
Setelah tidur beberapa jam Nayra merasa tubuhnya sudah tidak lemas lagi, ia juga merasa tenaganya pulih kembali Nayra segera mandi lalu ia pergi kerumah Arfi.
Nayra melihat pintu rumah Arfi tertutup, pagarnyapun masih terkunci. Nayra menekan bel tapi tidak ada orang yang keluar.
Nayra kemudian berinisiatif pergi kerumah orang tua Arfi, tapi sama seperti rumah Arfi rumah ibu Ayrin dan pak Bisma juga tertutup dan terkunci.
"Kemana mereka." ucap Nayra sedih.
Disaat sedang bingung dan putus asa mencari anak anaknya, Nayra duduk didepan halte bis. Nayra melihat ponselnya, jam dilayar ponsel Nayra menunjukan pukul sebelas siang.
Apa mungkin Arfi kerja? Pikir Nayra.
Nayra kemudian mencoba kekantor Arfi, sampai disana ia langsung menemui resepsionis, Nayra kecewa karena resepsionis itu mengatakan kalau Arfi tidak akan berkerja selama seminggu. Resepsionis itu juga mengatakan Arfi dan keluarganya sedang berlibur entah kemana.
Nayra berusaha menghubungi bu Ayrin, tapi ponselnya tidak aktif. setelah berputar putar mencari Arfi, Nayra lelah. ia memutuskan untuk pulang kerumahnya.
Nayra duduk didepan terasnya dengan wajah yang terlihat sedih.
"Nayra." Raddit yang kebetulan lewat didepan rumah Nayra melambaikan tangannya.
Raddit menghampiri Nayra lalu dengan santai ia duduk dikursi yang ada disebelah Nayra.
"Nay, kamu kenapa sedih?" Tanya Raddit yang melihat Nayra menyeka air matanya.
"Aku kesal karena Arfi memecatku dan dia tidak mengijinkan aku bertemu dengan Bintang dan bulan. aku sampai memohon mohon padanya, padahal aku cuma ngerjain Arfi dengan pura pura tidak mau pulang. tapi Arfi marah beneran dan sekarang dia pergi." Cerita Nayra.
"Pergi kemana Arfi? dasar cowok engga bertanggung jawab, cowok engga jelas." umpat Raddit namun masih bisa terdengar oleh Nayra.
"Arfi dan keluarganya pergi berlibur, aku tidak tahu dia kemana." Nayra benar benar sedih.
"Nay, boleh aku kasih saran?"
"Saran apa?"
"Kamu engga usah nyari Arfi lagi, biarin aja dia pergi. kalau dia benar benar mencintai kamu, dia pasti akan mencari kamu." Ujar Raddit memberi keyakinan pada Nayra.
"Aku juga maunya begitu, tapi aku engga bisa jauh dari anak anakku." Nayra menangis.
"Nay, udah dong jangan nangis. kamu sabar ya, tunggu sampai Arfi pulang liburan. nanti aku akan bantu kamu untuk cari anak anak kamu."
"Raddit terima kasih. maaf, dari dulu selalu ngerepotin kamu." Nayra masih menangis.
Raddit tidak tega melihat Nayra menangis, ia lalu memberikan sapu tangan Nayra agar Nayra bisa menghapus air matanya.
"Sama sama Nay, yaudah aku pulang dulu. aku ditungguin sama ibu aku dirumah." Raddit meletakan sapu tangannya dipangkuan Nayra.
"Jangan sedih lagi ya Nay." Raddit kemudian beranjak pergi dari rumah Nayra.
Nayra masuk kedalam rumahnya, ia membaringkan tubuhnya diatas sofa.
__ADS_1
Dulu aku sering kabur, pergi meninggalkan Arfi. aku tidak perduli dengan perasaan Arfi, jadi begini rasanya. begini rasanya mencari seseorang, begini rasanya kehilangan seseorang. aku bukan hanya kehilangan Arfi tapi juga kehilangan anak anakku
Nayra memejamkan matanya, ia merasa sangat letih.
Sudah tiga Hari Nayra menunggu Arfi pulang, tapi belum ada tanda tanda kalau Arfi akan pulang kerumahnya. pegawai kantor Arfi memang mengatakan Arfi berlibur selama satu minggu, tapi Nayra sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arfi dan juga anak anaknya.
Seperti orang bodoh, setiap hari Nayra pergi kekantor Arfi hanya untuk melihat, apakah Arfi akan datang bekerja atau tidak. padahal sudah jelas belum satu minggu Arfi pergi dan terkadang Nayra juga datang kerumah Arfi.
"Kalau Arfi pulang aku akan tinggal dirumah ini. aku tidak perduli, Arfi setuju atau tidak? lagi pula rumah ini sudah Arfi berikan padaku. dan surat suratnya juga atas namaku jadi Arfi tidak bisa mengusirku." Ucap Nayra sambil berdiri didepan rumah yang Arfi beli untuk dirinya.
Nayra kemudian pulang kembali kerumahnya, ia merasa usahanya sia sia.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Arfi baru saja sampai dibandara, saat itu jam menunjukan pukul empat sore, Arfi memang baru saja pulang berlibur bersama orang tua anak anaknya.
Arfi mengajak keluarganya liburan keparis, Arfi butuh waktu untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikirannya. Renata yang mengikari janjinya membuat Arfi sakit hati ditambah lagi ia melihat Nayra berpelukan dengan Raddit membuat pikirannya semakin kacau.
Rencananya Arfi ingin liburan selama seminggu, tapi baru tiga hari Arfi sudah memutuskan untuk pulang. Ada meeting dan pekerjaan penting yang harus ia selesaikan.
Arfi pulang sendiri sedangkan kedua orang tuanya pergi bersama Bulan dan Bintang. orang tua Arfi juga membawa dua orang baby sister untuk membantu mereka mengurus anak anak Arfi. baby sistrer itu orang orang yang pernah bekerja dirumah orang tua Arfi.
Arfi semula ingin langsung pulang kerumah, tapi Kevin terus menelphonenya. anak itu mengatakan kalau ia merindukan Arfi, Arfi akhirnya memutuskan untuk menemui Kevin diapartement Renata.
Arfi sedikit terkejut karena Kevin mengatakan kalau ia dan Renata berada dirumah bukan diapartement, Arfi tentu tahu rumah yang dimaksud Kevin. Rumah dimana dulu ia tinggal bersama Kevin dan Renata.
Waktu aku menceraikan Renata. Renata tidak mau tinggal dirumah itu, kenapa dia sekarang ada dirumah itu? kenapa Renata berubah? apa semuanya karena Satria? apa Satria meminta Renata mengambil rumah itu?
Prasangka prasangka buruk muncul dalam pikiran Arfi, dengan kesal Arfi buru buru melajukan mobilnya.
Tidak butuh waktu lama Arfi akhirnya sampai didepan rumahnya bersama Renata. hati Arfi terasa sangat perih dan sakit, tiba tiba ia terbayang saat saat dimana ia masih menjadi suami Renata.
Terbayang kebahagian mereka ketika Ia dan Renata baru menikah dan juga kebahagiaan mereka saat Kevin terlahir didunia, tapi sayangnya semua itu hanya tinggal kenangan, Arfi sendiri yang menghancurkan rumah tangganya.
Arfi berjalan lesu memasuki halaman rumah itu, ia melihat pintu rumah itu terbuka. berlahan lahan Arfi sampai didepan pintu rumah yang mulai terasa asing baginya.
Hati Arfi seakan hancur ketika ia melihat pemandangan yang ada didepan matanya, saat itu Renata, Satria dan Kevin sedang duduk bertiga disofa. Renata dan Satria duduk ditengah tengah Kevin, mereka tampak seperti keluarga yang bahagia.
Renata pernah melihat aku dan Nayra dirumah ini, sekarang Aku melihat Renata dan Satria dirumah ini. jadi begini rasanya? apa ini yang dulu Renata rasakan? sakit rasanya benar benar sakit. Batin Arfi sedih.
"Sayang, kamu suka kan mobil mobilan yang dibeliin papa Satria." Tanya Renata sambil tersenyum menatap Kevin.
"Iya mama aku suka." Kevin terlihat senang, ia memegangi mobil mobilan mini yang dibelikan Satria.
"Kalau kamu suka. besok papa beliin lagi." Satria mengusap usap kepala Kevin.
"Aku mau kekamar ma, mau pipis dulu."Kevin mendadak ingin buang air kecil.
"Ya udah, ayo papa temenin." Satria menuntun Kevin ketoilet.
__ADS_1
Renata sangat senang melihat keakrapan Satria dan Kevin, mata Renata lalu menatap kearah kepintu dan betapa kagetnya ia melihat Arfi yang sedang berdiri disana.
"Maaf, aku mengganggumu." Arfi lalu berjalan pergi dari tempatnya berdiri wajahnya kelihatan sedih.
"Arfi tunggu!" Renata mengejar Arfi.
"Ada apa?" Arfi menoleh ketika Renata sudah berdiri dihadapannya.
"Aku ingin bicara sebentar."
Arfi diam tak menjawab, tapi ia mengikuti langkah kaki Renata, Renata berjalan ketaman yang tidak jauh dari rumahnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? apa kamu mau bicara soal rumah kita?" Tanya Arfi ketika mereka berdua sudah duduk ditaman.
Hati Renata seperti tercubit ketika Arfi mengucapkan kata rumah kita.
"Iya.. aku ingin mengembalikan kunci rumah itu padamu. maaf, karena aku sibuk kerja aku jadi belum sempat mengembalikannya. tadi Kevin merengek ingin datang kerumah itu, dia bilang dia kangen sama kamarnya dan juga mainan mainannya." Renata bercerita panjang lebar.
"Bukankah Satria sudah membelikan mainan untuk Kevin? Kevin tidak memerlukan mainan dariku lagi. mainan yang sudah usang lebih baik dibuang saja, biar Kevin membuang mainan dariku sama seperti kamu yang membuang diriku. Kalian berdua sudah tidak membutuhkan aku lagi. benar kan?" ucap Arfi sambil menahan tangisnya.
"Arfi, jangan berkata begitu. sampai kapanpun Kevin tetap membutuhkanmu."
"Benarkah? kamu tidak usah menghiburku. Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, aku pulang. masalah rumah, rumah itu memang sudah kuberikan untukmu jadi kamu tidak perlu mengembalikan kuncinnya padaku." Arfi berdiri, ia ingin pergi dari taman itu.
"Aku tidak mungkin tinggal dirumah itu, dimana banyak kenangan diatara kita."
"Kalau begitu kau jual saja atau terserah mau kau apakan? aku tidak perduli." Ucap Arfi penuh penekanan.
"Arfi, jangan pergi dulu." Renata kembali mencegah Arfi pergi.
"Ada apa lagi?"
"Aku sebenarnya ingin memberikan ini." Renata mengeluarkan cincin dari saku bajunya lalu ia memberikanya pada Arfi.
"Ini kan cincin Nayra, kenapa bisa sama kamu? Arfi mengamati cincin yang diberikan Renata.
"Jadi itu cincin Nayra? aku menemukannya dikamar rumah sakit. kamu ingat? dulu kamu pernah pingsan dan kamu mimpi bertemu dengan mami dan papi kamu." Renata mengingatkan Arfi.
"Kejadian itu sudah lama, kenapa kamu baru memberikan cincin ini sekarang?"
"Aku lupa, waktu menemukan cincin itu aku langsung taruh ditas."
Renata memang memiliki banyak tas. kebetulan tas yang ia gunakan untuk menyimpan cincin Nayra itu sudah lama tidak dipakai.
Semula ia ingin mengambil tas itu, tapi ia justru menemukan cincin yang dulu ia simpan.
kalau cincin ini ditemukan dikamar rumah sakit, itu berarti Nayra ada disana dan itu berarti aku bukan mimpi.
Arfi mencoba mengingat ingat kejadian dirumah sakit saat itu.
__ADS_1