Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Koma


__ADS_3

Aku menyusuri lorong meninggalkan kamar Soffie fikiran ku campur aduk setibanya di kamar Alex tengah bercanda dengan suster.


Hari ini tampak sedikit lebih ceria di banding hari hari sebelumnya


" Apakabar jagoan papa" Sapa ku


"Baik papa."Sahut nya . Dokter mengatakan jika semangat Alex untuk sembuh itu besar sekali itu yang membuat imun tubuhnya berkembang pesat.


Aku menghempas kan tubuh di soffa empuk di pojok ruangan dimana alex di rawat putra kecil ku itu masih saja terpejam.


Karena ini adalah akhir pekan aku meminta Suster Lely untuk istirahat dirumah dan gantian aku yang menjaganya.


Baru aku sadari jika rasa cinta ku memang masih besar pada mantan istri ku yang sebentar lagi akan di persunting oleh lelaki lain, saat membantunya bangun dari tempat tidur ada getaran yang tidak biasa aku rasakan.


" Hallo bro." Sahutku saat Anton menghubungi ku untuk mengajak ku clubbing fi club ysnh baru buka.


" Sorry bro gw gak bisa ,Anak gw sakit."


Aku menjelas kan kondisi Alex yang terkena kanker darah.


" Sahabat macam loe ?kok gak ngasih tahu gw loe kira gw hanya mau disaat senang aja!." Maki Anton saat tahu kondisi Alex.


" Sorry bro saking paniknya gw, mana kantor lagi kacau ,Soffie juga baru tahu setelah tiga hari anak gw disini."


" Di rumah sakit mana gw kesana sekarang." Ujar Anton.


Mulai hari ini Alex akan menjalani conditioning regimen dengan jalan kemo agar tidak ada penolakan terhadap sel punca yang akan di transplantasikan ke tubuh nya nanti.


Tidak lama Anton datang bersama Anindya sama halnya dengan Anton .


Anindya pun merasa marah karena disaat saat ia dalam situasi sulit aku ada untuknya tapi saat aku berada falam kondisi sulit aku tidak mau memberi tahu.


" Jahat kamu kamu tuch mas tidak memberi tahu kita" Dengus Anindya kesal dia tampak prihatin melihat keadaan Alex.


" Iya mulai hari ini dia sedang kemo sebelum proses transplantasi sumsum tulang belakang."


" Siapa yang jadi donornya?."


" Soffie" jawab ku singkat." Mereka manggut manggut .


Ditengah upaya kerja keras ku mengembalikan kejayaan perusahaan aku menerima kabar yang tidak mengenakan.


Alex kembali di larikan keruang ICU karena kondisinya tiba tiba drop aku langsung menghubungi Soffie tentang hal ini.


Beberapa panggilan ku tidak diangkat nya akhirnya aku memberi tahunya lewat pesan chat.


Sesampainya di rumah sakit aku hanya bisa memandangi putra semata wayang ku itu dari balik kaca tubuhnya terlihat sangat pucat.

__ADS_1


Bermacam macam alat medis tersambung di badannya saat aku tengah berdiri memandangi alex dari balik kaca aku mendengar langkah yang tergesa gesa menuju kearah ku.


Ternyata Soffie nafasnya tampak tersengal karena ia memaki tangga darurat untuk sampsi kelantai dimana Alex dirawat karena tidak sabar menunggu lift.


" Soffie kenapa kamu ngos ngosan begitu?." Ujarku sedikit merasa heran dengan kondisinya.


"Sa... sa..saya pakai tangga darurat mas gimana keadaaan Alex." Sahut nya terbata bata.


Aku menunjuk ke dalam ruang ICU sejenak


Soffie mematung tanpa berkata kata tiba tiba


Bruuuuk!!


Soffie jatuh tidak sadarkan diri entah karena kelelahan atau melihat kondisi Alex.


" Soft ..Soff.. " Ujar ku mencoba menepuk nepuk pipinya untuk mengebalikan kesadarannya namun usaha ku sia sia Soffie tidak kunjung sadar.


" Suster tolong sust.." Seruku


Hari tepat di usia yang menginjak 37 tahun saru hari menjelang hari lahir aku kembali menerima kabar yang membuat tubuh ku terasa tidak bertulang.


Putra semata wayang ku yang sudah 3 hari berada diruang Icu dinyatakan tidak sadarkan diri dokter sudah menyarankan agar aku menyiapkan mental untuk menerima skenario yang terburuk terkait kondisi putra ku.


Rupanya Alex terserang virus saat yang membuatnya drop kemudian koma.


" Sabar ya mas Allah tidak akan memberikan cobaan di kuar batas kemampuan hambanya." Tulisnya dalam pesan yang ia kirim kan yang membuat jiwa ku terasa damai.


Hari ini Soffie yang gantian berjaga di rumah sakit di temani oleh pengasuh Alex.


" Mas pulang dulu Soff kalau ada apa apa langsung kabari ."


" Iya mas pulang lah hari hati di jalan." Pesan nya .


Aku segera meninggalkan rumah sakit untuk istirahat sejenak.


Mbok minah segera menyerbu ku dengan banyak pertanyaan terkait kondisi Alex


" Jadi bagaimana pak kondisi cah bagus." Tanyanya tidak sabaran.


" Masih belum sadar Mbok tolong di bantu doa ya Mbok." Ujar ku lesu.


" Ya allah ya robbi! kasihan cah bagus!." Pekik Mbok Minah histeris.


" Sudah Mbok tolong doakan saja." Sahut ku seraya mengusap usap tubuh rentanya.


Belum juga aku merebahkan diri unruk sejenak beristirahat Soffie mengabari ku kalauAlex di nyatakan meninggal oleh tim dokter yang menanganinya.

__ADS_1


" Mas , ada dimana mas." Ujar Soffie terdengar panik .


" Kenapa Soff? coba temang dulu , bicara perlahan." Ujar ku meminta Soffie tenang


" Alex .. maas dia.." Ucap Soffie terbata bata.


" Alex kenapa kamu jangan bikin mas panik ."


" Alex sudah tidak ada mas!."Pekiknya


Prankkkk!


Aku meninju cermin Wastafel yang ada di depan ku.


" Kenapa ya tuhannn secepat ini kau panggil diaaaa!!." Pekik ku sekuat kuat nya yang membuat semua pekerja di rumah ku berbondong bondong datang ke depan kamar menggedor gedor pintu dengan panik.


" Pak Arya tolong buka pintunya." Seru Pak Amin sopir ku beberapa saat aku tidak menghiraukan mereka dunia ku benar benar hancur.


Gelap segelap langit malam ini.


Mereka kembali mnegggedor gedor pintu kamar ku akhirnya aku membukanya.


" Ya allah pak Arya kenapa" Seru pak Amin ynag terkejut melihat ku sedikut linglung kondisi tangan ku yang berlumuran darah.


"Hancur sudah hidup saya Pak Amin Alex sudah meninggal."


Mereka terkesiap mendengar penuturan ku tentang Alex


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un". Ucap mereka serempak.


" Pak Amin tolong antar saya kerumah sakit."


Tanpa banyak bicara Pak Amin setengah berlari menuju garasi untuk mengeluarkan mobil.


Setibanya di rumah sakit Soffie langsung menghambur kearah ku.


" Maas Alex mas.." Ratap nya pilu aku mendekapnya dalam pelukan ku dan mengusap usap punggung nya.


" Maaf kan mas Soffie ini salah mas." Bisik ku dengan suara parau.


Mata ku nanar menatap gundukan tanah merah yang masih tampak basah, disana putra semata wayang beristirahat dalam keabadian .


Para pelayat satu persatu meninggalkan pemakaman termasuk Soffie yang datang bersama suaminya.


Tinggalah Anindya dan Anton yang menemani ku yang masih terpaku menatap papan kayu yang bertuliskan nama putra semata wayang ku.


"Sabar bro Allah tahu yang terbaik untuk nya." Ujar anton seraya menepuk bahu ku perlahan.

__ADS_1


Anton membantu berdiri kami beriringan meninggalkan area pemakaman.


__ADS_2