Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Pekerjaan untuk Nayra


__ADS_3

Arfi, Renata dan Kevin pulang kerumah. karena lelah mereka bertiga langsung beristirahat, Kevin tidur dikamarnya sedangkan Arfi dan Renata juga sudah berada dikamar mereka.


Arfi keluar dari kamar ketika ia ingin menelphone Satria, Arfi duduk diruang tengah sambil menelphone Satria.


"Satria, bagaimana kamu sudah menemukan Nayra? " Tanya Arfi tidak sabaran.


"Maaf pak Arfi, saya belum menemukan Ibu Nayra." Jawab Satria ragu ragu.


Satria ragu karena ia yakin Arfi akan memarahinya dan benar saja Arfi marah marah ditelphone.


"Kamu itu bagaimana? saya kasih kerjaan kecil saja kamu engga becus. begini saja, kamu minta bantuan orang untuk mencari Nayra atau kalau perlu kamu sewa detektif."


Satu tangan Arfi memegang ponsel yang ia tempelkan ditelinganya, satu tangannya lagi ia gunakan untuk memijat pelipisnya


Arfi sudah mulai lelah dengan tingkah laku Nayra yang suka kabur kaburan. Seandainya Nayra tidak hamil mungkin Arfi tidak akan secemas dan sekhawatir itu.


Renata keluar dari kamar, ia melihat Arfi yang sedang gelisah.


"Kamu masih mencari Nayra?" Renata duduk dihadapan Arfi.


Arfi buru buru memutuskan panggilan telphonenya dengan Satria, Arfi tidak mengira Renata akan bangun dan menyusulnya keruang tengah. Arfi hanya diam, ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Arfi, kalau kamu mau mencari Nayra cari saja. biarpun aku cemburu, tapi aku tidak akan melarang kamu mencari Nayra.


"Apa." Arfi seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Nayra itu sedang hamil anak kamu dan bagaimanapun kalian belum bercerai. tidak masalah kalau kamu mau menjaga dan melindungi Nayra, aku akan menanggap kamu melakukan itu demi anak kamu." Renata berusaha berbesar hati.


Arfi tertegun mendengar penuturan Renata, entah terbuat dari apa hati Renata sampai ia mempunyai hati seluas samudra.


"Renata, dulu Nayra pernah diganggu preman preman. Nayra juga pernah pingsan karena menolong Kevin. jujur aku khawatir dengan bayi yang ada didalam perut Nayra karena itu aku berusaha mencari Nayra." Arfi mengeluarkan sebagian isi hatinya.


Sebenarnya Arfi bukan hanya mencemaskan bayi yang ada didalam perut Nayra, tapi ia juga sangat mencemaskan Nayra.


"Lalu apa rencana kamu saat bayi Nayra lahir?" Renata ingin tahu.


"Tentu saja aku akan mengambil anakku." Arfi tidak memikirkan Nayra akan sedih atau tidak jika berpisah dengan anaknya.


"Aku udah ngantuk, aku tidur duluan." Arfi lalu pergi kekamar.


Nayra bilang dia menyerahkan anaknya, tapi setelah anaknya lahir apa Nayra benar benar rela menyerahkan anaknya pada Arfi. kenapa aku merasa tidak yakin? Renata bertanya tanya dalam hati.


Sementara itu Nayra baru saja terbangun dari tidurnya, setelah kembali lagi kerumahnya Nayra langsung tidur karena ia lelah. Nayra memang memutuskan untuk kembali lagi kerumahnya, rumah dimana ia bertetangga dengan Raddit.


"Kenapa aku sekarang jadi gampang cape? apa karena aku sedang hamil? mana perut aku lapar?" Nayra pergi kedapur ia membuka lemari es yang ternyata kosong.


"Aku lupa, aku sudah lama engga belanja. aku kemini market dekat sini saja." Nayra kemudian berjalan keluar dari rumahnya.


sampai didepan pintu pagar, Nayra melihat motor Raddit lewat. kebetulan saat itu Raddit menjalankan motornya dengan pelan.


"Raddit!" Nayra memanggil Raddit.


Raddit melihat Nayra. Raddit juga mendengar Nayra memanggil namanya, tapi Raddit tidak perduli ia tetap menjalankan motornya. karena Raddit tidak berhenti Nayra mengejarnya, Nayra berlari kecil untuk mengejar Raddit.


"Aww..." Nayra merintih kesakitan, ia terjatuh lututnya berdarah.


Mendengar suara rintihan Nayra Raddit langsung menghentikan motornya, Raddit turun dari motornya lalu ia menoleh kebelakang. Raddit melihat Nayra duduk ditengah jalan.


"Nayra... " Raddit menghampiri Nayra.


"Nayra, ngapain kamu duduk ditengah jalan? bahaya tau." Raddit berlagak tidak tahu kalau Nayra jatuh.


"Siapa yang duduk ditengah jalan? aku ini jatuh gara gara ngejar kamu." Mata Nayra berkaca kaca.


"Siapa suruh ngejar aku?" Raddit tidak merasa, bersalah.


"Ya udah, sini aku bantu." Raddit mengulurkan satu tangannya.


"Engga usah, aku bisa sendiri." Nayra menepis tangan Raddit.


Satria kebetulan melewati rumah Nayra, ia ingin mencari Nayra. walaupun Satria tidak yakin kalau Nayra akan kembali lagi kerumahnya, tapi ia tetap mencari Nayra disana. yang penting usaha, berhasil atau tidak itu urusan belakang, begitu pikir Satria.


Satria melihat Nayra terjatuh karena mengejar Raddit, ia juga melihat Nayra sepertinya tidak ingin dibantu Raddit. Satria berinisiatif untuk membantu Nayra, ia berjalan mendekati Nayra dan Raddit.


"Biar saya bantu." Satria tersenyum seraya mengulurkan satu tangannya dihadapan Nayra.


Apaan sih, ini cowok genit banget pake senyum senyum. sok ganteng. Entah mengapa Raddit merasa kepanasan, Raddit tidak menyadari kalau ia sedang cemburu.


"Terima kasih." Nayra memegang tangan Satria, Nayra berdiri dengan bantuan Satria.

__ADS_1


Satria sangat senang karena ia bisa melihat wajah cantik Nayra dari dekat.


"Nay, aku mau ngomong sebentar." Raddit menghalangi Nayra yang ingin pergi.


"Engga ada lagi yang perlu kita omongin." Nayra berjalan pergi meninggalkan Raddit dan Satria.


"Mau kemana kamu?" Tanya Raddit ketika ia melihat Satria ingin menyusul Nayra.


"Kerumah Nayra." Jawab Satria singkat.


"Mau ngapain kesana?"


"Mau tau aja." Satria memutar bola matanya, malas ia meladeni omongan Raddit.


"Ibu Nayra, tunggu!"Satria mengikuti Nayra.


"Ada apa?" Nayra menoleh Ketika ia sudah berada didepan pintu rumahnya.


"Ibu kembali lagi kerumah ini?" Tanya Satria.


"Iya kenapa?" Nayra menatap tidak suka kepada Satria.


"Ibu kok ngeliatin saya begitu? ibu marah sama saya?" dipandang seperti itu membuat Satria serba salah.


"Jelas saya marah, saya kan sudah bilang sama kamu. jangan beri tahu Arfi kalau saya tinggal dirumah yang Arfi berikan, tapi kamu malah bilang sama Arfi." Nayra kesal.


"Maaf bu Nayra, saya terpaksa." Satria merasa tidak enak.


"Terpaksa?"


"Iya bu, pak Arfi meminta saya untuk mencari ibu sampai ketemu. kalau dalam dua puluh empat jam saya tidak bisa menemukan ibu saya akan dipecat." cerita Satria.


Apa yang sudah aku lakukan? Satria ini kan asistent Arfi, dengan sifat Arfi yang otoriter Satria tidak punya pilihan selain menurut. seharusnya aku tidak menyalahkan Satria. Nayra malah melamun.


"Ibu kenapa bengong? Bu Nayra engga marah lagi kan sama saya?" Tanya Satria penuh harap.


"Engga Satria, saya engga marah, saya masuk dulu ya." Nayra membuka pintu rumahnya.


"Bu Nayra, tunggu sebentar!"


"Ada apa lagi?"


"Ya sudah, kamu masuk dulu. biar saya ambilkan minum didalam." Nayra meminta Satria masuk kedalam rumahnya.


"Saya disini saja bu." Satria menolak, ia lebih memilih duduk diteras rumah Nayra.


Tidak lama kemudian Nayra kembali dengan membawa segelas air.


"Ini minumnya." Nayra memberikan gelas yang ia ambil pada Satria.


"Bu Nayra, kenapa ibu kembali lagi kerumah ini? bukannya ibu sedang menghindari pak Arfi." Tanya Satria penasaran.


"Orang bilang tempat yang paling aman itu justru tempat yang berbahaya. Arfi pasti tidak mengira aku akan bersembunyi dirumah ini. dia pasti berpikir aku pergi ketempat yang jauh. Kecuali kalau kamu memberi tahu Arfi." Sindir Nayra.


"Maaf bu Nayra, makasih minumannya saya pulang dulu." Satria pergi dari rumah Nayra ia merasa tidak.


Nayra lalu masuk kedalam rumah ia menghitung sisa uang yang ia punya.


"Uang ku sudah hampir habis, tabunganku juga tinggal sedikit. " Nayra mengeluh.


Nayra lalu mengambil perhiasan yang ada didalam lemarinya, Nayra ingin menjual beberapa simpanan perhiasan miliknya. Saat ingin pergi ketoko perhiasan Nayra bertemu dengan Raddit.


"Nay, kamu mau kemana? Tanya Raddit ketika ia berpapasan dengan Nayra.


Badanku rasanya lemas, apa aku minta Raddit mengantarku? Batin Nayra.


"Raddit aku mau minta tolong?" Ucap Nayra malu malu, tadi ia marah dan menepis tangan Raddit tapi sekarang malah minta bantuan.


"Tolong apa?" Raddit mengerutkan keningnya.


"Aku mau ketoko perhiasan kamu mau kan antar aku? kalau kamu engga mau juga engga apa apa." Nayra berjalan melewati Raddit.


"Tunggu." Raddit memegang tangan Nayra.


Deg....


Jantung Raddit berdebar debar saat matanya dan mata Nayra saling berpandangan.


"Aku mau antar kamu." Raddit buru buru melepaskan tangan Nayra sambil mengalihkan pandangan matanya.

__ADS_1


"Engga usah Raddit, aku engga jadi minta tolong." Nayra tiba tiba berubah pikiran, ia pergi meningalkan Raddit yang masih bingung dengan sikap Nayra yang berubah rubah.


Nayra duduk dibangku taman sambil mengelus elus perutnya, ia baru ingin memesan taksi online ketika ia dikejutkan oleh seseorang yang tiba tiba duduk disebelahnya.


"Raddit?" Nayra menengok kesamping.


"Nayra kamu masih marah?" Tanya Raddit.


"Aku engga marah, bukannya kamu yang marah?" Nayra balik bertanya.


"Tadinya aku emang marah, tapi sekarang udah engga. kamu beneran Nay, engga marah sama aku?"


"Engga Raddit."


"Terus kenapa kamu menghindari aku? kamu udah engga mau berteman sama aku lagi?"


"Bukan begitu Raddit, kamu lihat sendiri aku lagi hamil. kita udah engga pantas berdekatan lagi, nanti orang akan berpikir macam macam sama kamu." Nayra menjelaskan.


Nayra benar, tetangga tetangga disini belum tahu kalau Nayra sudah menikah, kalau aku dekat dekat Nayra bisa jadi fitnah, bisa saja aku dikira bapak dari anaknya Nayra. Raddit hanya tersenyum.


"Nay, kamu mau ngapain ketoko perhiasan?" Tanya Raddit ingin tahu.


"Aku mau jual perhiasan aku." Jawab Nayra jujur.


"Jual perhiasan?" Raddit merasa aneh.


"Raddit, aku ini sudah lama engga kerja. tabunganku semakin hari semakin menipis. aku butuh uang." Cerita Nayra.


"Ya ampun Nay, memangnya suami kamu engga ngasih duit?" Raddit sangat kesal mendengar cerita Nayra, rasanya ia ingin sekali memukul wajah Arfi.


"Arfi pernah ngasih aku uang. bahkan dia membelikan aku rumah, tapi setelah aku kabur kaburan. kita jarang ketemu. jadi Arfi engga punya kesempatan ngasih uang." Nayra masih membela Arfi, hati kecil Nayra tidak terima Raddit menjelek jelekan Arfi.


"Tetep aja Arfi salah, kamu itu lagi hamil harusnya dia berusaha cari kamu. kalau Arfi engga perduli sama kamu tapi harusnya dia perduli anaknya." Raddit marah marah sendiri.


"Raddit udahlah, kamu jangan marah marah. aku udah sering bilang sama diri aku sendiri. setelah bayiku aku dan Arfi akan bercerai." Nayra berusaha menyembunyikan kesedihannya.


Tidak pernah terlintas dipikiranku. aku akan menikah dengan Arfi, laki laki yang sudah beristri. walaupun Arfi adalah cinta pertamaku dan mungkin akan menjadi cinta terakhirku, tapi tetap saja ini salah dan aku harus berpisah dengan Arfi. Nayra menarik nafas dalam dalam.


"Bagus Nay, memang harusnya kamu cerai sama Arfi. apa kamu tahu Arfi dan Renata sekarang sedang progam hamil?" Ucap Raddit sok tahu.


"Kamu tau dari mana?" Air mata Nayra hampir saja jatuh, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.


"Aku ketemu Renata, Arfi dan Kevin dirumah sakit. aku pingin tahu siapa yang sakit? waktu Arfi masuk kedalam rumah sakit aku ikuti dia, aku lihat Arfi dan Kevin menunggu Renata didepan ruangan dokter kandungan."


Raddit bicara panjang lebar ternyata saat itu, ia kembali lagi kerumah sakit.


"Raddit, orang yang datang kedokter kandungan belum tentu ikut progam hamil." Nayra mencoba menghibur diri.


"Kalau Renata tidak hamil, itu berarti dia periksa kandungan. coba kamu pikir, buat apa dia periksa kandungan? Pasti Renata pingin hamil atau jangan jangan Renata memang sudah hamil." Raddit yang cerewet membuat kepala Nayra pusing


Renata tidak bisa hamil lagi, apa mungkin Arfi sudah tahu dan dia mengajak Renata untuk berobat supaya Renata sembuh lalu bisa hamil lagi. Nayra menerka nerka.


"Raddit, kita tidak usah membicarakan Arfi lagi, biarkan saja dia bahagia dengan keluarganya." Nayra sudah lelah.


"Maaf ya Nay, ya udah gimana kalau kita ngomongin kerjaan?"


"Kerjaan?"


"Kamu mau kerja engga? kebetulan dikampusku ada lowongan kerja."


"Lowongan kerja itu banyak dimana mana, tapi aku hamil. apa aku akan diterima kerja?" Nayra merasa tidak yakin dan kurang percaya.


"Kamu tenang aja Nay. dikampus aku engga perduli yang tua, yang muda. yang hamil atau engga. yang penting kerjanya bagus, kamu coba dulu ya Nay." Raddit berusaha membujuk Nayra.


Kalau Nayra kerja, seenggak enggaknya dia punya duit, dia juga engga akan bingung buat jual barang lagi. Raddit merasa iba pada Nayra karena itu ia ingin membantu Nayra.


"Ya udah, aku mau. aku akan ngelamar kerja dikampus kamu, tapi aku engga bisa menjamin kalau aku akan diterima." Nayra akhirnya menerima tawaran Raddit.


"Syukurlah." Raddit merasa lega.


Disaat mereka sedang bicara serius tiba tiba perut Nayra berbunyi.


"Nay, kamu lapar?" Raddit tersenyum mengejek.


"Iya Aku lapar. aku sampai lupa kalau tadi itu aku mau makan." Nayra memegangi perutnya.


"Kamu tunggu disini sebentar, aku beliin makanan dulu." Raddit pergi begitu, ia tidak menunggu jawaban Nayra.


"Raddit, aku kan belum bilang iya." Nayra kembali mengelus elus perutnya.

__ADS_1


__ADS_2