
Renata menunggu Arfi dirumah, dilihatnya Kevin sudah tertidur pulas. Renata hampir saja tertidur disofa ketika ia mendengar suara mobil Arfi berhenti dihalaman rumah.
Renata membuka pintu rumah kemudian ia menghampiri Arfi yang sedang duduk didepan teras rumah mereka.
"Arfi kamu tidak masuk." Renata merasa heran, kenapa Arfi masih duduk diteras rumah.
"Aku masih mau menikmati udara segar." Arfi terlihat sedih.
"Sebenarnya ada apa?" Renata duduk disamping Arfi.
"Arfi, aku ini istri kamu. aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan, kalau kamu sedih aku juga merasa sedih dan kalau bahagia aku juga bisa merasa bahagia."
Arfi tidak menjawab pandangan matanya lurus kedepan entah apa yang sedang Arfi pikirkan. Renata sama sekali tidak tahu, tapi Renata bisa merasakan kalau Arfi sedang sedih.
Apa ini semua karena Nayra? kalau aku tanya kita pasti akan bertengkar. kelihatannya Arfi sedang tidak punya tenaga untuk bertengkar, jadi lebih baik aku tidak memancing kemarahannya. Batin Renata.
"Apa kamu tahu? kenapa Nayra dan Raddit ada dikampus yang mengundang kamu." Renata berkata dengan hati hati dan suaranya terdengar rendah.
"Raddit kuliah dikampus itu dan Nayra bekerja dikampus itu." Arfi semula enggan Meladeni omongan Renata, tapi karena Renata terus mengajaknya bicara Arfi jadi merasa kasihan pada Renata.
"Arfi, kamu pernah berpikir tidak? mungkin saja Jodoh kamu yang sebenarnya adalah Nayra bukan aku."
Arfi sontak terperanjat mendengar kata kata Renata.
"kenapa kamu bicara seperti itu?" Arfi menatap Renata.
"Karena kemanapun Nayra pergi dan berlari pada akhirnya kamu akan menemukan dia. kamu ingat? didunia Fantasi, divilla saat kita liburan, dipantai dan tadi dikampus. ini seperti bukan kebetulan, tapi ini seperti takdir." Mata Renata mulai berair.
"Arfi kalau memang kamu lebih bahagia bersama Nayra, aku rela. aku ikhlas. sekarang juga kamu talak aku. supaya kamu bisa bebas bersama Nayra." Hati Renata teramat sakit.
Suami yang ia harapkan menjadi teman hidupnya sampai ia menua, ternyata hatinya sudah terbagi bahkan mungkin hati suaminya bukan miliknya lagi.
"Renata, tolong jangan mengatakan tentang perceraian." Mendengar kata kata Renata rasa sedih Arfi semakin bertambah dan tanpa terasa air matanya jatuh.
"Renata, sebenarnya aku baru saja dari rumah Nayra. tapi seperti biasa dia mengusirku, keputusan Nayra sudah bulat ia ingin berpisah denganku. Rumah tangga aku dan Nayra tidak bisa dipertahankan lagi karena Nayra bersikeras ingin meninggalkan aku. Renata, Nayra ingin meninggalkan aku. apa kamu juga ingin meninggalkan aku?" Arfi memegang tangan Renata.
"Aku... " Renata tidak melanjukan kata katanya ia memilih memeluk Arfi.
"Disini dingin, kita masuk kedalam." Arfi mengajak Renata masuk kedalam rumah.
Arfi dan Renata kemudian masuk kedalam rumah, Renata melingkarkan tangannya dilengan Arfi. Renata tersenyum bahagia. sepertinya semua beban dihatinya telah hilang setelah Arfi mengatakan, Arfi tidak ingin berpisah dengannya.
Didalam rumah.
"Arfi, sebaiknya mulai hari ini kamu tidak perlu mencari Nayra lagi." ujar Renata Ketika mereka sudah duduk berdua diruang keluarga.
"Apa!" Arfi spontan menatap kesal pada Renata, bagaimana mungkin ia tidak mencari cari Nayra sedangkan Nayra sedang mengandung anaknya.
"Aku bukan melarang kamu, ini demi kebaikan Nayra. kamu tahu sendiri. berkali kali Nayra mencoba kabur, kalau kamu mencari Nayra nanti bisa bisa dia kabur lagi. apa kamu tega? Nayra itu sedang hamil, tapi dia harus pindah dari satu rumah kerumah lain hanya untuk menghindari kamu." Renata memberi saran pada Arfi.
"Iya kamu benar juga." Arfi yang semula kesal akhirnya setuju dengan saran Renata.
"Kamu itu, memang istriku yang paling baik." Arfi merangkul Renata.
Sejak hari itu, Arfi tidak pernah lagi menemui Nayra secara langsung. kalau ia merindukan Nayra ia akan datang kerumah Nayra dan melihatnya dari kejauhan. Saat Arfi sedang sibuk ia akan meminta Satria untuk melihat keadaan Nayra.
Beberapa bulan kemudian.
Nayra baru saja bangun dari tidurnya ia membuka jendela. dilihatnya matahari sudah bersinar terang menandakan pagi sudah datang.
Sudah beberapa bulan Nayra merasa kesepian, Arfi tidak pernah datang menemuinya lagi. Nayra mengira Arfi benar benar sudah melupakannya.
Arfi, apa dia sudah tidak perduli lagi padaku? ini memang yang aku inginkan, tapi kenapa aku merasa sedih? Nayra bertanya tanya.
Nayra ingin memasak, tapi isi lemari esnya kosong. disana hanya ada air minum saja, sudah beberapa hari Nayra memang merasa tubuhnya sangat lemas. kadang ia merasa seperti tidak bertenaga sehingga ia belum sempat berbelanja keperluan untuk memasak.
__ADS_1
Meskipun lemas, Nayra akhirnya memutuskan untuk pergi kemini market yang terdekat dari rumahnya. seperti biasa Nayra pergi kemini market berada didekat jalan raya.
Nayra mengambil buah buahan dan beberapa makanan, ia lalu memasukannya kedalam keranjang. Nayra berusaha menahan rasa pusingnya, kepalanya tiba tiba terasa berputar putar. bukan hanya itu perut Nayra juga terasa sakit
Nayra hampir saja jatuh, untung ada seseorang yang memegangi tubuhnya dari belakang.
"Kamu tidak apa apa." Tanya seorang wanita yang kira kira berusia lima puluhan.
"Kepala saya tiba tiba terasa pusing perut saya juga sangat sakit." Nayra menghela nafas, ia menahan rasa sakit.
"Mungkin kamu mau melahirkan."
"Melahirkan?" Ucapan perempuan itu membuat Nayra panik.
"Iya, sepertinya kamu mau melahirkan. kalau begitu, bagaimana kalau saya antar saja kamu kerumah sakit?" Perempuan itu menawarkan bantuan.
"Terima kasih bu, tapi ibu tidak perlu repot repot. saya bisa kerumah sakit sendiri."
Nayra mengucapkan terima kasih lalu menolak bantuan perempuan itu, Nayra tidak mungkin menerima bantuan dari seseorang yang belum ia kenal.
Perempuan itu tetap membujuk Nayra, entah mengapa ia ingin sekali membantu Nayra. Nayra akhirnya menerima bantuan perempuan itu, perempuan itu lalu menuntun Nayra berjalan ketempat dimana mobilnya diparkir.
Sesampainya didalam mobil.
"Mami ini siapa?" Tanya suami perempuan itu. ia terkejut melihat istrinya membawa seseorang yang sedang hamil besar.
"Mami juga tidak tahu, kita bawa saja dia kerumah sakit."
Nayrapun dibawa kerumah sakit oleh sepasang suami istri itu, dalam perjalanan Nayra terus merintih kesakitan.
"Pak, bu tolong hubungi suami saya, ini nomer telphonenya."
Dengan sisa tenaga yang ia miliki Nayra mengambil kartu nama Arfi dari dalam dompetnya, kemudian ia memberikan kartu nama itu. Nayra memejamkan matanya setelah ia memberikan kartu nama Arfi.
Tentu saja ia terkejut karena ternyata perempuan itu adalah ibu Ayrin, ibunya Arfi dan suaminya siapa lagi kalau bukan pak Bisma ayahnya Arfi.
Ibu Ayrin memberikan kartu nama itu pada pak bisma. Sama seperti ibu Ayrin pak Bisma juga terkejut.
"Papi ada apa ini? kenapa perempuan ini mengaku ngaku sebagai istri Arfi." Ibu Ayrin seperti ingin menangis.
"Mami, mami tenang dulu. sebaiknya kita telphone Arfi, nanti setelah kita bertemu Arfi kita tanya semua pada Arfi." Pak bisma mencoba menenangkan ibu Ayrin.
Sementara itu dirumah Arfi.
Arfi sedang makan bersama dengan Kevin dan Renata, Arfi menghentikan makannya ketika suara ponselnya berbunyi.
"Mami?" Arfi melihat kearah layar ponselnya, kebetulan saat itu ponsel Arfi berada diatas meja makan.
"Mami ada apa? tumben pagi pagi telphone." Arfi menjawab telphone dari ibu Ayrin.
"Arfi sekarang juga kamu datang kerumah sakit." Suara ibu Ayrin terdengar berat.
"Siapa yang sakit? apa papi sakit lagi?" Arfi menjadi cemas.
"Sudah kamu jangan banyak tanya, datang saja kerumah sakit sekarang. mami akan kirim lokasinya." Ibu Ayrin menutup panggilan telphonenya.
Arfi memijat pelipisnya dengan cepat ia berdiri dari duduknya.
"Renata aku pergi kerumah sakit dulu, mami minta aku kesana sekarang."
"Aku ikut, aku mau lihat keadaan papi kamu." Sama seperti Arfi, Renata mengira ayah mertuanya sakit.
"Mama, papa aku juga mau ikut." Mendengar orang tuanya ingin pergi kerumah sakit Kevin juga ingin ikut.
"Sayang, kamu kan harus sekolah. nanti saja ya pulang dari sekolah." Renata melarang Kevin.
__ADS_1
"Ya udah." Kevin terpaksa menuruti Renata meskipun sebenarnya anak itu ingin sekali ikut kerumah sakit.
Arfi dan Renata kemudian mengantarkan Kevin kesekolah setelah itu mereka baru pergi kerumah sakit, tapi yang membuat Arfi dan Renata bingung ibu Ayrin mengirim pesan yang mengatakan bahwa ia ingin bicara dulu dengan Arfi.
Arfi didepan rumah sakit ada restaurant, mami sudah pesan ruang private untuk kita. kamu datang kesini dulu., mami dan papi ingin bicara penting. Begitulah isi pesan yang kirim oleh ibu Ayrin untuk Arfi.
"Kenapa kita tidak masuk? Renata membuka sabuk pengaman yang ia pakai.
"Mami ingin bicara denganku dulu direstauran itu." Mata Arfi memandang kearah restauran yang ada dirumah sakit."
"Sebenarnya ada apa? kenapa sikap mami kamu jadi aneh?" Renata bertanya tanya.
"Aku juga tidak tahu. ya sudah kita kerestaurant saja sekarang."
Arfi menjalankan mobilnya, ia menghentikan mobilnya didepan restaurant yang dimaksud oleh ibu Ayrin.
"Arfi kamu masuk duluan, aku mau ketoilet dulu."
Renata turun terlebih dahulu dari mobil, ia berjalan terburu buru menuju toilet yang berada didalam restaurant itu.
Arfi akhirnya sampai diruang private yang dipesan oleh maminya, pikirannya dipenuhi dengan banyak pertanyaan. berlahan lahan Arfi membuka pintu ruangan itu.
"Arfi cepat duduk dan tutup pintunya." Perintah ibu Ayrin saat ia melihat anaknya sudah datang.
"Apa yang mau mami bicarakan?" Arfi menjadi tegang.
Arfi bisa membaca, dari raut wajah papi dan maminya dapat disimpulkan. bahwa mami dan papinya sedang marah.
"Tadi waktu mami pergi sama papi kamu, dijalan mami haus. lalu mami mamir kemini market dipinggir jalan. disana mami bertemu dengan perempuan yang sedang hamil besar, sepertinya dia ingin melahirkan mami kasihan lalu membawanya kerumah sakit." Ibu Ayrin mulai bercerita.
"Dia memberi mami kartu nama suaminya, supaya mami bisa menghubungi suaminya." lanjut ibu Ayrin.
"Lalu apa hubungannya perempuan hamil itu denganku? lagi pula siapa sebenarnya perempuan itu sampai membuat mami menangis begini?" Arfi melihat mata bu Ayrin sembab karena habis menangis.
Arfi pikir ada sesuatu yang penting yang ingin disampaikan oleh ibu Ayrin, ternyata ibu Ayrin hanya ingin bercerita kalau ia sudah menolong orang hamil.
"Diam kamu Arfi! jangan bicara sebelum mamimu selesai bicara." Bentakan pak Bisma membuat Arfi kaget.
Arfi jadi kesal. padahal pagi ini Arfi ada meeting penting, tapi Arfi terpaksa membatalkannya karena telphone dari dari maminya.
Brag....
Ibu Ayrin mengebrak meja sambil meletakan kartu nama Arfi.
"Ini kartu nama suami perempuan itu, kamu lihat sendiri" Ibu Ayrin menarik tangannya dari atas meja.
"Ini kan kartu namaku." Arfi kebingungan, ia mengambil kartu itu.
"Iya karena perempuan itu adalah istri kamu." Mata ibu Ayrin berkaca kaca.
Istriku? yang benar saja. apa jangan jangan perempuan itu Nayra? tidak, ini tidak mungkin. aku harus bertemu dengan perempuan itu. Arfi mulai gelisah.
"Mami, mami jangan langsung percaya sama seseorang yang baru mama temui. begini saja, aku ingin bertemu dengan perempuan itu. aku ingin tahu, kenapa dia mengaku ngaku sebagai istriku?" Arfi membantah tuduhan ibu Ayrin.
"Sekarang kita tidak bisa menemui perempuan itu karena dia sedang dioperasi, tapi tadi mami sempat tanya nama perempuan itu. namanya Nayra."
Deg....
Jantung Arfi seperti mau copot ketika ibu Ayrin menyebutkan nama Nayra.
Kenapa dunia ini begitu sempit? kenapa harus mami yang menolong Nayra? seandainya orang lain yang menolong Nayra, rahasiaku tidak akan terbongkar.
"Jangan diam saja Arfi, jawab! Nayra itu istri kamu atau bukan?" lagi lagi pak Bisma membentak Arfi.
"Iya.. iya... Nayra itu memang istriku." karena kaget Arfi menjawab dengan jujur.
__ADS_1