
Tiga bulan kemudian
Nayra berjalan berlahan lahan, Nayra ingin pergi ketukang sayur untuk membeli sayuran yang akan ia masak. Ketika sampai disana ada dua orang ibu ibu yang memandang tidak suka pada Nayra.
Nayra merasa selama tinggal dikampung halamannya ia tidak pernah memusuhi orang. Nayra juga berusaha bersikap ramah, tapi kenapa ibu ibu itu sepertinya membenci Nayra.
"Nayra, perut kamu semakin lama semakin besar." ucap bu Rina salah satu ibu ibu yang belanja ditukang sayur.
"Bu Rina gimana sih, namanya lagi hamil ya makin besar bukan makin kecil." Ibu hesti teman bu Rina membalas ucapan bu Rina.
"Saya tahu. maksud saya, kenapa sampai perut Nayra membesar. Suaminya tidak pernah kelihatan." ucap bu Rina sinis.
"Suami saya sibuk, sedang bekerja diluar kota. Nanti kalau suami saya tidak sibuk pasti dia datang." Nayra sedih.
"Suami kamu sibuk atau kamu sebenarnya tidak punya suami?"
Untuk sesaat Nayra memejamkan matannya, ia sakit hati mendengar kata kata pedas yang dilontarkan Ibu Rina.
Aku tidak mungkin meminta Arfi datang kesini, tempat ini jauh dan Arfi belum tentu mau datang. Lagi pula aku kekampung ini untuk menghindari Arfi, jadi mana mungkin aku minta Arfi datang kesini? Nayra melamun.
"Bu Rina, tolong jangan bicara sembarangan." Suara Nayra terdengar pelan, ia kelihatan lelah.
"Nayra, bu Rina bukan bicara sembarangan. kalau memang kamu punya suami, suruh dia datang kemari." Bu Hesti mendukung Ibu Rina.
"Iya, kalau suami kamu tidak datang datang juga. Saya akan laporin kamu ke pak rt, biar kamu diusir." Sambung bu Rina.
"Maksud bu Rina apa?" Nayra tidak mengerti maksud ibu Rina..
"Nayra, kalau kamu engga punya suami itu artinya kamu hamil diluar nikah. Saya tidak mau, kampung ini tercemar. Jadi sebaiknya kamu cepat cepat bawa suami karena kalau tidak berarti benar, kamu tidak punya suami." Ibu Rina yang cerewet, bawel itu membuat kepala Nayra pusing.
"Baiklah Ibu Rina, nanti saya akan telphone suami saya. Saya akan minta dia datang kesini." Nayra menghela napas.
"Ya sudah, saya tunggu." ujar Ibu Rina.
Ibu Rina dan ibu hesti lalu pergi meninggalkan Nayra yang masih berdiri didepan tukang sayur.
"Mau beli apa mba?" Tanya tukang sayur yang sedang berdiri dihadapan Nayra.
"Maaf, dompet saya ketinggalan. sebentar ya saya ambil dompet dulu." Nayra alasan, sebenarnya ia sudah tidak berniat lagi untuk belanja sayur.
Bagaimana ini, kalau Arfi tidak datang. Aku akan diusir dari kampung ini, Karena aku dianggap hamil tanpa suami. Nayra tidak tahu harus berbuat apa.
Ponsel Nayra yang berbunyi membuat Nayra tersadar dari lamunannya.
"Raddit, tumben dia video call?" Nayra kemudian menjawab telpone dari Raddit.
__ADS_1
"Hallo Raddit." Nayra buru buru menghapus air matanya.
"Hallo Nayra, apa kabar?"
"Baik "
"Nayra, kamu nangis?" Raddit bisa melihat wajah Nayra sangat sedih.
"Engga, aku engga nangis." Nayra bohong.
"Tapi mata kamu merah. Nayra, kita ini kan teman. kalau kamu ada masalah cerita aja sama aku." Raddit melihat mata Nayra berair.
"Aku... Aku.. mau pergi dari sini, aku engga betah disini" Nayra menangis.
"Kenapa Nay? Apa yang bikin kamu engga betah?" Tanya Raddit ingin tahu.
"Disini aku engga punya kerjaan, engga ada juga teman yang sebaik kamu." Air mata berjatuhan.
"Ya ampun Nay, kalau kamu engga betah. Kamu balik aja kesini. Kekota ini." Raddit memberi saran.
Raddit benar, lebih aku pergi dari kampung ini. Nayra terdiam.
"Nay, kamu kok diam? Kamu takut Arfi ganggu kamu? tenang saja Nay, Arfi tidak akan menggangu kamu lagi." Raddit merasa yakin dengan apa yang ia katakan.
"Kamu yakin?"
"Raddit maaf, aku mau kekamar mandi dulu." Nayra menutup telphonenya.
"Sudah tiga bulan aku tidak bertemu Arfi, akhirnya aku bisa mengembalikan keutuhan rumah tangga Arfi dan Renata. Mereka kembali harmonis seperti dulu, seperti saat aku tidak ada diantara mereka. Aku tidak mungkin pulang kerumah, bagaimana kalau tanpa sengaja aku ketemu Arfi dijalan? lalu aku harus pergi kemana?" Nayra terisak.
Nayra membuka pintu kamarnya, ia masuk kemudian ia membuka lemari. Nayra mengambil tas besar lalu ia memasukan baju bajunya kedalam tas.
Biarpun aku tidak tahu harus kemana, tapi aku harus tetap pergi. Bapak, ibu seandainya saja kalian masih ada. Aku tidak akan bingung seperti ini.
Nayra memeluk bingkai foto kedua orang tuanya yang baru saja ia ambil dari atas meja.
Pagi itu Nayra membuka pintu rumahnya. ia baru saja ingin pergi meninggalkan rumahnya, tapi ia dikejutkan karena ia melihat Ibu rina dan ibu hesti berdiri didepan rumahnya disana juga ada beberapa warga lain serta pak rt. itu membuat Nayra merasa heran.
"Bapak, bapak. Ibu, ibu. Ada apa ini?" Tanya Nayra depan sopan.
"Begini Nayra, saya dapat laporan dari beberapa ibu ibu warga disini. Mereka bilang kamu hamil tanpa suami. Lebih tepatnya lagi hamil diluar nikah. maaf kalau perkataan saya ini menyinggung kamu, tapi saya serta warga disini tidak menerima perempuan pezina tinggal dikampung ini." Pak rt mengatakan sesuatu yang membuat Nayra sakit hati.
"Pak rt, itu semua tidak benar. Saya ini punya suami." Nayra memegang dahinya, kepalanya mulai berdenyut karena pusing.
"Jangan bohong kamu Nayra, kalau memang kamu punya suami. mana suami kamu?" Balas bu Rina.
__ADS_1
Jadi aku akan diusir? untunglah aku sudah siap siap mau pergi. Batin Nayra.
"Bu Rina, saya sudah bilang suami saya sibuk kerja." Nayra mencoba bersabar menghadapi sikap bu Rina.
"Engga usah alasan Nayra, bilang saja kamu memang tidak punya suami." Bu Rina terus memojokan Nayra.
"Nayra, kamu itu kan lagi hamil. Apa suami kamu tidak khawatir? seharusnya dia menyempatkan waktu untuk datang menengok kamu." Sambung bu Hesti.
"Kecuali kalau kamu tidak punya suami." Ibu Rina membuat suasana semakin panas.
"Maaf ibu ibu, bapak bapak saya harus pergi, taksi yang saya pesan sudah datang." Nayra mengunci pintu lalu ia memasukan kunci itu kedalam tasnya.
"Mau kemana kamu?" Tanya ibu Rina kesal.
"Saya mau menyusul suami saya, nanti kalau suami saya sudah tidak sibuk. Saya akan datang kesini dan saya akan memperkenalkan suami saya. Permisi bapak bapak, ibu ibu. Permisi pak rt." Nayra berjalan menghampiri taksi yang sudah berada didepan rumahnya.
Nayra masuk dan tidak memperdulikan ibu ibu yang masih bergosip tentang dirinnya.
"Nayra, dia itu takut kita usir karena itu dia pergi." Bu Rina melihat Taksi yang Nayra naiki berjalan pergi.
"Sudah, sudah. ibu ibu, Bapak bapak. Nayra sudah pergi, sebaiknya kita juga pulang." ucap pak rt.
Pak rt dan beberapa warga lainpun pergi meninggalkan rumah Nayra.
Didalam taksi.
Aku tidak tahu aku harus kemana? sebaiknya aku pulang saja kerumahku sendiri. sampai disana aku akan pikirkan lagi, aku akan pergi kemana. lagi pula aku sudah lama tidak pulang, Arfi pasti tidak akan tahu kalau aku pulang dan mudah mudahan aku tidak bertemu Raddit. Nayra memutuskan untuk pulang kerumahnya.
...*************...
Taksi yang Nayra naiki akhirnya sampai dijalan menuju rumah Nayra, Nayra terkejut melihat mobil Arfi berada didepan rumahnya . Nayra juga melihat Arfi sedang berdiri didepan pintu pagar.
Arfi.
perasaan Nayra campur aduk, ada rasa senang dan bahagia karena ia bisa melihat Arfi. Seandainya Nayra bukan istri kedua dan seandainya Nayra tidak ingin bercerai dengan Arfi, mungkin Nayra sudah turun dari taksi. Jauh dilubuk hati Nayra yang paling dalam, sebenarnya Nayra merindukan Arfi.
"Pak berhenti disini dulu." Nayra meminta supir taksi itu berhenti.
Nayra tidak ingin Arfi melihatnya karena itu ia tidak turun dari taksi, taksi itu berhenti tepat dibelakang mobil Arfi.
"Nay, kamu pergi kemana sayang? aku sudah berusaha mencari kamu, tapi tidak ada hasilnya. Nay, aku mohon pulanglah. Aku kangen." Arfi bicara sambil berdiri didepan pintu pagar rumah Nayra.
Nayra bisa mendengar apa yang Arfi katakan, tapi ia tetap tidak mau turun dari taksi.
"Jalan pak." Nayra meminta supir taksi itu untuk menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Nayra ingin segera pergi dari tempat itu sebelum Arfi menyadari kedatangan, tapi sayangnya Nayra terlambat. saat taksi itu berjalan melewati mobil Arfi, Arfi melihat kerah taksi itu dan Arfi melihat Nayra.
"Nayra." Arfi buru buru masuk kedalam mobilnya, Arfi ingin mengejar taksi yang Nayra naiki.