
Nayra memalingkan wajahnya ketika ia dan Arfi saling bertatapan, Nayra kemudian berdiri. dia ingin membawa Bulan masuk kedalam rumah karena anaknya itu sudah selesai makan.
Arfi kembali mengikuti Nayra dari belakang, Nayra jadi merasa risih.
"Pak, kenapa dari tadi ngikutin saya terus?" Nayra merasa ruang geraknya terbatas.
"Memangnya kenapa?" Arfi merasa tidak ada yang salah dengan sikapnya.
Nayra kesal ia lalu masuk kedalam kamar Bintang dan Bulan agar Arfi tidak mengikutinya, tapi Arfi tetap mengikutinya. Arfi berjalan dibelakang Nayra.
"Bapak sebenarnya mau apa?" Nayra mulai marah.
"Aku mau melihat anak anakku, kenapa?" Arfi mencari cari alasan. Arfi sendiri tidak tahu, kenapa ia selalu ingin berada didekat Nayra.
Nayra kehilangan kata kata, ia tidak bisa melarang Arfi berada dikamar itu. Saat mereka sedang sama sama terdiam, tiba tiba Bintang menangis.
Nayra meletakan Bulan diatas tempat tidur, kemudian ia menggambil Bintang yang masih menangis.
Nayra berjalan keluar dari kamar itu sambil menggendong Bintang, ia seakan tidak memperdulikan kehadiran Arfi.
Aku ini majikannya, tapi kenapa aku tidak bisa marah padanya? Merasa diabaikan Arfi menjadi marah.
Arfi mencari cari keberadaan Nayra dan untuk kedua kalinya Arfi menemukan Nayra sedang duduk dihalaman rumah. Arfi menghampiri Nayra dilihatnya Nayra sedang menyuapi Bintang.
"Dewi." Arfi ikut duduk dibangku.
"Apa lagi?" Nayra seperti enggan menjawab panggilan Arfi.
"Kamu pasti kerepotan mengurus anak anakku?" mata Arfi tidak lepas memandangi wajah cantik Nayra.
"Ini memang sudah tugas saya, jadi tidak masalah." Nayra tetap fokus menyuapi Bintang, ia tidak menoleh kesamping tempat dimana Arfi duduk.
"Aku akan cari beberapa orang untuk membantu kamu mengurus Bintang dan Bulan."
"Tidak perlu pak, saya bisa mengurus anak anak saya sendiri." Tanpa sadar Nayra mengakui bahwa Bintang dan Bulan adalah anak anaknya.
"Anak anak saya?" Arfi menaikan satu alisnya.
"Maksud saya, anak anak bapak."
Walaupun Nayra sudah meralat ucapannya, Arfi tetap menatap Nayra penuh dengan rasa curiga.
"Kenapa bapak liatin saya begitu?" Nayra menjadi salah tingkah.
"Maksud kamu apa? Kenapa kamu bilang Bintang dan Bulan itu anak anak kamu?"
"Saya cuma salah bicara." Nayra ingin berdiri tapi Arfi menahannya. ia memegangi tangan Nayra.
"Dewi, aku serius. aku akan mencarikan baby sister lain untuk membantu kamu. bagaimana kalau Bintang dan Bulan sama sama menangis? kamu tidak mungkin menggendong dua duanya." Arfi tetap ingin mencarikan baby sister lain untuk membantu Nayra.
"Biasanya kalau Bintang dan Bulan sama sama menangis, saya akan mengurusnya secara bergantian. kalau saya mengurus Bintang lebih dulu. Saya akan memberikan mainan atau menyalakan tivi untuk Bulan, supaya Bulan tidak menangis waktu saya sedang mengurus Bintang."
Nayra bicara panjang lebar pada Arfi agar Arfi percaya kalau Nayra bisa mengurus Bintang dan Bulan sendiri. Nayra tidak ingin ada baby sister lain karena jika ada orang lain dirumah itu, Nayra tidak akan leluasa memberikan asi pada anak anaknya.
"Kamu lupa aku yang berkuasa disini?" Arfi mengingatkan Nayra, kalau dirumah itu Nayra bekerja pada Arfi.
"Iya saya tahu." Nayra tidak ingin berdebat dengan Arfi.
"Ya sudah sekarang kamu mandi terus siap siap, kita akan pergi jalan jalan."
"Jalan jalan?" Mata Nayra berbinar, ia sangat senang.
Sejak ia bekerja menjadi baby sister untuk anaknya sendiri, Nayra memang hampir tidak pernah keluar rumah. ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus anak anaknya.
"Jangan gr kamu, aku mau jalan jalan dengan anak anakku karena kamu baby sisternya aku terpaksa ngajak kamu." Dalam hati Arfi senang melihat wajah bahagia Nayra, tapi Arfi pura pura kesal.
"Kenapa masih berdiri disini, cepat mandi biar aku yang jaga anak anak."
Mendengar nada suara Arfi yang sedikit keras, Nayra segera meletakan Bintang dipangkuan Arfi. Nayra lalu masuk kedalam rumah untuk mandi.
Nayra baru saja selesai mandi, Nayra kaget karena ketika Nayra keluar dari kamar mandi ia melihat Arfi berdiri didepan pintu kamar mandi.
"Bapak, ngagetin saya." Nayra memegangi dadanya.
__ADS_1
"Ayo ikut aku." Arfi menarik tangan Nayra, ia mengajak Nayra berjalan kesebuah ruangan yang berada dilantai dua.
Nayra berdecak kagum melihat sebuah ruangan yang cukup luas, didalamnya banyak sekali pakaian. sebagian pakaian itu digantung dan sebagian lagi berada didalam lemari, lemari pakaian itu ditutupi dengan pintu kaca bening sehingga dari luar Nayra bisa melihat ada tumpukan baju yang diletakan didalam lemari itu.
Ruangan itu terlihat bersih, baju baju disana tertata dengan rapi disana juga ada banyak sepatu. Nayra merasa seperti masuk kedalam toko baju yang ada diMall karena ruangan itu mirip seperti toko baju diMall yang pernah Nayra kunjungi.
"Pak, baju baju ini punya siapa?" Nayra membenarkan posisi baju handuk yang ia pakai.
"Yang sebelah kanan baju bajuku, yang sebelah kiri baju baju Nayra istriku."
Ada rasa bahagia dihati Nayra, saat Arfi megucapkan kata istriku.
"Jadi istri bapak yang merapikan ruangan ini?" Seingat Nayra, Nayra tidak pernah meletakkan bajunya disana.
Nayra juga tidak mengenali baju baju, yang Arfi bilang adalah baju Nayra.
"Aku yang membelikan baju untuk istiku. Aku juga yang merapikannya diruangan ini, tapi..." Arfi tiba tiba menjadi sedih.
"Tapi apa?" Nayra ingin tahu.
"Istriku meninggal dan aku belum sempat menunjukan ruangan ini padanya." Ada air mata yang jatuh dikedua belah pipi Arfi.
Arfi maaf, aku sudah menyiksa hatimu dengan pura pura mati. dulu aku lakulan itu supaya kamu bisa hidup bahagia bersama Renata. sekarang aku belum bisa jujur karena aku takut. kalau kamu tahu aku masih hidup, kamu pasti marah lalu mengusirku dari sini. aku juga takut kamu tidak mengijinkan aku bertemu dengan anak anakku lalu diam diam kamu membawa anak anakku pergi jauh.
Ketakutan Nayra memang terlalu berlebihan, tapi melihat sifat otoriter Arfi. Arfi bisa saja melakukan hal itu.
"Dewi, kenapa kamu melamun?" pertanyaan Arfi membuat Nayra tersadar dari lamunannya.
"Kamu pilih saja, baju mana yang mau kamu pakai?" Arfi meminta Nayra memakai baju yang ada diruangan itu.
"Maksud bapak? bapak mau saya pakai baju Istri bapak?"
"Iya."
"Kenapa saya harus pakai baju istri bapak yang sudah mati? saya punya baju sendiri." kata kata Nayra membuat Arfi jadi marah.
"Jaga bicara kamu, saya tidak mau tahu. kamu harus pakai baju yang ada disini karena baju kamu, semuanya jelek jelek dan satu lagi kamu tidak boleh pakai kaca mata." Perintah Arfi seperti tidak bisa dibantah.
"Kalau saya tidak mau?"
"Saya kan sudah bilang mata saya minus." Nayra tetap tidak ingin menuruti keinginan Arfi.
"Tenang saja. ada aku, aku yang akan menjadi matamu." Bisik Arfi lalu ia pergi meninggalkan ruangan itu.
Nayra akhirnya menuruti keinginan Arfi, ia memilih salah satu dress yang digantung diruangan itu. Nayra juga melepaskan kaca matanya.
Arfi menunggu Nayra diruang tengah sambil menjaga kedua anaknya, Bintang dan Bulan ketika itu sedang berada didalam stroller.
Mata Arfi tidak berhenti menatap kearah tangga. Ia mulai bosan menunggu Nayra, wajahnya terlihat kesal.
"Kenapa dia lama sekali?" Arfi berdiri dari duduknya.
Arfi Baru saja ingin menyusul Nayra dilantai dua, tapi Nayra sudah terlebih dahulu turun dari sana. Arfi melihat Nayra menuruni anak tangga dengan langkah yang begitu pelan. ternyata Nayra sedang memakai sepatu berhak tinggi sehingga ia berhati hati saat melangkah.
"Saya sudah siap pak." Nayra tersenyum manis.
Arfi terpesona melihat kecantikan Nayra dengan dress berwarna biru langit dan dengan riasan wajah yang tipis serta rambut yang tergerai membuat Nayra terlihat sangat cantik.
Nayra saat itu tidak menggunakan kaca mata, itu semakin memperjelas wajah cantiknya. Arfi sudah terbiasa dengan penampilan Nayra yang berantakan. kaca mata dan baju kedodoran yang Nayra pakai terkadang membuat Arfi kesal dan ingin memarahi Nayra, namun hari itu Nayra terlihat berbeda.
Sudah lama juga Nayra tidak berdandan membuat Nayra merasa sedikit canggung ketika ia harus berdadan seperti itu.
"Dewi, kamu cantik." tanpa sadar Arfi memuji Nayra.
"O..ya.. terus kalau saya cantik, bapak mau jadikan saya istri ketiga?" Nayra menggoda Arfi.
"Baru dipuji sedikit saja, ngelunjak kamu." Arfi mencubit pipi Nayra.
Seketika wajah Nayra memerah, jantungnya juga berdebar debar.
"Aku mandi dulu, kamu tunggu sebentar disini." Arfi meninggalkan Nayra yang masih berdiri mematung.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Nayra berjalan berdampingan dengan Arfi disebuah taman bunga yang indah. ditaman itu banyak terdapat bunga bunga cantik yang bermekaran, disana juga ada danau hijau yang membuat pemandangan semakin indah.
Angin yang bertiup, sesekali membuat rambut Nayra seperti ingin terbang.
Selama menjadi istri Arfi aku tidak pernah merasakan seperti ini. berjalan berdua ditengah keramaian tanpa harus bersembunyi atau merasa takut, takut karena statusku hanya istri simpanan. aku tidak tahu kenapa? walaupun Arfi tidak tahu kalau aku adalah Nayra, tapi saat ini aku merasa menjadi istri Arfi yang sebenarnya.
Nayra berjalan sambil mendorong stroller Bintang sedangkan Arfi mendorong Stroller Bulan.
Nayra, andai saja kamu masih hidup. mungkin orang yang berjalan disampingku adalah kamu bukan Dewi. Nayra maaf, karena wajah Dewi mirip denganmu. aku jadi sering membayangkan kalau Dewi adalah dirimu.
Arfi dan Nayra merasakan perasaan yang sama. bersama Arfi, Nayra merasa mempunyai sebuah keluarga dan bersama Nayra, Arfi merasa mempunyai keluarga lagi.
"Kita mau jalan jalan kemana lagi?" Tanya Nayra yang sepertinya sudah mulai lelah.
Nayra duduk dibangku taman, sudah hampir lima belas menit Nayra dan Arfi berkeliling melihat lihat pemandangan. kaki Nayra sedikit pegal.
"Kita makan dulu." Arfi duduk disamping Nayra.
"Kebetulan aku sudah lapar." Mendengar kata makan wajah lesu Nayra berubah menjadi ceria, ia memang sudah lapar.
"Dasar rakus, taunya cuma makan." lagi lagi Arfi mencubit pipi Nayra.
Nayra tidak ingin Arfi tahu, kalau jantungnya berdetak tidak karuan. Nayra buru buru berdiri, karena lemas Nayra kehilangan keseimbangan Nayra hampir saja terjatuh.
Dengan gerakan cepat Arfi menarik Nayra kedalam pelukannya. Nayra ingin melepaskan diri dari pelukan Arfi, tapi Arfi justru mempererat pelukan.
"Sebentar saja, biarkan aku memelukmu sebentar saja." Arfi memejamkan matanya, Selama beberapa menit ia dan Nayra berpelukan.
Arfi membuka matanya, ia melepaskan pelukannya ketika ia merasakan ponsel disaku bajunya bergetar. Arfi lalu mengambil ponsel yang ada disaku bajunya.
Ternyata bu Ayrin menelphone Arfi, Arfi kemudian menjawab telphone dari ibunya. Bu Ayrin meminta Arfi untuk datang kerumahnya.
"Mami aku, minta kita datang kerumahnya. sekarang." Arfi memberi tahu Nayra saat ia sudah selesai bicara dengan Ibu Ayrin.
"Ya sudah, kita kesana sekarang." ucap Nayra.
Nayra, Arfi dan kedua anaknya kemudian pergi kerumah ibu Ayrin. sampai disana mereka disambut dengan bahagia oleh ibu Ayrin dan pak Bisma.
Ibu Ayrin sudah memasak banyak makanan karena itu ia mengajak Nayra dan Arfi makan bersama. selesai makan mereka ngobrol ngobrol sampai lupa waktu.
Tanpa terasa hari sudah malam, Nayra dan Arfi lalu berpamitan pulang.
"Kalian menginap saja disini, mami masih kangen sama cucu cucu mami." Bu Ayrin tidak ingin Arfi dan Nayra pulang.
"Maaf mami, besok pagi aku harus kerja." Arfi menolak.
"Kalau begitu kamu sama Dewi pulang saja, tapi biarkan Bintang dan Bulan menginap disini." Sambung pak Bisma.
"Arfi, please. boleh ya Bintang dan Bulan menginap disini, cuma semalam. besok mami akan antar Bulan dan Bintang kerumahmu." Ibu Ayrin memohon seperti anak kecil.
Nayra dan Arfi saling berpandangan. awalnya Arfi merasa keberatan, tapi mendengar ibu Ayrin memohon mohon. Dengan berat hati Arfi mengijinkan anak anaknya menginap dirumah orang tuanya.
"Mami yakin? apa engga ngerepotin?" Arfi berharap mami dan papinya berubah pikiran.
"Engga, sudah kalian pulang saja biar mami dan papi yang jaga anak anak." Ibu Ayrin tetap dengan pendiriannya.
"Kalau bu Ayrin mau, saya bisa menginap disini." ucap Nayra tiba tiba.
"Tidak usah Dewi, sekali kali kamu istirahat."
Karena sudah semakin malam Nayra dan Arfi kembali pamit untuk pulang, setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan rumah itu.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Dewi aku lapar, kita makan dulu." Arfi menghentikan mobilnya didepan sebuah restaurant.
"Tadi kita kan udah makan."
"Itu tadi sore, sekarang sudah malam. aku lapar lagi." Arfi membuka pintu mobilnya.
Arfi turun dari mobilnya disusul oleh Nayra, Arfi berjalan mendahului Nayra, Arfi dan Nayra lalu masuk kedalam restaurant itu dan betapa terkejutnya Arfi, ketika ia melihat Renata sedang duduk berdua Satria disana.
Renata bercanda mesra dengan Satria, tanpa malu malu mereka menujukan kemesraannya didepan umum.
__ADS_1
Arfi mengepalkan tangannya, ia kelihatan sangat marah.