Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Menjadi baby sister untuk anakku


__ADS_3

Sebelum pergi kebandara Satria memang sempat menitipkan surat pada suster yang bekerja dirumah sakit tempat dimana Nayra dirawat


Satria tidak bisa mengirim pesan pada Nayra karena ponsel Nayra ikut terbakar bersama taksi yang meledak saat Nayra ingin mengejar Arfi.


Beberapa bulan kemudian


Sejak Arfi keluar negeri Renata tidak pernah menghubungi Arfi. Ia pernah mencoba menelphone Arfi satu kali, tapi lagi lagi Arfi mengucapkan kata kata yang membuat Renata sedih.


Renata juga berpikir tidak ada gunanya ia menghubungi Arfi karena Arfi bukan suaminya lagi dan mereka tidak akan pernah bisa bersama sepertinya dulu.


Selama beberapa bulan terakhir Renata menyibukkan dirinya dengan bekerja dan juga mengurus Kevin, ia berusaha melupakan semua kenangan tentang Arfi. Renata bahkan tidak tinggal dirumah yang dulu ia tempati bersama Arfi, Renata memilih tinggal diapartemen miliknya.


Renata merebahkan tubuhnya diatas sofa, karena hari itu hari minggu Renata tidak bekerja. tidak tahu kenapa Renata tiba tiba teringat akan Arfi, ia, ingat bagaimana Arfi menalaknya.


Sakit itu masih bisa Renata rasakan, semakin Renata berusaha melupakan Arfi. bayangan Arfi semakin nyata.


Renata berdiri dari tempatnya berbaring ia ingin menutup pintu ruang tamu karena ia ingin beristirahat, Renata amat terkejut saat ia melihat Arfi berdiri didepan pintu.


"Arfi, apa benar yang kulihat Arfi? apa ini bukan mimpi?" Renata menepuk nepuk pipinya.


"Engga sayang, kamu engga mimpi" Arfi berjalan mendekati Renata lalu ia memeluk Renata.


"Arfi kamu sudah pulang? kamu sudah sembuh?" Renata menangis bahagia.


Renata sangat bahagia dan terharu karena kaki Arfi ternyata bisa disembuhkan, tapi rasa bahagia itu hanya sesaat muncul dihati Renata karena setelah itu Renata teringat kalau Arfi sudah menceraikannya.


"Lepaskan aku." Renata mendorong dada Arfi hingga pelukakan Arfi terlepas.


"Kenapa sayang?" Tanya Arfi tanpa merasa berdosa.


"Jangan pernah panggil aku sayang karena aku bukan istri kamu lagi, kamu tidak ingat? kita sudah bercerai." Renata mengingatkan Arfi tentang status mereka.


"Renata perceraian kita belum sah secara negara." Arfi seolah tidak bisa menerima kenyataan.


"Siapa bilang? saat kamu diluar negeri aku sudah mengurus perceraian kita kepengadilan agama dan semuanya lebih mudah karena kamu tidak bisa datang kesidang perceraian kita."


"Kenapa kamu lalukan itu Renata?" wajah ceria Arfi mendadak hilang berganti dengan tatapan yang penuh dengan rasa sedih.


"Kamu lupa? aku pernah menelphonemu dan menanyakan tentang perceraian kita dan waktu itu kamu membentakku sambil mengatakan, Kamu urus saja sendiri pencerai kita kepengadilan. lalu kamu memutuskan panggilan telphoneku." Renata mencoba mengingatkan Arfi, tentang sikap kasarnya pada Renata.


"Renata, maafkan aku. waktu itu aku cuma asal bicara, aku kesal karena kamu bicara tentang perceraian." Arfi sangat menyesal.


"Kita tidak usah membahas masalah ini lagi, semuanya sudah jelas. kita sudah resmi bercerai dan kita tidak akan bisa rujuk lagi." Renata mengatakan apa yang menurutnya benar.


"Engga Renata, kita masih bisa rujuk lagi. kita masih bisa jadi suami istri lagi." Arfi merasa yakin.


"Arfi, kamu sudah menjatuhkan talak tiga jadi kita tidak mungkin rujuk lagi kecuali..." Renata tidak ingin melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kecuali kamu menikah lagi dengan orang lain lalu bercerai iya kan?" Arfi menyambung kata kata Renata.


"Renata, menikahlah dengan laki laki lain setelah itu kamu bercerai dengan begitu kita bisa menikah lagi."


"Tidak Arfi, aku tidak mau. apa kamu sudah gila? saat bercerai denganmu. aku sudah memutuskan, aku tidak akan menikah lagi. kalaupun aku menikah lagi, aku ingin menikah karena cinta bukan karena aku ingin kembali lagi denganmu." Renata tampak kesal mendengar permintaan Arfi yang tidak masuk akal.


"Renata, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? kamu tidak mau menjadi istriku lagi?" wajah Arfi terlihat sangat sedih.


"Arfi perasaan aku masih sama seperti dulu, tapi hubungan kita tidak punya masa depan. dulu waktu kamu diam diam menjalin hubungan dengan Nayra. kamu masih bisa menjadikan Nayra istri kedua, tapi aku. aku tidak mungkin menjadi istri kamu lagi." Melihat Arfi sedih Renata jadi merasa kasihan.


"Tidak ada yang tidak mungkin, kalau kamu mau berusaha. Renata, menikahlah dengan laki laki lain setelah itu bercerai dengan begitu kita bisa rujuk." Arfi mengulangi permintaannya ia ingin Renata menikah, Renata yang semula kasihan pada Arfi menjadi marah.


"Arfi, kamu benar benar keterlaluan. kamu menceraikan aku seenaknya dan sekarang kamu meminta aku menikah supaya kita bisa rujuk. kamu pikir dunia ini berputar sesuai dengan keinginanmu? AKU TIDAK MAU." Dengan tegas Renata menolak permintaan Arfi yang membuatnya kesal.


"Renata please. kali ini saja, turutilah keinginanku." Seakan tidak ingin menyerah dan seakan akan keinginannya adalah sesuatu yang wajar dan benar Arfi terus membujuk Renata.


"Aku tidak mau! sebaiknya sekarang kamu pergi dari sini!" Renata mengusir Arfi.


Renata mendorong tubuh Arfi sampai didepan pintu apartemennya.


"Kamu cari saja wanita lain karena sampai kapanpun aku tidak mau menikah lagi."


Brak....


Renata membanting pintu karena kesal.


"Ada apa pak? Kenapa bapak keliatan sedih?"


Satria sedikit bingung dengan perubahan sikap Arfi, tadi ketika tiba dibandara Arfi terlihat sangat bahagia. bahkan Arfi sering tersenyum saat mereka akan pergi keapartemen Renata, tapi kenapa Arfi tiba tiba menjadi sedih.


Arfi kemudian menceritakan semua pada Satria. dimulai saat dulu ia menjatuhkan talak tiga pada Renata, sampai ia meminta Renata untuk menikah lagi dengan laki laki lain.


Satria terkejut mendengar cerita Arfi. entah mengapa ia juga kesal dan marah saat tahu Renata diperlakukan seperti itu, tapi ia hanyalah seorang bawahan. ia tidak punya haknya untuk memarahi Arfi.


"Pak, kalau bapak mau saya bisa bantu bapak?" Melihat Arfi yang sedih Satria berinisiatif menawarkan bantuan.


Meskipun bosnya itu sangat menjengkelkan, tapi Satria tidak tega melihatnya sedih.


"Kamu bisa bantu aku?" Arfi menoleh kearah Satria yang sedang fokus menyetir, Arfi merasa ragu apa benar Satria bisa membantunya.


"Saya akan coba pak?" Jawab Satria merasa yakin.


"Sekarang kita kerumah Mami dan papiku saja." Arfi sepertinya enggan membahas lagi masalahnya dengan Renata.


Arfi memejamkan matanya ia merasa sangat lelah.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Nayra sedang menggendong Bintang sambil berjalan mondar mandir agar anaknya itu mau tidur, sementara Bulan sudah tertidur pulas diatas tempat tidur.


Setelah tahu Arfi sedang pergi keluar negeri, Nayra segera mencari tahu keberadaan anak anaknya. Nayra mengira Arfi membawa Bintang dan Bulan keluar negeri dan Nayra tidak bisa bertemu dengan anak anaknya.


Nayra sangat bahagia saat ia tahu Arfi menitipkan Bintang dan Bulan pada kedua orang tuanya. Nayra kemudian melamar pekerjaan sebagai baby sister dirumah orang tua Arfi, syukurlah Nayra diterima bekerja disana. Nayra jadi bisa dekat dengan anak anaknya.


"Mami.. papi... aku pulang."


Deg...


Jantung Nayra berdebar debar, ia hafal benar suara siapa yang ia dengar


"Arfi, dia sudah pulang dari luar negeri." Ada sedikit rasa takut dihati Nayra.


Ibu Ayrin yang sedang berada diruang makan bisa mendengar suara Arfi, ia bergegas pergi keruang tamu untuk melihat apa anaknya itu sudah pulang.


"Arfi, kamu sudah pulang nak?" Ibu Ayrin sangat senang melihat Arfi sudah pulang apalagi Arfi juga sudah sembuh.


"Iya mami, aku sudah pulang." Arfi memeluk ibu Ayrin.


"Arfi, mami senang sekali kamu sudah sembuh. kamu sudah bisa berjalan lagi." Ibu Ayrin menangis terharu.


"Sudah, mami jangan nangis. oiya rumah ini sepi dimana papi?" Arfi melepaskan pelukannya pada ibu Ayrin.


"Papi kamu sedang mengantar Kevin beli eskrim."


"Jadi Kevin ada disini?"


"Iya, papi kamu kangen sama Kevin karena itu tadi papi kamu menjemputnya diapartement Renata."


Pantas saja tadi aku tidak bertemu Kevin. Batin Arfi.


"Lalu dimana Bintang dan Bulan?"


"Mereka ada dikamar bersama Dewi"


"Siapa Dewi?" Meskipun belum bertemu Dewi, Arfi merasa sudah mengenalnya.


"Dewi itu pengasuhnya Bulan dan Bintang, Mami memperkejakan tiga orang Baby sister untuk mengasuh anak anak kamu, tapi kalau hari minggu mereka minta libur. cuma Dewi yang mau bekerja dihari minggu." Ibu Ayrin memuji muji Dewi yang sebenarnya adalah Nayra.


Nayra memang menggunakan nama samaran, ia tidak ingin Arfi dan keluarganya tahu kalau ia masih hidup. Nayra juga menggunakan kaca mata serta mengikat rambutnya agar tidak ada yang mengenalinya.


"Ayo kita kekamar Bintang dan Bulan." Ibu Ayrin menuntun Arfi kekamar Bintang dan Bulan.


Nayra yang sejak tadi berdiri dibelakang pintu menjadi panik.


"Bagaimana ini? Bu Ayrin dan Pak Bisma mungkin tidak mengenaliku karena dulu kita baru beberapa kali bertemu, tapi Arfi.. aku takut dia mengenaliku. kalau Arfi tahu Dewi itu adalah aku. dia pasti akan memecatku dan dia tidak akan mengijinkan aku bertemu dengan anak anakku. Dia juga pasti marah karena aku pura pura mati, aku sudah membohongi dia." Nayra tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Langkah kaki Arfi dan Ibu Aryin semakin lama semakin dekat, jantung Nayrapun berdetak lebih kencang.


__ADS_2