluar dari kamar itu, lima menit setelah Renata pergi Arfi datang. ia langsung masuk kedalam dalam kamar Nayra.


"Pak Arfi." Nayra tersenyum senang melihat kedatangan Arfi, Nayra belum tahu kalau penyamarannya sudah terbongkar.


Wajah Nayra sedikit pucat, keringat dingin mengalir didahinya. Meskipun takut dan gelisah, tapi Nayra berusaha untuk tetap tenang.


"Apa maksud bapak?" Nayra berlagak bodoh.


"Nayra, kenapa kamu pura pura mati? kenapa kamu tega membohongi aku?" Arfi mengucang gucang bahu Nayra.


Dari mana Arfi tahu kalau aku adalah Nayra? apa Renata yang memberi tahu Arfi?


Disaat Nayra masih bingung, Arfi kembali bicara.


"Apa kamu tahu? betapa tersiksanya aku saat aku mengira kamu sudah meninggal, setiap hari aku dihantui rasa bersalah." Arfi menurunkan tangannya dari bahu Nayra.


"Maaf." Hanya itu yang bisa katakan.


"Aku tidak akan memaafkanmu. kalau dipikir pikir semua ini salahmu, gara gara kamu aku bercerai dengan Renata. gara gara kamu juga aku sempat lumpuh." Arfi melimpahkan semua kesalahan pada Nayra.


"Kamu pernah lumpuh itu karena kecelakaan dan kamu sendiri yang menceraikan Renata, kenapa jadi aku yang salah?" Nayra tidak mengerti kenapa Arfi menyalahkan dirinya.


"Kalau kamu tidak membawa kabur anak anakku, aku tidak akan merebut anak anak dan kita tidak akan mengalami kecelakaan. kecelakaan yang membuat aku lumpuh, kecelakaan yang membuat orang orang mengira kamu mati."


Arfi membuat Nayra kembali teringat. saat ia ingin membawa anak anaknya pergi, Arfi tiba tiba datang dan mengambil anak anaknya.Nayra lalu mengejar Arfi hingga taksi yang Nayra tumpangi mengalami kecelakaan. melihat Nayra kecelakaan Arfi panik Arfi berlari. ia ingin menghampiri Nayra, tapi Arfi malah tertabrak mobil.


"Sudah ingat? Seandai aku tidak mengalami kecelakaan aku tidak akan lumpuh dan kalau aku tidak lumpuh, aku tidak akan menceraikan Renata. jadi jelas bukan? jelas ini semua salahmu." ucap Arfi dengan mata yang seakan menyala nyala karena terbakar api amarah.


"Aku tidak salah."

__ADS_1


"Apa?" Nayra membuat Arfi bertambah marah.


"Aku bilang aku tidak salah. Aku tidak pernah memintamu lari, Kamu sendiri yang berlari lalu mengalami kecelakaan dan kamu, kamu yang menceraikan Renata bukan aku jadi aku tidak salah." Nayra membantah semua tuduhan Arfi.


"Baiklah kamu tidak salah, Dengar baik baik Nayra. mulai hari ini kamu aku pecat, kamu tidak usah menjadi baby sister anak anakku lagi. satu lagi, jangan pernah berharap kamu bisa bertemu dengan Bintang dan Bulan karena aku tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan anak anakku."


Arfi kesal, Arfi ingin Nayra meminta maaf dan merasa bersalah karena sudah membohonginya, tapi kenyataannya Nayra tidak merasa bersalah.itu membuat Arfi jadi sangat marah.


Brak...


Arfi membanting pintu lalu ia keluar dari kamar Nayra.


"Arfi tunggu! jangan pergi dulu." Nayra mengejar Arfi.


"Arfi, ijinkan aku bertemu dengan anak anak." Nayra memegangi tangan Arfi ketika ia sudah berdiri disamping Arfi, saat itu Arfi sedang berdiri didepan lift.


"Tidak bisa. kalau aku mengijinkanmu bertemu dengan anak anak. kamu akan membawa mereka kabur lalu kita akan kejar kejaran. tidak Nay, aku tidak mau mengalami kecelakaan lagi. aku juga tidak mau lumpuh lagi." Arfi menepis tangan Nayra.


Arfi lalu menekan tombol lift dengan gerakan cepat ia mendorong Nayra, Nayra terjatuh kesempatan itu digunakan Arfi untuk masuk kedalam lift. pintu litf itupun tertutup. Nayra tidak sempat mengikuti Arfi masuk kedalam lift itu.


Nayra tidak ingin berdiam diri saja, meskipun badannya masih terasa lemas ia buru buru bangun lalu menyusul Arfi dengan menggunakan lift lain.


Nayra akhirnya berhasil menyusul Arfi sampai dilantai bawah, Nayra lihat Arfi sudah membuka pintu mobilnya. Arfi sudah bersiap siap untuk masuk kedalam mobilnya.


"Arfi." Panggil Nayra dengan suara keras.


"Nayra." Arfi menoleh.


Nayra berjalan cepat tanpa melihat kekanan dan kekiri, ia juga tidak melihat ketika ada motor yang ingin lewat didepannya.


"Nayra, awas!" Arfi menarik tangan Nayra hingga Nayra terjatuh kedalam pelukannya.


Deg...


Jantung mereka sama sama berdetak kencang, Posisi mereka ketika itu berdiri sambil berpelukan.


"Nay, kamu mau mati?" Bentak Arfi sambil melepaskan pelukannya.


"Iya aku mau mati, lebih baik aku mati dari pada aku harus berpisah dengan anak anakku." Nayra menangis.


Mendengar ucapan Nayra hati Arfi menjadi luluh, ia merasa kasihan melihat Nayra menangis.


"Oke.. oke.. kamu boleh bertemu dengan Bintang dan Bulan, tapi dengan satu syarat." Arfi menyerah, akhirnya ia mengijinkan Nayra bertemu dengan anak anaknya.


"Apapun syaratnya aku setuju."


"Kamu tidak boleh membawa pergi anak anakku, kalau kamu berani kabur. aku jamin kamu benar benar tidak bisa bertemu dengan Bintang dan Bulan." Arfi terlihat masih kesal karena lagi lagi ia kalah dan harus mengalah dengan Nayra.


"Iya.. aku janji, aku tidak akan kabur lagi." Nayra tiba tiba memeluk Arfi, ia sangat bahagia karena Arfi mengijinkannya bertemu Bintang dan Bulan.


"Lepas.. jangan peluk peluk. Aku tidak perduli kamu mau kabur atau tidak, yang aku maksud itu anak anakku. kamu tidak boleh membawa kabur anak anakku. kalau kamu mau kabur,kabur saja sendiri. terserah, kamu mau kabur kemana?"


Nayra hanya tersenyum mendengar ocehan Arfi, ia seperti tidak mendengarkan Arfi yang sedang marah marah.


"Arfi, terima kasih." Nayra kembali memeluk Arfi.

__ADS_1


__ADS_2