Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Di persunting


__ADS_3

“Jangan sedih kan ada papa sayang, ada sus Lely ,ada Mbok Minah, ada Pak Amin, Ada Pak Edy." Hibur ku.


Justru tangis nya makin kencang.


" Tapi alex mau sama mamaaaa." Sahutnya masih sesenggukan matanya sembab karena menangis dalam waktu yang cukup lama.


Hati siapa yang tidak teriris melihat pemandangan seperti ini? tapi lagi lagi nasi sudah menjadi bubur tidak banyak yang bisa aku perbuat .


Saat aku akan berangkat kekantor aku menghampiri Alex yang kini tengah bermain lego di temani suster.


“ Jagoan papa ,papa berangkat kekantor dulu ya, anak cowok tidak boleh apa? ." Tanyaku


“Anak cowok tidak boleh cengeng papa.” sahutnya.


“Pinter.. kiss dulu papa.” Dia memeluk dan mencium ku.


TOS!


Sepanjang dalam perjalanan kekantor aku tidak bisa konsentrasi fikiran ku kalut mengingat kejadian semalam.


Aku tidak menyangka jika ternyata rasa cinta ku masih begitu besar pada mantan istri ku Soffie


Perempuan yang kini berstatus menjadi mantan istri ku .


Sudah banyak perubahan yang terjadi pada dirinya, dia menjadi Wanita yang kalem dan mendekat kan diri dengan Sang Pencipta terlihat dari cara berpakaiannya yang serba tertutup Perubahannya yang sangat drastis tidak urung membuat ku shock.


Di satu sisi aku turut bahagia melihat perubahannya kearah yang lebih baik, tapi disisi lain ada ketakutan yang tiba tiba mendera perasaan ku .


Ada ketakutan yang besar dia menjadi milik orang lain, tentu perubahannya yang begitu drastis pastinya ada pengaruh dari seseorang.


Terlebih lagi tadi malam dia begitu lugas menjawab bahwa sebentar lagi akan ada yang menunggunya dirumah ,Akhhhh! Wake up !Arya dulu kamu yang begitu antusias.


Menyingkirkannya dari kehidupan mu meskipun dia memohon mengapa sekarang kamu merasa tidak rela dia menjadi milik orang lain dan meraih kebahagiannya? Egois!!.


TIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!!!!!!!


Terdengar suara klakson dari pengendara lain karena hampir saja aku menyerempetnya karena kurang konsentrasi saat berkendara ,ya hari ini sengaja aku tidak meminta pak Amin untuk tidak mengantar ku kekantor seperti biasanya.


“Woooi brengsek nyetir yang bener !”


Teriak pengendara yang tadi nyaris terserempet oleh untung saja hari ini aku sedang tidak ingin memperpanjang masalah, jika tidak sudah bisa dipastikan akan terjadi baku hantam di jalan raya tadi akibat di maki maki oleh pengendara lain.


Aku memasuki ruangan kerja dengan tidak bersemangat bayangan Soffie terus berkelebat dalam benak ku, Risa memasuki ruangan ku seperti biasanya dengan tumpukan berkas dan memberi tahu schedule ku

__ADS_1


.


Belum sempat Risa membuka suara aku sudah menyelanya.


” Taruh saja Risa nanti saya periksa, apa jadwal saya hari ini?.” Risa segera memberi tahuku agenda hari ini.


“ Oh ya Risa, jika ada yang mencari saya yang sifatnya tidak begitu urgent tolong bilang saya sedang tidak bisa di ganggu.”


“ Baik pak.” Risa segera pamit meninggalkan ruangan kerja ku tapi dari raut wajahnya , jelas terlihat bahwa dia merasa heran dengan sikap ku hari ini yang lebih banyak diam.


Aku menyandar kan tubuh ku konsentrasi ku benar benar buyar.


Tumpukan berkas yang tadi Risa sodorkan belum ku sentuh sama sekali, apakah ini karma yang sedang aku tuai? Buah dari sikap arogan ku?.


TOK TOK TOK!


“ Masuk!, Sahut ku Risa Kembali memasuki ruangan ku dia tampak tertegun ,melihat ku yang sedang termenung dan tampak tidak ada semangat.


“ Maaf pak ,apa sudah bapak tanda tangani? bapak terlihat seperti sedang kurang sehat ." ujarnya tampak mengkhawatirkan keadaan ku.


“ Saya baik baik saja hanya kurang tidur terimakasih, oh ya dokumen yang mana Ris?." Sahut ku sambil menyunggingkan senyum kearahnya.


Risa memilah milah dokumen yang harus segera aku tanda tangani kemudian dia menyodorkan kan dokumen yang dimaksud


Time fly so fast tidak terasa perceraian ku sudah berlangsung dua tahun ,dan kini putra semata wayang ku genap berusia 5 tahun sebentar lagi kan aku berencana untuk merayakannya .


Segera kuhubungi Soffie aku ingin melibatkan nya dalam rencana perayaan ulang tahun putra kami.


“Hallo Soff , bisa bertemu siang ini, Mas tunggu di resto dekat kantor mas” ujar ku saat menghubunginya melalui telfon.


“ Insha allah ya mas , tapi dalam rangka apa? dari nada suaranya aku dapat menangkap adanya rasa curiga.


“ Mas berencana merayakan ulang tahun putra kita.” sahut ku.


“ OK”.


Siang itu Soffie menemui ku dengan balutan busana muslim warna pastel dia tampak semakin mempesona dengan balutan busana muslim itu.


Dia berjalan dengan anggun menuju kearah ku.


GLek.!


Aku menelan ludah dia benar benar cantik dengan penampilannya kini ,meski tidak glamour seperti saat masih menjadi istri ku tapi justru dengan kesederhanaanya kini inner beautynya semakin terpancar.

__ADS_1


“ Mas.. maaf ya terlambat.“ujar nya seraya menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah ku karena melihat ku tertegun memandangi dirinya, aku tidak sadar jika dia telah duduk di hadapan ku.


“Errh …iya tidak apa apa .“ Ujar ku sedikit gelagapan.


Dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya mengajak ku berjabat tangan ,Kembali ku telan ludah saat aku sekilas melihat cincin yang tampak seperti cincin pertunangan melingkar di jari manisnya.


“ Apa khabar?. “ ujarnya senyum terkembang di wajahnya yang ayu.


“ Baik, kamu apa kabarnya?.”Sejak kejadian malam itu dia sepertinya trauma, untuk menginap saat menemui Alex dia memilih memboyong Alex kerumahnya.


“ Seperti yang mas lihat , tidak kurang suatu apapun.”


Kami segera membahas rencana ulang tahun Alex dia tampak antusias mendengar rencana ku .


“Saya usahakan ya mas, saya pergi dulu.” pamitnya setelah menghabiskan minuman yang kami pesan.


Dia beranjak bangkit dari kursinya


“ Soffie..kamu…. “ Aku tidak meneruskan ucapan ku.


“ Ya? Kenapa mas ?.” Rupanya dia menyadari pandangan mata ku terarah pada cincin yang melingkar di jari manisnya, dia melirik sekilas pada cincin yang dia kenakan.


“ Ouuh ini.. alhamdullilah mas… masih ada pria yang sudi hendak meminang saya dalam waktu dekat.” Ujarnya sambil tersenyum penuh kemenangan.


“ Selamat ya, apa pria itu di balik perubahan kamu yang drastis ini?.” Tanya ku getir


“ Benar mas … alhamdullilah dia sudi membimbing saya kejalan yang benar."


"Dan hendak menjadikan saya sebagai istrinya dalam waktu dekat. “ Ujarnya merendah tapi kata katanya justru bagaikan ribuan tombak yang menghujam tepat di ulu hati ku.


Kepalaku terasa pusing secara tiba tiba mendengar penuturannya ,dia sedang menyongsong kebahagaiannya dengan laki laki yang dia cintai dan mencintai dia.


Sedangkan aku ? , hidup ku semakin hilang arah ujar ku dalam hati tanpa sadar aku memijit pelipis ku yang tiba tiba terasa berdenyut.


“ Mas kenapa ? sakit? Mas kelihatan pucat .” ujarnya tampak khawatir melihat keadaan ku


“ Mas gak apa apa kok.” Sahut ku.


“ Benar? gak apa apa saya tinggal?” Imbuhnya lagi masih dengan nada khawatir.


Aku tidak mau tampak lemah dimatanya mengingat aku pernah begitu arogan di depannya dulu saat hendak menceraikannya aku mengangguk kan kepala .


" Pergilah, mas tidak apa apa" Ujar ku berusaha meyakinkanya.

__ADS_1


Dia pun melenggang meninggalkan resto, aku menatap kepergiannya dengan rasa yang sulit untuk di jelas kan, ada rasa sakit yang aku sendiri tidak tahu penyebabnya.


__ADS_2