Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Pertengkaran


__ADS_3

Nayra berjalan mengikuti Arfi dari belakang dan ketika mereka sampai diruang tamu, Arfi melihat Kevin duduk sambil menangis. sebelum kekamar Arfi, Nayra memang sempat membawa Kevin keruang tamu.


Nayra ingin mengobati luka Kevin, tapi ia tidak tahu dimana Arfi meletakan kotak obat.


"Aduh... sakit pa." Kevin merengek manja.


Melihat Kevin yang sedang kesakitan Arfi buru buru menghampiri Kevin, ia lalu menggendong Kevin.


"Dewi, kita kerumah sakit sekarang." Arfi ingin mengajak Nayra kerumah sakit.


"Maaf pak, saya tidak bisa ikut. saya harus menjaga Bintang dan Bulan."


Karena panik Arfi sempat melupakan Bintang dan Bulan.


"Aku sampai lupa. kalau begitu aku pergi sendiri saja." Arfi berjalan keluar rumah sambil menggendong Kevin.


"Semoga luka Kevin tidak serius." Nayra merasa cemas.


Sesampainya dirumah sakit Arfi langsung menelphone Renata.


"Awas, kalau kamu engga angkat telphoneku."


Arfi marah marah sendiri, ia sedang menunggu Kevin diperiksa oleh dokter.


Arfi memang sengaja keluar meninggalkan ruangan tempat dimana Kevin diperiksa. Ia ingin menghubungi Renata.


Tetapi lagi lagi Arfi gagal. sudah berkali kali Arfi menelphone Renata, Renata tetap tidak menjawab telhonenya membuat Arfi sangat marah.


Sementara itu disebuah kamar hotel dua orang sedang berbaring sambil berpelukan diatas tempat tidur, orang itu adalah Renata dan Satria. mereka seakan lupa dengan perjanjian mereka pada Arfi.


Renata tidur diatas dada Satria sambil memeluk pinggang Satria, Satria yang tidak bisa memejamkan matanya hanya bisa diam. ia sudah tidak bisa tidur, tapi ia tidak tega untuk membangunkan Renata yang ia kira sedang tidur.


Renata sebenarnya sudah bangun, bagaimana mungkin Renata tidur setelah ia bangun kesiangan. Renata sudah terbiasa bangun jam empat pagi, tapi hari itu Renata bangun jam sembilan pagi.


Renata juga mengira Satria tidur dan ia tidak ingin membangunkan Satria, saat itu jam menunjukan pukul sebelas siang.


Getaran suara ponsel Renata membuat Renata membuka matanya, Renata merasa terusik. Ia yang semula berbaring kemudian bangun lalu duduk.


Meja tempat Renata meletakan ponsel memang berada disamping tempat tidurnya, meskipun ponsel Renata disilince Renata masih bisa mendengar getarannya.


"Arfi." Renata mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelphonenya.


"Kenapa engga diangkat?" Suara Satria hampir membuat Renata menjatuhkan ponselnya.


Dengan cepat Satria memegang tangan Renata agar ponsel Renata tidak terjatuh.


"Angkat saja siapa tahu penting." Satria melepaskan pegangan tangannya pada Renata.


"Aku malas."


"Kevin sekarang ada dirumah Arfi, mungkin saja Kevin yang mau bicara."


"Iya kamu benar, kenapa aku engga kepikiran?" Renata cepat cepat menjawab telphone dari Arfi.


"Renata, akhirnya kamu angkat telphone aku. kemana saja kamu? dari pagi aku telphone engga diangkat angkat. ibu macam apa kamu?" Arfi langsung memarahi Renata.


"Maksud kamu?"


Renata tidak mengerti kenapa Arfi memarahinya dan mengkritiknya sebagai seorang ibu, padahal jelas jelas Arfi yang mengingikan Kevin menginap dirumahnya.


"Seharusnya kamu telphone aku dan tanya bagaimana keadaan Kevin. kamu, engga telphone aku. ditelphone juga susah." Arfi ngomel ngomel membuat telinga Renata terasa panas.


"Hp aku baterainya abis, ini baru selesai dicas" Bohong Renata.


"Alasan kamu, Ya sudah sekarang kamu cepat kerumah sakit. Kevin kecelakaan."


"Apa? kenapa kamu tidak bilang dari tadi?"

__ADS_1


"Sekarang aku udah bilang." Arfi malah sewot.


Arfi kemudian memberi tahu Renata rumah sakit tempat dimana Kevin diperiksa setelah itu ia mematikan ponselnya tanpa menunggu Renata selesai bicara.


Renata menarik nafas panjang, ia mencoba bersabar dengan sifat Arfi yang emosional. Renata tidak tahu kenapa dulu ia bisa tahan menghadapi Arfi.


"Ada Ada?" Satria tiba tiba memeluk Renata dari samping.


Ketika itu Satria sudah duduk disebelah Renata, Satria duduk menghadap Renata sedangkan Renata duduk menghadap kedepan hingga ketika Satria memeluk Renata. Satria. memeluknya dari samping.


Tubuh Renata bagai candu bagi Satria, ia selalu ingin dekat dan menempel pada Renata. hal yang sama juga dirasakan oleh Renata, setelah malam pertamanya dengan Satria. Renata tidak bisa menolak ketika Satria ingin menyentuhnya, bahkan Renata seperti tidak ingin berpisah dengan Satria.


"Kevin kecelakaan, sekarang dia ada dirumah sakit." Ucap Renata sedih.


"Kalau begitu kita kerumah sakit sekarang."


Satria kaget, Satria berdiri lalu ia berjalan kekamar mandi. ia ingin mandi dan bersiap siap untuk pergi kerumah sakit.


Setelah Renata dan Satria selesai mandi, mereka berdua bergegas pergi menuju rumah sakit.


Dirumah sakit, Kevin sudah selesai diperiksa oleh dokter.


"Dokter bagaimana keadaan anak saya." Tanya Arfi merasa khawatir.


"Anak bapak baik baik saja. hanya luka kecil, tidak terlalu parah. beruntung anak bapak tidak mengalami patah tulang."


"Syukurlah." Arfi merasa sangat lega.


Dokter lalu memberikan resep obat untuk Kevin, Kevin juga tidak perlu menginap. ia diperbolehkan pulang.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Arfi kemudian menggendong Kevin, ia ingin membawa Kevin untuk menebus resep obat yang baru saja diberikan dokter.


Setelah mengambil obat untuk Kevin, Arfi kembali menggedong Kevin ia berjalan keluar dari rumah sakit itu.


Dihalaman rumah sakit Arfi berpapasan dengan Renata dan Satria mereka bergandengan tangan layaknya pasangan yang sedang kasmaran, hal itu membuat hati Arfi terasa terbakar.


"Mama." Kevin sangat senang melihat kedatangan Renata.


"Papa turunin aku." Pinta Kevin pada Arfi


"Sayang, kaki kamu kan lagi sakit." Arfi menolak.


"Tapi aku masih bisa bediri dan berjalan."


Tidak ingin membuat Kevin sedih, Arfi kemudian menurunkan Kevin.


Renata berlari kecil menghampiri Kevin, ia memeluk Kevin.


"Kevin, kamu engga apa apa nak?" Renata seperti ingin menangis.


"Aku tidak apa apa ma."


"Kenapa kamu bisa kecelakaan?" Renata melepaskan pelukannya.


"Aku tadi jatuh dari sepeda ma."


"Ya ampun Kevin. Lain kali, kamu hati hati ya." Renata mengelus elus rambut Kevin.


"Satria tolong antar Kevin kemobilku, setelah itu kamu kesini lagi. kita bertiga harus bicara." Pinta Arfi pada Satria.


"Sayang, kamu tunggu sebentar ya, mama dan papa harus bicara." untuk sesaat Renata kembali memeluk Kevin.


"Iya ma." Kevin mengangguk.


Satria kemudian mengantar Kevin untuk duduk dan menunggu didalam mobil Arfi.

__ADS_1


"Jadi.. kamu marah marah ditelphone hanya karena Kevin jatuh dari sepeda." Renata kelihatan marah.


"Hanya jatuh kamu bilang? Kevin itu menangis terus, aku sangat cemas makanya aku menelphonemu. dengar Renata, Biarpun Kevin cuma digigit semut. aku akan tetap menelphonemu. apa aku salah? apa kamu keberatan? atau kamu tidak mau lagi menjadi ibunya Kevin?" Arfi kembali memarahi Renata.


"Tidak masalah kamu menelphone aku, tidak masalah kamu meminta aku untuk datang kesini yang jadi masalah kamu memarahi aku. Arfi, kamu tidak bisa marah marahin aku seenaknya karena aku bukan istri kamu lagi. aku sekarang istri Satria."


Jantung Arfi berdenyut, hatinya terasa sakit mendengar kata kata Renata. yang dikatakan Renata memang benar, Renata bukan istrinya lagi dan Renata adalah istri Satria, tapi apa harus Renata mengucapkannya sejelas itu. apa Renata sudah lupa dengan perjanjian mereka.


Arfi memegang dadanya yang sakit, ia ingin membalas kata kata Renata, tapi karena Satria datang Arfi jadi ingat kalau Arfi harus bicara dengan Renata dan Satria. jika ia marah dan membalas kata kata Renata, bisa bisa mereka bertengkar dan tidak jadi bicara.


"Satria, kamu sudah datang. kita bicara sekarang." Ucap Arfi dengan raut wajah yang kusut.


Arfi, Renata dan Satria duduk ditaman rumah sakit. meskipun masih kesal Renata tetap ingin mendengarkan, apa yang Arfi ingin katakan.


"Apa kalian sudah melakukan kewajiban kalian sebagai suami istri?"


Pertanyaan Arfi membuat Renata dan Satria terdiam, mereka seakan tersadar kalau mereka menikah hanya untuk bercerai. Renata baru menyadari kalau ia dan Satria harus bercerai ketika Renata sudah melakukan kewajibannya sebagai istri.


"Belum, aku belum melakukan kewajibanku. Maaf Arfi, pernikahan ini terlalu mendadak dan aku belum siap."


Mendengar jawaban Renata, Arfi tersenyum tipis. ada rasa senang dihatinya karena Satria belum menyentuh Renata, tapi disisi lain Arfi merasa kecewa karena itu berarti Renata belum bisa bercerai dengan Satria.


"Aku akan tunggu sampai kamu siap, tapi ingat aku tidak suka menunggu lama. aku pergi." Dengan kesal Arfi ingin pergi meninggalkan Renata dan Satria, tapi Renata menghalanginya.


"Tunggu." Renata memegang tangan Arfi membuat Satria menatap cemburu kearah Renata.


Melihat tatapan Satria, Renata buru buru melepaskan pegangan tangannya pada Arfi.


"Ada apa lagi?" Arfi menoleh.


"Kaki Kevin sedang sakit biar aku yang merawatnya, biarkan Kevin tinggal diapartementku."


Sebenarnya aku tidak ingin Renata membawa Kevin, tapi untuk saat ini hanya Renata yang bisa mengurus Kevin. Dewi sibuk mengurus Bulan dan Bintang dan mami bilang dua orang yang biasa membantu Dewi tidak mau bekerja dirumahku karena jarak rumahku jauh dari rumah mereka. aku juga belum mendapatkan baby sister lain untuk membantu Dewi.


"Ya sudah." Arfi terpaksa membiarkan Renata merawat Kevin.


Renata sangat senang karena dengan mudah Arfi menuruti keinginannya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Arfi pulang dengan wajah lesu, ia merasa lelah. Arfi membuka pintu rumahnya dilihatnya Nayra sedang makan sambil tersenyum senyum. Nayra memang sedang makan sambil menonton acara komedi ditelevisi sesekali ia tersenyum bahkan tertawa.


Melihat Dewi tersenyum bahagia, kenapa rasa lelahku hilang? ketika pulang kerumah dan melihat Dewi, aku merasa seperti suami yang melihat istrinya menunggu dirumah.


"Dewi."


Panggilan Arfi membuat Nayra hampir saja tersedak makanan, Arfi berjalan cepat menghampir Nayra lalu ia memberikan segelas air pada Nayra, gelas yang kebetulan ada diatas meja.


"Pelan pelan makannya." Arfi menepuk nepuk punggung Nayra.


"Bapak sudah pulang? Dimana Kevin?" Nayra meletakan gelas itu kembali keatas meja yang berada dihadapannya. ia sudah meminum air yang diberikan Arfi.


"Kevin dibawa Renata, dia yang akan merawat Kevin." Arfi terlihat sedih.


"Kenapa bapak tidak membawa Kevin pulang?"


"Renata itu ibunya, lagi pula aku tidak mungkin merawat Kevin. aku harus kerja." Ada nada pasrah yang terucap dari mulut Arfi.


"Jadi karena itu bapak sedih?" Nayra bisa merasakan kesedihan Arfi.


"Bukan, bukan karena itu. walaupun Kevin tinggal bersama Renata, aku bisa menengoknya. Kevin juga bisa datang kerumahku kapan pun dia mau, aku sedih karena Renata sudah berubah." Arfi berusaha untuk tidak menangis didepan Nayra, meskipun saat itu hatinya hancur.


"Berubah bagaimana?" Nayra ingin tahu.


"Aku sudah tidak melihat cinta dimata Renata, tatapan matanya dingin dan kita berdua seperti dua orang asing. mungkin ini cuma perasaanku saja atau mungkin aku benar, Renata sudah tidak mencintaiku lagi." Arfi sudah tidak tahan lagi, ia akhirnya menangis.


Arfi menangis tanpa suara, tapi Nayra tahu Arfi sedang menangis karena dari pipi Arfi berjatuhan air mata, air mata yang ingin Arfi hapus dengan tangannya.

__ADS_1


"Jangan dihapus. kalau bapak mau menangis, menangis saja. tidak perlu ditahan." Nayra memegangi tangan Arfi.


Nayra merasa kasihan pada Arfi, entah dorongan dari mana. Nayra memberanikan diri memeluk Arfi.


__ADS_2