
Arfi menjatuhkan tubuhnya disofa, kepalanya berdenyut saat ia ingat Renata pergi dari rumah. Arfi juga teringat kalau ia sudah memarahi Nayra.
Nayra, apa yang sudah aku lakukan padanya? Hari ini dia sudah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, tapi aku malah memarahinya. Arfi merasa menyesal.
Arfi bergegas keluar dari rumahnya, ia ingin mencari Nayra.
"Nayra sudah pergi." Arfi kembali masuk kedalam rumahnya.
Arfi duduk sambil mengambil ponselnya.
"kalau aku menelphone Renata, dia pasti tidak akan mengangkatnya sebaiknya aku telphone Nayra saja. Aku sampai lupa, semenjak handpone Nayra aku banting. aku tidak bisa menghubunginya, apa Nayra belum beli hp baru?" Arfi terdiam.
"O..iya waktu itu Nayra sempat menerima telphone dari pak Hardi. itu berarti Nayra sudah beli hp baru atau dia sudah memperbaiki hpnya yang rusak."
Arfi teringat ketika ia kerumah Nayra dan Nayra menerima telphone dari Pak Hardi kepala sekolah Kevin, Arfi mencoba Menghungi Nayra tetapi hasilnya tetap sama Nayra tidak bisa dihubungi. Arfi tidak tahu kalau Nayra sudah membeli ponsel baru dan nomer baru.
"Apa Nayra memblokir nomer aku?" Arfi menjadi sedih.
Nayra akhirnya sampai dirumah, Nayra tidak langsung masuk kedalam ia memilih duduk didepan teras rumahnya.
"Arfi, kenapa kamu tega melakukan ini? aku bisa bertemu dengan Renata, itu karena kamu. kamu yang melarang aku pulang, kenapa kamu malah menyalahkan aku." Nayra menangis.
Raddit berjalan melewati depan rumah Nayra. ia baru saja pulang dari rumah temannya yang jaraknya hanya beberapa rumah dari rumah Nayra.
"Nayra kenapa dia menangis?" Raddit merasa iba melihat Nayra untuk sesaat ia melupakan rasa marahnya.
"Nayra." panggil Raddit dengan suara pelan.
"Raddit." Nayra mengangkat kepalanya, ia melihat Raddit sudah berdiri didepannya.
"Kenapa kamu nangis?" Raddit memberikan sapu tangan pada Nayra lalu ia duduk disamping Nayra.
"Tadi aku mengantar Kevin pulang karena dia jatuh. disana aku bertemu Arfi, Arfi melarangku pergi lalu Renata datang, Renata sangat marah. Renata ingin bercerai dengan Arfi dan semua ini gara gara aku. aku sudah jadi pelakor, aku sudah merusak rumah tangga Arfi dan Renata. yang lebih meyakitkan Arfi membentakku, dia menyalahkan aku." Nayra terisak.
Nayra bercerita panjang lebar. sebenarnya Nayra tidak ingin meceritakan semua pada Raddit, tapi karena tidak tahu harus bicara dengan siapa dan karena saat itu Raddit sedang bersama Nayra, Nayra akhirnya mencurahkan isi hatinya pada Raddit.
Kalau Nayra bercerita dengan orang lain, Nayra hanya akan dihina dan disebut pelakor lagi pula tidak ada yang tahu pernikahannya dengan Arfi, hanya orang terdekat Arfi dan juga Raddit yang mengetahui kalau Nayra sudah menikah dengan Arfi.
"Nay, aku sudah pernah bilang. jauhi Arfi dia itu sudah punya istri, tapi semua sudah terlanjur." ucap Raddit.
"Apa kamu mau terus terusan jadi pelakor?" Sambung Raddit dengan wajah yang terlihat serius.
"Aku tidak mau. aku cape jadi istri simpanan, istri yang selalu bersembunyi setiap kali Renata datang." Nayra bersungguh sungguh dengan kata katanya.
"Kalau begitu, kamu pergi saja dari sini."
"Pergi?" Nayra tidak mengerti, kenapa Raddit memintanya pergi.
"Iya, kamu pergi yang jauh. keluar kota kalau perlu keluar negeri, supaya Arfi engga bisa nyari kamu." Raddit memberi saran.
"Kamu benar. kalau aku pergi, Arfi dan Renata tidak akan bercerai." Nayra menyetujui saran Raddit.
"Tapi... rumah ku ini, aku beli dari hasil kerja kerasku. cilcilannya juga sudah mau lunas. Raddit, apa bisa aku tetap tinggal disini? aku janji, aku akan menceraikan Arfi." Nayra menjadi ragu ragu, ia merasa keberatan meninggalkan rumahnya.
"Kalau kamu tetap disini. Arfi akan mencari kamu, ngerayu kamu terus nanti kamu luluh lagi. tapi terserah kamu, kalau kamu masih tetap mau jadi istri simpanan Arfi." Walaupun dengan gaya bahasa yang santai, Nayra merasa apa yang dikatakan Raddit memang benar.
"Aku akan pergi dari sini" Nayra sudah yakin dengan keputusannya.
__ADS_1
"Ya udah, kamu pergi sekarang." Raddit sangat bersemangat.
"Raddit ini sudah malam, besok pagi saja."
"Besok pasti Arfi datang mencari kamu. bisa bisa kamu engga jadi pergi." ucap Raddit.
"Iya juga ya. tapi aku takut malam malam pergi sendiri."
"Aku antar kamu." Raddit langsung menawarkan bantuan.
"Serius? ya ampun Raddit kamu memang teman aku yang paling baik." Nayra memuji Raddit.
Kenapa aku senang sekali, cuma karena Nayra memujiku. Batin Raddit
"Raddit, aku beresin baju aku dulu."
"Iya.. aku juga mau ambil motorku dulu."
Raddit kemudian pergi meninggalkan Nayra, Sementara Nayra masuk kedalam rumah untuk membereskan pakaiannya.
Tidak lama kemudian Raddit datang dengan mengendarai sepeda motornya, ia melihat Nayra berdiri melamun didepan rumahnya. Nayra bahkan tidak menyadari Raddit sudah berdiri dihadapannya.
"Nayra, kamu kok malah bengong?" Raddit menjetikan jarinya didepan wajah Nayra.
"kamu sudah datang? Raddit, aku sedih sudah beberapa tahun aku tinggal dirumah ini. sekarang aku harus pergi." Nayra mengeluh.
"Nay, kamu jangan banyak pikiran. biarpun kamu pergi, rumah ini tetap rumah kamu. kamu bisa pulang kapan saja. yang penting sekarang kamu pergi dulu." Raddit mencoba mengibur Nayra.
"Kita mau kemana?" Tanya Nayra.
"Aku juga belum tahu. yaudah, naik nanti kita pikirkan dijalan." Raddit memberikan helm pada Nayra dan meminta Nayra naik keatas motornya.
"Ada apa?" Nayra bingung.
"Kamu berdiri didepan rumah kamu." Raddit meminta Nayra kembali berdiri tepat didepan pagar rumahnya.
Raddit melangkah mundur, ia mundur beberapa langkah.
"Sekarang senyum sambil bergaya." Raddit mengarahkan kamera ponselnya pada Nayra.
"Raddit, sebenarnya kamu mau apa?" Tanya Nayra.
"Foto kamu."
"Buat apa?" Nayra kembali bertanya.
"kamu kelihatannya engga rela ninggalin rumah ini, jadi aku foto kamu didepan rumah. buat kenang kenangan hehee..." Raddit cengengesan.
"Iya.. iya. aku mau difoto, kamu kok bisa kepikiran foto aku didepan rumah?" Nayra tersenyum bahagia.
"Siapa dulu dong, Raddit." Raddit membanggakan dirinya sendiri.
Nayra hanya tersenyum mendengar kata kata Raddit. Raddit memfoto Nayra beberapa kali dan ketika Raddit ingin memfotonya lagi, Nayra menghentikannya.
"Raddit, sudah cukup. sekarang kamu kemari." Nayra meminta Raddit untuk mendekat padanya.
"Kita foto berdua." Sambung Nayra
__ADS_1
"Buat apa?" Balas Raddit.
"Buat kenang kenangan." Nayra meniru kata kata Raddit.
Raddit tertawa kecil. Nayra dan Raddit lalu berfoto bersama. setelah berfoto Nayra dan Raddit pergi meninggalkan rumah Nayra.
"Raddit, kamu mau engga antar aku kerumah ayahku?" Tanya Nayra saat Raddit sedang menjalankan motornya.
"Jadi kamu masih punya ayah? bukannya ayah kamu sudah meninggal setahun yang lalu?" Raddit jadi ingat, setahun yang lalu Nayra pernah meninggalkan rumahnya selama satu minggu. ternyata ayah Nayra meninggal dan Nayra pulang kekampung ayahnya.
"Ayahku sudah meninggal tapi rumahnya masih ada, belum aku jual. dari pada bingung dan engga tahu harus kemana? lebih baik kita kerumah ayahku."
"Tadinya aku mau ajak kamu kevilla mamaku tapi kalau kamu maunya kerumah ayahmu ya sudah kita kesana saja."
"Mama kamu punya villa?"
"Iya Nay, Villanya tidak terlalu jauh dari sini." Raddit menjelaskan.
"memangnya Villanya kosong?"
"Villa itu sering kosong. kadang aku dan kekuargaku liburan disana, tapi kita udah bosan liburan disana. udah lama kita engga pergi kesana karena itu mamaku menyewakan Villa itu. Villa itu biasanya ada yang menyewa saat liburan sekolah." Raddit bercerita panjang lebar.
"Kalau begitu kita Kevilla mama kamu aja."
"Kamu yakin?"
"Iya, kampung ayahku itu jauh. nanti kamu kecapean dijalan." Nayra biasanya selalu naik bis saat ia pergi kerumah ayahnya.ia tidak bisa membayangkan, bagaimana lelahnya Raddit jika mereka pergi dengan mengendarai motor.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam. Nayra dan Raddit akhirnya sampai divilla yang dimaksud Raddit. Raddit langsung mengambil kunci dari tasnya lalu ia membuka pintu.
"Raddit kamu bawa kuncinya?"
"Iya tadi mamaku tidur, aku ambil aja kuncinya dilaci meja." Raddit tersenyum sambil masuk kedalam Villa.
Nayra mengikuti Raddit dari belakang, Raddit segera menyalakan lampu agar villa yang gelap itu menjadi terang.
Villa Raddit bagus.
Saat datang, Nayra memang sudah terpesona malihat Villa Raddit tapi ketika masuk kedalamnya Nayra bertambah kagum.
"Nay, aku tidur dikamar paling depan. kamu boleh pilih kamar mana saja yang kamu mau. aku tidur dulu ya nay, aku ngantuk." Raddit pergi kekamar yang ia maksud.
Nayra menjatuhkan tubuhnya diatas sofa untuk sesaat, karena lelah ia malas untuk pergi kekamar.
Raddit masih muda, aku tidak mengira dia bisa membantuku. apa keputusanku ini benar? Apa aku benar benar akan bercerai dengan Arfi. Nayra merasa berat untuk berpisah dengan Arfi.
...----------------...
Arfi sengaja bangun pagi pagi, ia ingin mencari Nayra, selesai mandi Arfi langsung pergi meninggalkan rumahnya.
Arfi akhirnya sampai dirumah Nayra, ia sangat sedih dan kecewa melihat pintu pagar rumah Nayra terkunci rapat.
"Ini masih pagi? pergi kemana Nayra? apa dia sudah pergi kesekolah?" Arfi bertanya tanya.
Sebaiknya aku mencari Nayra disekolah. Batin Arfi.
Tidak lama kemudian Arfi sampai didepan sekolah. Arfi menghentikan mobilnya, ia lalu segera keluar dari mobilnya. Arfi melihat mobil Renata berhenti dibelakang mobilnya.
__ADS_1
"Renata." Arfi menatap Renata yang keluar dari mobilnya, beberapa saat kemudian Kevin juga keluar dari mobil Renata.
"Papa" Kevin berlari menghampiri Arfi.