Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Pergi dari rumah


__ADS_3

Satria tidak mengerti mengapa Nayra dinyatakan meninggal dengan tubuh hangus terbakar, padahal jelas jelas Nayra masih hidup. Satria lalu meminta seorang detektif untuk menyelidiki hal itu.


Dari detektif itu Satria tahu bahwa ada sebelum taksi yang ditumpangi Nayra meledak ternyata ada seorang wanita yang mendekati taksi itu.


Wanita itu sedang mabuk, kebetulan sekali tinggi badannya sama dengan Nayra umurnyapun kelihatannya tidak berbeda jauh dengan Nayra, karena polisi dan Arfi merasa yakin kalau jasad wanita yang terbakar itu adalah jasad Nayra.


Arfi bahkan langsung mengakui kalau wanita yang terbakar adalah Nayra istri keduanya, sehingga polisi tidak melakukan identifikasi.


Nayra sayang, maafkan aku. setelah kamu pergi aku baru mengakui kalau kamu adalah istriku. Batin Arfi saat itu.


Karena Kecelakaan itu terjadi pada malam hari, Arfi dan keluarganya memutuskan memakamkan Jasad wanita yang dianggap Nayra itu keesokan harinya.


Pagi harinya


Arfi benar benar mengira jasad yang hangus itu adalah jasad Nayra, ia memakamkan jasad itu dipemakaman yang tidak jauh dari rumah yang pernah ia beli untuk Nayra.


Usai acara pemakaman, orang orang yang mengantar proses pemakamanpun satu persatu mulai pulang. Yang tertinggal hanyalah Arfi, Renata, Satria dan kedua orang tua Arfi.


"Arfi, kenapa ini bisa terjadi? mami belum sempat mengenal Nayra lebih dekat, tapi dia sudah pergi meninggalkan kita." Melihat putranya yang matanya sembab karena habis menangis, ibu Ayrin jadi sedih.


"Mami, sudahlah. jangan membuat Arfi bertambah sedih." tegur Pak Bisma.


Arfi hanya diam, Setelah tadi malam ia mengamuk dan memaki maki semua orang akhirnya ia bisa tenang. entah ia sudah tidak punya tenaga untuk bicara, entah dia sedang depresi yang pasti Arfi hanya diam membisu.


"Arfi, Renata. papi dan mami pulang duluan nanti kalau ada waktu papi dan mami akan jiarah kesini." tidak ingin istrinya lebih banyak bicara pak Bisma bergegas meninggalkan pemakaman itu.


"Satria, sebentar lagi Kevin pulang sekolah. tolong jemput dia." Setelah semalaman diam tak bersuara, Arfi akhirnya bicara juga.


"Baik pak, saya permisi." Satria pergi meninggalkan tempat itu.


"Arfi, ayo kita pulang. langit mendung keliatannya mau turun hujan.


Arfi tidak menjawab, ia membiarkan Renata mendorong kursi roda yang ia pakai.


Sebenarnya aku masih ingin disini, tapi Renata benar. sebentar lagi mau hujan, sebaiknya aku pulang dulu. Nay maaf, aku harus pulang. aku janji aku akan datang lagi kesini.


Sesampainya dirumah Arfi kembali diam, ia masih tidak percaya kalau Nayra sudah tiada.


"Semua ini salahku, seandainya saja aku tidak mengambil Bintang dan Bulan. Nayra tidak akan mengejarku dan dia tidak mengalami kecelakaan." Ucap Arfi penuh penyesalan.


Meskipun Arfi bicara dengan suara yang pelan, Renata bisa mendengar apa yang Arfi katakan.

__ADS_1


Arfi dan Renata sedang berada diruang tamu, Arfi masih duduk dikursi roda sedangkan Renata duduk bersandar diatas sofa.


"Arfi kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri, mungkin semua ini takdir." Renata tidak ingin Arfi terlalu menyalahkan dirinya sendiri hingga ia semakin larut dalam kesedihan.


"Renata, sebaiknya kita pisah." ucapan Arfi membuat Renata terkejut.


"Apa maksudmu?"


"Aku sekarang lumpuh, aku sudah tidak berguna lagi. aku tidak ingin kamu menghabiskan hidupmu hanya untuk merawat laki laki lumpuh seperti aku."


"Arfi, kenapa kamu bicara seperti itu, kita ini suami istri. susah senang kita akan tetap bersama. waktu karir kamu sedang berada diatas, aku ada disamping kamu. sekarang saat kamu sakit aku juga ingin tetap ada disamping kamu." Renata yang sedang duduk dihadapan Arfi lalu memegang tangan Arfi.


"Maaf Renata, aku tidak bisa." Arfi menarik tangannya.


"Kenapa?" Renata menarik nafas dalam dalam.


"Aku tidak ingin menyakitimu lagi. saat aku menikah dengan Nayra, aku tahu hati kamu pasti hancur. aku tahu hati kamu juga sakit, tapi kamu berusaha untuk tegar dan memafkan kesalahanku. Sekarang setelah Nayra pergi, kamu akan merawat aku yang sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi. Renata, aku tidak akan membiarkan itu. ini tidak adil untukmu." Arfi mencoba memberi pengertian pada Renata.


"Ini mungkin hukuman yang seharusnya aku terima. aku sudah menghianati kamu dan menyakiti hati Nayra, aku ini serakah karena itu aku pantas kehilangan Nayra dan juga dirimu." lanjut Arfi, sesekali ia menghapus air matanya.


"Tidak aku tidak mau pisah. Kalau kita berpisah, bagaimana dengan Kevin?" Renata tidak ingin bercerai dengan Arfi.


"Kamu tenang saja, walaupun kita berpisah. aku tetap menyayangi Kevin. Rumah ini akan aku berikan padamu. aku akan pergi dari sini. kalau Kevin ingin bertemu denganku. aku yang akan datang kesini." Arfi yakin kalau bercerai dengan Renata adalah keputusan yang terbaik.


"Arfi jangan pergi." Renata menangis sambil mengikuti Arfi yang sudah mendorong kursi rodanya sendiri kedepan teras rumah.


Ketika Arfi dan Renata sudah sampai didepan teras rumah, Arfi dan Renata melihat Satria dan Kevin datang. Satria dan Kevin keluar dari mobil, Kevin langsung berlari menghampiri Arfi dan Renata.


"Papa..." Kevin memeluk Arfi sambil menangis.


"Sayang, kamu kenapa nangis?" Tanya Arfi, ia tidak tahu kenapa anak kesayangannya itu menangis.


"Pa.. apa benar bu Nayra meninggal?" Kevin melepaskan perlukannya, ia masih menangis.


Arfi terdiam ia semula enggan memberitahu tahu Kevin, tapi karena Kevin terus bertanya Arfi akhirnya menjawab pertanyaan Kevin.


"Iya sayang, itu benar." Arfi tidak ingin membohongi Kevin karena cepat atau lambat Kevin akan tahu. begitu pikir Arfi.


"Kenapa papa engga bilang sama aku?" Kevin sangat sedih.


"Papa cuma engga mau kamu sedih." Arfi mengelus elus kepala Kevin.

__ADS_1


"Papa, mau kemana? papa mau pergi lagi?" Air mata Kevin berjatuhan.


"Kevin sayang, kamu lihat kan. papa sakit, papa tidak bisa berjalan. papa mau kerumah sakit, mau berobat supaya kaki papa sembuh." Arfi sebenarnya tidak tega meninggalkan Kevin dan Renata, tapi ia terpaksa melakukan itu. Arfi tidak menyusahkan Renata.


"Jaga diri kamu baik baik ya sayang, jangan nakal. papa janji kalau papa sudah sembuh, papa pasti akan pulang." Arfi memeluk Kevin yang sedang berdiri dihadapannya.


"Papa.. papa ati ati dijalan, papa cepet sembuh. cepet pulang." Kevin menangis dipelukan Arfi.


Tidak, aku tidak boleh putus asa. aku pasti bisa sembuh lagi. Kata kata Kevin membuat Arfi bersemangat untuk sembuh.


Arfi mengambil ponsel yang ada disaku bajunya, ia lalu mengirim pesan pada Renata.


Renata, aku akan berobat sampai kakiku sembuh. kalau kakiku sembuh aku akan pulang kerumah ini, tapi kalau kakiku tidak bisa disembuhkan. aku tidak akan pernah kembali lagi, tunggu aku Renata. doakan supaya aku bisa berjalan lagi.


Renata meneteskan air mata setelah membaca pesan dari Arfi, ia juga sedih karena melihat Kevin dan Arfi menangis sambil berpelukan.


Setelah berpamitan pada Kevin dan Renata, Arfi pergi dari rumah itu. Arfi meminta Satria untuk mengantarnya kerumah kerumah kedua orang tuanya.


Sementara itu dirumah sakit.


Nayra memegangi pipi kirinya yang ditutupi perban, tubuhnya terasa pegal pegal. Nayra yang semula duduk lalu berbaring. Nayra menutup matanya, ia ingin tidur.


Baru beberapa saat Nayra memejamkan matanya. pintu kamarnya sudah dibuka seseorang, membuat Nayra kembali membuka matanya.


"Satria." Nayra melihat Satria berjalan kearahnya.


"Nay, aku punya berita bahagia buat kamu." Satria duduk dikursi yang berada didepan tempat tidur Nayra.


Sejak Satria menolong Nayra mereka sudah seperti teman dekat, tidak ada kata kata formal lagi diantara mereka. bahkan Satria sudah tidak pernah memanggil Nayra dengan panggilan Bu Nayra, Satria memanggil Nayra dengan namanya saja tanpa embel embel Ibu.


"Berita bahagia apa?" Nayra jadi penasaran.


"Kamu tidak perlu menghindar dan kabur lagi dari pak Arfi karena pak Arfi tidak akan mencari kamu. bagi pak Arfi, kamu sudah mati."


"Maksudnya?" Nayra tidak terlalu mengerti apa maksud dari ucapan Satria.


"Jadi, ada perempuan yang meninggal ditempat kamu kecelakaan. Pak Arfi dan semua orang itu mengira perempuan itu kamu." Satria bercerita agar Nayra mengerti.


Bukannkah ini yang aku inginkan, tapi kenapa aku merasa sedih? Batin Nayra.


"Nay, kenapa kamu keliatan sedih?" Satria melihat raut wajah Nayra yang mendadak berubah.

__ADS_1


"Aku tidak apa apa." Nayra mengelak.


"Apa kamu tidak berencana mengambil anakmu. Tanya Satria.


__ADS_2