
Kini aku fokus pada Kesehatan Alex dan mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhannya saat tengah mengikuti meeting Soffie menghubungi ku berkali kali namun karena sedang berada di dalam rapat aku tidak mengangkatnya.
Aku menghubungi nya Kembali namun diluar dugaan rupanya dia tadi datang kerumah karena ini adalah jadwalnya bersama Alex dan bodohnya ku lupa memberi tahu pada orang di rumah untuk tidak memberi tahu terlebih dahulu terkait kondisi Alex.
“ Mas!Keterlaluan , kamu ya mas! Kondisinya separah ini kamu sama sekali tidak memberi tahu saya.” Amuknya begitu kami tersambung dalam panggilan telfon.
“Soff.. kamu dengar dulu penjelasan mas bukannya mas tidak mau memberi tahukan hal ini pada kamu tapi mas masih menunggu waktu yang tepat.” Ujar ku berkilah.
“Menunggu waktu yang tepat? Saya ini ibu kandung nya mas, saya yang mengandung nya saya yang melahirkannya!.”
“ Kalau sampai terjadi hal hal yang tidak diinginkan saya bunuh kamu mas!” ancam nya dengan teriakan histeris.
“Soff jangan ngaco kamu! Jangan lupa saya juga papa nya saya yang merawatnya setelah kita bercerai, ngomong apa kamu kamu?!.” Bentak ku tak kalah sengit karena terus menerus dipojokkan.
“Saya jadi terharu mas dengar ucapan kamu. Bullshit! Kamu hanya memberikan materi tapi tidak pernah memberikan kasih sayang! dia tumbuh dari kasih sayang seorang suster, Sementara kamu sibuk dengan kesenangan pribadi kamu!.” Cecarnya tanpa ampun.
“ Cukup Soffie! Kamu juga seharusnya introspeksi diri kalau kamu tidak berkhianat tentu nya saya tidak akan menceraikan kamu dan dia tidak akan kehilangan kasih sayang!.”
“ Tidak perlu mengorek masa lalu saya mas.. kita tidak hidup di masa lalu ! kalau saja kamu tidak egois tentu nya kamu membiarkan hak asuh jatuh ketangan saya!."
Setidak nya dia menerima kasih sayang ibu kandung nya.. bukan kasih sayang seorang suster yang tidak ada hubungan darah dengannya!.”
“Tapi kamu terlalu Arogan kamu terlalu menilai kesalahan saya tanpa pernah mau introspeksi kamu menghalal kan segala cara agar hak asuh jatuh ketangan kamu!.”
“ Diammmmmm!!! Kamu bisa diam tidak?!” pekik ku dengan suara bergetar menahan emosi .
Segera ku akhiri panggilan telfon diantara kami karena suasana semakin memanas .
Nafas ku memburu karena berusaha menahan emosi sepanjang percakapan segera ku sambar air mineral yang terletak di meja kerja ku.
Selama menjalani pengobatan aku dan Soffie bargantian menjaga nya di luar jam kantor hari hari biasa pengasuhnya yang menunggui di rumah sakit.
Tidak terasa sudah sudah 8 bulan alex menjalani pengobatan intensif hari ini dokter mengizinkan aku membawanya berjalan jalan di sekitar rumah sakit .
Dia tampak Antusias menghirup udara di luar
" Paa paa Alex bosan pa ayo pulang pa." rengek nya sambil berlinang air mata.
" Sabar ya jagoan , nanti kalau Sudah sembuh pasti kita pulang ok ?." bujuk ku dia hanya mengangguk lemah .
__ADS_1
Wajar saja dia merasa bosan sudah 8 bulan dia bergelut penyakitnya .
Setelah berjalan jalan selama 1 jam Alex harus kembali keruang perawatan.
Sore harinya aku menemani Soffie menumui dokter yang menangani Alex.Tok tok tok!
" Masuk" sahut dokter dari dalam kemudian kami di persilahkan duduk.
Dokter menjelas kan agar segera di lakukan transplantasi sumsum tulang belakang.
Aku kembali menghubungi Soffie untuk menayakan kapan ia bisa menemui dokter terkait kesediannya menjadi donor bagi putra kami.
" Ya hallo, kenapa mas." Ujarnya
" Kamu serius kan menjadi donor untuk Alex?."
"Mas kira saya main main? jangan kan cuma sumsum tulang belakang nyawa pun saya berikan." Sahutnya terdengar sinis di telinga ku.
"Soff please bisa tidak, tidak perlu ada keributan diantara kita?!." Sergah ku.
"Bisa, oh ya mas tidak pergi clubbing saat dia tengah bergelut dengan penyakitnya kan?!."
Aku merasa benar benar kesal karena ia masih saja menyerang ku dnegan kata kata yang memojok kan ku.
Segera ku akhiri panggilan telfon itu sebelum amarah ku benar benar meledak.
" Saya saja dok yang jadi donornya saya ibunya." sahut Soffie mengajukan diri.
" Tidak bisa begitu saja bu, ada prosedur nya nanti akan dilakukan test untuk mencari kesesuaian HLA."(Human leucocyte Antigen.")
"Untuk donor yang masih ada hubungan darah harus ada kesesuaian HLA sebanyak 6."
"Untuk donor yang tidak ada hubungan darah harus ada kesusuaian HLA 8." jelas dokter secara gamblang. Setelah memdengar penjekasan dokter Soffie menjalani serangkain test .[ HLA adalah protein yang terdapat pada sel tubuh]
Dan hasilnya terdapat kesamaan HLA antara Soffie dan Alex sedang kan aku tidak memuhi syarat karena aku mengidap hepatitis .
Hari itu juga Soffie menjalani prosedure pengambilan sumsum dari tulang belakang dia tampak Nervous karena harus di bius total.
" Mas aku nervous "ujarnya menoleh kearah ku dengan muka cemas.
__ADS_1
Aku meraih nya dalam pelukan ku itulah pertama kali aku memeluknya tanpa perlawanan setelah hampir 3 tahun berpisah.
" Tenang kamu hebat ,yakin bisa melalui ini semua ok." Bisik ku seraya menggengam tangannya yang menjadi dingin karena grogi.
Tidak lama dia memasuki ruangan untuk dilakukan pengambilan sumsum tukang belakang yang nantinya akan di donor kan pada Alex.
Selama dua jam aku menunggu dengan cemas tak henti hentinya doa aku panjatkan untuk keduanya.
Dua jam itu aku tersiksa dlama rasa khawatir ynag begitu besar mengingat Soffie sedang dalam kondisi tidak sadar dan berjuang demi kesembuhan putra kami.
Tidak lama Soffie di dorong keruang perawatan karena proses pengambilan sumsum tulang belakang sudah selesai.
Dia masih dalam pengaruh bius matanya terpejam aku pandangi wajah perempuan yang pernah mendampingi ku selama lima tahun itu.
Wanita yang telah memberi ku putra semata wayang yang pintar dan menggemaskan tapi ssyang nya kini dia tengah bergelut dengan penyakitnya.
Aku menggenggam jemari lentiknya yang masih dingin tidak lama dia pun membuka matanya
" Mas.. saya haus" Ujarnya lirih dia.
Aku dengan sigap menyambar botol mineral di samping tempat tidurnya.
Karena tubuhnya masih lemah aku membantunya memegangi botol air mineral itu.
" Sudah mas.." Ujarnya masih dengan suara yang lemah.
" Apa yang kamu rasakan ? Pusing?." Ujar ku
Lagi lagi ia hanya mengangguk lemah, sesaat kemudian ia berbaring kembali.
" Ya sudah kamu istirahat dulu ya mas tinggal dulu kekamar Alex." Ujar ku seraya membetulkan selimut nya ynag tersingkap.
Aku segera melangkah menuju pintu namun belum sempat tangan ku menyentyh gagang pintu dia memanggil ku.
Mas.." sontak aku meghentikan langkah dan menoleh kearahnya.
" Ya.. kenapa Soff?." Tanya ku
" Terima kasih." Sahutnya seraya tersenyum tipis.
__ADS_1