
Renata dan Satria duduk dihalaman rumah pak Haris, orang tua Satria. halaman yang luas dan dihiasi dengan bunga bunga serta pepohonan, suasana asri dirumah itu membuat udara disekitarnya menjadi sejuk.
Pak Haris sedang menemani Kevin menonton film kartun ditelevisi, karena itu Renata mengajak Satria bicara.
"Jadi, sebenarnya orang tua kamu kaya? kenapa kamu engga pernah cerita sama aku?" Renata merasa dirinya sudah dibohongi, ia tampak kesal.
"Buat apa? yang kaya itu papaku, bukan aku. aku ingin kita sama sama berusaha dari nol, kita kumpulkan uang kita dan harta kita sama sama."
Ucapan Satria membuat hati Renata tersentuh, amarahnya tiba tiba saja menghilang.
"Aku sangat beruntung mempunyai suami seperti kamu. kamu baik, kamu mau menerima aku apanya. beda sama Arfi, dia itu emosional. gampang marah, gampang tersinggung." Renata membanding bandingkan Arfi dan Satria.
"Renata, kamu jangan banding bandingkan aku dengan Arfi. setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing masing. kamu lupa? kita bisa menikah itu karena Arfi. kalau tidak ada Arfi, Kevin juga tidak akan ada didunia ini." Satria tidak suka Renata membicarakan kekurangan Arfi, ia menasehati Renata.
Mendengar ocehan Satria, Renata bukannya marah tapi ia justru merasa semakin kagum pada Satria. suaminya itu ternyata memang laki laki yang baik, Renata tidak menyesal karena ia sudah menikah dengan Satria.
"Kita masuk kedalam, mungkin Kevin sudah selesai nonton tivi." Renata mengajak Satria masuk kedalam rumah.
Sampai didalam rumah Renata dan Satria melihat Kevin tertidur disofa.
"Kalian dari mana saja?" Tanya Pak Haris ketika Renata dan Satria sudah masuk kedalam rumah.
"Renata mau lihat lihat pemandangan dirumah kita pa." Satria duduk dihadapan Pak Haris.
Melihat Satria duduk Renatapun ikut duduk disamping Satria.
"Satria, besok papa diundang keacara pernikahan. teman papa, anaknya mau nikah, apa kamu mau menemani papa?"
Sejak dulu pak Haris memang suka mengajak Satria ke acara teman temannya. entah itu acara pernikahan, atau acara pesta lainnya. Satria tahu Pak Haris ingin mengenalkan Satria pada anak temannya. mungkin saja salah satu diantara mereka ada yang berjodoh dengan Satria.
Meskipun merasa risih, namun Satria tidak terlalu memikirkan sikap papanya yang sering berusaha menjodoh jodohkan dirinya. sampai suatu hari pak Haris memaksanya untuk menikah, Satria marah kemudian ia kabur dari rumah
Satria menarik napas panjang setelah ia mendengar permintaan pak Haris.
"Renata, kalau kamu mau. kamu dan Kevin boleh ikut."
Tawaran pak Haris membuat Renata dan Satria saling berpandangan.
"Kenapa Satria? kamu pikir papa akan mengenalkanmu dengan perempuan perempuan lalu menjodohkan kamu dengan salah satu diantara mereka." Pak Haris seakan bisa menebak apa yang Satria pikirkan.
"Kamu jangan khawatir. papa tidak ada niat seperti itu. papa justru ingin memperkenalkan Renata pada teman teman papa, supaya mereka tau anak semata wayang papa sudah menikah." ujar pak Haris meyakinkan Satria.
"Baiklah pa, besok aku akan menemani papa." Satria akhirnya menyetujui permintaan pak Haris.
Setelah berbincang bincang sebentar, Renata dan Satria kemudian pamit pulang. Pak Haris merasa keberatan. ia meminta Renata, Satria dan Kevin untuk menginap dirumahnya.
Satria ingin menolak tapi Renata bersedia menginap, mau tidak mau Satria mengikuti keputusan istrinya itu.
"Renata, kamu serius mau menginap disini? Tanya Satria, ketika Satria dan Renata sudah berada didalam kamar.
"Iya aku serius, tadi papa kamu bilang dia baru pulang dari rumah sakit dan papa kamu itu belum sembuh benar. jadi biar kita menemaninya. lagi pula besok tanggal merah, Kevin libur sekolah."
"Sebenarnya aku juga mau menginap, tapi aku kira kamu engga mau nginap karena itu aku menolak."
"Makanya kamu jangan berpikiran buruk dulu." Renata tersenyum mengejek.
"Istriku sekarang pinter ngelelek orang." Satia memeluk Pinggang Renata dari belakang.
Satria melepaskan pelukannya lalu ia membalikan badan Renata hingga mereka berdiri berhadap hadapan. Satria baru ingin mencium Renata ketika tiba tiba ponsel Renata berbunyi.
Renata mengambil ponsel yang ada berada diatas meja, ia lalu menjawab telphone dari teman kerjanya. Renata berjalan menjauhi Satria membuat Satria mendengus kesal.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Sejak pagi Arfi berusaha menelphone Nayra, tapi nomer ponsel Nayra tidak aktif. sampai malampun Ponsel Nayra tetap tidak aktif.
"Kemana Nayra?"
Arfi merebahkan tubuhnya diatas sofa. ia merasa lelah karena seharian tadi ia sibuk bekerja.
"Apa mungkin Nayra masih dirumah ayahnya? atau dia pulang kerumahnya sendiri?" Arfi bertanya tanya.
__ADS_1
"Besok saja aku cari Nayra, sekarang aku ngantuk. dasar, Nayra perempuan keras kepala." Arfi menggerutu sendiri, Karena merasa lelah Arfi memilih tidur.
Keesokan harinya.
Arfi berusaha lagi untuk menelphone Nayra, tapi ponsel Nayra tetap tidak aktif membuat Arfi jadi kesal.
Sebelum pergi untuk mencari Nayra, Arfi mencoba menelphone pak Bisma papanya. Arfi melakukan video call agar ia bisa melihat anak anaknya, Arfi sudah sangat rindu pada Bulan dan Bintang.
Arfi terkejut saat tahu pak Bisma sudah berada dirumah, Arfi mengira pak Bisma dan anak anaknya masih berada diluar negeri. Bu Ayrin memang lupa memberi tahu Pak Bisma, kalau sebaiknya Arfi jangan diberi tahu dulu. bahwa mereka sudah pulang dari luar negeri.
Arfi buru buru pergi kerumah orang tuanya, ia ingin segera bertemu dengan anak anaknya. sampai disana, rumah orang tuanya terlihat sepi. Arfi membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
Orang tua Arfi memang sedang pergi kemini market terdekat, sedangkan beberapa orang yang bekerja disana diliburkan karena tanggal merah.
"Apa dirumah engga ada orang? tapi kenapa pintunya engga dikunci?"
Arfi melihat pintu kamar utama terbuka, Arfi berjalan menuju kamar itu, sampai didepan pintu kamar ia melihat Nayra sedang menyusui Bintang.
"Jadi kamu disini?" Suara bariton Arfi mampu. mengejutkan Nayra.
Nayra melihat Bintang sudah tertidur pulas, berlahan lahan ia meletakan Bintang diatas kasur, Nayra menyudahi memberikan Asi pada anaknya.
Nayra ingin kembali menutup dadanya, tapi Arfi melarangnya.
"Jangan ditutup dulu." Ujar Arfi sambil berjalan menghampiri Nayra.
Nayra tidak menghiraukan ucapan Arfi, ia tetap menutup dadanya lalu mengancingkan bajunya yang tadi terbuka.
"Sayang kamu mau kemana?" Arfi memegang tangan Nayra saat Nayra ingin berjalan melewatinya.
"Bukan urusanmu." Jawab Nayra sinis.
Arfi menarik tangan Nayra, sampai Nayra terjatuh dalam pelukannya.
"Lepaskan aku." Nayra masih kesal karena kemarin Arfi meninggalnya sendiri.
"Aku tidak mau." Arfi justru mempererat pelukannya.
"lagi pula, kamu kabur sendiri. jadi kenapa aku harus menunggumu? kamu bisa kan pulang sendiri?" Arfi tersenyum jahil.
Nayra diam tidak bersuara ia semakin kesal pada Arfi. Nayra sudah dikuasai oleh amarah. rasanya ia ingin mendorong Arfi sampai Arfi jatuh kelantai, tapi karena ponselnya berbunyi ia mengurungkan niatnya.
Nayra mengambil ponsel dari saku bajunya, ternyata ada pesan dari Raddit. Nayra kemudian membaca pesan dari Raddit.
Nay, nanti jam sepuluh aku mau menikah, pernikahan aku dipercepat. ini keinginan orang tua lisa. kamu bisa datang kan? maaf undangnya mendadak.
Nayra ingin membalas pesan dari Raddit, tapi Arfi melepaskan pelukannya dengan gerakan cepat Arfi merebut ponsel Nayra.
Arfi membaca pesan dari Raddit kemudian ia menulis pesan balasan untuk Raddit
Oke, aku akan datang bersama suamiku. Arfi kemudian mengirim balasan pesan itu.
"Apa yang kamu tulis?" Nayra merebut kembali ponselnya.
Nayra kesal karena Arfi dengan lancang membalas pesan untuknya. Nayra ingin menghapus pesan itu tapi Raddit sudah terlanjur membacanya. Raddit membaca pesan yang dikirim Arfi tapi ia tidak membalasnya.
"Raddit engga mau kamu datang, makanya dia engga balas pesan kamu." Ucapan Nayra terdengar seperti orang yang sedang marah.
"Jangan berpikiran buruk, mungkin Raddit sibuk." Arfi tersenyum, ia tidak merasa bersalah.
"Pokoknya, kamu engga boleh ikut. aku mau pergi sendiri. " Nayra tidak ingin Arfi menemaninya karena Nayra takut Arfi bertengkar lagi dengan Raddit lalu merusak suasana pesta.
"Kamu harus pergi denganku. kalau tidak, aku tidak akan mengijinkan kamu pergi."
"Bodo amat, aku tetap mau pergi walaupun tanpa seijin kamu." Nayra tetap dengan keinginannya.
"Ya sudah, sana pergi. pergi yang jauh, nanti begitu kamu sampai dirumah. kamu tidak pernah bisa melihat anak anakmu lagi karena aku akan membawa Bintang dan Bulan pergi."
Nayra langsung terdiam mendengar ancaman Arfi.
"Kenapa kamu selalu mengancamku?" Nayra mengepalkan satu tangannya.
__ADS_1
"Karena cuma itu yang bisa membuatmu menurut." Arfi merasa puas.
"Cepat siap siap, dandan yang cantik. aku tunggu didepan." Bisik Arfi ditelinga Nayra lalu ia pergi meninggalkan Nayra yang masih kesal.
Dua puluh menit kemudian Nayra sudah selesai mandi dan berdandan, ia menghampiri Arfi yang sedang duduk santai diruang tengah.
"Aku sudah selesai." Ujar Nayra sambil berdiri didepan Arfi.
Arfi menatap Nayra tanpa berkedip, Nayra selalu saja membuat Arfi terpesona, apalagi ketika Nayra sudah berdandan. meskipun tanpa berdandan Nayra sudah cantik, tapi saat sudah berdandan aura kecantikan Nayra lebih terpancar padahal Nayra hanya menggunakan make up tipis.
"Undangannya jam sepuluh, sekarang masih jam delapan. kita masih punya waktu dua jam, kemarilah." Arfi menepuk pahanya menandakan kalau ia ingin Nayra duduk diatas pangkuannya.
"Aku tidak mau." Nayra balik badan, ia ingin berjalan pergi meninggalkan Arfi.
Nayra menggunakan sepatu hak tinggi, karena buru buru Nayra jadi terjatuh. Arfi sangat senang karena Nayra jatuh tepat diatas pangkuannya.
Nayra repleks melingkarkan tangannya dileher Arfi. jarak wajah mereka sangat dekat membuat Nayra dan Arfi saling berpandangan dan tanpa meminta persetujuan Nayra, Arfi mencium bibir Nayra.
Nayra memejamkan matanya saat Arfi menciumnya, Arfi terus menciumi Nayra sampai Nayra merasa susah untuk bernafas. ia berhenti mencium Nayra ketika ada suara mobil yang berhenti didepan rumah.
Nayra buru buru berdiri, dengan cepat ia merapikan rambutnya yang tadi berantakan. ternyata yang datang adalah orang tua Arfi,
Pak Bisma dan ibu Ayrin masuk kedalam rumah membuat Nayra jadi salah tingkah.
"Ya ampun Dewi, ini beneran kamu? kamu cantik kalau engga pakai kaca mata. kamu dandan seperti ini, mau pergi kemana?" Ibu Ayrin sibuk memperhatikan kecantikan Nayra, ia sampai mengabaikan kehadiran Arfi.
"Dewi. Saya seperti pernah melihat kamu, tapi dimana?" Pak Bisma terlihat sedang mengingat ingat sesuatu.
"Papi gimana sih? Dewi itu, kerja sama kita. sudah pasti kita sering melihatnya." Ibu Ayrin merasa ucapan suaminya itu aneh.
"Maksud papi, papi sepertinya pernah bertemu Dewi sebelum Dewi kerja disini. penampilan Dewi ya... begini, tidak pakai kacamata." Pak Bisma masih mencoba mengingat ingat dimana ia bertemu Nayra.
"Papi dan mami memang pernah bertemu dia, karena dia adalah Nayra istriku. dia ini bukan Dewi."
Perkataan Arfi membuat Bu Ayrin dan Pak Bisma sangat kaget, Arfi tahu papi dan Maminya akan memarahinya karena itu ia buru buru pergi dari rumah itu.
"Mami, papi Maaf. aku dan Nayra ada urusan, kita pergi dulu. aku titip anak anak." Arfi menarik tangan Nayra lalu ia menuntun Nayra keluar dari rumah itu.
"Tunggu, mami belum selesai bicara." Bu Ayrin memegang dadanya yang tiba tiba terasa sesak.
Bu Ayrin ingin mengejar Arfi dan Nayra, tapi pak Bisma mencegahnya.
"Sudahlah mami, biarakan mereka pergi. kita tidak usah ikut campur urusan anak muda. lebih baik mami istirahat." Saran pak Bisma.
"Engga bisa pi, mami kan harus jagain Bintang dan Bulan."
"Mami istirahat saja, biar papi yang jaga cucu cucu kita."
"Papi tidak apa apa? jagain mereka sendiri."
"Iya... lagi pula mereka juga sedang tidur." Sejak tadi pak Bisma tidak mendengar suara tangisan Bintang dan Bulan jadi ia tahu kalau kedua cucunya itu sedang tidur.
Karena Pak Bisma bersedia menjaga Bintang dan Bulan, bu Ayrin akhirnya memilih untuk beristirahat dikamarnya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Nayra merasa lelah karena Arfi mengajaknya berlari dari dalam rumah sampai tempat dimana mobil Arfi diparkir. walaupun Arfi hanya memarkirkan mobilnya didepan rumah, tapi rumah orang tua Arfi sangat besar. Butuh waktu beberapa menit untuk berlari dari dalam rumah sampai keluar rumah itu.
"Kenapa kita harus pergi?" Tanya Nayra saat mereka sudah masuk kedalam mobil Arfi.
"Aku malas ditanya tanya. nanti papi dan mami pasti bertanya. kenapa Nayra meninggalkan kamu? papi dan mami pasti juga akan bertanya tentang Renata. mereka belum tahu kalau aku sudah bercerai dengan Renata." Arfi menjelaskan.
"Sekarang kamu bisa menghindar, tapi besok atau lusa kamu belum tentu bisa menghidar."
"Yang penting sekarang aku bisa menghindar, kita kan harus pergi kepernikahan Raddit."
"Aku tidak mau pergi sama kamu, aku maunya pergi sendiri. aku... " lagi lagi Nayra menolak pergi berdua dengan Arfi, Nayra marah karena Arfi membongkar penyamarannya
Arfi sangat kesal, sebelum Nayra melanjutkan kata katanya. Arfi sudah menutup mulut Nayra.
"Cerewet." Arfi kembali mencium bibir Nayra.
__ADS_1