
Ibu Ayrin tidak percaya. Arfi yang selama ini dikenal mempunyai keluarga yang harmonis ternyata diam diam mempunyai perempuan lain.
"Itu artinya kamu menghianati Renata?" Ibu Ayrin menangis.
"Maafkan aku mami, Nayra memang istri keduaku." Arfi menundukan wajahnya.
"Arfi kamu keterlaluan, bagaimana kalau keluarga Renata sampai tahu? kamu tidak lupa kan? orang tua Renata itu teman lama papi dan mami." Ibu Ayrin masih menangis.
"Anak tidak tahu diuntung." Pak Bisma ingin memukul Arfi.
Pak Bisma baru mengangkat tangannya, ketika tiba tiba ia mendengar suara Renata. Pak Bisma langsung menurunkan tangannya.
"Papi jangan pukul Arfi." Renata yang semula berdiri didepan pintu langsung masuk kedalam ruangan itu.
"Papi, mami jangan salahkan Arfi. ini semua salahku, aku yang meminta Arfi untuk menikah lagi." Renata berbohong.
"Apa? Renata kamu jangan bercanda."
Ibu Ayrin tidak percaya dengan Renata, mana mungkin ada seorang istri yang meminta suaminya untuk menikah lagi, kecuali ia terpaksa.
"Mami dan papi ingin punya cucu lagi kan? aku cuma ingin mewujudkan keinginan mami dan papi. bukan cuma keinginan mami dan papi tapi keinginan Arfi juga. aku tahu jauh didalam hati Arfi, dia ingin sekali punya anak lagi." Renata berusaha membela Arfi.
"Kami memang ingin sekali punya cucu tapi cucu dari kamu bukan dari wanita lain." pak Bisma merasa geram, ia tidak tahu kalau Renata tidak bisa punya anak lagi.
"Papi, aku minta maaf. dokter bilang aku sudah tidak bisa punya anak." Renata memberanikan diri untuk memberi tahu yang sebenarnya pada Pak Bisma.
Pak bisma yang semula berdiri tiba tiba menjatuhkan dirinya kursi, pak Bisma sedikit tergucang setelah mendengar penuturan Renata. ia tidak bisa berkata kata.
"Renata, bagaimana kalau orang tuamu sampai tahu? mereka pasti akan marah lalu meminta kalian untuk bercerai." Ibu Ayrin tiba tiba merasa kepalanya pusing.
"Mami, jangan pikirkan itu. orang tua aku tinggal jauh diluar kota, mereka tidak akan tahu."
"Dari pada kita semua bertengkar disini lebih baik kita lihat keadaan Nayra sekarang." Saran Pak Bisma.
"Iya papi benar." Ibu Ayrin mengambil tasnya yang ada dimeja.
Arfi, Renata dan kedua orang tua Arfi kemudian pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan Nayra. Sampai disana Nayra masih berada diruangan operasi, mereka semua menunggu dengan cemas.
"Renata, terima kasih. kamu sudah membela aku." Bisik Arfi pada Renata.
"Itu sudah tugasku sebagai seorang istri." Renata menggengam tangan Arfi.
__ADS_1
Setelah menunggu cukup lama akhirnya ruangan operasi terbuka, beberapa orang dokter dan suster keluar dari rumah sakit itu. menandakan kalau Nayra sudah selesai dioperasi.
"Dokter bagaimana keadaan istri anak saya?" Arfi melepaskan genggaman tangan Renata, ia buru buru menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.
Raut wajah Renata mendadak berubah, ia terlihat sangat kecewa. saat itu tidak ada yang perduli pada Renata. sama seperti Arfi, Ibu Ayrin dan pak bisma juga buru buru menghampiri dokter. mereka seakan akan mengabaikan perasaan Renata yang hancur.
"Selamat pak, anak bapak laki laki dan perempuan dua duanya sehat. istri bapak juga sudah baik baik saja." perkataan dokter itu membuat Afri dan keluarganya terkejut.
"Dua maksud dokter?" Arfi bingung.
"Anak bapak kembar."
Arfi sangat bahagia, ia tidak menyangka kalau ia akan memiliki anak kembar. karena terlampau bahagia Arfi sampai menitikan air mata.
"Dokter, apa boleh saya melihat cucu saya?" Ibu Ayrin sudah tidak sabar ingin melihat bayi yang dilahirkan Nayra.
"Tentu saja boleh."
Setelah mendapat ijin dari dokter Ibu Ayrin dan Pak Bismapun pergi melihat cucunya.
Ibu Ayrin dan pak Bisma sudah pergi keruangan bayi, tapi Arfi masih tetap berdiri disana.
"Arfi, kenapa kamu masih berdiri disini? kamu tidak ingin melihat keadaan Nayra." Ucap Renata.
Arfi tidak mengerti mengapa Renata memintanya untuk menemui Nayra. apa dia tidak cemburu, melihat suaminya menemui perempuan lain.
Meskipun Renata sudah tahu kalau Arfi menikah lagi, tapi selama ini Arfi selalu menemui Nayra secara diam diam. Arfi masih menjaga perasaan istri pertamanya itu.
"Renata kamu engga marah? kamu engga cemburu?" Arfi merasa tidak enak.
"Arfi, ini bukan saatnya untuk cemburu. Nayra tadi meminta mami untuk menelphone kamu. mungkin saja ada hal penting yang mau dia bicarakan."
Apa mungkin Nayra mau bicara tentang perceraian? Renata menduga duga.
"Aku pergi dulu, aku mau nyusul mami." Renata pergi meninggalkan Arfi sendiri.
Arfi membuka kamar dimana Nayra dirawat, ia membukanya secara berlahan lahan jantungnya sedikit berdebar debar. ia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada Nayra, sudah beberapa bulan terakhir ia tidak bicara dengan Nayra. ia jadi merasa canggung.
"Dulu waktu aku berpisah dengan Nayra, aku tidak seperti ini. kenapa sekarang aku jadi deg degkan?" Arfi memberanikan diri untuk tetap membuka pintu kamar ini.
Arfi melihat Nayra sedang duduk diatas tempat tidur Nayra terlihat masih lemah.
__ADS_1
"Arfi." Nayra melihat Arfi membuka pintu.
"Nayra." Arfi bejalalan mendekati Nayra, ia lalu memeluk Nayra.
"Nayra, terima kasih. terima kasih karena kamu sudah melahirkan anak kita dengan selamat. anak kita sehat meskipun selama kamu hamil, aku tidak pernah memperhatikan kamu. aku juga tidak pernah mengantar kamu kedokter. Maafkan aku Nay." Arfi masih memeluk Nayra.
"Kamu tidak perlu minta maaf. ini memang akibat yang harus aku terima, karena aku ini pelakor." Mata Nayra sudah basah.
"Sayang, tolong jangan bicara seperti itu. aku sudah pernah bilang kamu itu bukan pelakor, kamu adalah wanita aku cintai." Arfi mempererat pelukannya.
"Arfi, anak kita sudah lahir. saatnya kita untuk bercerai."
Ucapan Nayra membuat Arfi jadi emosi, ia melepaskan pelukannya pada Nayra.
"Cerai? kamu serius? kamu mau kita tetap bercerai?"
Arfi menatap Nayra dengan tatapan penuh amarah. ia ingin sekali mengajak Nayra bertengkar, tapi mengingat kondisi Nayra yang masih lemah membuat Arfi menahan amarahnya.
"Iya.. aku juga akan menepati janjiku, "aku akan memberikan anak kita padamu dan Renata."
"Nayra, apa kamu tidak sayang sama anak kamu sendiri sampai sampai kamu mau memberikan anak itu padaku dan Renata?"
"Rasanya berat sekali memberikan anak itu padamu, tapi tuhan itu adil. anak kita kembar jadi kita bisa berbagi. kamu bisa membawa satu anak kita dan aku akan membawa anak kita yang satunya lagi."
"Jadi kamu tahu kalau anak kita kembar?"
"Aku tahu, aku pernah usg."
"Lalu kenapa kamu tidak mengatakannya padaku?"
"Aku pikir, kamu sudah tidak perduli lagi padaku. beberapa bulan ini, kamu tidak pernah datang kerumahku."
"Aku sering datang kerumah kamu, tapi aku sengaja tidak menemuimu karena aku tidak mau kamu kabur lagi."
"Benarkah?" Nayra merasa terharu.
"Nayra, aku tidak akan membiarkan kamu membawa anak kita, aku mau anak itu dua duanya." Ucapan Arfi mengejutkan Nayra.
"Arfi, kamu jangan egois anak kita kembar, apa salahnya kita berbagi satu satu."
"Aku egois? kamu yang egois. kamu mau kita bercerai tanpa memperdulikan perasaan ku. sudahlah Nay, kamu pilih saja. kamu tetap menjadi istriku atau kamu tidak akan pernah bertemu dengan anak kita."
__ADS_1
Arfi mengancam Nayra, ia marah pada Nayra wanita itu seenaknya saja membuat keputusan sendiri. pertama ia ingin cerai meskipun Arfi tidak menginkannya lalu sekarang ia ingin anaknya dibagi bagi, memangnya dia pikir dia itu siapa sampai bisa mengatur ngatur Arfi.
"Aku tetap dengan keputusanku aku ingin kita bercerai." Ancaman Arfi ternyata tidak membuat Nayra takut.