
Nayra nekat pergi meskipun tanpa persetujuan Arfi. Arfi sebenarnya ingin mengikuti Nayra, tapi ia khawatir Renata bangun dan mencarinya karena itu Arfi membiarkan saja Nayra pergi.
Nayra sampai didepan parkiran motor dan disana Raddit sudah menunggunya.
"Ayo naik Nay." Raddit menaiki motornya, ia juga meminta Nayra untuk naik keatas motornya.
Nayra naik keatas motor Raddit tanpa berkata apa apa.
"Nay, kenapa Arfi ada dirumah sakit?" Tanya Raddit sambil memberikan helm untuk Nayra
"Aku tidak tahu, sama seperti aku bertemu kamu. aku kebetulan bertemu Arfi dirumah sakit." Nayra sebenarnya malas menjawab pertanyaan Raddit tapi, ia tidak ingin Raddit bertanya tanya.
Sepanjang perjalanan Nayra hanya diam, pikirannya jauh menerawang.
Baru satu hari aku menjadi istri Arfi, tapi rasanya aku sudah tidak sanggup.
Nayra melamun sampai ia tidak menyadari kalau motor Raddit sudah berhenti didepan rumahnya.
"Nay, kita sudah sampai." Raddit memberitahu Nayra.
"Raddit, terima kasih." Nayra baru sadar kalau ia sudah sampai saat Raddit memberitahunya.
Nayra membuka helmnya kemudian ia mengembalikan helm itu pada Raddit.
"Nay, aku haus. boleh aku minta minum?" Raddit sebenarnya tidak haus tapi karena Raddit masih ingin bersama Nayra, ia mencari cari alasan.
Nayra mempersilahkan Raddit masuk tetapi Raddit menolak, ia lebih memilih duduk diteras rumah Nayra.
"Ini minumnya." Nayra duduk disamping Raddit sambil memberikan segelas air pada Raddit.
"Nay, kamu kenapa?" Raddit tidak meminum air yang diberikan oleh Nayra, ia meletakan gelas berisi air itu dimeja.
Aku sudah melakukan kesalahan yang besar, aku menikah dengan Arfi. aku pikir aku akan bahagia walaupun aku hanya istri kedua tapi aku salah.
Nayra ingin menceritakan semua pada Raddit namun pada akhirnya ia hanya bisa bicara dalam hati.
"Aku tidak apa apa." Nayra menarik nafas.
Mungkin Nayra belum mau cerita, ya sudahlah aku juga tidak bisa memaksa. lebih baik aku menghiburnya. Batin Raddit.
"Nay, aku mau jalan jalan kepasar malam. kamu mau ikut?" Raddit ingin membuat Nayra melupakan kesedihannya, meskipun ia sendiri tidak tahu. apa yang membuat Nayra terlihat murung dan sedih.
"Maaf Raddit, aku cape. lagi pula ini sudah malam." Nayra menolak secara halus.
"Ini belum terlalu malam Nay. kalau kita pergi kesana kamu pasti senang, disana banyak barang barang diskon. ada tas, sepatu dan masih banyak lagi." Raddit membujuk Nayra, ia berharap usahanya akan berhasil.
"Memang barang barangnya tidak sebagus barang barang branded atau barang barang dimall." Lanjut Raddit penuh semangat.
"Raddit, ini bukan masalah barang branded. kamu tahu sendiri, Aku selalu membeli barang barang yang biasa."
"Nay, please. temani aku, sekali ini saja." Raddit memohon.
Nayra merasa kasihan melihat Raddit yang terus memohon dan akhirnya Nayra menyerah.
"Ya sudah kita pergi, tapi jangan lama lama." Nayra mengajukan syarat.
"Oke Nayra." Raddit sangat senang, mereka berdua akhinya pergi kepasar malam.
Nayra dan Raddit pergi dengan menggunakan motor Raddit, ada sedikit perubahan diwajah Nayra. wajah Nayra semula terlihat murung tapi karena Raddit terus mengajaknya bicara, sedikit demi sedikit wajah murung itu berubah.
Nayra mulai tersenyum, Nayra juga tertawa saat Raddit bercerita tentang hal hal yang lucu. Raddit tidak berhenti bicara sampai akhirnya mereka tiba dipasar malam. Nayra turun dari motor Raddit, Nayra melihat tempat itu ramai.
"Nay, kamu mau beli apa?" Raddit melihat lihat baju baju yang digantung.
"Aku engga bawa dompet." Nayra baru ingat kalau ia pergi tanpa membawa dompet.
"Biar aku yang bayar." Raddit bicara tanpa menoleh, Raddit sibuk memilih milih baju baju yang mau ia beli.
"Kamu punya uang." Nayra memang tidak percaya Raddit punya uang karena setahu Nayra, Raddit adalah seorang mahasiswa yang belum bekerja.
"Pilih saja baju yang kamu suka. habis ini kita ketempat lain."
Nayra memilih beberapa baju dan kemudian Raddit yang membayarnya, setelah membeli baju mereka berjalan jalan. Nayra dan Raddit melihat lihat barang barang lain yang dijual, Raddit bahkan memberikan Nayra sebuah jam tangan.
"Raddit kita sudah berkeliling, aku mau pulang. aku ngantuk." Nayra merasa lelah.
"Kamu engga lapar?" Tanya raddit.
__ADS_1
Aku tidak mungkin mengatakan, kalau tadi aku menikah dengan Arfi dan dia juga menyiapkan banyak makanan. makanannya sangat enak, sama persis seperti makanan diacara resepsi pernikahan.
"Aku engga lapar Raddit, aku ngantuk." Nayra mengeluh.
"Ya udah kita pulang, aku beli minum dulu. kamu tunggu disini sebentar." Raddit ingin pergi membeli minuman tapi baru beberapa langkah ia berjalan, tiba tiba ada sebuah mobil yang lewat.
Raddit berlari kecil menghindari mobil itu. akibatnya ia terjatuh, lutut dan kakinya berdarah.
"Raddit." Nayra panik ia segera menghampiri Raddit.
"Raddit kamu berdarah." Nayra sangat cemas, ia kemudian meminta Raddit kerumah sakit.
"Raddit kita kerumah sakit sekarang."
Nayra sedang panik, tapi Raddit justru merasa senang. ia senang karena Nayra mencemaskannya.
"Nay, ini cuma luka kecil. tidak perlu kedokter." Raddit tersenyum tipis.
"Aku tidak mau tahu, kita harus kedokter kalau tidak."
"Kalau tidak apa?" Raddit tidak mengira Nayra akan mengancamnya.
"Kalau tidak, aku tidak mau berteman denganmu lagi." Ancam Nayra.
Nayra, saat didekatmu. aku merasa waktu cepat berlalu, aku juga tidak tahu. kenapa aku merasa bahagia didekatmu? kalau kamu tidak mau berteman lagi denganku. kita tidak bisa sering sering bertemu dan aku, aku tidak mau itu terjadi.
Ancaman Nayra membuat Raddit takut dan mau tidak mau ia menuruti keinginan Nayra, Raddit ingin berdiri tetapi ia tidak bisa. dengan sabar membantu Raddit berdiri.
Nayra menghentikan taksi yang lewat, Nayra memapah Raddit agar Raddit masuk kedalam taksi.
"Raddit kamu naik taksi, biar aku yang bawa motor kamu." Nayra masih berdiri diluar taksi."
"Pak tolong, ikuti saya." Nayra meminta supir taksi itu untuk mengikutinya.
Nayra menutup pintu taksi kemudian ia berjalan ketempat dimana motor Raddit diparkir.
Nayra kerumah sakit dengan mengendarai motor Raddit, sementara taksi yang membawa Raddit mengikuti Nayra dari belakang.
Raddit diam saja, ia hanya bisa menuruti semua keinginan Nayra. Raddit seperti anak kecil yang sedang diatur oleh ibunya.
Sementara itu dirumah sakit.
"Aku tidak bisa tidur." Arfi tidak bisa tidur karena memikirkan Nayra.
Nay, maaf aku tidak tahu kalau Renata akan datang ketempat ini. aku tidak mungkin mengusirnya karena dia datang bersama Kevin, Maaf juga karena aku sudah membanting hp kamu.
Perasaan Arfi benar benar tidak enak. ia khawatir Nayra akan sedih, apalagi ia juga sempat membanting ponsel Nayra.
"Renata aku mau keluar, mau cari udara segar. kalau kamu ngantuk tidur saja." Arfi bangun dari tidurnya ia turun dari tempat tidur.
Renata kesal, ia sudah meluangkan waktu untuk menemani Arfi dirumah sakit tapi Arfi malah mau pergi meninggalkannya. rasanya lucu ia menemani orang yang sedang sakit tapi orang yang ditemani justru pergi.
"Aku akan antar kamu jalan jalan ketaman yang ada dirumah sakit ini, disana pasti udaranya segar." Renata menawarkan diri.
Arfi dan Renata keluar dari kamar rumah sakit itu, mereka berjalan bergandengan tangan. langkah kaki mereka terhenti ketika mereka melihat Nayra dan Raddit.
Arfi dan Renata berpapasan dengan Nayra yang sedang memapah Raddit, Raddit mengalungkan satu tangannya dileher Nayra. pemandagan itu membuat hati Arfi terasa panas terbakar
"Kita bertemu lagi." Raddit tersenyum mengejek.
Nayra, aku bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan dirimu. aku pikir kau sedih tapi ternyata kau sedang bersenang senang dengan laki laki lain. Diam diam Arfi mengepalkan tangannya.
Arfi sangat marah, ia menatap tajam kearah Nayra. Nayra tidak perduli Nayra bersikap seakan akan ia dan Arfi tidak mempunyai hubungan apa apa.
"Raddit, tidak usah basa basi dengannya"
Nayra dan Raddit berjalan melewati Arfi dan Renata. Nayra masih membantu Raddit berjalan, satu tangan Raddit tetap bersandar dibahu Nayra. sedangkan Renata masih menggengam tangan Arfi.
"Mereka itu pasangan serasi, selalu kelihatan romantis. aku jadi iri." Ucap Renata saat Nayra dan Raddit sudah pergi.
"Renata, sebaiknya kamu kembali lagi kekamar. aku tidak jadi jalan jalan."
"Kenapa?"
Percuma aku mencari udara segar kalau hatiku terasa panas. udara malam yang dingin tidak mampu mendinginkan hati Arfi.
"Aku tidak mau pergi terlalu lama, kasihan kevin sendirian." Arfi menjadikan Kevin sebagai alasan.
__ADS_1
"Aku mau ketoilet, kamu kekamar saja duluan." Pinta Arfi.
Renata merasa aneh dengan perubahan sikap Arfi, Arfi yang semula terlihat bahagia tiba tiba berubah menjadi orang yang tidak bersemangat. seperti ada sesuatu yang membuatnya sedih, tapi Renata tidak tahu apa sebabnya.
Karena masih mengantuk Renata memilih untuk kembali kekamar, Renata juga tidak mungkin mengikuti Arfi ketoilet. sampai dikamar Renata langsung membaringkan tubuhnnya diatas sofa, tanpa menunggu Arfi Renata tertidur pulas.
...**********...
Raddit sudah diperiksa dan diobati oleh dokter, tapi karena kaki Raddit sakit dan sulit untuk berjalan dokter meminta Raddit untuk menginap dirumah sakit. mungkin Karena Raddit memaksakan diri berjalan, kaki Raddit jadi bertambah sakit. Suster dan Nayra membantu Raddit kekamar pasien dengan menggunakan kursi roda.
"Raddit, aku pulang." Nayra berpamitan ketika Raddit sudah berbaring ditempat tidur, saat itu suster juga sudah keluar dari kamar Raddit.
"Nay, ini udah jam sebelas malam. kamu yakin mau pulang?" Raddit tidak rela Nayra pergi.
"Nay, kamu menginap saja disini. kamu bisa tidur disofa" Raddit membujuk Nayra
"Aku tidak mau." Nayra menolak mentah mentah, ia bergegas pergi meninggalkan kamar Raddit sebelum Raddit merengek seperti anak kecil.
Nayra bertemu Arfi dihalaman rumah sakit.Arfi sedang duduk sambil minum kopi, ia seolah tidak punya beban dalam hidupnya.
Nayra ingin segera pergi sebelum Arfi melihatnya, akan tetapi Nayra terlambat Arfi sudah terlanjur melihatnya.
Nayra mengabaikan Arfi, ia membuang muka saat pandangan mata mereka bertemu.
"Aw.." Mendadak Arfi meringis kesakitan.
"Arfi kamu kenapa?" Nayra menghampiri Arfi, ia merasa khawatir.
"Aku tidak tahu, kepalaku pusing. Nay, aku ini masih sakit"
"Kalau sakit, seharusnya kamu istirahat. bukannya berkeliaran seperti ini." omel Nayra.
"Nay, bantu aku kekamar."
"Kenapa kamu tidak meminta bantuan Renata? dia itu kan istrimu." Ucap Nayra sinis.
"Nay, kamu juga istriku." Arfi memegang tangan Nayra.
Nayra tidak bisa menolak, melihat wajah Arfi yang memelas membuat hati Nayra luluh.
"Aku tidak mau bertemu Renata." Nayra tahu jika ada Renata, Arfi akan mengabaikan kehadirannya.
"Kamu tidak akan bertemu dengannya, kita akan kekamar sebelah. kamar tempat kamu dirias." Arfi menjelaskan.
"Kalau aku tidak mau." Nayra cemberut.
"Nay, kamu itu istriku, sudah seharusnya seorang istri menuruti kata kata suaminya." Arfi mengingatkan status Nayra sebagai istrinya.
Nayra menghela nafas, Nayra tidak ingin bertengkar dengan Arfi. dengan kesal ia mengantarkan Arfi kekamar.
"Arfi, kamu yakin Renata tidak akan melihat kita?" Nayra tetap khawatir.
"Sayang, kamu jangan khawatir. Renata sedang menemani Kevin jadi tidak akan keluar kamar." Arfi berjalan sambil melingkarkan tangannya dilengan Nayra.
Arfi langsung mengunci pintu kamar, saat Ia dan Nayra sudah sampai didalam kamar.
"Arfi kamu mau apa?" Nayra melangkah mundur karena Arfi berjalan mendekatinya.
"Apa lagi yang diinginkan seorang suami pada istrinya?" Arfi memegang pipi Nayra dengan satu tangannya dan tangan itu mulai merayap kebibir Nayra.
Arfi menarik pinggang Nayra dengan satu tangannya, satu tangan Arfi masih berada dibibir Nayra.
"Arfi, kamu sedang sakit." Nayra gugup denyut jantungnya berdebar.
Nayra tidak tahu bahwa Arfi hanya mengalami luka luka ringan, Arfi sengaja mendramatisir keadaan agar ia bisa menikah dengan Nayra.
"Lupakan soal itu, kamu hanya perlu mengingat satu hal." Arfi semakin memajukan wajahnya pada wajah Nayra.
"Malam ini adalah malam pertama kita." bisik Arfi ditelinga Nayra.
Deg..
Jantung Nayra berdetak kencang, ia merinding mendengar kata kata malam pertama.
Belum hilang rasa ngerinya mendadak Arfi mencium bibirnya, Arfi tidak memberi kesempatan Nayra untuk bicara. ia terus mencium bibir Nayra hingga Nayra terbuai dan membalas ciuman Arfi.
Tubuh Nayra berada tepat didepan tempat tidur, itu membuat Arfi mudah mendorongnya. Arfi mendorong Nayra sampai tubuh Nayra jatuh dan terbaring ditempat tidur.
__ADS_1
Arfi masih mencium bibir Nayra, Arfi seperti tidak ingin melepaskan ciumannya, tanpa Nayra sadari Arfi membuka satu persatu kancing baju Nayra.