
Nayra meninum segelas air yang tadi diberikan Satria. sesudah minuman itu habis Nayra meletakan gelasnya diatas meja, Nayra merasa lelah sehingga ia tidak ingin beranjak dari sofa itu. Nayra menaikan kedua kakinya keatas sofa kemudian ia membaringkan tubuhnya.
"Sejak menikah dengan Arfi, entah sudah berapa kali aku membereskan baju dan pergi dari rumah. Tapi siapa sangka setelah berputar putar, pindah dari satu tempat ketempat lain pada akhirnya takdir membawaku kerumah ini." Nayra bicara sendiri.
Karena lelah Nayra memejamkan matanya, ia lebih memilih untuk tidur disofa. lima menit kemudian Nayra sudah berada dialam mimpi, ia tertidur pulas.
Sementara itu dirumah Arfi. Arfi, Renata dan Kevin sudah sampai dirumah. Renata langsung membawa Kevin kekamarnya, Renata menemani Kevin beristirahat dikamarnya. Sedangakan Arfi. ia pergi kedapur karena haus Arfi mengambil segelas air.
Ponsel disaku baju Arfi bergetar, membuat Arfi yang sedang minum merasa terganggu.
Arfi meletakan gelas yang ia pegang diatas meja. lalu Arfi mengambil ponsel dari saku bajunya, Arfi membaca pesan yang baru saja masuk, ternyata pesan itu dari Satria.
Pak Arfi, saya sudah mengantar bu Nayra. sekarang bu Nayra sudah pindah kerumah yang bapak beli.
Arfi tersenyum ketika ia membaca pesan dari Satria.
Aku pernah meminta Nayra untuk tinggal dirumah itu, tapi Nayra menolak. Apa yang dikatakan Satria? Sampai sampai Nayra setuju tinggal dirumah itu.
Arfi jadi kesal sendiri, ia langsung menephone Satria.
"Hallo pak, ada apa?" Satria menjawab telphone Arfi.
"Satria, kamu bicara apa dengan Nayra? Kenapa dia mau tinggal dirumah itu?" Suara Arfi terdengar seperti orang yang sedang marah.
"Saya tidak mengatakan apa apa?" Jawab Satria.
"Bohong kamu. saya suami Nayra, tapi saya tidak bisa membujuk Nayra. sedangkan kamu orang lain, tapi Nayra mau menuruti kamu. pasti kamu mengatakan sesuatu." Arfi sangat marah.
"Aduh...pak, saya juga tidak tahu. Nanti kalau ketemu kita bahas lagi, sekarang saya lagi nyetir. udah dulu ya pak." Satria menutup telphone dari Arfi.
"Kebiasaan, lagi lagi dia menutup telphoneku." Arfi melemparkan ponselnya.
Arfi mengambil kembali ponselnya, kemudian ia menulis pesan untuk Satria.
Satria cepat kerumahku, sekarang! Kalau tidak, aku pecat kau.
Begitulah kira kira isi pesan yang Arfi tulis. Arfi segera mengirim pesan itu pada Satria.
Satria mendengus kesal saat ia membaca pesan dari Arfi, dengan cepat Satria bergegas pergi menuju rumah Arfi. Saat sudah sampai didepan pintu rumah Arfi, ponsel Satria bergetar.
Tenyata Nayra yang menephone Satria, Satria terseyum senang.
"Ada apa bu Nayra?" Tanya satria, Satria menjawab telphone dari Nayra
"Aku mau rujak." ucap Nayra membuat Satria melongo.
"Ibu Nayra, kalau ibu mau rujak. ya beli. Kenapa bilang sama saya." Satria merasa kelakuan Nayra aneh.
"Kamu kan tadi bilang, kalau aku butuh bantuan. Aku bisa minta tolong kamu"
"Iya bu Nayra, tapi kalau beli rujak. Ibu bisa sendiri, tidak perlu bantuan saya. Ibu pesan lewat online saja."
"Tidak mau." Nayra menolak.
"Kenapa?"
"Ini sudah malam, tempat ini juga sepi. Saya tidak berani menerima tamu." Suara nayra terdengar seperti anak kecil yang meminta mainan pada orang tuanya.
"Ya sudah nanti saya belikan, ibu tunggu saja." Satria mengela napas
"Nanti? tidak ada nanti nanti. Saya mau sekarang."
__ADS_1
"Saya tidak bisa bu, sekarang saya sedang dirumah pak Arfi. nanti pulang dari rumah pak Arfi, saya akan langsung beli rujak."
"Kamu bilang hari ini kamu libur. Jadi mana mungkin kamu ada dirumah Arfi, kamu pasti bohong." Nayra tidak percaya Satria ada dirumah Arfi.
"Saya tidak bohong bu Nayra, ibu mau bukti? Kalau begitu kita video call, biar ibu bisa lihat saya." Satria kesal.
Satria lalu mengubah panggilan telphonenya menjadi video call, Satria mengarah kan ponselnya kedalam rumah Arfi. Nayra bisa melihat Arfi, wajah Arfi terlihat sangat marah.Arfi bahkan kembali melempar ponselnya. Arfi tidak menyadari kalau Satria sedang bediri didepan pintu.
Arfi juga tidak menyadari kalau Renata sedang berjalan mendekatinya, tanpa sengaja ponsel yang Arfi lempar mengenai kepala Renata, ponsel itu lalu jatuh keatas sofa. Arfi memang sengaja melempar ponselnya kearah sofa agar ponselnya tidak jatuh kelantai.
"Aww.. " Renata meringis kesakitan.
"Renata, maaf aku tidak sengaja" Arfi ingin menyentuh dahi Renata yang terkena lemparan ponsel miliknya.
"Tidak apa apa, sakit ini tidak sebanding dengan sakit dihatiku." Renata menepis tangan Arfi.
Kata kata Renata membuat hati Arfi merasa bersalah.
"Renata, maafkan aku." Arfi hanya bisa meminta maaf.
"Sudahlah Arfi, kamu tidak perlu minta maaf. lebih baik kamu talak aku sekarang."
"Renata, kamu jangan bercanda."
"Aku serius dengan kata kataku. aku mau kita bercerai, aku tidak mau menjadi penghalang hubungan kamu dan Nayra."
"Renata sayang, siapa yang bilang kalau kamu itu penghalang? Renata dengarkan aku, aku dan Nayra akan bercerai setelah anak kita lahir. Setelah itu aku dan Nayra tidak punya hubungan apa apa lagi." Arfi memegang tangan Renata.
Melihat pemandangan menyakitkan didalam layar ponselnya, hati Nayra terasa sakit. Nayra ingin menutup telphonenya, tapi ia penasaran. Nayra ingin tahu apa lagi yang akan Arfi dan Renata bicarakan.
"Awalnya aku merasa Nayra itu pelakor, tapi setelah tahu dulu kalian dulu pernah pacaran dan hampir menikah aku baru sadar. Nayra bukan pelakor. Justru aku, aku yang ada diantara kalian." cerita Renata.
"kamu tahu dari mana kalau aku dan Nayra pernah pacaran?"
Jadi Renata sudah tahu, kalau aku ini mantan pacarnya Arfi. Nayra menutup telhonenya, ia sudah tidak ingin mendengar pembicaraan Arfi dan Renata.
Kenapa Nayra mematikan telphonenya? Satria bertanya tanya.
Karena tidak ingin mengganggu Renata dan Arfi, Satria memilih untuk meninggalkan rumah Arfi. beberapa saat setelah Satria pergi datanglah sebuah mobil hitam, mobil itu berhenti didepan halaman depan rumah Arfi.
Mendengar ada suara mobil yang berhenti Arfi dan Renata segera keluar dari rumah.
"Arfi, itu kan mobil mami." Ucap Renata.
"Iya benar." Arfi melihat maminya keluar dari mobil.
Mami pasti mau tanya, aku sudah hamil atau belum. Renata menghela nafas.
Mami ada apa?" Arfi menghampiri ibu Ayrin.
"Memangnya harus ada apa apa? Kalau mami mau datang kerumah kamu." ibu Ayrin menyipitkan matanya.
"Mami ayo kita masuk, diluar dingin." Renata mengajak ibu Ayrin masuk rumah.
Renata lalu membuatkan teh hangat untuk ibu Ayrin.
"Mami, ini diminum tehnya." Renata meletakan secangkir teh dimeja.
Arfi, Renata dan Ibu Ayrin duduk bertiga diruang tamu.
"Renata, bagaimana? Kamu sudah hamil?" Ibu Ayrin meminum teh yang dibuat Renata.
__ADS_1
Dugaan Renata ternyata benar. mertuanya datang hanya untuk menanyakan, Apa ia sudah hamil. Renata terdiam, sudah tiga bulan bu Ayrin sering menelphone Renata dan menanyakan pertanyaan yang sama.
Renata tidak pernah menjawab, ia selalu mencari cara untuk menyudahi percakapan mereka. entah dengan mengatakan tidak ada sinyal, atau ia sedang buru buru ingin menjemput Kevin.
Ada saja alasan Renata untuk tidak membicarakan tentang kehamilan, tapi kali ini Renata tidak bisa menghindar karena ibu mertuanya datang kerumah.
"Belum, Renata belum hamil." Arfi yang menjawab pertanyaan ibunya.
"Kenapa belum hamil juga? mungkin kalian kurang berusaha." Bu Ayrin kecewa.
"Bagaimana kalau kita kerumah sakit? Mami punya kenalan dokter. mungkin dia bisa membantu supaya Renata bisa cepat hamil." ibu Ayrin memberi saran.
"Mami, tolong jangan memaksa aku dan Renata untuk punya anak, lagi pula kita berdua sudah punya Kevin." Arfi merasa lelah karena ibunya terus meminta Renata untuk hamil.
"Kenapa kamu jadi marah? Memangnya salah kalau ibu pingin punya banyak cucu." Ibu Ayrin berdiri, ia kemudian berjalan keluar dari rumah Arfi.
"Mami tunggu, mami jangan marah." Arfi mengikuti Ibu Ayrin.
Melihat Arfi dan Ibu Ayrin berjalan keluar rumah, Renatapun ikut keluar rumah.
"Iya mami, mami jangan marah. Besok aku akan ikut mami kedokter." Renata membujuk ibi Ayrin.
"Beneran?" wajah sedih Ibu Ayrin tiba tiba menghilang.
Renata hanya terseyum.
"Kamu ini memang menantu idaman, menantu kesayangan mami. O.. iya ngomong ngomong dimana Kevin? Mami sampai lupa menanyakan cucu mami." Ibu Ayrin sangat senang Renata bersedia kedokter.
"Kevin tidur, tadi kita habis jalan jalan kepantai. Mungkin dia cape." Jawab Renata.
"Begitu ya, ya sudah. Mami pulang dulu. besok mami akan datang lagi, mami akan jemput kamu." Ibu Ayrin masuk kedalam mobilnya.
Didalam mobil itu, supir ibu Ayrin sudah menunggu.
"Arfi, kalau besok kamu tidak mau ikut. ibu tidak akan memaksa." Ibu Ayrin bicara karena jendela mobilnya masih terbuka.
Ibu Ayrin menutup kaca jendela mobil lalu mobil itu berjalan meninggalkan rumah Arfi.
"Renata kamu serius mau kerumah sakit?" Tanya Arfi.
"Iya, biar mami kamu tahu. Kalau aku tidak bisa punya anak lagi."
"Apa? Renata kamu jangan ngomong sembarangan." Arfi mengira Renata hanya asal bicara.
"Arfi ini kenyataan, sebenarnya aku sudah pernah kedokter dan dokter bilang aku tidak bisa punya anak lagi." Renata akhirnya mengakui kalau ia tidak bisa punya anak lagi.
"Kapan kamu kerumah sakit?"
"Saat aku menolong Nayra dari gangguan preman preman."
"Sudah selama itu dan kamu baru bilang sekarang." Arfi membentak Renata.
"Arfi, kamu tidak perlu marah marah. Aku memang tidak bisa memberikan kamu anak lagi, tapi Nayra bisa. Jadi untuk apa kamu marah?" Renata sedih.
"Renata, yang keluargaku harapkan itu anak dari kamu bukan dari Nayra."
"Yang mami kamu harapkan itu cucu, meskipun bukan dari aku mami kamu pasti akan senang." Renata menangis.
"Dimata keluargaku dan dimata semua orang hanya kamu istriku. mereka tidak tahu kalau aku sudah menikah lagi dengan Nayra."
"Kalau begitu kamu beritahu keluargamu dan kamu beritahu semua orang, kalau kamu sudah menikah dengan Nayra." Renata berkata dengan nada suara tinggi.
__ADS_1
Renata kemudian meninggalkan Arfi sendirian, ia masuk kedalam rumah sambil menghapus air matanya.