
Nayra baru saja pulang dari Mall, untuk membuang rasa jenuhnya ia pergi keMall disana Nayra membeli buah dan sayur sayuran. Nayra juga membeli bahan bahan lain untuk mengisi lemari esnya yang kosong.
Aku harus cari pekerjaan lagi, sebelum uangku benar benar habis. Batin Nayra.
Selesai belanja keperluan dapur Nayra pulang menggunakan taksi online, taksi yang Nayra naiki ternyata melewati perumahan dimana Arfi dan Renata tinggal pernah tinggal bersama.
Apa aku mampir saja kerumah Renata, mungkin saja Renata masih tinggal disana dan dia tau kemana Arfi liburan?
"Pak tolong, belok kanan." Nayra meminta supir taksi itu untuk masuk kedalam perumahan itu.
Belum sampai didepan rumah Renata dan Arfi, Nayra sudah dikejutkan karena ia melihat Arfi dan Renata duduk berdua ditaman.
"Pak, berhenti dulu sebentar." Nayra meminta supir taksi itu untuk menghentikan mobilnya.
Nayra sengaja tidak turun dari turun taksi karena Nayra tidak ingin Arfi dan Renata melihatnya.
Arfi, berhari hari aku kebingungan mencarimu, tenyata kamu disini. Nayra menjadi sedih tanpa terasa air matanya jatuh.
Nayra tidak bisa mendengar apa yang sedang Arfi dan Renata bicarakan, tapi ia bisa melihat Arfi dan Renata. walaupun Nayra melihatnya dari jarak yang tidak terlalu dekat, lampu ditaman itu cukup terang hingga membuat Nayra bisa melihat Arfi dan Renata dengan jelas.
Arfi memasukan cincin yang diberikan Renata kedalam saku bajunya.
"Aku pergi dulu. aku tidak mau lama lama disini, Satria pasti sedang mencariku." ucap Renata memecahkan keheningan malam, ia berdiri dari duduknya.
Arfi tidak menjawab, ia hanya tertunduk lesu. matanya memerah dan ia tidak dapat lagi menahan air matanya yang jatuh.
"Arfi, kamu kenapa nangis?" Renata menjadi cemas, ia mengira Arfi sakit. Renata duduk kembali disebelah Arfi.
"Aku tidak apa apa, aku cuma tidak menyangka kalau pernikahan kita akan hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi." Arfi menyeka air matanya.
"Maaf, maaf aku sudah ingkar janji." Melihat Arfi menangis Renata jadi ikut menangis.
Mereka sama sama menangis tanpa suara.
"Kamu tidak perlu minta maaf, aku yang salah. aku yang menduakan kamu, aku yang menceraikanmu, aku juga yang memaksa kamu menikah dengan Satria." lagi lagi Arfi menyeka air matanya.
"Kalau memang kamu bahagia bersama Satria, aku rela. Renata, apa kamu bisa kamu memenuhi satu permintaanku? Setelah ini aku tidak akan meminta apa apa lagi darimu, aku juga tidak akan mengganggu rumah tanggamu." Pinta Arfi dengan wajah penuh harap.
"Apa permintaanmu?" Tanya Renata ingin tahu.
"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali?"
Renata terdiam ia tidak berkata apa apa, tapi ia menggeser duduknya hingga ia duduk sangat dekat dengan Arfi. dengan lembut Renata memeluk Arfi dari samping.
Nayra menutup mulutnya dengan satu tangannya. ia sebenarnya tidak ingin menangis, namun rasa sakit dihatinya membuat Nayra menangis dengan sendirinya.
"Jalan pak." Nayra menghapus air matanya.
Supir taksi itu menjalankan taksinya sesuai dengan keinginan Nayra.
Renata dan Arfi berpelukan, apa mungkin Renata sudah bercerai dengan Satria? dan sekarang Renata kembali lagi bersama Arfi lalu mereka tinggal satu rumah seperti dulu.Nayra mulai menerka nerka.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Arfi, aku pulang dulu. Kevin dan Satria pasti mencari aku." Renata melepaskan pelukannya.
"Iya.. aku juga mau pulang." Arfi membiarkan Renata pergi terlebih dahulu.
Beberapa saat setelah Renata pergi barulah Arfi beranjak pergi meninggalkan taman itu, Arfi tidak ingin Satria salah paham karena ia dan Renata jalan berdua.
Sampai didepan rumah, Arfi melihat Renata sudah tidak ada karena Renata sudah masuk kedalam rumah. Arfi lalu masuk kedalam mobilnya, mobil yang tadi ia parkir didepan rumah Renata.
Arfi buru buru menjalankan mobilnya, ia ingin segera pergi kerumah Nayra. dalam perjalanan Arfi teringat cincin Nayra, ia juga teringat kata kata Nayra saat ia berada dirumah sakit dan tersadar dari pingsannya.
Ketika itu Nayra mengatakan kalalu ia tidak bisa hidup tanpa Arfi, Arfi tersenyum senang. saat ia mengingat ucapan Nayra.
"Jadi, semua itu bukan mimpi." Arfi mempercepat laju mobilya.
Sementara itu dirumah Nayra
__ADS_1
Nayra baru saja sampai dirumah, setelah memasukan barang belanjaannya kedalam lemari es. lalu ia langsung masuk kedalam kamarnya, Nayra membuka lemari ia memasukan sebagian baju bajuya kedalam tas besar.
Nayra sudah berniat pergi jauh agar ia tidak bertemu lagi dengan Arfi, sejujurnya Nayra tidak sanggup melihat kebahagiaan Arfi dan Renata.
Nayra meminta pada supir taksi yang mengantarnya untuk menunggunya sebentar, selesai memasukan sebagian bajunya Nayra segera keluar dari rumahnya tidak lupa Nayra mengunci pintu rumahnya dan juga pintu pagar.
Nayra berdiri didepan rumahnya sambil memandangi rumahnya, rumah yang kembali akan ia tinggalkan.
"Nayra." Raddit yang kebetulan melewati rumah Nayra memanggil Nayra.
"Raddit." Nayra menoleh.
"Kita ketemu lagi." Raddit berjalan mendekati Nayra.
"Kita kan tetangga, jadi sering ketemu." Nayra tersenyum mendengar ucapan Raddit.
"Kamu mau kemana nay?" Raddit memperhatikan Nayra yang membawa satu tas besar.
"Aku mau pulang kampung."
"Kamu mau pergi lagi?"
"Aku... " Wajah nayra tiba tiba terlihat sedih.
"Ada apa? cerita sama aku?" Raddit kepo
"Aku tadi lihat Renata dan Arfi berpelukan."
"Nayra, Nayra kenapa kamu sedih? kamu kan tahu Arfi itu suaminya Renata." Raddit tidak tahu kalau Arfi dan Renata sudah bercerai.
"Mereka sudah bercerai, mungkin mereka mau rujuk lagi karena itu pergi." Nayra terisak.
Nayra tidak melanjutkan ceritanya karena supir taksi yang menunggunya membunyikan klakson, supir taksi itu sudah tidak sabar menunggu Nayra.
"Nay, kapan kamu pulang kesini lagi?" Raddit merasa sedih karena Nayra akan pergi lagi.
"Da..dah..Nayra, hati hati dijalan." Raddit melambaikan tangannya.
Nayra juga melambaikan tangannya. Taksi itupun pergi bersama Nayra, Raddit masih berdiri didepan rumah Nayra sampai taksi yang membawa Nayra pergi menghilang dari pandangan matanya.
Tidak lama setelah Taksi yang Nayra naiki pergi, sebuah mobil sport putih berhenti didepan rumah Nayra. pintu mobil itu terbuka dan dari dalam mobil itu muncul sosok laki laki yang Raddit kenal, laki laki itu adalah Arfi.
Raddit merasa geram satu tangannya mengepal dan tanpa basa basi Raddit berjalan mendekati Arfi lalu ia meninju Arfi.
"Bocah aneh, kenapa tiba tiba kau memukulku?" Arfi memegang sudut bibirnya yang berdarah.
"Pukulan itu engga sebanding dengan rasa sakit hati Nayra." Raddit terlihat sangat marah.
"Masalah gue sama Nayra, itu bukan urusan lu. jadi jangan ikut campur, harusnya gue yang mukul lu karena lu udah berani meluk meluk istri gue." Arfi sangat kesal.
Arfi tidak ingin meladeni Raddit, Arfi malas bertengkar dengan bocah yang ia anggap belum dewasa.
Arfi ingin masuk kedalam rumah Nayra, namun baru satu langkah Raddit sudah menghalanginya.
"Mau cari Nayra? percuma Nayra tidak ada, dia sudah pergi." Ujar Raddit membuat langkah kaki Arfi terhenti.
Arfi kemudian melihat kearah pintu pagar rumah Nayra dan benar yang dikatakan Raddit, Nayra pergi karena pintu pagarnya terkunci dengan gembok.
"Pergi kemana Nayra?" Arfi menatap Raddit dengan kesal.
"Mana gue tahu, gue bukan suaminya." Raddit mengangkat sedikit bahunya lalu ia pergi meninggalkan Arfi yang masih kesal.
"Nayra, lagi lagi dia kabur?" Arfi kemudian masuk kedalam mobilnya.
"Kemana aku harus mencari Nayra?" Arfi memejamkan matanya seraya memijat mijat pelipisnya.
Arfi mencoba berpikir dan mengira ngira kemana kira kira Nayra pergi. Arfi teringat, Nayra pernah ingin kabur kebandung kekampung halamannya. dengan cepat Arfi melajukan mobilnya, ia ingin pergi keterminal bis.
Sampai disana Arfi langsung mencari cari Nayra, Arfi melihat salah satu bis jurusan bandung yang belum berangkat dan masih menunggu penumpang.
__ADS_1
Arfi sangat senang karena ia melihat Nayra, kebetulan saat itu Nayra duduk didekat jendela. Arfi buru buru masuk kedalam bis itu, Arfi masuk melewati pintu belakang dan Nayra sama sekali tidak melihat Arfi.
Arfi membuka jasnya kemudian ia diduduk disamping Nayra, setelah itu ia cepat cepat menutupi wajahnya dengan jas itu, Arfi tidak ingin Nayra tahu kalau ia mengikutinya.
Nayra menengok kesamping saat ia merasa ada seseorang yang duduk disebelahnya, tapi Nayra tidak bisa melihat wajah Arfi. Nayra merasa aneh dengan sikap orang yang berada disebelahnya.
Kenapa dia menutupi wajahnya? mungkin dia sedang tidur.
Nayra lalu kembali melihat keluar jendela, ia tidak memperdulikan Arfi karena ia merasa tidak mengenal Arfi.
Sudah setengah jam bis yang membawa Nayra berjalan. Nayra menjadi lelah dan mengantuk, Nayra akhrinya tertidur didalam bis itu.
Beberapa saat kemudian bis itu berhenti didepan disebuah mini market.
"Ayo bapak bapak, ibu ibu yang mau ketoilet. saya tunggu." ucap supir bis tersebut.
Arfi turun dari bis itu, selain ingin ketoilet Arfi juga ingin membeli sesuatu. selesai dari toilet Arfi membeli topi, kaca mata dan juga masker. ia langsung memakainya.
Kalau begini, Nayra tidak akan mengenaliku.Arfi tersenyum puas.
Arfi menarik nafas lega karena saat ia masuk kedalam bis Nayra masih tertidur pulas.
Syukurlah Nayra masih tidur. Arfi kembali duduk disamping Nayra.
Lima menit setelah Arfi duduk bis itu kembali berjalan dan Nayra terbangun dari tidurnya.
Nayra menengok kesamping, ia mengerutkan keningnya ketika melihat Arfi yang sudah memakai topi, kaca mata dan juga masker.
Ada apa dengan orang ini? sepertinya dia tidak ingin wajahnya dilihat orang lain. jangan jangan dia ini penjahat atau burunan. Nayra mulai berpikiran buruk.
Tidak, tidak.. aku tidak boleh berpikir macam macam. siapa tau orang ini wajahnya rusak, atau ada hal lain yang membuat ia tidak mau memperlihatkan wajahnya. apapun itu aku tidak boleh takut, seandainya orang ini penjahat dia tidak mungkin berani berbuat jahat padaku ditempat umum dan ramai seperti ini. Nayra mencoba menghilangkan rasa takutnya.
Nayra memejamkan matanya, Nayra pura pura tidur agar ia tidak perlu melihat Arfi orang yang ia kira penjahat.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Nayra merasa senang akhinya bis yang ia tumpangi sudah sampai dikampung halamannya.
Nayra buru buru turun dari bis itu lalu ia berlari dengan cepat, tangan Nayra gemetar saat ia membuka kunci rumahnya. Nayra merasa ada seseorang yang mengikutinya.
Pintu rumah Nayra terbuka Nayra segera masuk kedalam rumahnya. Nayra ingin menutup pintu, tapi tangan seseorang menghalanginya.
"Kamu... orang yang tadi ada dibis." Nayra berjalan mundur, ia ketakutan.
Arfi mencabut kunci yang tergantung diluar pintu, gerakan begitu cepat. tahu tahu Arfi sudah menutup pintu.
"Mau apa kamu, kalau kamu macam macam aku akan berteriak." Nayra kembali berjalan mundur.
Arfi maju mendekati Nayra membuat Nayra semakin ketakutan, Arfi menarik tangan Nayra sampai Nayra jatuh dalam pelukannya.
Deg...
Jantung Nayra berdetak kencang.
Pelukan ini, kenapa rasanya hangat? sama seperti pelukan Arfi. Nayra membiarkan Arfi memeluknya.
"Kenapa diam? katanya mau teriak. ayo, teriak yang kencang." Bisik Arfi ditelinga Nayra.
"Arfi." Nayra mendorong dada Arfi.
"Kamu mengenali aku?" Arfi membuka kaca mata, topi dan terakhir maskernya, ia melempar benda benda itu keatas kursi.
"Iya, mana mungkin aku tidak mengenali suamiku sendiri." Nayra refleks mengucapkan kata suamiku, membuat Arfi merasa senang sedangkan Nayra hanya tertunduk malu.
"Kamu benar, aku ini suamimu. Kalau begitu layani aku, sekarang."
Arfi tersenyum, tapi senyumnya justru membuat Nayra merinding. Nayra seperti melihat singa yang sedang kelaparan.
Arfi kembali manarik Nayra kedalam pelukannya dan tanpa meminta persetujuan Nayra, Arfi lalu menggendong Nayra.
__ADS_1