Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Sikap manis Arfi


__ADS_3

Arfi duduk didalam ruangan dosen yang cukup luas, dosen itu mengambil kotak obat lalu meletakannya diatas meja.


"Pak Arfi saya minta maaf atas kelakuan Raddit. bapak adalah tamu disini, tapi dia malah memukul pak Arfi." Dosen itu meminta maaf pada Arfi.


"Kalau bapak mau. saya bisa mengeluarkan Raddit dari kampus ini" lanjut dosen itu.


Hanya dengan satu kata sebenarnya Arfi bisa saja membuat Raddit dikeluarkan dari kampus itu, tapi Arfi tidak akan melakukanya.


Arfi memang cemburu dan kesal pada Raddit, tapi ia tidak ingin melakukan hal hal yang membuat Nayra membencinya.


"Tidak perlu sampai seperti itu pak, Raddit itu belum dewasa. jadi wajar jika dia belum bisa mengendalikan emosinya." ujar Arfi basa basi.


Seandainya bukan karena Nayra mungkin Arfi akan membuat Raddit dikeluarkan dari kampus itu, tapi ia tahu kalau ia melakukan itu Nayra akan semakin marah padanya.


"Oh iya pak, ngomong ngomong kenapa Bu Nayra ada dikampus ini?" Arfi mulai dengan rencana awalnya yaitu bertanya tentang Nayra.


"Bu Nayra, bekerja dikampus ini. baru beberapa hari ia bekerja, sebenarnya saya ragu ragu menerima bu Nayra bekerja dikampus ini karena bu Nayra sedang hamil. saya khawatir dia tidak bisa bekerja secara maksimal." Cerita dosen itu pada Arfi.


"Lalu kenapa bapak menerimanya?" Arfi ingin tahu.


"Itu karena Raddit yang membujuk saya, saya juga merasa kasihan pada bu Nayra. suaminya pergi meninggalkannya."


Arfi menarik nafas setelah mendengarkan cerita dosen itu.


"Suaminya pergi? maksudnya?" Arfi semakin penasaran ingin mendengar kelanjutan cerita dosen itu.


"Bu Nayra bilang, suaminya pergi dari rumah setelah tahu bu Nayra hamil. setiap hari bu Nayra selalu menunggu suaminya pulang, tapi sampai sekarang suaminya tidak pulang pulang." Dosen itu kembali melanjutkan ceritanya tentang Nayra.


Nayra, kenapa dia bicara seperti itu tentang aku.


Arfi kesal karena Nayra menjelek jelekan dirinya, dengan cepat ia mengobati memar memar yang ada diwajahnya.


"Terima kasih pak, saya sudah selesai. kalau begitu saya pulang dulu." Arfi berdiri dari duduknya.


Setelah berpamitan Arfi kemudian menghampiri Renata yang sudah menunggunya didalam mobil.


Didalam mobil Arfi


"Arfi, kamu kenapa sih dari tadi diam? apa semua ini karena Nayra?" pertanyaan Renata membuat Arfi kembali kesal.


Arfi jadi teringat kata kata dosen itu kalau Nayra mengatakan suaminya tidak pernah pulang.


"Aku memang kesal sama Nayra, kamu bayangin aja dia cerita sama orang orang kalau suaminya engga pernah pulang, dia juga cerita kalau suaminya pergi meninggalkan dirinya." Arfi menumpahkan amarahnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu harus marah? yang dikatakan Nayra itu benar." Renata sependapat dengan Nayra.


"Apa?"


"Sekarang aku tanya sama kamu. apa pernah kamu tinggal beberapa hari bersama Nayra?"


Pertanyaan Renata membuat Arfi menjadi emosi.


"Maksud kamu apa bicara seperti itu? Kamu tahu tidak? aku tidak pernah menginap dirumah Nayra itu juga karena kamu. apa kamu rela? aku membagi waktuku dengan Nayra. oke...kalau begitu mulai besok aku akan berlaku adil. tiga hari aku dirumah kita dan tiga hari aku dirumah Nayra. begitu seterusnya." Arfi jadi sewot.


"Kenapa kamu marah marah? Aku kan cuma bilang kalau apa yang dikatakan Nayra benar. aku tidak minta kamu berbagi waktu dengan Nayra."


"Ah... sudahlah, kamu sama Nayra memang sama saja. sama sama bikin bingung." Arfi menghentikan mobilnya lalu ia keluar dari mobilnya.


"Arfi kamu mau kemana?" Renata ikut keluar dari mobil.


"Renata maaf, kalau aku marah marah. aku butuh waktu sendiri. sebaiknya kamu pulang."


"Tapi.."


"Renata, aku janji aku tidak akan lama. kamu pulang duluan ya. tenang saja aku tidak akan mencari Nayra, karena percuma. kalau aku datang kerumahnya dia pasti akan mengusirku." Arfi membujuk Renata.


Renata menuruti keinginan Arfi ia masuk kedalam mobil kemudian ia pulang sendiri tanpa Arfi.


Dengan perasaan campur aduk Arfi memesan taksi, ia ingin pergi kerumah Nayra. sampai dirumah Nayra ia melihat pemandangan yang menyakitkan mata. Arfi melihat Nayra sedang duduk berdua bersama Raddit.


Mereka bicara sambil tertawa. Arfi akui sikap Raddit yang kekanak kanakan terkadang memang lucu, tapi apa harus Nayra tertawa sebahagia itu.


Nayra sudah lama aku tidak melihat senyuman diwajahmu, tapi saat aku melihatmu tersenyum kamu sedang tersenyum bersama dengan orang lain bukan denganku. Arfi mengepalkan tangannya.


Rasanya Arfi ingin sekali memukul kembali Raddit, tapi Arfi mengurungkan niatnya karena ia tidak mau membuat keributan dirumah Nayra.


Arfi baru ingin pergi meninggalkan rumah Nayra namun sebelum Arfi pergi Nayra sudah melihatnya lebih dulu. Nayra segera meminta Raddit pulang dengan alasan kalau ia sudah mengantuk dan ingin segera tidur. Setelah Raddit pulang Nayra menghampiri Arfi yang bersembunyi dibalik tembok.


"Mau apa kamu kemari?" Ucap Nayra judes.


sebenarnya Nayra tidak ingin bersikap dingin pada Arfi, Nayra terpaksa melakukan itu agar Arfi membencinya dan berhenti mencarinya.


"Nay, aku ini suami kamu. apa tidak boleh seorang suami datang menemui istrinya."


"Kita sudah sering membicarakan ini, kamu juga pernah bilang setelah bayi ini lahir kamu setuju untuk menceraikan aku. Arfi, aku mohon kamu fokus saja pada keluargamu pikirkan saja Renata dan Kevin. jangan perdulikan aku."


Nayra sunguh membuat darah Arfi naik, Arfi teramat sangat marah. bahkan wajahnya mulai terlihat menakutkan, ia menatap Nayra dengan tatapan membunuh. Nayra bisa merasakan kemarahan Arfi, ia buru buru ingin berjalan meninggalkan Arfi.

__ADS_1


"Mau kemana?" Arfi memegangi tangan Nayra.


"Aku mau masuk kedalam." Nayra berusaha melepaskan gengaman tangan Arfi tetapi Arfi justru mengeratkan gengaman tangannya pada Nayra.


"Arfi, apa Renata tahu kamu ada disini?"


Arfi melepaskan gengaman tangannya Ada raut kesal diwajah Arfi saat mendengar pertanyaan Nayra. Arfi sempat berpikir, wanita ini apa sedang menguji kesabarannya.


"Sudah aku bilang, jangan bicarakan Renata saat kita sedang berdua." Arfi merendahkan suaranya. melihat perut Nayra, ia baru sadar Nayra sedang hamil.


"Nay, sebenarnya ada apa denganmu? kenapa kamu selalu menolakku?" Arfi berjalan berlahan lahan dengan lembut memeluk Nayra.


"Aku tidak bermaksud menolak kamu, aku menjauhi kamu karena aku takut."


"Apa yang kamu takutkan?" Arfi masih memeluk Nayra. kali ini Nayra tidak memberontak, ia membiarkan Arfi memeluknya.


"Aku takut kalau kita terlalu dekat, aku tidak bisa berpisah denganmu.aku takut aku tidak bisa jauh darimu." Nayra akhirnya mengungkapkan isi hatinya.


"Kalau begitu kita tidak perlu berpisah."


"Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, tapi aku sudah mengatakan pada Renata kalau kita akan bercerai setelah anak kita lahir. Kalau kita tetap bersama Renata yang akan minta cerai. apa kamu tidak memikirkan Kevin? Dia masih kecil, dia butuh orang tua yang lengkap."


"lalu bagaimana dengan anak kita, anak kita juga butuh orang tua yang lengkap."


"Anak kita belum lahir, seandainya anak kita sudah lahir, anak kita juga masih bayi dia belum mengerti apa apa."


"Nay... "


"Arfi, aku cape membahas masalah ini terus terusan. intinya kita tidak bisa bersama lagi." Nayra melepaskan pelukan Arfi.


Arfi tidak mengerti mengapa Nayra begitu keras kepala, tapi Arfi memilih mengalah, Arfi tidak ingin berdebat lagi dengan Nayra. Arfi hanya diam tidak membalas kata kata Nayra. suasana pun menjadi kaku hingga beberapa saat kemudian.


"Ini sudah malam, aku pulang dulu." Arfi tiba tiba mencium kening Nayra.


Nayra terkejut, belum hilang rasa terkejutnya Arfi mendadak mendadak memegang perut Nayra.


"Nak, ayah pulang dulu." Arfi mengelus elus perut Nayra.


"Jaga dirimu baik baik Nay." Setelah memegang megang perut Nayra dengan lembut Arfi mengelus elus kepala Nayra.


Sikap manis Arfi membuat hati Nayra tersentuh.


Apa begini juga sikap Arfi pada Renata? pantas saja Renata mau memaafkan Arfi meskipun Arfi sudah menghianatinya. Batin Nayra sedih.

__ADS_1


__ADS_2