Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Bertemu Arfi dikampus


__ADS_3

Renata dan Arfi bersiap siap untuk pulang karena demam Arfi sudah turun, dokter memperbolehkan Arfi pulang.


"Renata, Aku kekamar mandi dulu." Arfi meninggalkan Renata sendirian.


Renata haus. ia ingin mengambil botol minuman yang ada diatas meja, tapi saat Renata ingin mengambil botol itu. ia melihat sebuah cincin.


"Cincin siapa ini? " Renata mengambil cincin itu.


Renata tidak tahu kalau itu adalah cincin Nayra yang tertinggal. Renata ingin bertanya pada Arfi cincin siapa itu, tapi karena Arfi sedang ada dikamar mandi Renata tanpa sadar memasukan cincin itu kedalam tasnya. saat itu Renata menerima telphone dari rekan kerjanya.


Sementara itu dirumah Nayra.


Nayra baru saja pulang dari rumah sakit, ia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. ia merasa, sangat lelah.


"Bakso... bakso...


Nayra mendengar ada tukang baso yang lewat didepan rumahnya, Nayra bangun dari duduknya, ia buru buru keluar dari rumah untuk menghentikan tukang bakso itu.


Tukang bakso itu kebetulan masih berada didepan rumah Nayra, ia segera berhenti ketika Nayra memanggilnya.


"Saya pesan bakso satu mangkuk." Nayra berdiri disamping tukang bakso itu.


Ketika Nayra sedang menunggu bakso pesanannya, ada Beberapa ibu ibu yang lewat didepan rumahnya. mereka tampak terkejut melihat Nayra.


"Nayra." Ibu Ranti salah seorang dari ibu ibu itu menyapa Nayra.


Mendengar namanya disebut Nayra menoleh, ia tersenyum pada ibu ibu yang melewati rumahnya.


"Nayra, kamu hamil?" Ibu Ranti menghentikan langkahnya sambil memandangi perut Nayra yang besar.


Dua orang ibu ibu yang berjalan bersama bu Rantipun ikut berhenti.


"Memangnya kamu sudah nikah? Atau jangan jangan kamu hamil diluar nikah?" Ibu Sofia yang merupakan teman Ibu Ranti menanyakan sesuatu yang membuat hati Nayra sakit.


Apa kejadiaan dikampung akan terulang lagi disini? mereka tidak percaya kalau aku sudah menikah karena Arfi tidak tinggal bersamaku, lalu mereka akan mengusirku. tidak, tidak...aku tidak boleh terusir dari sini. Batin Nara


"Iya ibu ibu, saya sudah menikah." Nayra tersenyum ramah.


"o.. ya... kalau begitu. mana suami kamu?" Bu Ranti kembali bertanya.


"Suami saya, pergi meninggalkan saya." Nayra memasang wajah sedih.


"Maksud kamu?" Bu Ranti tidak mengerti maksud perkataan Nayra.


"Jadi waktu dikampung, saya menikah dengan teman lama saya. tapi baru satu bulan menikah suami saya pergi dari rumah, dia pamit. katanya mau kerja diluar kota. setelah suami saya pergi saya baru tahu kalau saya hamil." Nayra terpaksa berbohong.

__ADS_1


"Saya berusaha menghubungi suami saya, tapi handphonenya engga aktif dan sampai perut saya membesar suami saya engga pulang pulang." Nayra berpura berpura sedih.


"Ya ampun Nayra, kasihan sekali kamu. lagi hamil, tapi suami kamu malah pergi."


"Keterlaluan sekali suami kamu."


Ibu Ranti dan ibu ibu yang lain tiba tiba merasa iba pada Nayra, sikap mereka yang semula judes mulai melunak.


"Sebenarnya saya sudah memutuskan untuk tinggal dikampung bersama suami saya, tapi karena suami saya meninggalkan saya. saya akhirnya pulang lagi kesini." Nayra mengusap usap matanya ia berlagak seperti ingin menangis.


"Sudah Nay, jangan diterusin ceritanya nanti kamu jadi sedih. ibu hamil itu engga boleh stress. kita pergi dulu, maaf ya kita jadi bikin kamu sedih." Ibu Ranti dan ibu ibu lainnya kemudian pergi meninggalkan Nayra.


Syukurlah mereka percaya dengan ceritaku, aku terpaksa berbohong. aku tidak mungkin mengatakan kalau aku ini istri kedua, mereka akan semakin membenciku. rumah tangga macam apa yang sebenarnya aku jalani? aku punya suami, tapi seperti hidup sendiri. Nayra menjadi sedih dan ia benar benar ingin menangis.


Awalnya aku cuma pura pura sedih, kenapa aku jadi sedih beneran. Nayra menghapus air matanya.


"Bu, ibu jangan sedih. ini makan baksonya biar hilang sedihnya." Bakso yang Nayra pesan sudah siap.


"Terima kasih pak." Nayra mengambil nampan berisi semangkuk bakso yang ada dihadapan tukang bakso itu.


"Sebentar ya pak." Nayra masuk kedalam untuk memakan bakso itu.


......................


Beberapa hari kemudian


"Arfi, besok ada undangan dari universitas Paramadina. kamu ingat kan?" Renata meletakan segelas teh hangat dimeja kerja Kerja Arfi.


Meskipun sakit, Arfi masih sering melakukan pekerjaannya dari rumah.


"Iya aku ingat." ucap Arfi tanpa menoleh, ia sibuk dengan laptopnya.


Universitas paramadina berulang tahun yang kedua puluh dan pihak kampus mengudang Arfi untuk mengisi acara. disana nanti, Arfi diwawancarai sekaligus diminta untuk bercerita tentang bagaimana ia bisa sukses membangun sebuah perusahaan.


Hal itu bertujuan memotifasi mahasiswa, mahasiswi agar mereka bersemangat dan bekerja keras untuk meraih kesuksesan. Arfi tidak tahu kalau dikampus iti ada sebuah kejuatan yang akan ia dapatkan saat ia datang keacara kampus itu.


Keesokan harinya


Nayra tergesa gesa keluar dari rumahnya, ia ingin cepat sampai dikamus tempatnya bekerja.


"Aku tidak boleh terlambat, kenapa taksi online yang aku pesan belum datang juga?" Nayra mulai gelisah.


Ketika Nayra sedang gelisah sebuah mobil berhenti tepat didepan Nayra.


"Raddit." Nayra melihat pengendara mobil itu membuka kaca mobilnya, pengendara mobil itu ternyata adalah Raddit.

__ADS_1


"Nay, ayo naik." Raddit meminta Nayra masuk kedalam mobilnya.


Nayra tersenyum bahagia, ia tidak menolak tawaran Raddit. Nayra bahkan langsung masuk kedalam mobil Raddit.


"Raddit, sejak kapan kamu mulai bawa mobil? biasanya kamu bawa motor." Nayra tahu orang tua Raddit memiliki banyak mobil, tapi setahu Nayra Raddit lebih sering dan lebih suka naik motor.


"Sejak sekarang."


"Bukannya kamu lebih suka naik motor?" Tanya Nayra


Nayra, andai saja kamu tahu. aku bawa mobil itu demi kamu, supaya kamu engga nolak pergi bareng aku.


Sejak perut Nayra mulai membesar, Nayra memang tidak pernah naik motor, ia juga tidak tahu kenapa ia jadi takut naik kendaraan beroda dua itu.


"Nay, hari ini ulang tahun universitas paramadina kampus kita. kamu tahu engga? aku juga ngisi acara?" Raddit mengalihkan pembicaraan.


"Kampus kita? itu kampus kamu bukan aku, kamu yang kuliah disana." Nayra membatah kata kata Raddit.


"Aku kuliah disana dan kamu kerja disana. kita sama sama menghabiskan waktu dikampus itu, jadi itu kampus kita." Raddit kekeh dengan pendapatnya.


"Iya terserah." Nayra malas berdebat dengan Raddit.


"Ngomong ngomong, kamu ngisi acaranya apa?" Nayra ingin tahu.


"Aku nyanyi sambil main gitar."


"O... "


"Acaranya seru Nay. ada nyanyi dance, ada juga wawancara dengan pengusaha sukses dan masih banyak lagi." Raddit terlihat antusias.


"Iya.... aku tahu. kamu tahu engga? siapa pengusaha sukses yang diundang?" Nayra penasaran.


"Ennga tahu Nay. katanya sih kejutan." Raddit sedikit mengangkat bahunya.


Sampai dikampus suasana sangat ramai Nayra memilih duduk dikursi paling depan, Sedangkan Raddit memilih bergabung dengan teman temanya.


Akhirnya acara yang ditunggu tunggu mulai juga, mc naik keatas panggung lalu menyampaikan beberapa kata.


"Selamat pagi semuanya, untuk merayakan ulang tahun universitas paramadina yang kedua puluh kita akan mengadakan beberapa acara dan sebagai pembuka acara, kita sambut kedatangan tamu istimewa kita. seorang pengusaha sukses yang terkenal, yaitu bapak Arfi ardiansya pranata."


Deg.....


Jantung Nayra berdetak kencang, ia tidak percaya tamu istimewa yang dirahasiakan ternyata adalalah Arfi.


Arfi Naik keatas panggung, ia tersenyum sambil melihat kearah kursi penonton dan betapa terkejutnya Arfi saat ia melihat Nayra duduk dikursi paling depan.

__ADS_1


Saat itu Nayra juga sedang menatap Arfi, merekapun saling berpandangan.


__ADS_2