Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Bintang dan Bulan


__ADS_3

Melihat suasana diruangan itu sudah mulai tegang serta melihat Arfi dan Nayra yang sepertinya akan bertengkar, Ibu Ayrin dan pak Bisma memilih untuk meninggalkan ruangan itu.


"Nayra, Arfi kita pulang dulu. kaki mami udah pegel pegel. lagi pula anak anak kalian sepertinya juga mau tidur." Ibu Ayrin berpamitan.


Ibu Aryin dan pak Bisma lalu pergi meninggalkan ruangan itu, mereka mengembalikan anak anak Nayra kekamar bayi. Setelah itu mereka baru pergi dari rumah sakit itu.


"Nay, apa maksud kamu? kenapa kamu menamai anak kita dengan nama laki laki lain?" Walaupun marah Arfi berusaha merendahkan suaranya, ia tidak ingin membentak bentak Nayra lagi. Arfi sadar istri keduanya itu masih berada dirumah sakit.


"Raddit bukan laki laki lain, dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri."


Nayra sengaja membuat Arfi kesal Karena Arfi juga membuatnya kesal. Selama hamil Nayra berjuang sendiri, tapi setelah anaknya lahir dengan seenaknya saja Arfi ingin menamai anak mereka dengan nama yang diambil dari kata Renata.


"Tetap saja aku tidak mau, kamu menamai anak kita dengan nama Raddit." Arfi mulai meninggikan suaranya bertanda kalau ia sedang marah.


"Aku tidak akan menamai anak kita dengan nama Raddit, tapi kamu juga tidak boleh membawa bawa nama Renata didalam nama anak kita."


Arfi tersenyum mendengar permintaan Nayra


"Nay, aku kan sudah bilang. aku cuma bercanda." Arfi megacak acak rambut Nayra.


"Iya aku juga cuma bercanda, mana mungkin aku menamai anak kita dengan nama Raddit." ada rasa bahagia dihati Nayra ketika Arfi menyentuh kepalanya.


"Kalau begitu, anak kita kamu mau beri nama siapa?" Arfi masih saja membahas masalah nama.


"Aku akan menamai anak laki laki kita Bintang." Nayra tersenyum bangga seakan akan nama yang ia berikan adalah nama paling bagus sedunia.


"Kuno, apa tidak ada nama lain?" Arfi mengejek Nayra.


"Namanya memang tidak sebagus nama Kevin tapi, apa kamu tahu? kenapa aku memilih nama Bintang?" Nayra ingin memberi penjelasan pada Arfi, mengapa ia memberi nama Bintang pada anak laki laki mereka.


"Kenapa?" Tanya Arfi ingin tahu.


"Karena aku berharap Bintang menjadi cahaya dalam hidupku, dia yang akan menerangi hidupku yang gelap. Sama seperti Bintang dilangit yang cahayanya menerangi bumi dimalam hari."


Apa yang dikatakan Nayra membuat hati Arfi seperti terisis, sakit namun tidak berdarah.


"Nay sayang, kenapa kamu merasa hidup kamu gelap? kalau kamu merasa hidup kamu gelap biar aku yang menerangi hidupmu, biar aku yang menjadi bintang itu." Arfi menggenggam tangan Nayra.


"Kamu tidak mungkin menjadi bintang karena kamulah yang membawa kegelapan dalam hidupku, bagiku kamu adalah langit malam." Nayra menarik tangannya yang digenggam Arfi.


"Kenapa kamu bicara begitu? " Arfi menjadi sedih, Arfi pikir ia adalah orang yang Nayra cintai dan hanya dirinya yang bisa membuat Nayra bahagia, tapi nyatanya Nayra mengangapnya sebagai sebuah kegelapan.


"Sejak kita putus beberapa tahun yang lalu. aku selalu berharap menemukan seseorang, seseorang yang hanya mencintai aku siapa sangka aku bertemu denganmu lagi dan kamu hanya menjadikan aku sebagai istri simpanan." Jawaban menohok Nayra membuat Arfi semakin merasa sedih.


"Nay, apa sebenarnya yang kamu inginkan? kamu ingin aku bercerai dengan Renata supaya kamu bisa jadi istriku satu satunya?" Suara Arfi terdengar serak.


"Kamu salah Arfi, aku ingin kita berpisah karena aku sudah tidak sanggup lagi menjadi istri simpananmu."


"Aku tidak pernah menganggap kamu istri simpanan?"

__ADS_1


"Tapi kenyataannya, kamu juga tidak bisa mengakui aku sebagai istri. karena aku ini hanya... "


Nayra belum sempat melanjutkan kata katanya karena tiba tiba Arfi sudah memeluknya.


"Sudah cukup Nay, jangan bicara lagi. itu akan membuatku semakin merasa bersalah."


Arfi lalu melepaskan pelukannya ketika Nayra sudah mulai berhenti bicara.


"Sayang, apa boleh aku menamai anak perempuan kita." Arfi mengalihkan topik pembicaraan agar Nayra tidak sedih lagi.


"Aku belum mempersiapkan nama untuk anak perempuan kita, jadi kamu saja yang menamai anak perempuan kita." Nayra mengijinkan Arfi memberi nama untuk putri mereka.


"Anak perempuan kita akan aku beri nama Bulan."


"Bulan?" Nayra memandang Arfi dengan penuh tanda tanya, ia tidak mengerti kenapa Arfi ingin menamai anak perempuan mereka dengan nama Bulan.


Apa selera Arfi sudah berubah, Arfi mengatakan nama Bintang itu kuno. Nayra mengira Arfi akan memberi nama anaknya dengan nama yang lebih bagus dan lebih modern ternyata Arfi sama saja dengannya.


Bukannkah nama Bulan itu tidak jauh berbeda dengan nama Bintang, Bagi Nayra nama Bintang dan Bulan adalah nama yang indah. tapi rasa percaya diri Nayra sedikit menciut saat Arfi mengatakan nama Bintang itu kuno.


"Karena dimana ada Bintang disana pasti ada Bulan. Bintang dan Bulan sama sama bersinar dimalam hari. Nay, aku ingin kita seperti Bintang dan Bulan. selalu bersama sama."


Nayra tidak ingin munafik, dalam hati ia mengakui. Rayuan Arfi membuatnya goyah, hati Nayra tersentuh. ia ingin memeluk Arfi, tapi Karena Renata datang Nayra tidak jadi melakukannya.


"Renata." Nayra sengaja menyebutkan nama Renata agar Arfi tahu kalau istri pertamanya sudah berada diruangan yang sama dengan mereka.


Nayra khawatir kalau tiba tiba Arfi memegang tanganya atau memeluknya, hal itu bisa menyakiti hati Renata. Renata memang sudah tahu kalau Nayra adalah istri kedua Arfi, tapi Arfi dan Nayra tidak pernah memperlihatkan kemesraan mereka berdua didepan Renata.


"Syukurlah kamu datang, Renata tolong bawa suami kamu ini pulang. aku mau istirahat." Nayra yang semula duduk lalu berbaring dan memejamkan matanya.


"Nayra, Arfi itu suami kamu juga." Melihat wajah Arfi yang sedih Renata menjadi tidak tega, ia tidak terima Nayra bersikap sinis pada Arfi.


Renata tidak tahu kalau Nayra hanya bersandiwara, jauh didalam hati Nayra sebenarnya ia tidak ingin Arfi pergi. Nayra ingin Arfi berada disisinya, tapi bagaimanapun ia harus tahu diri karena ia hanya istri kedua.


"Itu tidak akan lama lagi, setelah aku sehat dan aku sudah keluar dari rumah sakit ini. aku akan mengurus perceraianku dengan Arfi." Nayra kembali membuka matanya, Nayra tampak yakin dengan keputusannya.


Hati Arfi terasa sakit, setiap kali ia mendengar kata cerai yang terucap dari mulut Nayra. Nayra yang ia cintai, ternyata begitu gigih ingin berpisah darinya.


"Renata." Nayra kembali menyebut nama Renata dengan suara yang pelan.


"Aku minta maaf. aku minta maaf karena aku sudah menjadi orang ketiga diantara kamu dan Arfi. Renata, ini semua bukan kemauan aku. semua ini terjadi begitu saja." Tanpa terasa air mata sudah membasahi pipi Nayra.


"Tapi kamu tenang saja. sebentar lagi semuanya akan berakhir dan semuanya akan kembali seperti dulu. seperti saat aku belum bertemu lagi dengan Arfi. kamu bisa bahagia bersama Arfi dan Kevin tanpa adanya aku." Nayra bersungguh sunguh dengan kata katanya.


"Sayang, ayo kita pulang. aku cape mau istirahat." Arfi menggenggam tangan Renata.


"Tapi... " Renata ingin menolak.


"Udah ayo pulang, kamu nurut dong kalau disuruh suami." Arfi menarik tangan Renata.

__ADS_1


"Nayra, aku pulang dulu." Renata sempat berpamitan pada Nayra sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Nayra.


"Arfi, kamu kenapa sih tarik tarik aku? aku belum selesai bicara sama Nayra." Ujar Renata ketika ia dan Arfi sudah berada didalam mobil Arfi.


"Engga ada lagi yang harus bicarakan sama perempuan itu, engga ada manfaatnya juga bicara sama dia. lagi pula kamu dengar sendiri, Nayra itu udah ngusir kita. dia bilang mau istirahat." Arfi melampiaskan amarahnya pada Renata, walaupun sebenarnya Nayralah yang membuatnya marah dan kecewa.


Karena tidak ingin bertengkar dengan Arfi, Renata memilih diam. ia tidak menanggapi kata kata Arfi, ia memilih memejamkan matanya dan berpura pura tidur.


...************...


Nayra duduk sambil melamun, ia tidak bisa tidur. ia teringat ancaman Arfi, Arfi akan mengambil anak anaknya jika Nayra memaksa untuk bercerai.


Jam menunjukan pukul sepuluh malam, Nayra turun dari tempat tidurnya. ia kemudian duduk dikursi roda yang ada didepan tempat tidurnya.


Karena belum terlalu kuat untuk berjalan Nayra memilih menggunakan kursi roda itu, Nayra keluar dari kamar tempat ia dirawat, kemudian ia mendorong kursi rodanya kemeja resepsionis.


Nayra mengatakan, ia ingin keluar dari rumah sakit malam itu juga. suster yang berjaga dimeja resepsionis sedikit terkejut, namun ia tidak bisa memaksa Nayra untuk tetap tinggal dirumah sakit itu.


Suster itu kemudian membantu Nayra, ia mendorong kursi roda Nayra sampai kedalam kamar bayi. Sampai dikamar bayi suster itu mengambil Bulan dari tempat tidurnya lalu ia meletakan bayi itu dipangkuan Nayra.


Setelah mengambil Bulan suster itu juga mengambil Bintang, ia menggendong bayi mungil itu dengan sangat hati hati.


Suster itu sangat baik, ia mau mengantar Nayra sampai kedepan pintu taksi. ia membukakan pintu taksi bagian belakang lalu meletakan bayi yang ia gendong disana.


"Sini bu biar saya Bantu." Suster itu mengambil bayi yang ada dipangkuan Nayra agar Nayra bisa masuk kedalam taksi.


"Terima kasih suster." Nayra tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. dengan susah payah ia berusaha masuk kedalam taksi.


"Sama sama bu Nayra, hati hati dijalan." Suter itu memberikan bayi yang ia gendong pada Nayra.


Tidak tahu kenapa suster itu merasa kasihan melihat Nayra karena itu ia bersedia membantu Nayra.


Setelah suster itu pergi Nayra menutup pintu taksi, saat itu Nayra sudah berada didalam taksi dengan kedua anak anaknya. Bintang berada dalam pangkuan Nayra dan Bulan berbaring disamping Nayra duduk.


Satu tangan Nayra memegangi Bintang sementara satu tangannya lagi ia gunakan untuk memegangi Bulan.


Aku tidak mau Arfi merebut anak anakku. Arfi, jangan harap kamu bisa mengambil anak anakku. Aku sudah berbaik hati, mau memberikan Bulan padamu. tapi karena kamu serakah dan ingin membawa Bintang juga aku jadi berubah pikiran. tidak satupun anakku yang akan kuberikan padamu.


Nayra ingin membawa pergi anak anaknya, pergi ketempat dimana Arfi tidak bisa menemukannya.


Sementara itu dirumah Arfi.


Perasaan Arfi tidak enak, ia terus terusan memikirkan Nayra dan anak anaknya. Arfi merasa tidak tenang. ia ingin sekali bertemu dengan Nayra dan juga kedua bayinya.


"Kenapa perasaan ku tidak enak? kenapa aku ingin sekali pergi kerumah sakit? Padahal tadi siang aku sudah bertemu Nayra dan juga anak anakku." Arfi merasa gelisah, ia berjalan mondar mandir dikamarnya


Arfi melirik ke arah tempat tidurnya, dilihatnya Renata sudah tertidur pulas.


"Mumpung Renata tidur, aku pergi saja kerumah sakit sebentar." Arfi mengambil ponsel dan dompetnya yang berada diatas meja.

__ADS_1


Diam diam Arfipun pergi meninggalkan Renata yang sedang berada dialam mimpi.


__ADS_2