
Malam itu Arfi akan menunggu Renata direstaurant yang sudah dipesan Satria, ruang vip direstauran itu kelihatan sangat indah karena Satria meminta agar pegawai direstauran itu menghiasnya.
Diruangan itu ada jendela terbuka yang menghadap balkon. Jendela itu sengaja dibuka agar pemandangan dilangit bisa terlihat dari dalam.
Satria menelphone Renata yang ketika itu sedang cemas memikirkan Kevin, Renata takut Arfi akan mengambil Kevin. dengan cepat Renata menjawab telphone Satria.
Satria mengatakan kalau ia dan Kevin sedang berada direstauran. Satria sebenarnya ingin mengantarkan Kevin langsung, tapi Kevin tiba tiba merasa lapar karena itu Satria mengajaknya makan. begitulah alasan Satria pada Renata, ia membohongi Renata agar Renata mau datang kerestaurant yang sudah ia pesan.
"Bu Renata bisa ibu datang kesini? Kevin merengek bu. dia bilang, dia mau makan bersama ibu." Satria kembali berbohong.
Syukurlah, Arfi tidak mengambil anakku, aku harus cepat cepat menjemput Kevin sebelum Arfi berubah pikiran. Renata merasa senang.
"Kamu kirim alamatnya, saya akan kesana sekarang." Jawab Renata.
"Ibu pakai baju yang bagus ya, kebutulan disini saya ketemu klien pak Arfi. malu maluin kalau ibu pakai baju tidur." Satria meledek Renata.
"Kamu engga usah ngajarin saya, engga mungkin juga saya pakai daster buat keluar rumah. kamu kirim saja alamat restaurantnya." Renata menutup telphone, ia terlihat kesal.
Satria hanya tersenyum mendengar Renata marah marah, entah mengapa mendengar suara ocehan Renata membuatnya merasa sedikit terhibur.
Renata akhrinya sampai direstaurant tempat dimana Arfi sedang menunggunya, salah seorang pegawai Restaurant itu mengantar Renata keruang vip dimana Arfi sedang menunggunya.
"Ini ruangan yang pak Satria pesan." ucap pegawai itu lalu kemudian ia meninggalkan Renata sendiri.
Renata membuka pintu ruangan itu, ia berdecak kagum melihat ruangan yang dihias sangat indah, lampu diruangan itu juga dimatikan hanya ada beberapa lilin yang menyala diatas meja. lilin lilin itu menjadi cahaya penerang ruangan itu.
"Suprise."
Renata, membalikan badannya ketika ada seseorang yang tiba tiba memeluknya dari belakang.
"Arfi." Renata menatap Arfi dengan wajah bingungnya, ia tidak tahu. apa maksudnya Arfi melakukan semua itu.
"Iya sayang, ini aku. o iya.. aku juga punya kejutan lain." Arfi menjetikan kedua jarinya dan mendadak lampu menyala.
Didepan Renata berdiri, ada sebuah tirai yang tertutup. lagi lagi Arfi menjetikan jarinya.
Tirai itu pun terbuka dan disana terlihat jelas tulisan I LOVE RENATA tulisan yang terbuat dari rangkaian bunga.
Belum hilang rasa takjub Renata, Arfi mendadak berlutut dihadapannya.
"Renata maukah kau menikah denganku?" Arfi memegang tangan Renata.
Renata tidak bisa berkata kata. Renata hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
Arfi berdiri, ia kembali memegang tangan Renata. Arfi memegang kedua tangan Renata lalu ia melatakan satu tangan Renata dibahunya, Arfi ingin mengajak Renata berdansa.
Renata tidak menolak. bagaimana mungkin, ia bisa menolak saat Arfi sudah bersusah payah mempersiapkan semuanya. Renata dan Arfipun berdansa diiring dengan sebuah lagu lawas yang pernah dinyanyikan oleh seorang penyanyi terkenal, lirik lagu itu mampu membuat hati Renata tersentuh.
Saat ku pertama menatap dalam dirimu, ku begitu yakin ini cinta. ku tatap dirinya rasa ku pun juga sama. ku mencintai dirimu dan mencintai dirinya. tak ingin hidup tanpa rasa bahagia, bahagia ku bila banyak cinta. pernah ku setia namun hidup terasa hampa, bukannya aku jahanam, ku hanya mencari senang. hati ku tak kan bisa ku berdusta cinta ini memang untuk dirimu dan untuk dirinya dan bila antara kita menghilang, tak kembali untuk selama lamanya. tak mungkin ku sendiri kan ku cari lagi, tak kan ku buang waktu, tanpa cinta ku merana.
Mata Renata berkaca kaca usai mendengarkan lirik lagu itu.
"Renata, kenapa kamu diam? Kamu mau kan menikah dengan ku lagi?" Arfi melamar Renata untuk yang kedua kalinya.
Arfi berhenti berdansa, ia mengambil setangkai mawar merah dan satu kotak kecil berisi sebuah cincin.
Beberapa tahun yang lalu Arfi juga pernah melamar Renata, tapi suasananya sangat berbeda. ketika itu Arfi mengatakan kalau ia ingin menikahi Renata. tidak ada ungkapan cinta, tidak ada cincin, tidak ada bunga apalagi ruangan khusus yang disulap menjadi indah.
Dulu Arfi melamar Renata didalam mobil dan jalanan dalam keadaan macet, udara disekitar panas terkena terik matahari suasananya benar benar tidak romantis. rasanya saat itu bukan waktu yang tepat untuk melamar seorang gadis, tapi karena Renata sangat mencintai Arfi, ia menerima begitu saja lamaran Arfi.
Renata tidak perduli dengan sikap Arfi yang arogan dan suka berbuat seenaknya sendiri. Renata juga bisa menerima meskipun Arfi bukanlah lelaki yang romantis.
Renata masih diam saja sampai Arfi kesal dan ingin membanting bunga serta kotak cincin yang ia pegang. Arfi teringat pesan dari Satria kalau ia tidak boleh marah.
"Jawab aku Renata." Arfi masih menunggu Renata bicara.
"Arfi, kamu menanyakan sesuatu padahal kamu tahu jawabannya."
"Tidak, aku tidak pernah menolakmu. aku selalu ingin jadi istrimu, tapi kamu yang menceraikan aku dan sekarang aku tidak bisa menjadi istri kamu lagi." Renata tidak dapat menahan air matanya yang jatuh.
"Renata, menikahlah dengan laki laki lain, setelah kamu bercerai kita bisa menikah lagi." Arfi mengulangi permintaannya yang pernah ia utarakan pada Renata.
"Aku... " Renata melihat wajah Arfi yang penuh harap.
"Renata aku mohon. aku tidak ingin berpisah denganmu. aku ingin kamu tetap jadi istriku seperti dulu, dan tidak ada cara lain kecuali kamu menikah lagi dengan orang lain." Arfi berusaha membujuk Renata.
"Apa perlu aku berlutut lagi? supaya kamu mau menikah lagi." Arfi ingin berlutut tetapi Renata melarangnya.
"Tidak perlu...Baiklah aku akan menikah lagi." Renata memegangi bahu Arfi agar Arfi tidak berlutut.
"Terima kasih Renata." Arfi meletakan bunga dan cincin diatas yang ia pegang diatas meja lalu ia memeluk Renata
Tanpa mereka sadari sejak tadi Satria berdiri didepan pintu, Satria mendengar pembicaraan Renata dan Arfi.
"Satria." Ketika Satria akan pergi Renata baru menyadari kehadiran Satria.
Mendengar nama Satria disebut Arfi melepaskan pelukannya pada Renata, ia menoleh kearah pintu dilihatnya Satria sedang berdiri mematung.
__ADS_1
"Satria cepat kemari." Perintah Arfi.
"Maaf pak, saya tidak mau mengganggu pak Arfi dan ibu Renata." Satria menolak.
"Tidak kamu tidak mengganggu, justru saya mau minta bantuan kamu." ucap Arfi.
Renata dan Satria menatap kearah Arfi mereka tidak tahu apa yang Arfi inginkan.
Arfi kemudian meminta Renata dan Satria untuk duduk bersamanya dikursi yang ada diruangan itu.
"Pak, apa yang bisa saya bantu?" Satria masih belum bisa menebak apa yang ingin Arfi mau.
"Aku mau kamu menikah dengan Renata."
Seperti mendengar suara petir yang menyambar yambar Renata dan Satria amat terkejut mendengar permintaan Arfi.
"Arfi, kamu ini apa apaan sih? kenapa kamu minta Satria menikahi aku?" Renata tampak kesal.
"Memangnya kamu sudah punya calon sendiri?" Arfi balik bertanya.
"Tidak ada, tapi kenapa harus Satria?"
Renata tidak mengerti dengan jalan pikiran Arfi, bagaimana bisa Arfi meminta Satria menikah dengannya. Arfi bahkan mengatakannya tanpa beban, seakan itu ada hal biasa padahal menurut Renata itu sesuatu yang serius.
"Renata dengarkan aku, aku ingin kamu menikah dengan seseorang yang sudah aku kenal dan bisa aku dipercaya." Ujar Arfi penuh keyakinan.
"Tapi pak, saya ini cuma asistent bapak. Saya tidak pantas untuk menjadi suami ibu Renata." Satria merendahkan dirinya sendiri.
"kalian menikah hanya untuk satu hari, ingat cuma sehari setelah itu kalian akan bercerai dan aku juga mau pernikahan kalian dirahasiakan." Arfi mulai menunjukan sikapnya yang suka mengatur.
"Oiya satu lagi, aku mau pernikahan ini di rahasiakan karena semua orang bahkan keluargaku belum ada yang tahu kalau aku sudah bercerai, mereka tahunya aku ini suaminya Renata. jadi setelah kalian bercerai dan aku menikah lagi dengan Renata. semua akan kembali seperti dulu, Renata akan tetap menjadi istriku." Arfi memandang Satria dan Renata secara bergantian.
Arfi bisa melihat keraguan diraut wajah Renata dan Satria.
"Saya setuju pak." ucap Satria tiba tiba, membuat Arfi tersenyum senang.
"Tapi semua ini tergantung pada bu Renata, kalau bu Renata tidak mau menikah dengan saya. saya tidak akan memaksa. Saya permisi dulu." Tidak ingin terbawa dalam percakapan yang menurutnya konyol, Satria lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
Satria yakin Renata akan menolak permintaan Arfi.
"Renata, kamu dengar kan? Satria setuju.kamu sendiri gimana? kamu setuju juga?" Arfi sangat berharap Renata akan setuju dengan ide gilanya.
"Iya aku setuju, kalau memang ini bisa membuat kita bersama lagi." Dengan bodohnya Renata mau saja menuruti keinginan Arfi.
__ADS_1
Renata adalah wanita yang pintar karena itu ia bisa sukses dalam karirnya, tapi saat berhadapan dengan Arfi. Renata berubah menjadi manusia bodoh, karena terlalu cinta pada Arfi ia rela melakukan apapun yang Arfi inginkan.